That Irreplaceable Person

Title : That Irreplaceable Person

Author : Yuridista

Genre : Friendship

Casts : EXO-K’s members and EXO-M Kris

Rating : G

Disclaimer : Ide, plot, dan alur cerita murni berasal dari penulis. Kesamaan adegan hanyalah kebetulan semata. Dilarang copy paste tanpa izin penulis.

p.s : FF ini pernah diikutsertakan dalam lomba #100daysWithEXO Giveaway yang diselenggarakan oleh EXOfficialINA dan berhasil mendapatkan juara kedua *sujud syukur* *potong tumpeng* *abaikan*

***

“Apa menurutmu hari ini kita seburuk itu, anak-anak?” tanya Suho, memandang kelima teman sekelompoknya satu persatu—Chanyeol, Baekhyun, D.O, Kai, dan Sehun. Keenam lelaki itu kini tengah berkumpul di ruang santai dorm mereka, semuanya tampak kelelahan setelah tampil di mini konser di Gwangju seharian penuh.

Kai mengangkat bahu, tampak acuh tak acuh. “Tidak juga, Hyung. Kurasa tadi kita cukup oke,” jawabnya.

“Kai benar, Hyung,” D.O menambahkan, “Kurasa kita tadi sudah menampilkan yang terbaik, kok.”

Suho mengangguk-angguk, tampaknya sudah nampak lebih rileks daripada sebelumnya, tetapi ketika sudut matanya menangkap sosok Baekhyun yang berwajah murung di sofa di sebelahnya, ekspresinya berubah muram lagi. “Baekhyun-ah, kau kenapa?” tanyanya, suaranya pelan.

Baekhyun mengangkat wajahnya untuk memandang hyung tertuanya itu. “Aku hanya merasa…aku lah yang membuat penampilan kita hari ini jadi jelek, Hyung,” katanya sedih.

Mendengar ucapan Baekhyun barusan, Chanyeol yang duduk di lantai langsung melotot. “Astaga, Baekhyunnie, ada apa, sih, denganmu? Kau tadi keren seperti biasanya, kok,” tukasnya.

Baekhyun mendesah, kemudian menggelengkan kepalanya perlahan. “Aku cukup tahu kalau aku memang tidak tampil seperti biasanya, Yeol-ah. Suaraku banyak yang fals tadi. Kau tidak usah menghiburku.”

“Hei, tapi aku bukannya sedang menghiburmu. Aku serius bilang kalau kau memang keren seperti biasanya. Iya, kan, Sehun-ah?” Chanyeol kini berpaling menatap si maknae, meminta persetujuan.

Sehun langsung mengangguk. “O. Tentu saja, Hyung. Kau tadi memang tampil sempurna, Baekhyun-hyung. Kita semua tadi tampil sempurna,” ujarnya, tersenyum lebar untuk mencairkan suasana.

Chanyeol nyengir lebar, kelihatan puas dengan jawaban Sehun. “Tuh, kan. Kubilang juga apa,” katanya berpuas diri.

“Kubilang tidak perlu menghiburku. Kalian seharusnya menghukumku, mengkritikku, atau apalah. Setidaknya, aku lebih suka dimaki-maki daripada harus pura-pura dihibur seperti ini,” Baekhyun menyahut dengan nada ketus.

“Baekhyun-hyung…” D.O menegur, agaknya sudah bisa membaca bahwa situasi ini bisa jadi akan semakin buruk.

“Baekhyun-ah, jangan begitu. Chanyeol, kan, bermaksud baik. Dia hanya tidak ingin kau menyalahkan dirimu sendiri,” Suho menimpali.

“Pokoknya, menurutku kalau kau tampil seperti hari ini tadi, itu sudah lebih dari cukup. Para fans juga pasti puas melihatmu, melihat kita,” Chanyeol berkata lagi, kali ini dengan nada yang lebih tegas.

“Cukup.” Baekhyun tiba-tiba saja bangkit berdiri. “Kau bicara seperti itu, memangnya kau tahu apa soal menyanyi? Lihat saja, bagianmu paling sedikit, kan, di semua lagu kita?” cecarnya, memandang Chanyeol dengan tatapan berapi-api.

Chanyeol terpana. Wajahnya pias, dan dia tak tahu harus mengatakan apa.

“Baekhyun-ah!” Suho berseru marah.

D.O ikut berdiri, kemudian menepuk pelan bahu Baekhyun yang bergetar. “Hyung, tenangkan dirimu.”

“Jangan ikut campur,” desis Baekhyun, matanya masih terpancang pada Chanyeol yang tak bergeming di tempatnya duduk. “Sekali-sekali orang ini juga perlu diberi tahu kalau hidup di dunia nyata tidak selalu semenyenangkan yang dipikirkannya.”

“Byun Baekhyun!” Suho berseru lagi.

“Ya ampun, bisa tidak kita tidak perlu buang-buang waktu seperti ini?” Kai bertanya malas seraya memutar matanya, kemudian bangkit berdiri. “Aku mau tidur saja. Siapa ikut aku?”

