[#15HariNgeblogFF] Menikahlah Denganku…

“Menikahlah denganku,” Pria di hadapanku berkata, pelan namun mantap.

Oh, tidak, aku membatin, jangan sekarang. Jangan sekarang dan jangan memandangiku dengan sepasang mata coklat keemasan itu. Dan, Demi Tuhan, jangan memintaku untuk menikah denganmu!

Lanjutkan membaca “[#15HariNgeblogFF] Menikahlah Denganku…” →

[#15HariNgeblogFF] Menikahlah Denganku…

[#15HariNgeblogFF] Sah!

Aku menatap lelaki yang duduk cukup jauh dariku dengan pandangan sedih. Benarkah itu dia, lelaki yang selama lima tahun ini aku cintai dan mencintaiku? Benarkah dia ayah dari anak-anak kami yang setengah mati aku sayangi? Benarkah dia yang dulu pernah bilang akan selalu merindukanku, meski waktu meningkahi usia dan masa mudaku? Benarkah dia yang dengan berani mencium bibirku di atas panggung pertunjukkan, ketika pertama kali mengaku cinta padaku? Benarkah itu dia? Karena jika ya adalah jawabannya, aku tidak habis pikir kenapa kami berdua harus duduk di sini, di ruang pengadilan ini, dan repot-repot menunggu hakim di hadapan kami membacakan sidang perceraian kami? Ini tidak masuk akal, benar, kan?

Lanjutkan membaca “[#15HariNgeblogFF] Sah!” →

[#15HariNgeblogFF] Sah!

[#15HariNgeblogFF] Ini Bukan Judul Terakhir.

“Ti,” Langit memulai, merangkulkan sebelah tangan ke bahuku.

Aku menoleh padanya, membiarkan angin menyapu helai-helai rambut dan wajahku. “Hmmm?”

“Boleh lihat telapak kaki kamu nggak?” tanyanya kemudian. Raut wajahnya serius tapi sepasang matanya tersenyum jenaka.

Aku tertawa. “Lagi?” balasku, merujuk pada kebiasaan menggombalnya yang seringkali datang tiba-tiba seperti ini.

Langit nyengir, memamerkan deretan giginya yang rapi. “Dengerin dulu, dong. Fresh from the oven, nih,” katanya, menarikku lebih dekat lagi padanya.

Lanjutkan membaca “[#15HariNgeblogFF] Ini Bukan Judul Terakhir.” →

[#15HariNgeblogFF] Ini Bukan Judul Terakhir.

[#15HariNgeblogFF] Kalau Odol Lagi Jatuh Cinta…

Aku memandangi bayangan diriku sendiri di cermin bundar di hadapanku. Oke. Bahkan dengan mulut penuh busa seperti ini aku masih terlihat luar biasa ganteng. Plus kaya. Plus masih muda. Plus sedang jatuh cinta. Sempurna? Memang, jangan ditanya. Jadi, di mana sebenarnya letak masalahnya?

Lanjutkan membaca “[#15HariNgeblogFF] Kalau Odol Lagi Jatuh Cinta…” →

[#15HariNgeblogFF] Kalau Odol Lagi Jatuh Cinta…

[#15HariNgeblogFF] Merindukanmu Itu Seru!

Aku. Kangen. Banget. When will we meet again?

Aku nyengir sedikit saat membaca pesan singkat yang kutulis sendiri itu sebelum akhirnya menekan tombol send. Cheesy, aku tahu, tapi biar saja. Toh, setelahnya ada lega yang terasa. Ah, rupanya aku memang benar-benar merindukan dia…

Lanjutkan membaca “[#15HariNgeblogFF] Merindukanmu Itu Seru!” →

[#15HariNgeblogFF] Merindukanmu Itu Seru!

[#15HariNgeblogFF] Tentangmu Yang Selalu Manis

Ini adalah semua tentangmu. Tentang rasamu yang meleleh di bibirku—manis, lembut, meski ada tekstur kasar dan pahit yang menyisip. Tentang kulitmu yang coklat dan keemasan, yang selalu bisa membuatku betah berlama-lama memandangimu. Tentang keajaiban-keajaiban yang terjejak dalam tubuhmu, yang tak bosan mengejutkanku setiap kita bertemu.

Lanjutkan membaca “[#15HariNgeblogFF] Tentangmu Yang Selalu Manis” →

[#15HariNgeblogFF] Tentangmu Yang Selalu Manis

[#15HariNgeblogFF] Senyum Untukmu Yang Lucu.

Perpustakaan kampus, jam istirahat makan siang…

“Maaf, Kak. Ini ada surat buat Kakak.” Seseorang berkata padaku seraya mengulurkan secarik kertas kecil ke arahku. Aku mengangkat wajah dan menemukan seraut wajah yang asing bagiku sedang menatapku penuh minat.

Kuambil surat itu. “Dari siapa, ya?” tanyaku ingin tahu.

Si pengantar surat mengangkat bahu. “Saya hanya disuruh menyampaikan, Kak. Permisi,” katanya, buru-buru meninggalkanku dengan seringaian aneh tertinggal di wajahnya.

Lanjutkan membaca “[#15HariNgeblogFF] Senyum Untukmu Yang Lucu.” →

[#15HariNgeblogFF] Senyum Untukmu Yang Lucu.