Rumah Tanpa Jendela

Jakarta, Desember 2011

Waktu aku menyetir mobilku melewati jalanan yang cukup lengang untuk ukuran kota Jakarta di malam hari, aku ingat padamu. Aku ingat pada kata-kata penyemangatmu yang manis, pada argumen-argumen konyolmu waktu kita berdebat, pada pujianmu yang tersirat, pada sikapmu yang seperti roller coaster, pada kebiasaanmu yang aneh, pada ucapanmu yang membingungkan, pada hal-hal favoritmu yang menyenangkan, dan pada segala keambiguan dan ketidakpastian yang kau petakan untukku. Belum-belum aku sudah rindu pada semua itu, dan aku tidak menyukai fakta menjengkelkan ini.

Lanjutkan membaca “Rumah Tanpa Jendela”

Rumah Tanpa Jendela

[#15Hari NgeblogFF] Inilah Aku, Tanpamu.

“Araya—sudah nggak ada, Mi.”

Ucapan itu selalu terngiang-ngiang di telingaku bahkan hingga hari ini—hari yang sama dengan ketika kau pergi dariku, tanpa kata, tanpa ucapan selamat tinggal. Inilah aku, tanpamu, Araya. Memiliki ketiadaan, kehilangan dunianya. Kau pergi membawa banyak hal dariku, Araya. Ada sekotak penuh cinta, kenangan, impian, harapan, dan keinginan untuk bertahan hidup yang kau ambil dariku. Dan hatiku, apakah kau tahu bahwa sejak kepergianmu ada luka baru di sana—yang berdenyut sakit setiap kali aku mengingatmu?

Lanjutkan membaca “[#15Hari NgeblogFF] Inilah Aku, Tanpamu.”

[#15Hari NgeblogFF] Inilah Aku, Tanpamu.

[#15HariNgeblogFF] Jadilah Milikku, Mau?

“Mi, bolehkah aku pinjam kamu seumur hidup?” tanyamu, memberiku tatapan aku-sedang-serius-jadi-kumohon-jangan-tertawa padaku.

Bodoh. Mana mungkin aku bisa tertawa di saat jantungku berdentam-dentam karena tanyamu? Aku menghela nafas, mencoba menetralkan sensasi roller coaster di dalam tubuhku sebelum memberi jawabku padamu.

Lanjutkan membaca “[#15HariNgeblogFF] Jadilah Milikku, Mau?”

[#15HariNgeblogFF] Jadilah Milikku, Mau?