Sehun melirik Suho, teman sekamarnya, yang wajahnya masih merah karena menahan marah. Si maknae menelan ludah sebelum berkata terbata-bata, “K-Kai-hyung. A-aku ikut kau saja, deh. Aku-aku juga sudah, eh, mengantuk. Bye, semua.”

Sepeninggal Kai dan Sehun, suasana di ruang santai masih tak mengenakkan. Baekhyun masih memandang tajam Chanyeol, Chanyeol masih diam saja meski juga balik memandang Baekhyun, D.O tetap bertahan di tempatnya di sebelah Baekhyun—berjaga-jaga kalau sewaktu-waktu hyung-nya yang impulsif itu benar-benar meledak, sedangkan Suho juga masih memaksakan diri untuk berdiri di antara Baekhyun dan Chanyeol—memberi keduanya pandangan demi-tuhan-apa-yang-kalian-pikir-sedang-kalian-lakukan dan  cepat-selesaikan-semua-ini-sekarang-juga-atau-kalian-akan-mati-di-tanganku.

“Maafkan aku. Aku memang tidak tahu apa-apa soal menyanyi.” Akhirnya Chanyeol bersuara duluan. “Tapi aku tetap tidak akan menarik kata-kataku tadi. Bagiku, kau selalu sempurna, Baekhyunnie.”

Suho menghela nafas. “Chanyeol-ah—“

“Malam ini aku akan tidur bersama Kyungsoo,” Baekhyun berkata dingin, kemudian memalingkan wajahnya untuk memandang D.O di sebelahnya. “Kau tidak keberatan, kan?”

“Tapi, Hyung—

“Biarkan dia tidur bersamamu, Kyungsoo-ya,” Suho menyela, “Toh, Kai sudah pasti akan tidur bersama Sehun malam ini. Tidak apa-apa, biar aku yang menemani Chanyeol.”

“Oke. Semua beres kalau begitu. Selamat malam,” kata Baekhyun akhirnya, sebelum beranjak diikuti D.O, meninggalkan Suho dan Chanyeol yang hanya bisa ternganga menatap kepergiannya.

***

“Err—Hyung, apakah…kau tadi tidak terlalu berlebihan pada Chanyeol-hyung?” D.O bertanya hati-hati sambil naik ke ranjang di sebelah Baekhyun.

“Apa kau lebih suka tidur bersama Kai atau Suho-hyung saja, Kyungsoo-ya?” ujar Baekhyun tanpa berbalik untuk memandang D.O.

D.O menelan ludah, agak terkejut dengan nada bicara Baekhyun yang sinis dan tajam. “Ah, eh, tidak, Hyung. Aku mau di sini saja menemanimu,” jawabnya terbata.

“Kalau begitu diamlah. Aku ingin tidur sekarang.”

“Baiklah, Hyung. Selamat malam,” angguk D.O akhirnya.

“Mmm,” Baekhyun menyahut dalam gumaman. Diam-diam, lelaki itu menghela nafas dalam-dalam, kemudian memejamkan mata agar pikirannya bisa menjadi sedikit lebih rileks. Sejujurnya, Baekhyun tak pernah mengira hari ini akan berakhir dengan pertengkaran antara dirinya dengan Chanyeol. Ah, tidak. Kalau dia mau mengakuinya, sebenarnya sejak awal dia lah satu-satunya orang yang memicu pertengkaran ini. Dia yang berbicara dengan suara keras dan mengatakan hal-hal yang menyakiti hati terlebih dulu, sedangkan Chanyeol tak pernah sekalipun menyela atau balas membentaknya. Namun, rupanya justru itulah yang menyebabkan dia menjadi begitu marah seperti ini.

Baekhyun muak dengan sikap Chanyeol. Dia bosan melihat bagaimana cara teman sekamarnya itu menghadapi setiap masalah yang menimpanya—dengan tersenyum, dan menceritakannya kepada Baekhyun seolah masalahnya itu bukan sesuatu yang penting. Baekhyun juga mulai jengah dengan semua penghiburan yang selalu diberikan Chanyeol kepadanya setiap kali dia menghadapi masalah. Baginya, semua penghiburan itu justru semakin membuatnya terlena dan tidak bisa belajar dari kesalahannya, sementara Baekhyun benci sekali dengan dirinya yang seperti itu. Dia juga tak habis pikir mengapa Chanyeol tak pernah marah padanya, padahal rasanya dia sudah jutaan kali membuat lelaki yang lebih tua darinya itu jengkel dan kesal. Sifat Baekhyun yang gampang emosi, keras kepala, dan ingin menang sendiri, semuanya tak pernah sekalipun membuat Chanyeol habis kesabaran. Malah, dia yang justru selalu bisa meredakan amarah Baekhyun, meski Baekhyun setengah mati tak mau mengakuinya. Happy Virus—Baekhyun rasa julukan itu diberikan kepada Chanyeol memang bukan tanpa alasan. Meski begitu, saat ini Baekhyun hanya bisa melihat Chanyeol sebagai Annoying Virus—seseorang yang luar biasa menjengkelkan dengan senyum sepanjang hari dan semua lelucon bodohnya. Ah, dan kenaifan di luar batasnya itu. Maksudnya, kadang-kadang Baekhyun memang bisa bersikap naïf juga, tapi tidak senaif Chanyeol. Demi Tuhan, memangnya lelaki itu kira dia sedang hidup di dalam buku cerita yang selalu berakhir dengan bahagia?

