Untukmu, Lelakiku: Bagian Duapuluhempat

apart

pic cr. weheartit.com

***

Dear kamu,

Hei. Apa kabar? Akhir-akhir ini musim sedang buruk, jadi kuharap kau tidak sedang terkena flu atau semacamnya. Aku di sini juga sedang berusaha untuk tidak jatuh sakit. Jadwal tidurku agak berantakan belakangan ini dan aku cenderung tidak memedulikan menu makanku, jadi, yeah, doakan supaya aku tidak terkapar. Kita harus menjaga diri masing-masing dengan baik, ya.

Kamu, kau tahu kan, aku selalu menulis untukmu setiap kali aku berulangtahun, and this month, I turned 24. Sesungguhnya, ulangtahun adalah saat di mana aku selalu dihantam pemahaman bahwa waktu memang berlari begitu cepatnya. Kadang-kadang, fakta sederhana itu begitu menakutiku, karena bahkan hanya karena berpaling sebentar saja, segalanya bisa dengan cepat berubah menjadi kenangan dan tertinggal di balik punggungku. Menurutmu, apakah waktu juga semenakutkan itu?

Kamu, karena aku tahu manusia akan memfilter kenangan-kenangan di dalam kepalanya, hingga dia tidak bisa memiliki semuanya hingga kematiannya, menulis untukmu setiap tahun adalah satu dari beberapa cara yang kulakukan untuk menyimpan kenangan. Aku ingin bercerita sebanyak mungkin padamu, membagi kisah-kisah yang aku miliki setiap tahun, hingga kelak, ketika pada akhirnya kita telah saling menautkan jemari dan bergandengan tangan, aku bukanlah orang yang benar-benar asing untukmu.

Dan tahun ini, kisah yang ingin kuceritakan padamu adalah tentang seseorang.

Dia adalah seseorang yang sampai detik ketika aku menulis ini, masih kuanggap sebagai manusia yang melompat keluar begitu saja dari salah satu halaman buku cerita. Seringkali aku masih tidak yakin apakah dia benar-benar nyata, bahkan ketika dia sedang berdiri dan memandangku sambil tersenyum lebar. Mungkin kau bertanya-tanya, mengapa?

Jawabannya adalah karena kebaikan hatinya yang luar biasa. Dia adalah jenis orang yang akan membukakan pintu untukmu dan mempersilakanmu masuk terlebih dulu, yang akan memberimu kursinya ketika kau tidak kebagian tempat saat makan siang, yang tidak pernah membiarkanmu berada di sisi terluar ketika kalian berjalan berdua, yang akan membawakan barang bawaanmu tanpa perlu banyak bertanya, namun akan menghormatimu ketika kau bilang kau bisa sendiri, yang akan dengan senang hati menolongmu melakukan banyak hal dan menyelesaikannya sampai tuntas, dan yang akan sungguh-sungguh mengkhawatirkanmu ketika kau kehujanan atau mengeluh sedang sakit. Dia adalah jenis orang yang kebaikannya mungkin akan membuatmu salah paham, tetapi di saat yang bersamaan kau tidak bisa mencegah dirimu sendiri untuk tetap menyukainya. Oh, dan karena sembilanpuluh persen dari apa yang dilakukannya itu entah kenapa bisa membuatku berpikir kalau lirik-lirik lagu romantis yang biasa diputar di mana saja itu semuanya masuk akal. Ya, memang senaif itu. Ada sebagian diriku yang memaknai ini sebagai efek samping dari jatuh cinta. Namun, ada kalanya sebagian diriku yang lain memberitahuku bahwa memang begitulah dia, bahkan kalau waktu bisa diputar mundur dan aku tidak bertemu dengannya, dia akan tetap menjadi dia yang seperti itu—yang mungkin adalah sedikit dari manusia dengan jiwa paling tulus dan sederhana yang pernah diciptakan Tuhan ke dunia.

Namun, dia bukannya tidak punya sisi konyol dan menjengkelkan, kok. Dia masih manusia, karenanya, adakalanya aku tidak habis pikir dengan tingkah lakunya yang mirip anak-anak, atau bagaimana sifat pemalunya kadang-kadang mengacaukan kemampuan verbalnya, atau tentang banyak hal kecil (yang menurutku sepele) bisa begitu mempengaruhi suasana hatinya, sementara hal-hal lain (yang menurutku jauh, jauh lebih penting) samasekali tidak diacuhkannya, tentang bagaimana dia bisa menjadi begitu cuek dan masa bodoh dan pelupa dan membuatku ingin memukulnya, lalu dalam sekejap bisa kembali bersikap manis dan luar biasa baik dan sempurna, ah, dan soal bagaimana dia begitu keras kepala dan susah sekali diberitahu (bahkan meskipun itu untuk kebaikannya sendiri). Kalau sifat-sifatnya yang seperti itu sudah muncul ke permukaan, aku bisa merasa sedikit lega karena setidaknya dia memang masih manusia biasa.

Kamu, saat menulis surat yang keduapuluh empat ini, aku jadi bertanya-tanya,

Diakah kamu?

Bolehkah aku terus berjalan maju, meskipun aku tidak tahu apakah kalian adalah orang yang sama yang akan kulihat di ujung perjalananku?

Benarkah sepasang mata yang membuatku berpikir tentang rumah dan rasa aman ketika pulang itu adalah milikmu, meskipun pikiran itu masih terlalu kabur?

Jika dia memang kamu, aku jadi tertawa sendiri membayangkan bagaimana rupamu saat membaca semua ini. Kau mungkin akan jadi besar kepala, ya? Ah, dan aku mungkin akan jadi bahan olok-olokmu seumur hidup setelahnya.

Namun, jika dia bukanlah kamu, kau tidak akan marah padaku, kan, saat membaca ini? Kau akan memberitahuku, kan, kalau aku memang sedang tersesat dan tidak lagi berada dalam radar perjalananmu? Kau akan mengerti, kan, karena aku pernah bilang padamu bagaimana kita mungkin akan merasa telah saling menemukan, tetapi nyatanya bukan, dan sesekali patah dan putus asa, atau melukai hati milik yang lain, selama perjalanan kita?

Aku yakin jawabannya iya karena kau adalah yang terbaik dan akan selalu begitu. Oh, dan di dalam suratku yang kupikir sudah terlalu panjang ini, aku ingin mengucapkan terimakasih banyak untukmu untuk menjadi ada. Terimakasih banyak untuk setiap hal yang telah kau lakukan di dalam perjalananmu menujuku. Dan terimakasih untuk terus bersabar dan menjadi hebat setiap hari.

Aku tahu pada akhirnya, siapapun kamu, adalah yang teristimewa. Dan bagaimanapun teka-tekinya, jawabanlah yang akan mendatangi kita. Maka, sampai jumpa! Jangan lupa untuk selalu bahagia, ya!

 

Selalu dariku,

Wanitamu.

 

Iklan
Untukmu, Lelakiku: Bagian Duapuluhempat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s