Jodoh Nggak Akan Kemana-mana

tumblr.com

 

“Tuh, lihat! Mereka bertengkar lagi, kan?” Bulan mengomel seraya mendelik jengkel ke arah Bintang.

“Biarkan saja. Mereka hanya belum bisa memahami apa yang sebenarnya mereka rasakan,” jawab Bintang kalem, tersenyum sedikit untuk meredakan emosi Bulan.

Bulan menyeringai, kemudian menukas, “Lalu sampai kapan mereka mau dibiarkan begitu terus? Nanti kalau ada apa-apa gimana?”

“Ada apa-apa—maksudnya?” sahut Bintang tak mengerti.

Bulan menelan ludah, entah kenapa tiba-tiba dia merasa gugup dan susah bicara. “Kalau…kalau misalnya keburu pisah…gimana?” tanyanya ketika akhirnya dia bisa berkata-kata, meski dengan suara kecil yang nyaris menyerupai bisikan.

Bintang tertegun mendengar ucapan Bulan barusan. Untuk sesaat dia juga tidak mengatakan apa-apa, hanya membiarkan keheningan menggantung di sekeliling mereka. “Bulan,” ujar Bintang lambat-lambat setelah lewat beberapa menit, ”apa kamu cinta sama aku?”

Mendengar pertanyaan itu, mata Bulan mengerjap bingung. “Eh? Maksudnya apa coba nanya begitu?”

“Jawab dulu aja, deh,” kata Bintang setengah tak sabar.

“Iya lah. Aku cinta sama kamu, Bintang,” jawab Bulan mantap.

“Yakin?”

“Seratus persen,” angguk Bulan, sekali lagi tampak benar-benar sungguh-sungguh.

Bintang tersenyum. “Walaupun setiap hari kita cuma bisa ketemu sebentar kaya begini, apa kamu yakin kamu nggak bakal ninggalin aku? Walaupun akan ada banyak waktu di mana aku nggak bakal bisa kamu lihat, apa kamu yakin masih bisa bertahan buat cinta sama aku?”

“Bintang, apa-apaan—“

“Jawab aja, Bulan,” Bintang buru-buru menyela, “Aku pengen tahu apa jawaban kamu.”

“Buat apa kamu nanyain itu semua, Bintang? Udah jelas jawabannya iya.”

Bintang tersenyum. “Nah, kalau udah begitu, buat apa kamu mengkhawatirkan mereka, Bulan? Aku bisa ngeliat, kok, kalau mereka memang saling mencintai. Jodoh nggak akan ke mana-mana, Bulan, walau apa pun yang terjadi—seperti kita…”

“Seperti…kita?” Bulan mengulangi, nadanya takjub.

Bintang mengangguk mantap. “Ya. Seperti kita.”

***

“Tang, elo percaya keajaiban nggak?” Bulan bertanya ketika dia dan Bintang sedang duduk berdua saja di halaman berumput rumah Bulan.

Bintang menyeringai. “Keajaiban apaan?”

“Iya, keajaiban,” ujar Bulan, “Misalnya saja…apa elo percaya kalau semua penghuni langit bisa bicara seperti manusia?”

“Hah? Maksudnya?” Bintang bertanya tak mengerti.

Bulan menelengkan kepalanya untuk memandang Bintang. “Ih, lemot ah lo. Jadi, gue mikir gimana kalau misalnya bintang, bulan, kumpulan awan, sama matahari bisa ngomong kaya kita. Gimana kalau seandainya mereka juga punya perasaan kaya kita. Gimana kalau mereka bisa marah, bisa sedih, bisa bête, dan bisa…jatuh cinta.”

Bintang menaikkan sebelah alisnya, kemudian menyahut, “Lan, elo…masih waras, kan?”

Refleks, Bulan melayangkan jitakan gemas ke kepala sahabat kecilnya itu. “Rese, ah,” rutuknya jengkel.

Bintang meringis kesakitan sebelum tergelak tergelak. “My sweety baby, Bulan Kinanthi Adyana, sini gue bilangin sesuatu,” katanya dengan nada sok berahasia.

“Apaan?”

“Ehm,” Bintang berdehem sekali, tangannya terulur untuk merangkul bahu Bulan. “Yang gue percaya sekarang itu, sebenernya cuma satu…”

“Eh? Apa?” Bulan bertanya penasaran seraya menolehkan kepalanya ke arah Bintang, hingga kini wajah mereka sudah berada dekat sekali satu sama lain.

“Yaitu,” Bintang berbisik lambat-lambat, “kalau gue cinta sama elo, Lan.”

Mendengar ucapan Bintang, Bulan hanya bisa mengerjap dan menelan sendiri ludahnya. Dia kehabisan kata-kata.

***

Sementara itu, di langit di atas kepala mereka berdua…

“Tuh, lihat! Bintang udah mengakui perasaannya !”

“Makanya, aku bilang juga apa. Jodoh nggak akan ke mana-mana, kan?”

“Seperti kita?”

“Iya, seperti kita. Kecuali kalau—“

“Kecuali kalau apa?”

“Kecuali kalau suatu saat nanti aku kecantol sama kumpulan awan empuk dan putih yang bertebaran di langit ini.”

“Ih, Bintang apa-apaan, sih!”

Pada akhirnya, malam itu ditutup dengan adegan Bulan yang ngambek pada Bintang dan Bintang yang sibuk meminta maaf pada Bulan, sementara sekumpulan awan di sekitar mereka hanya bisa terkikik geli melihat tingkah keduanya.

DING!

Iklan

2 pemikiran pada “Jodoh Nggak Akan Kemana-mana

  1. er, aloha… saia baca yang ini dulu ya, manis banget deh. awalnya saia kira itu yang bicara depannya seseorang bernama Bintang dan Bulan, tapi ternyata merupakan gabungan keduanya toh.
    kerens. astagah. kok bisa sih kakak kepikiran nulis cerita surealis yang digabung sama realita terus bisa menghasilkan dialog-dialog cerdik dan lucu gini sih. terus kalimat penutupnya juga bikin geregetan. hahaha. si bintang di langit bisa juga bercanda ya. lols.
    keep writing.

    1. fyuh. aku sengaja bales baru sekarang nih komennya soalnya kalo bales lewat hape suka ga nyampe maksudnya *halah*
      jadi awalnya aku kepikirannya cuman yg bagian awal sama akhirnya doang. pengen bikin twistnya yg beda soalnya kan itu ciri khas flashfic. nah pas tengahnya ngeblank yaudah aku mikir2 mau tulis apa akhirnya dapet ide itu. sebenernya ini terlalu cheesy kalo menurut aku pribadi *malu*
      tapi thank you atas apresiasinya 😀 jangan bosen pokoknya main ke sini 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s