Baekhyun mendesah. Mungkin harusnya sejak awal dia tidak boleh membuka dirinya terhadap Chanyeol. Mungkin harusnya sejak awal dia paham, bahwa dengan sifat Chanyeol yang seperti itu, segalanya akan menjadi semakin sulit untuk seseorang seperti Baekhyun. Mungkin harusnya dia memilih berteman dekat dengan Kai yang tidak pernah peduli dengan urusan orang lain, atau Sehun yang hanya bicara kalau ditanya, atau D.O yang perhatian tapi tak banyak omong, atau Suho yang cukup bijaksana untuk tidak mengucapkan lelucon bodoh di manapun dan kapanpun mereka berenam berada. Pokoknya siapapun, kecuali Chanyeol.

Yah, seandainya saja dia tak harus bertemu Chanyeol dalam hidupnya. Seandainya saja tak pernah ada Chanyeol dalam hidupnya, mungkin segalanya akan jadi jauh lebih mudah untuknya…

***

“Byun Baekhyun-ssi.”

Baekhyun membuka matanya perlahan ketika telinganya samar-samar mendengar namanya disebut oleh seseorang. Lelaki itu menguap panjang sambil mengucek matanya, berusaha memfokuskan pandangan untuk bisa melihat wajah si pemilik suara yang memanggil namanya.

“Byun Baekhyun-ssi?” Suara itu terdengar lagi, dan Baekhyun langsung bangun dari posisi berbaringnya ketika melihat sesosok lelaki berambut pirang dan berwajah dingin tengah berdiri setengah membungkuk di tepi ranjangnya, menatapnya dengan sepasang matanya yang tajam.

Baekhyun menelan ludah. “K-kau—kau…s-siapa?” tanyanya gugup.

Lelaki di hadapan Baekhyun menyeringai. “Oh, benar. Aku lupa memperkenalkan diri,” katanya, kemudian mengangkat sebelah tangannya, “Halo. Namaku Kris.”

“K-Kris?” Baekhyun mengulangi ragu-ragu.

Kris mengangguk sekali. “Yep. Singkat, padat, dan jelas, kan?”

“Err—k-kau…kenapa kau ada di sini, eh, Kris-ssi?” tanya Baekhyun, masih bingung dengan keberadaan Kris yang janggal di dalam kamar tidurnya. “Dan bagaimana kau bisa tahu namaku?”

Kris menyeringai lagi. “Mudah saja, Baekhyun-ssi. Aku ada di sini karena ini memang bagian dari pekerjaanku. Kau tahu, aku datang jauh-jauh dari Departemen Mimpi Bagian Harapan dan Permintaan khusus untukmu. Dan masalah bagaimana aku bisa tahu namamu, kalau manusia biasa saja bisa mencari tahu di internet, bagaimana denganku yang setengah malaikat ini?” katanya panjang lebar.

Baekhyun tertegun. “Departemen Mimpi? Kau bilang…kau datang dari Departemen Mimpi?”

“Tepat sekali,” angguk Kris. “Kurasa kau menerima fakta ini jauh lebih cepat daripada semua klienku sebelumnya, Baekhyun-ssi.

“Hei, tunggu dulu. Jadi sekarang aku sedang bermimpi? Jadi ini semua tidak nyata?” Baekhyun bertanya bingung.

“Hmm. Bagaimana kalau kita katakan bahwa kau sedang berada dalam fase antara mimpi dan kenyataan. Maksudku, kau tidur, tapi kau juga bangun. Kau mimpi, tapi kau juga sadar. Dan akan jauh lebih baik lagi kalau kau bisa memahami bahwa aku sama nyatanya dengan dirimu sendiri. Yah, kecuali soal fakta bahwa aku jauh lebih istimewa daripada kau, sih,” Kris berujar, kemudian mengedikkan bahunya sekilas.

“Aku-aku tidak tahu kalau ada fase seperti itu dan makhluk sepertimu, eh, sebelumnya,” kata Baekhyun tak yakin.

Kris memutar matanya. “Oke. Aku tak akan tersinggung dengan kata-katamu barusan—menyebutku makhluk, ya ampun. Tapi terima saja kalau ini memang kenyataannya. Aku ada di sini untuk mengabulkan permintaan yang kau sebutkan berulang-ulang dalam mimpimu. Jadi, bisa kita mulai sekarang?”

Baekhyun refleks mengangkat selimutnya sampai ke dagu. “Eh, ap-apa maksudnya dengan kita mulai sekarang? Kau mau apa?” tanyanya defensif.

Sekali lagi, Kris memutar matanya. “Dasar lambat. Tentu saja mau mengabulkan permintaanmu. Kan, sudah kubilang dari tadi. Kau mau menghilangkan seseorang bernama Park Chanyeol dari hidupmu, kan?” katanya tak sabar.

