Kamu dan Aku

Cuma sekumpulan kata di dalam kepala yang tercipta karena sebuah drama (read : Rooftop Prince)…

Kamu

Tak tahu—sekalipun tak pernah tahu, bahwa ada yang diam-diam sedang mencintaimu.

Melihatmu, tapi tak ingin dilihat olehmu,

karena terlalu takut bahwa hati akan nekat bicara sendiri.

Mengingatmu, tapi tak mau diingat olehmu,

karena terlalu takut mata akan memberitahumu segalanya.

Dia, si pengecut yang mencintaimu sampai seperti ini,

itu aku.

 

Aku

Menemukanmu sedang tersenyum ketika melihatku.

Kamu mengulurkan tangan dan meraupku ke dalam pelukan.

Dadamu bergetar karena tawa, dan aku menyukainya.

Bibirmu tersenyum di atas kepalaku, dan aku menyukainya.

Ini mimpi, aku tahu.

Tapi tetap saja—aku menyukainya.

 

Kamu

Yang tersenyum kepada siapa saja tetapi tidak kepadaku.

Bukan, kau bukannya tak mau—

hanya saja aku yang tak punya nyali untuk memandangmu.

Hatiku tak seberani itu, kau tahu.

Kadang-kadang, sinarmu memang terlalu menyilaukanku.

 

Aku

Berdebar-debar sendirian.

Tersenyum-senyum memalukan.

Bertanya-tanya tak ada habisnya.

Menerka-nerka tanpa jeda.

Benarkah kamu jawaban dari segala?

 

Kamu

Salju berjatuhan,

angin bertiup-tiup mendinginkan,

dan langit menggelap ketika rembulan tertutup awan.

Tapi kamu, dan sebentuk senyum itu—

menghangatkan.

 

Aku

Tak bisa berhenti jatuh cinta setiap hari,

kepadamu.

Kau tersenyum, aku jatuh cinta.

Kau tertawa, aku semakin cinta.

Kau bicara, aku lagi-lagi mencinta.

Sejuta kali pun, aku rela kembali mengulangnya dari awal mula.

 

Kamu

Terlalu baik.

Terlampau naif.

Terkadang, bodoh dan menyebalkan.

Tapi juga manis dan mendebarkan.

Aku tidak tahu kenapa,

tapi kurasa kamu yang seperti itu

adalah yang paling sempurna.

 

Aku

Pernah, menangis diam-diam di belakangmu.

Pernah, marah diam-diam karena jengkel terhadapmu.

Pernah, bersedih diam-diam karena tingkahmu.

Pernah, tersenyum diam-diam di balik punggungmu.

Jadi, pernahkah kau melakukan hal yang sama tentangku?

 

Kamu

Datang, begitu saja.

Lalu pergi, ketika aku sudah mulai terbiasa.

Dan datang lagi, di saat aku sedang belajar bagaimana caranya lupa.

Kemudian pergi, untuk sekali lagi menggores luka.

Yang seperti ini, kapan kamu akan bosan melakukannya?

 

Aku

Bermimpi setiap hari bahwa kau dan aku adalah kita.

Berdua saja, bergandengan tangan dan saling memandang.

Percaya bahwa bagaimanapun juga, kita telah ditakdirkan bersama.

Katakanlah aku cuma sedang merangkai kata,

tapi ini adalah kata-kata terbaik yang aku punya.

 

Kamu

Melukisi hariku dengan tawa,

kemudian menambahkan hiasan tangis di pinggirannya.

Lalu menyapukan warna bahagia,

bercampur sedih di sudut-sudutnya.

Lukisan yang sudah jadi itu,

apakah kau bahkan menyadari bahwa kau yang membuatnya?

 

Aku

Mencoba untuk tetap di sini,

bertahan meski rasanya sudah tak bisa lagi.

Di dalam kepalaku, hanya ada kamu dan apa yang sedang kau cari.

Dan keduanya dengan mudahnya menjadikanku patah hati berkali-kali.

 

Kamu

Yang datang ke dalam khayal,

dan mengintip ke dalam mimpi setiap hari,

aku ingin bertanya,

sekali saja,

apakah kau juga melihatku di dalam duniamu?

 

Aku

Pun ketika kau tak bisa melihatku,

yang ada di depan mataku hanya kamu.

Selalu, tak lepas-lepas dari batas jarak penglihatanku.

Ironis sekali,

karena rupanya bagiku cinta tak pernah berpikir dua kali.

 

Iklan

11 pemikiran pada “Kamu dan Aku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s