Mencintai Seratus Persen (Aradhya – Sagarra’s Side Story)

picture cr. yuridistapp

***

Sebenarnya, boleh tidak, sih, mencintai seseorang seratus persen?

Dulu-dulu, Aradhya selalu mencintai sambil khawatir. Dia takut pada banyak hal — rasa bosan, hening yang terlalu panjang, jarak, pun perpisahan. Dia melewati ritual sebelum memejam untuk lelap dengan merapal doa-doa agar besoknya cintanya masih baik-baik saja. Agar khawatir yang hari ini bisa ikut lelap bersamanya.

Lalu, Sagarra Biru muncul dengan senyum dan dua lesung pipi di ujung bibirnya. Membuatnya jatuh cinta. Seratus persen.

Sejak Aga menjadi laki-laki yang selalu dilihatnya hampir setiap hari, khawatir seolah tidak menjadi bagian dari dirinya lagi. Di malam hari, Aradhya berbaring di ranjangnya dan melihat masa depannya bersama Aga di langit-langit, lalu memejam. Tahu-tahu, petang dijelang pagi dan dia hanya perlu bangun untuk jatuh cinta lagi.

Semudah itu, sesederhana itu.

Kadang-kadang, Aradhya bertanya-tanya apakah seseorang bisa jatuh cinta berkali-kali pada orang yang sama? Apakah ini wajar? Apakah boleh mencintai seseorang tanpa menjadi khawatir? Seringkali, dia bahkan dengan sengaja membuat kepalanya membayangkan yang jelek-jelek, yang buruk-buruk, yang dulu selalu menakutinya setiap hari sambil mencintai. Dia mencoba membayangkan hidup yang tidak ada Aga di dalamnya. Hidup yang biasa-biasa saja, tanpa sepasang mata yang seolah selalu bilang, “Hei, aku pulang”. Hidup yang tidak melibatkan perasaan nyaman hanya dengan berada di samping lelaki itu, atau keinginan untuk terus menatap wajahnya betapapun seringnya dia melakukannya. Hidup yang datar, yang membuatnya tidak merasa rindu, meskipun Aga jelas-jelas sedang berada di hadapannya, menatapnya—hanya dia, seolah Aradhya adalah pusat rotasi lelaki itu.

Tetapi, dia tidak bisa.

Mencintai Aga seolah menjadi definisi baru soal bahagia untuk Aradhya. Cukup seperti itu. Selalu cukup. Mereka memang bertengkar, kadangkala melibatkan tangisan atau cerita panjang lebar kepada Bidari, kadangkala Aradhya ingin menyerah, atau dia meminta Aga untuk sama-sama menyerah, tetapi jauh di dalam hatinya, Aradhya tahu dia akan selalu kembali, dan Aga tidak akan pernah pergi. Dia selalu tahu kalau kali ini, mencintai tidak perlu melibatkan hati yang patah lagi.

Dan cinta yang seratus persen tadi, mungkin tidak pernah berkurang karena selalu dilipatgandakan berkali-kali

—oleh senyum berlesung pipi, mata menjelma rumah, genggaman jemari, dan diri yang selalu siap mendampingi.

Rasanya, cintanya yang seratus persen itu akan baik-baik saja.

 

***DING!*

 

 

 

Iklan

2 pemikiran pada “Mencintai Seratus Persen (Aradhya – Sagarra’s Side Story)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s