Baekhyun mengerjapkan matanya. “Eh? Menghilangkan Chanyeol dari hidupku? Apa maksudnya?”

“Oke. Aku akan menjelaskannya pelan-pelan, jadi kau tidak perlu bertanya lagi nanti,” Kris memulai lambat-lambat, “Aku akan menghilangkan semua tentang Park Chanyeol dari hidupmu. Aku akan menghapus jejaknya, tanda-tanda keberadaannya, pokoknya semuanya dari setiap hal yang berhubungan denganmu. Aku hanya perlu menjentikkan jariku sekali di depan wajahmu, dan mulai besok pagi kau tidak perlu dan tidak akan melihat Chanyeol lagi sepanjang sisa hidupmu. Bagaimana? Sangat mudah dan sesuai dengan permintaanmu, kan?”

Baekhyun tertegun. “J-jadi…maksudmu—aku…tidak akan bertemu Chanyeol lagi? Selamanya?”

“Yep. Bukankah itu yang kau minta?” Kris menyahut seraya mengangkat sebelah alisnya.

“Ah, iya. Kau benar. Ya, itu-itu memang yang aku minta,” kata Baekhyun cepat-cepat.

Kris mengangguk senang. “Oke. Kalau begitu…permintaanmu resmi aku kabulkan, Byun Baekhyun-ssi,” ucap Kris, kemudian mendekat ke arah Baekhyun dan menjentikkan jarinya di depan wajah lelaki itu.

Mata Baekhyun melebar karena tindakan Kris yang menurutnya terlalu cepat, tetapi begitu Kris menjentikkan jarinya, sepasang mata Baekhyun langsung menutup dan dia kembali terlelap begitu saja.

Kris tersenyum puas. “Selamat tidur kembali, Baekhyun-ssi,” bisiknya, lalu dalam sekejap menghilang begitu saja dari kamar Baekhyun, hingga kamar itu kembali lengang—seolah memang tak pernah terjadi apa-apa di dalamnya beberapa menit sebelumnya.

***

Esoknya…

Baekhyun terbangun dengan perasaan aneh melingkupi tubuhnya. Dia merasa…ringan, dan itu aneh baginya karena dia tak pernah merasa seperti ini sebelum-sebelumnya. Lelaki itu menguap panjang, kemudian terkesiap ketika samar-samar teringat pertemuannya dengan sesosok laki-laki bernama Kris yang mengaku berasal dari Departemen Mimpi. Baekhyun masih bisa mengingat bagaimana Kris mengatakan padanya bahwa dia adalah manusia setengah malaikat yang datang jauh-jauh ke tempat Baekhyun hanya untuk mengabulkan permintaan Baekhyun. Dan permintaan itu adalah…menghilangkan Chanyeol dari hidupnya.

Baekhyun menggeleng-gelengkan kepalanya. Omong kosong, batinnya, itu pasti hanya mimpi konyol karena aku terlalu banyak pikiran kemarin. Lagipula, mana mungkin seseorang bisa hilang begitu saja hanya karena orang lain menginginkannya?

Baekhyun membuang nafas, kemudian menggeleng-gelengkan kepalanya untuk membuang semua pikiran aneh dari dalam kepalanya. Lelaki itu lalu beranjak turun dari ranjangnya, tetapi jantungnya langsung berdetak cepat ketika dilihatnya ranjang di sebelahnya kosong. Ke mana perginya Chanyeol? tanyanya dalam hati. Namun dia refleks mendesah lega ketika teringat bahwa semalam yang tidur sekamar dengannya memang bukan Chanyeol, tetapi D.O. “Pantas saja. Kyungsoo, kan, memang selalu bangun paling pagi di antara kami semua,” gumam Baekhyun sambil nyengir sebelum benar-benar keluar dari kamarnya.

***

“Pagi, semua,” sapa Baekhyun kepada Suho, Kai, dan Sehun yang tengah berkumpul di ruang makan.

“O. Kau sudah bangun rupanya,” balas Suho sambil menata mangkuk-mangkuk sereal di meja.

Baekhyun mengangguk, lalu mengambil tempat duduk tepat di seberang Sehun. “Mana Kyungsoo?” tanyanya, menyadari bahwa sedari tadi batang hidung D.O belum kelihatan, padahal jelas-jelas ranjangnya di sebelah ranjang Baekhyun sudah kosong.

“Tuh, masih tidur di kamar. Kayaknya semalam dia begadang membaca buku, deh, sampai jadi teler begitu,” sahut Kai seraya mengedikkan bahunya sekilas.

Baekhyun melongo. “Lho? Jadi dia tidur lagi?” tanyanya polos.

Kai mengangkat alisnya. “Tidur lagi bagaimana? Kan dia memang tidur terus sejak masuk ke kamar kami jam satu tadi pagi.”

“Eh?” Baekhyun berseru tertahan, “Bukankah semalam dia tidur sekamar denganku?”

“Astaga, Byun Baekhyun, kau sepertinya belum benar-benar bangun, deh,” kali ini Suho yang menyahut seraya menuangkan susu ke dalam mangkuk sereal Baekhyun. “Kau lupa, ya? Semalam, kan, giliranmu tidur sendirian di kamar utama. Jadi mana mungkin Kyungsoo tidur sekamar denganmu?”

