Tentang: Diam, Satu dan Lain Hal

Processed with VSCO with c4 preset
                                                                       credit picture: @yuridistapp

Dari banyak sifat manusia yang tidak kusukai, ada satu yang amat kubenci: menjadi diam.

Aku adalah jenis orang yang tidak bisa diam, mendiamkan orang, atau jadi pendiam dalam jeda waktu lebih dari duapuluh menit. Bagiku, diam sama menjengkelkannya dengan berdiri berdesakan di dalam kereta listrik pada jam pergi atau pulang kerja. Aku tidak sedang membahas diam dalam konteks ‘tidak ikut campur terlalu banyak di dalam urusan orang lain’ atau ‘tidak sering mengomentari hal-hal yang jelas-jelas tidak lagi perlu dikomentari’ atau ‘tidak mendebatkan sesuatu yang ujungnya akan berakhir pada sebuah kata: terserah’.

Diam di sini adalah ketika kau sedang berbicara dengan manusia lain tetapi pada suatu detik ada hening yang menggantung di sekelilingmu, jenis keheningan tidak wajar yang menyesakkan dan kau jelas tidak menyukainya, kemudian kepalamu akan sibuk mencari tahu apakah adakah sesuatu yang salah yang sedang terjadi, namun jawabannya tidak juga kau temukan. Diam di sini berarti pula ketika kau jengkel setengah mati pada manusia lain dan kalau saja bisa, kau mau-mau saja mengumpat selama satu jam penuh di depan wajahnya hanya agar manusia itu paham betapa kau sedang sangat marah dan ingin mencekiknya, tetapi alih-alih melakukan itu, kau cuma diam karena tidak sanggup marah pada wajah yang sebenarnya ingin kau pandang selamanya, seumur hidupmu, sebagai wajah yang membuatmu tersenyum dan bukan sebaliknya, dan diammu yang ini begitu mengganggumu karena sebuah alasan sederhana: bagaimana bisa kau mendiamkan manusia yang begitu kau sayang? Diam di sini juga bisa berarti kau harus bertingkah menjadi sosok pendiam, sosok yang menyerupai manekin minus ekspresi, hanya agar kau tidak mengacaukan sesuatu tanpa sadar, karena kau tahu, sifatmu yang tidak bisa diam itu kadang-kadang bisa menjebakmu ke dalam sebuah bencana besar. Dan kau jelas tidak menginginkannya, bukan? Maka kau harus berpura-pura menjadi si pendiam itu, yang samasekali bukan dirimu, sambil dalam hati merutuki kenapa kau bahkan mau repot-repot mengubah diri, meskipun tidak untuk selamanya. Itulah mengapa diam jenis yang inipun kau benci setengah mati.

Kata orang, ada bentuk diam yang menenangkan ketika kau tengah bersama orang-orang yang paling dekat denganmu. Diam yang ini akan terjadi dengan sangat natural, dan kau tidak perlu mencari tahu adakah yang salah atau ribut menentukan di dalam kepalamu yang tidak bisa berhenti bekerja itu tentang topik apa yang harus kau ucapkan berikutnya. Diam yang ini justru akan membuatmu dengan mudah merasa nyaman dan kau akan bersyukur karena bahkan hanya dengan diam pun, kau sudah merasa dicukupkan. Namun, aku tentu saja tidak senaif itu sampai tidak bisa membedakan jenis diam yang ini dengan segala jenis lain yang kubenci tadi.

Mungkin, sebagai seseorang dengan kepribadian sanguinis, ‘diam’ bukanlah kata yang akan kupilih untuk mendeskripsikan sesuatu yang menyenangkan. Diam juga bisa jadi merupakan salah satu hal paling sulit di dunia untuk kumengerti. Diam akan lebih banyak kuasosiasikan dengan hal-hal yang berkaitan dengan kemarahan tertahan, emosi tak tersalurkan, keengganan untuk berkomunikasi, sifat pemalu yang kelewat parah, atau bahkan, perwujudan dari sikap antisosial. Aku bukannya mau menyamaratakan segala bentuk diam, tetapi aku hanya sedang membahas ‘diam’ dari sudut pandang satu orang, sudut pandang yang sifatnya personal.

Kupikir, aku masih berada di dalam perjalanan maha panjang dalam hal memahami diam. Boleh jadi, aku akan selamanya memiliki sudut pandang yang sama, namun, tidak menutup kemungkinan kalau suatu hari nanti, mungkin suatu hari ketika sedang hujan tak henti-henti atau saat aku memandang jutaan bintang di hamparan lazuardi, seketika aku akan menemukan pemahaman baru tentang kediaman.

Namun, untukku yang sekarang, bukankah akan jauh lebih mudah mengutarakan apa yang kau rasakan dan mengungkapkan apa yang kau pikirkan? Karena, entah bagaimana, kediaman jenis apapun tidak pernah sekalipun sanggup mencapai mata. Terlebih ketika seseorang tengah bersedih atau terluka, atau sedang memikirkan banyak sekali hal di dalam kepalanya, sepasang matanya seolah mencuri waktu untuk memberitahu bahwa dia bisa saja kehilangan cahaya atau tiba-tiba hujan deras kapan saja. Lagipula, bukankah bayangan bercerita tak ada habisnya akan terlihat jauh, jauh lebih menyenangkan daripada sebuah fragmen pendek sepanjang lima menit saat kau didiamkan olehnya, seseorang yang sama dengan yang kau kenal sebagai ‘cinta’?

***DING!***

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s