Tentang: Meninggalkan lalu Merindu

Processed with VSCO with a8 preset
                                                         picture cr.yuridistapp

***

Kehidupan mengajarkan kita sebuah siklus yang sangat wajar, sangat sederhana, namun ketika ditilik kembali, begitu menyakitkan. Siklus yang terkadang begitu sulit dilakukan, sampai-sampai membikin keduabelah pipi memerah karena sepasang mata yang terus menerus hujan. Namun, terkadang siklus itu terasa begitu mudah dilakukan. Begitu tidak terasanya, begitu luwesnya mengikat diri dengan siklus-siklus lain sehingga terkadang, kita tidak sadar telah melaluinya.

Siklus itu kusebut siklus meninggalkan.

Belakangan, aku menemukan pemahaman bahwa seringnya, meninggalkan tidak dilakukan dengan sengaja. Di dalam konteks ini, aku tidak berbicara tentang seseorang yang meninggalkan kehidupan secara denotatif. Aku berbicara tentang manusia-manusia yang bergerak maju, manusia yang terus bertumbuh, manusia yang berubah setiap detik, manusia yang meninggalkan banyak sekali hal di belakang mereka. Hal-hal yang seringnya tidak layak ditinggalkan—

seperti milikku.

Suatu kali, aku membuka-buka album foto di dalam ponselku dan menemukan video adik perempuanku yang tengah tertawa-tawa pada kamera sambil membuat suara-suara aneh. Kalau kau mau tahu, aku sangat menyayangi adik perempuanku. Aku suka sekali mencium pipinya, memeluknya, dan segala jenis perlakuan wujud sayang yang kadang-kadang memang absurd, menjengkelkan (baginya), tetapi juga menggemaskan (bagiku). Ketika melihat video itu, mendadak mataku hujan. Aku menyadari bahwa aku telah meninggalkan banyak hal tentang adik perempuanku. Mungkin aku bergerak maju terlalu cepat, hingga tak bisa melihatnya bertumbuh dari seorang bocah menjadi gadis remaja. Aku meninggalkan saat-saat dia mengenakan rok putih abu-abu untuk pertama kalinya, karenanya setiap aku pulang ke rumah, yang aku lihat masihlah anak umur lima tahun yang lelap dalam tidur dan yang keduabelah pipinya selalu merah karena kujatuhi cium habis-habisan. Bahkan sampai detik ini, aku masih melihatnya dari kacamata yang sama, meskipun tahun depan dia sudah akan beranjak menjadi mahasiswa. Kau lihat? Betapa mudahnya kita meninggalkan sesuatu yang kalau bisa rasanya ingin dibawa kemana-mana, kan?