Eh? Tidur sendirian? Baekhyun membatin, benar-benar bingung dengan semua kejanggalan ini.

“Halo, semua.” Tiba-tiba saja suara D.O terdengar ketika lelaki itu berjalan memasuki ruang makan dengan mata yang masih setengah tertutup.

Mata Baekhyun melebar terkejut. “Lho? Kok kau—“

“Tuh, kan, kubilang juga apa. Kyungsoo-hyung memang benar-benar baru bangun, Hyung,” Kai buru-buru menyela setelah menelan sesendok penuh sereal.

Baekhyun ternganga. Jangan-jangan… “Jadi, di mana Chanyeol?” tanyanya, pada akhirnya berhasil menyuarakan isi pikirannya.

Kali ini, keempat orang di hadapannya menatapnya dengan pandangan yang mengatakan bahwa dia sangat aneh dan demi apapun juga mereka sama sekali tidak mengerti dengan apa yang diucapkannya. “Yang kau maksud Chanyeol siapa, sih?” tanya Suho, D.O. Kai, dan Sehun nyaris berbaringan.

Baekhyun menelan ludahnya. “Tentu saja Park Chanyeol member EXO-K yang selama ini tinggal bersama kita!” serunya tak habis pikir.

Sebagai balasannya, Kai menggeleng-gelengkan kepalanya dengan prihatin, sementara Sehun balik memandang Baekhyun dengan tatapan yang sama bingungnya. Suho dan D.O bahkan hanya bisa saling menatap tanpa mengatakan apa-apa.

“Baekhyun-ah,” Suho akhirnya bersuara, “kau ini bicara apa? Dari dulu, kan, kita memang cuma berlima. Dari dulu memang cuma ada kau, aku, Kyungsoo, Kai, dan Sehun. Kenapa kau jadi menyebut-nyebut Park Chanyeol? Kami semua sama sekali tidak tahu siapa dia, Baekhyun-ah.”

Deg! Kali ini, jantung Baekhyun rasanya sudah benar-benar melompat keluar dari rongganya. Kepalanya mendadak terasa pening. Jadi—semua yang terjadi tadi malam itu…serius?

***

Bagi Baekhyun, rasanya aneh sekali mengetahui bahwa Chanyeol telah benar-benar menghilang dari kehidupannya, dan tidak ada satu orang pun di sekelilingnya yang mengingat keberadaannya sedikitpun. Selama ini, dia telah terbiasa pergi ke mana-mana dengan Chanyeol yang selalu menempel padanya. Dari mulai bangun di pagi hari sampai pergi tidur di malam hari, rasa-rasanya Chanyeol memang selalu ada bersamanya, mengikutinya ke sana-kemari. Karenanya, Baekhyun merasa ada yang berbeda ketika tak ada lagi orang yang selalu berisik memanggilnya “Baekhyunnie” di manapun dia berada, meski dalam hati dia mati-matian menyangkalnya karena bagaimana pun juga bukankah memang ini yang diinginkannya—tidak ada seorang Park Chanyeol di dalam hidupnya?

“Hyung, kenapa melamun terus?” tegur Sehun seraya menyodorkan sebotol air mineral kepada Baekhyun.

Baekhyun mengerjap, kemudian mengangkat wajah untuk memandang maknaenya itu. “Ah, eh, trims, Sehun-ah,” ujarnya agak kaget.

Sehun lalu ikut duduk di samping Baekhyun. “Kau kenapa? Capek, ya, latihan seharian?” tanya Sehun khawatir.

Baekhyun menggeleng sekali. “Tidak, kok. Aku tidak apa-apa, Sehun-ah,” jawabnya seraya menyunggingkan senyum tipis.

Sehun balas tersenyum. “Tapi jujur saja, Hyung, menurutku koreo lagu-lagu kita memang susah sekali untuk dihafalkan. Padahal kita cuma berlima begini, ya? Aku jadi bertanya-tanya bagaimana caranya mengatur koreo untuk lagu-lagu Super Junior-sunbaenim,” kata Sehun, kemudian mengalihkan pandangannya ke arah Kai, Suho, dan D.O yang masih giat berlatih beberapa meter di depan mereka.

Baekhyun menoleh mengikuti arah pandangan Sehun. “Berlima, ya?” gumamnya, entah ditujukan kepada siapa. Pandangannya mulai menerawang, teringat bagaimana dia akan memarahi Chanyeol yang memang paling susah menghafalkan koreografi di antara mereka berenam. Sementara dia sibuk memarahi Chanyeol, Suho akan ribut menyuruhnya diam dan D.O akan repot menenangkan Suho, sedangkan Kai dan Sehun akan asyik sendiri meneruskan latihan di pojok ruangan. Namun, Baekhyun tahu bahwa sebanyak apa pun Baekhyun memarahi Chanyeol, maka sebanyak itu juga lah dia harus rela mengalah pada sepasang mata Bambi yang menatapnya dengan pandangan penuh penyesalan dan pada pemiliknya yang tak pernah sekalipun tersinggung akan kata-katanya atau balik memarahinya.

