Tag: flashfiction

[#15Hari NgeblogFF] Inilah Aku, Tanpamu.

“Araya—sudah nggak ada, Mi.”

Ucapan itu selalu terngiang-ngiang di telingaku bahkan hingga hari ini—hari yang sama dengan ketika kau pergi dariku, tanpa kata, tanpa ucapan selamat tinggal. Inilah aku, tanpamu, Araya. Memiliki ketiadaan, kehilangan dunianya. Kau pergi membawa banyak hal dariku, Araya. Ada sekotak penuh cinta, kenangan, impian, harapan, dan keinginan untuk bertahan hidup yang kau ambil dariku. Dan hatiku, apakah kau tahu bahwa sejak kepergianmu ada luka baru di sana—yang berdenyut sakit setiap kali aku mengingatmu?

(lebih…)

[#15HariNgeblogFF] Aku Benci Kamu Hari Ini.

Sebenarnya, sudah sejak lama aku kepengin menanyakan ini padamu. Aku ingin tahu, apakah kisah kita memang sudah ditakdirkan untuk menjadi semacam tiruan payah dari cerita Romeo dan Julliet? Maksudku, ketika aku tahu bahwa aku telah jatuh cinta padamu, aku sudah bilang pada diriku sendiri bahwa ini tidak akan pernah berhasil. Ada banyak sekali yang akan terluka di tempatku—orang-orang di sekelilingku, mereka yang mengandalkan aku, dan bahkan diriku sendiri pun akan kesakitan jika aku memaksa untuk bersamamu.

(lebih…)

[#15HariNgeblogFF] Ada Dia Di Matamu

Aku membencimu, gadis jahat. Pengkhianat, penipu, tidak bisa dipercaya. Setelah tahun-tahun yang kita lalui bersama, berani-beraninya kau bilang kau rindu padanya? Ya, aku mendengarmu, gadis jahat. Aku mendengar bisikmu yang mendambanya, aku mendengar ungkap inginmu untuk bertemu dengannya, segera. Semua itu, aku mendengarnya saat diam-diam melihatmu dari balik dedaunan di halaman. Kau, yang tengah melukisi jendela dengan namanya, mungkin tak akan pernah tahu bahwa aku bersembunyi di sana. Tapi aku melihatmu, gadis jahat. Aku melihat ada dia di matamu…

(lebih…)

[#15HariNgeblogFF] Aku Maunya Kamu, Titik.

Di sini, di dalam ruangan nyaris kosong ini, hanya ada aku dan dia—aku dan wanita itu. Dia tampak luar biasa cantik dalam balutan kemeja coklat dan celana jeans pudarnya. Aku sampai harus menelan ludah beberapa kali hanya karena mengagumi kesempurnaan kombinasi antara wajahnya yang kemerahan dan rambutnya yang basah karena keringat. Belum lagi bibirnya yang penuh dan ranum itu. Ah, dan bulu mata panjangnya juga. Lalu hidung bangirnya, leher jenjangnya, kulitnya… Well, wanita itu jelas-jelas menggoda meski tidak kelihatan seperti penggoda. Bahkan ketika dia diam seperti itu, cuma duduk di kursi di hadapanku tanpa melakukan apa-apa, aku bisa merasa terpanggil olehnya. Entah siapa yang sinting di sini, tapi yang jelas sekarang aku hanya ingin menikmati wanita itu hanya untuk diriku sendiri.

(lebih…)