Lalu, lusa kemarin, aku melihat kembali foto perjalanan jauhku bersama teman-teman terdekatku. Mereka adalah teman yang kukenal dan mengenalku tidak kurang dari tujuh tahun. Satu di antaranya adalah teman diskusi terbaikku, teman yang tidak pernah alpa memberiku nutrisi pikir dan jiwa. Teman yang bahkan mengerti aku jauh, jauh lebih baik daripada diriku sendiri. Satu lagi adalah teman lelaki yang lembut hatinya. Dia adalah teman yang begitu baik, begitu sederhana, begitu apa adanya, meskipun terkadang aku bisa menjadi sangat jengkel padanya karena segala kebaikannya (yang seringnya, berlebihan) itu. Lalu ada teman lelaki lain yang kukenal sejak sebelum aku bisa mengeja. Aku ingat, dulu kami sering bermain rumah-rumahan tidak dengan boneka para gadis, tetapi dengan action figure power ranger. Teman yang ini baik dengan caranya sendiri (salah satunya dengan memberiku tumpangan ke sekolah selama setahun (atau dua?) penuh ketika SMA), dan kemampuan verbalnya yang (maaf) payah, terkadang membuat kebaikannya itu sulit tertangkap maknanya. Teman ketiga adalah teman lelaki juga, yang mana aku mengenalnya karena dia adalah temannya si teman lelakiku yang pertama (oke, kau mengerti maksudku, kan?). Secara personal, aku sering merasa kalau temanku yang ini adalah aku versi lelaki. Kami sangat mirip dalam banyak hal, dan bahkan kepribadian kami pun sama (we are so proud to be ENFP, right, friend?). Karenanya, seringnya aku hanya memutar mata melihat tingkahnya yang serupa cermin untukku (kau tahu, melihat dirimu sendiri dari sudut pandang lain kadang-kadang bisa terasa sangat menyebalkan). Teman yang terakhir, lelaki juga, adalah teman yang (ehm) memiliki sedikit hubungan unik denganku. Kami memulai segalanya dengan janggal dan canggung. Aku pernah menyukainya saat kelas satu SMA, dan kupikir dia bisa saja menjadi masa depan yang tepat untukku (mengingat kami berdua begitu berkebalikan dilihat dari aspek kehidupan manapun), namun perasaan yang dimulai hampir lebih dari delapan tahun itu pada akhirnya justru menjadikan kami teman baik. Aku memang tidak banyak bicara dengannya (karena pada dasarnya dia adalah manusia yang pemalu dan pendiam), tetapi aku tahu dia adalah salah satu teman terbaikku, seseorang yang, disadari ataupun tidak, sedikit banyak telah ikut membentukku menjadi ‘aku’ yang sekarang. Kami semua tersenyum di dalam foto yang kupandangi selama lima menit penuh itu. Aku bahagia. Mereka bahagia. Kami bahagia. Dan kupikir aku pun telah bergerak maju, meninggalkan perjalanan itu. Sebuah kenangan. Sebuah kebahagiaan. Sebuah kesederhanaan. Sebuah fragmen yang mengingatkanku, bahwa sebuah hubungan bisa terjalin dengan begitu mudah dan tanpa pretensi. Kami hanya memerlukan kepercayaan dan banyak sekali tawa (ditambah jutaan kebodohan).

Maka, usai melihat video adik perempuanku dan fotoku dengan teman-temanku, tiba-tiba saja perasaan yang satu itu datang menyentak.

: rindu.

Bukanlah meninggalkan dan merindu adalah dua hal yang serupa jantung dengan detaknya? Kau tidak bisa meninggalkan tanpa merasa rindu, bahkan meskipun kau setengah mati tidak menginginkannya. Pun, kau boleh jadi akan sulit merasa rindu jika belum pernah meninggalkan, karena kau tak punya kenangan yang musti dilangkahi atau justru harus dibawa pergi. Dan rindu yang paling dahsyat adalah ketika kau masih merasa ada yang hilang ketika kau berbalik lagi untuk kembali, untuk mencoba memanjakan kenanganmu sekali lagi. Saat itu, kau menyadari sebuah hal sederhana lain yang sadar atau tidak, mati-matian kau abaikan ketika kau tengah meninggalkan: bahwa mereka, hal-hal yang yang kau tinggalkan itu, juga ikut berubah, berevolusi, mencipta siklus kehidupan masing-masing. Kau mungkin mengira bahwa suatu kali akan menemui perasaan familiar yang nyaman ketika kau menoleh ke belakang dan mengenang, namun ketika kau tahu segalanya tak lagi sama, rasa rindu yang dahsyat itu dengan segera berubah wujud menjadi kesadaran lain yang sangat apa adanya namun luar biasa mengerikan:

Bahwa pada akhirnya, setiap manusia; yang meninggalkan pun yang merindu, akan menjadi sendirian; dengan atau tanpa kenang-kenangan.

***DING!***

 

 

 

Iklan
Tentang: Meninggalkan lalu Merindu

2 pemikiran pada “Tentang: Meninggalkan lalu Merindu

  1. Bahwa pada akhirnya, setiap manusia; yang meninggalkan pun yang merindu, akan menjadi sendirian; dengan atau tanpa kenang-kenangan. 🙂

    Duh kak, udah lama nungguin kakak update di blog nih. Soalnya aku selalu suka tulisan kakak 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s