Baekhyun mendesah ketika menyadari bahwa betapa ingatan tentang Chanyeol terasa sangat memberati kepalanya. Harusnya kemarin dulu dia meminta Kris untuk sekalian saja menghapus ingatannya tentang Chanyeol. Soalnya, kalau hanya dia sendiri yang punya kenangan tentang Chanyeol seperti ini, bukankah itu sama saja dengan membuatnya mati pelan-pelan?

“Hyung, kita latihan lagi, yuk.” Ucapan Sehun seketika membuyarkan lamunan Baekhyun.

Baekhyun buru-buru mangangguk sebelum ikut bangkit berdiri. “Baiklah, Sehun-ah. Fighting!” sahutnya, diam-diam menyingkirkan perasaan nyeri nyang menekan dadanya ketika sekali lagi teringat bahwa Chanyeol-lah yang seringkali meneriakkan kata “fighting” sambil tersenyum lebar kepadanya.

***

“Hyung, apakah menurutmu selama ini kita selalu baik-baik saja?” tanya Baekhyun suatu malam ketika hanya tinggal dirinya dan Suho berdua saja di ruang santai dorm mereka.

Suho mengangkat sebelah alisnya mendengar pertanyaan Baekhyun. “Apa maksudmu, Baekhyun-ah?”

Baekhyun berdeham. “Maksudku, apakah menurutmu kita yang berlima seperti ini selalu bisa menghadapi semua masalah dengan baik? Apakah tidak pernah ada salah satu di antara kita yang merasa terluka terlalu banyak? Apakah di antara kita sendiri tak pernah ada yang saling melukai, Hyung?”

“Dengarkan aku, Baekhyun-ah,” Suho berujar lembut, “mungkin ini terdengar terlalu naïf jika aku yang mengatakannya, tetapi kurasa kita telah melalui segala hal dengan cukup baik selama ini. Aku, kau, Kyungsoo, Kai, dan Sehun telah berhasil mematahkan pendapat bahwa kita hanyalah grup yang debut dengan menumpang nama tenar senior-senior kita.”

“Benarkah begitu, Hyung?”

“Tentu saja, Baekhyun-ah,” kata Suho mengiyakan. “Tapi sesungguhnya aku memang merasa ada yang kurang dengan kita…” lanjutnya, tiba-tiba saja wajahnya berubah muram.

Jantung Baekhyun mencelos. Kepalanya langsung memunculkan kembali nama dan wajah orang itu—Park Chanyeol. “Ap-apa yang kurang, Hyung?” tanyanya terbata-bata.

Suho mengangkat bahu. “Entahlah. Hanya saja…aku selalu merasa ada yang tidak pas ketika kita menyanyi atau menari berlima. Rasanya seperti…ada satu tempat yang kosong di dalam grup ini. Aku tidak tahu kenapa aku merasa seperti itu, tapi…kuharap ini memang hanya perasaanku saja.”

Baekhyun tertegun, tidak tahu harus menjawab apa. Dialihkannya pandangannya dari Suho untuk menatap foto-foto yang tergantung di sebelah kirinya. Semuanya adalah foto mereka berlima—dia, Suho, D.O, Kai, dan Sehun, dalam berbagai pose dan busana. Namun, Baekhyun tak bisa jika harus melupakan bahwa di setiap foto itu seharusnya ada satu orang lagi. Satu orang yang selalu berdiri paling ujung sebelah kiri karena dia adalah yang paling tinggi. Seseorang yang tak pernah berfoto tanpa ada senyuman lebar di wajahnya. Seseorang yang selalu berpose dengan dua jari membentuk tanda ‘V’ karena dia pikir pose itu sangat cocok untuknya yang mendapat julukan Happy Virus. Ya, di setiap foto yang tergantung di dinding itu seharusnya ada dia, orang yang sekarang berhasil membuat Baekhyun merindukannya setengah mati—Park Chanyeol.

***

“Besok hari ulangtahunmu, kan, Hyung? Kau ingin hadiah apa dari kami semua?” D.O bertanya ketika mereka berlima tengah berada di dalam mobil untuk pulang menuju dorm usai tampil di salah satu acara KBS.

“O? Hadiah? Ng…apa, ya?” Baekhyun menyahut tak yakin.

“Bagaimana kalau sepatu baru?” celetuk Sehun yang duduk tepat di belakang Baekhyun.

“Kenapa sepatu?” tanya Suho ingin tahu.

“Habisnya…Baekhyun-hyung selalu memakai sepatuku tanpa bilang-bilang, sih. Aku, kan, jadi repot kalau harus mencarinya,” jawab Sehun dengan wajah cemberut.

Mereka berlima tertawa, kemudian Kai menyahut, “Kupikir sebaiknya kita tidak usah memberitahu Baekhyun-hyung dulu tentang hadiah yang akan kita berikan padanya. Kan, biar jadi kejutan!”

