Kategori: saya bicara

Untukmu, Lelakiku: Bagian Duapuluh Lima

picture cr. yuridistapp

***

Hai, Lelakiku.

Maaf, aku belum sempat menulis lagi sejak lebih dari setahun lalu. Ada banyak hal yang terjadi sejak terakhir kali aku menyapamu dan ya, meskipun hari ini tidak bisa dikatakan spesial, tetapi aku tetap ingin berbicara lagi denganmu. Kuharap kau belum bosan, ya? Ah, tidak, maksudku kau boleh saja bosan, tetapi kau harus tetap mendengarkan. Curang, eh?

(lebih…)

Iklan

Tentang: Kotamu dan Aku

 

pic cr.yuridistapp
                                  pic cr.yuridistapp

***

Dan aku berdiam dalam peluk kota yang muram,

satu, dua, perlahan isi kepalaku habis karam.

Berhari-hari hujan, bermalam-malam temaram,

aku adalah nyala yang sekejap lagi pejam.

(lebih…)

Tentang: Meninggalkan lalu Merindu

Processed with VSCO with a8 preset
                                                         picture cr.yuridistapp

***

Kehidupan mengajarkan kita sebuah siklus yang sangat wajar, sangat sederhana, namun ketika ditilik kembali, begitu menyakitkan. Siklus yang terkadang begitu sulit dilakukan, sampai-sampai membikin keduabelah pipi memerah karena sepasang mata yang terus menerus hujan. Namun, terkadang siklus itu terasa begitu mudah dilakukan. Begitu tidak terasanya, begitu luwesnya mengikat diri dengan siklus-siklus lain sehingga terkadang, kita tidak sadar telah melaluinya.

Siklus itu kusebut siklus meninggalkan.

(lebih…)

Untukmu, Lelakiku: Bagian Duapuluhempat

apart

pic cr. weheartit.com

***

Dear kamu,

Hei. Apa kabar? Akhir-akhir ini musim sedang buruk, jadi kuharap kau tidak sedang terkena flu atau semacamnya. Aku di sini juga sedang berusaha untuk tidak jatuh sakit. Jadwal tidurku agak berantakan belakangan ini dan aku cenderung tidak memedulikan menu makanku, jadi, yeah, doakan supaya aku tidak terkapar. Kita harus menjaga diri masing-masing dengan baik, ya.

(lebih…)

Tentang: Jatuh Cinta

bb

picture cr. weheartit.com

***

Pada dasarnya, aku adalah jenis orang yang memercayai bahwa manusia bisa belajar mencintai. Pada awalnya mungkin biasa saja atau justru tak suka. Lalu jadi terpaksa mengakui kalau yang tak disukainya juga ikut berbagi dunia dengannya, meski mungkin alasan penciptaannya bisa samasekali berbeda. Baru setelah itu dia beranjak kepada apa yang disebut dengan menerima, untuk kemudian menjadi terbiasa. Setelahnya, dia mencoba mengerti. Hingga pada akhirnya sampailah dia kepada titik dimana dia tahu dia telah memahami.

Begitulah menurutku bagaimana seseorang menjalani proses belajar mencintai. Berkali-kali. Sampai seseorang itu mahir hingga tak perlu berpusing lagi jika proses belajarnya tak sesuai yang diharapkan.

Namun, tidak dengan jatuh cinta.

(lebih…)