Potongan ‘Perjalanan’ (Bidari dan Arayya)

taken from tumblr.com

p.s : Sepotong tulisan yang belum utuh. Ini bagian tengah menjelang akhir. Entah kenapa bagian ini yang muncul di kepala.

***

Dari luar kereta, Bidari menatap Arayya—lelaki yang mungkin tak akan pernah ia lihat lagi untuk selamanya. Bidari tersenyum, merasakan hatinya melega karena mulai saat kereta yang akan membawa Arayya pulang ke kotanya itu bergerak, dia tak perlu lagi harus takut menghadapi perasaannya. Dia telah merelakan Arayya pergi, bersama dengan cintanya kepada lelaki itu. Dia telah memilih untuk tetap tinggal, di sini, menjaga agar kedua kakinya selalu berpijak di tempat di mana dia tahu dan sepenuhnya paham bahwa Arayya bukanlah orang itu—orang yang diciptakan khusus untuknya. Untuk semua itu, Bidari mencoba berteman dengan rasa sakit dan kehilangan, berusaha untuk tidak menuruti dorongan sinting di dalam kepalanya yang menyuruhnya berlari ke pelukan lelaki yang kini sedang berdiri dan balik menatapnya dari dalam kereta. Apa yang membuatnya yakin untuk melakukan semua ini, dia sendiri juga tidak sepenuhnya mengerti. Mungkin karena sampai sejauh ini, yang bisa dia lihat bersama Arayya hanyalah jalan berbatu yang terjal dan melelahkan. Mungkin karena jauh di dalam lubuk hatinya, dia tahu dia hanyalah seorang anak, dan dia tak mampu menyalahi kodratnya untuk berbakti kepada kedua orangtuanya. Atau mungkin, sebenar-benarnya dia telah sungguh-sungguh ikhlas dan mampu menghadapi ini semua dengan bijaksana. Mungkin.

Kereta yang ditumpangi Arayya perlahan lalu bergerak menjauh, meninggalkan bayangan sosok  yang sedang tersenyum kepada Bidari sebagai penanda perpisahan. Tidak ada airmata, tidak ada ketidakrelaan. Dia dan Arayya telah sama-sama berjanji untuk saling melepaskan, dan mereka berdua telah berhasil melakukannya. Kali ini, keduanya benar-benar tak akan lagi berusaha saling mencari karena mereka telah sama-sama percaya, bahwa bagaimana pun kerasnya usaha mereka, selama takdir keduanya tak dituliskan untuk melengkapi satu dengan yang lainnya, keduanya tak akan pernah saling menemukan.

Karena bahkan, dua orang yang saling mencintai pun takdirnya bisa selalu bersilangan dan tak akan pernah bertautan. Kita tak akan pernah tahu kapan kita akhirnya jatuh cinta kepada orang yang tepat, atau kenapa kita harus jatuh cinta kepada orang yang salah. Tuhan hanya mau memberikan petunjuk bahwa yang kita cari hanya ada satu di antara milyaran. Untuk saat ini, ada baiknya kita tak melulu sibuk mencintai. Ada baiknya kita juga belajar memberi. Karena mungkin, di antara pemberian kita terselip cinta yang sejatinya cinta—meski kadang tak terjangkau mata.

Suatu saat nanti, ketika dunia kita sudah bisa kembali berputar pada porosnya yang lain, mungkin ketika itulah kita akan memahami, bahwa cinta hanya membutuhkan kerelaan untuk mencapai sebuah kesempurnaan.

***

Iklan
Potongan ‘Perjalanan’ (Bidari dan Arayya)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s