Mendengar kata-kata Kai, Baekhyun jadi tertegun. Kejutan…itu adalah kata yang selalu diucapkan Chanyeol setiap kali ulangtahun Baekhyun hamper tiba. Orang itu rupanya senang sekali memberi Baekhyun kejutan, karenanya dia akan mati-matian membuat semua orang di sekeliling Baekhyun tutup mulut untuk menjaga kerahasiaan ‘kejutan’ yang direncanakannya untuk Baekhyun setiap tahun.

Baekhyun ingat, tahun lalu dia mendapat hadiah berupa boneka teddy-bear raksasa dari Chanyeol di ulangtahunnya yang ke-20. Waktu itu, ketika Baekhyun bertanya kenapa Chanyeol memberinya boneka, dengan senyum lebar di wajahnya lelaki itu menjawab, “Biar kau tidak kesepian kalau sewaktu-waktu aku tidak bisa menemanimu, makanya aku memberimu ini. Lihat, tingginya hampir sama dengan tinggiku, kan?” Dan Baekhyun hanya memutar matanya mendengar alasan Chanyeol yang baginya sangat kekanak-kanakkan itu. Namun detik ini, entah kenapa dia justru merindukan Chanyeol dan segala sifat kekanak-kanakkannya itu. Chanyeol-ah, dia membatin sedih, apakah kau benar-benar telah menghilang untuk selamanya?

***

Sesampainya di dorm, tanpa pikir panjang Baekhyun langsung berlari masuk ke kamarnya untuk mencari boneka pemberian Chanyeol. Namun nihil. Dia tertawa kering ketika menyadari bahwa Kris memang tak pernah bercanda ketika mengatakan padanya bahwa dia benar-benar akan menghilangkan Chanyeol dari hidupnya, dan itu berarti juga termasuk dengan segala hal yang menandai keberadaannya.

Rasanya Baekhyun ingin berteriak sekeras-kerasnya dan berlari sekencang-kencangnya untuk bisa melupakan semua hal tentang Chanyeol, tetapi dia tahu dia tidak akan bisa melupakannya karena sejujurnya sejak dulu memang Chanyeol-lah sahabat terdekatnya, orang yang memiliki tempat paling besar di hatinya, hingga sejuta kali pun mencoba, Baekhyun tahu bahwa sampai kapanpun Chanyeol tak akan bisa tergantikan.

Baekhyun terduduk lemas di ranjangnya, sibuk menyalahkan dirinya sendiri yang terlalu gampang disulut emosi dan tak pernah bisa berpikir panjang. Dia benci pada dirinya yang iya-iya saja ketika Kris menanyakan padanya apakah dia benar-benar ingin menghapus Chanyeol dari hidupnya. Padahal waktu itu dia sadar sepenuhnya, tapi kenapa dia tidak bisa berpikir dengan akal sehatnya dan bilang tidak hingga keadaannya tak perlu harus jadi seperti sekarang?

“Byun Baekhyun, kau memang lelaki paling brengsek sedunia!” Baekhyun memaki dirinya sendiri, kemudian mulai terisak-isak di tepi ranjangnya. Tiba-tiba saja, sudut matanya menangkap sebuah bingkai foto yang berada di atas meja di dekat lampu tidurnya. Dengan tangan yang gemetar, Baekhyun meraih foto itu dan memandang wajah yang ada di dalamnya. Seharusnya, di dalam foto itu ada dirinya dan Chanyeol yang sedang tersenyum lebar sambil mengalungkan tangan di bahu sama lain, tetapi sekarang yang tertinggal hanyalah dirinya yang tersenyum sendirian, mengalungkan tangan kepada makhluk tak kasatmata yang ada di sampingnya. Baekhyun kemudian membalik bingkai foto itu dan menemukan kalimat yang ditulis dengan tulisan tangan di bagian sudut kanan bawah yang bunyinya : BaekYeol will smile and be here for each other like this, always and forever…

Dan seketika, tangis Baekhyun pun kembali pecah.

***

Malamnya…

“Kita bertemu lagi, Baekhyun-ssi,” sapa Kris seraya menyeringai memandang Baekhyun yang sedang tidur di ranjangnya. Kali ini, dia sengaja tidak membangunkan Baekhyun karena dia sendiri datang diam-diam kemari, susah payah mengelabui pimpinannya dan para penjaga Departemen Mimpi yang terkenal paling benci pada orang yang melanggar aturan, apapun alasannya. Tapi apa boleh buat, Kris rupanya sudah muak menghadapi igauan Baekhyun yang selalu menyebut-nyebut nama Chanyeol dan memintanya untuk kembali pulang. Karenanya, sekarang dia ada di sini untuk mencabut kembali permintaan Baekhyun yang telah dikabulkannya agar lelaki itu tak lagi bisa mengganggu kehidupan sehari-harinya.

“Maaf, Baekhyun-ssi, tapi kurasa kau adalah yang paling tidak peka dari semua klienku selama ini,” kata Kris seraya menggeleng-gelengkan kepalanya dengan prihatin. “Kalau begitu, sepertinya aku harus segera mengembalikan Park Chanyeol ke dalam hidupmu supaya aku tidak perlu melihat semua mimpi buruk dan mendengar rengekan-rengekanmu lagi,” lanjutnya, kemudian menjentikkan jarinya di hadapan wajah lelaki yang tengah berbaring di hadapannya.

Well, kurasa ini cukup. Kuharap dengan begini kau tidak akan merepotkanku lagi, Baekhyun-ssi. Dan semoga kau bangun dengan baik besok pagi.” Usai mengucapkan kalimat itu, Kris langsung menghilang dalam sekejap mata, sama cepatnya dengan ketika pertama kali dia pergi dari kamar ini nyaris sebulan yang lalu.

***

Masih di malam yang sama, tepat pukul 24.00…

“Saengil chukkahamnida, saengil chukkahamnida, saranghaneun urie Baekhyunnie, saengil chukkahamnida…”

Baekhyun buru-buru bangun dari tidur tidak nyenyaknya ketika samar-samar mendengar suara orang-orang menyanyikan lagu selamat ulangtahun untuknya. Lelaki itu memicingkan mata dan ternganga selebar-lebarnya ketika melihat siapa saja yang sudah berdiri mengelilinginya di tepi ranjang—Suho, D.O. Kai, Sehun, dan…Chanyeol! Astaga, benarkah itu Chanyeol? Park Chanyeol?

“Chanyeol-ah?” bisik Baekhyun dengan suara serak, terlalu takut kalau apa yang dilihatnya sekarang hanyalah mimpi.

“Chukkae, urie Baekhyunnie!” Chanyeol menyahut sambil nyengir lebar, kemudian buru-buru menghambur untuk memeluk Baekhyun erat-erat.

Baekhyun menelan ludah. “Chanyeol-ah, ini-ini…benar kau, kan? Aku tidak sedang bermimpi, kan?” ujarnya, masih belum bisa mempercayai keabsahan pendengaran dan penglihatannya.

Chanyeol melepas pelukannya kemudian memandang Baekhyun dengan sepasang mata Bambinya. “Dasar bodoh. Tentu saja ini aku. Memangnya kau mengharapkan siapa lagi? SNSD-sunbaenim?” guraunya, kemudian tersenyum seraya mengacak rambut Baekhyun.

“Ya ampun. Rasanya aku kepengin muntah, nih, kalau sudah melihat BaekYeol moment seperti ini,” Kai tiba-tiba nyeletuk dan membuat semua orang di situ tertawa kecuali Baekhyun.

“Baekhyun-ah, jangan terus-terusan bengong begitu, dong. Tiup lilin dan potong kuenya sekarang saja, yuk!” Kali ini Suho yang berkata seraya menyodorkan kue tart yang dibawanya ke depan hidung Baekhyun.

“Cepat buat permohonanmu, Hyung!” Sehun berseru semangat dari sebelah kiri Baekhyun.

Baekhyun mengangguk ragu, tetapi tetap memejamkan matanya untuk membuat permohonan. Beberapa detik kemudian, lelaki itu sudah dihujani dengan krim kue tart yang dioleskan ke wajahnya oleh kelima orang di sekelilingnya ketika dia membuka mata. “Ya!” dia memekik kaget, tetapi sepertinya tidak ada yang berniat menghentikan aksinya ‘menghiasi’ wajah Baekhyun.

“Aigooo~ urie Baekhyunnie tampan sekali, ya?” kata Chanyeol sambil tertawa-tawa.

Mendengar suara Chanyeol, Baekhyun terkesiap. Buru-buru dialihkannya pandangannya untuk menatap Chanyeol, seolah takut bahwa lelaki itu bisa kembali menghilang dari hadapannya kapan saja. “Chanyeol-ah, jangan kau kemana-mana, ya. Tetaplah di sini bersamaku, dan jangan pernah bosan menghadapiku yang pemarah dan menjengkelkan ini. Kau harus berjanji, ya, Chanyeol-ah,” dia berbisik tanpa suara di antara ramainya teriakan kelima orang di sekilingnya, kemudian tersenyum dengan mata berkaca-kaca.

Baekhyun sama sekali tak menduga bahwa Chanyeol entah bagaimana bisa mendengar apa yang diucapkannya karena kemudian lelaki yang lebih muda itu menoleh padanya dan tersenyum sangat lebar sambil balas berbisik, “Aku berjanji, Baekhyunnie. Tentu saja aku tak akan kemana-mana. Karena…bukankah aku memang orang yang paling tak tergantikan untukmu?”

Setelahnya, keduanya kembali berpelukan sementara keempat lelaki lainnya ramai-ramai meneriaki mereka, hingga tawa pun pecah di antara keenamnya. Dan di sana, tepat di balik jendela kamar Baekhyun yang terbuka tirainya, Kris memperhatikan pemandangan itu dengan seringai senang terpeta di wajahnya.

 

-END-

Iklan
That Irreplaceable Person

3 pemikiran pada “That Irreplaceable Person

    1. uwaaa terimakasih yaa 🙂
      wah jgn panggil author deh, saya mah masih abal nulisnya hehe. panggil puput atau yuri aja 🙂
      sip. thanks again dan jangan bosen main ke sini ya 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s