Tentang: Yang Ada di Balik Punggung

separuh

 pic cr. yuridistapp

***

Setiap manusia, tanpa terkecuali, memiliki apa yang disebut dengan masa lalu; hal-hal yang lampau, semua yang ada di balik punggung. Terkadang, hal-hal itu begitu menyesakkan, begitu menyakitkan, begitu menyerupai mimpi buruk hingga kita tidak akan pernah lupa bagaimana rasanya. Hal-hal itu meninggalkan jejak yang mungkin kelewat dalam, karenanya, ketika ada yang tak sengaja menyentuhnya, ingatan tentang betapa kita setengah mati dan berdarah-darah untuk belajar meninggalkan akan kembali membanjiri kepala, dan entah bagaimana, ada yang akan ikut berdenyut nyeri sekali lagi.

Hal-hal semacam itu, tanpa dikira telah mengubah seorang manusia menjadi samasekali berbeda.

Mungkin, dia akan menjadi seribu kali lebih kuat. Lebih hebat. Lebih siap menghadapi keadaan yang sama, atau bahkan jauh lebih dahsyat. Hati mereka seolah sudah diolesi salep anti luka kualitas super dan ditambahi lagi dengan berlapis-lapis perlindungan anti goresan. Anti goncangan. Anti tekanan dan perlawanan. Airmatanya sudah disusut sampai kering. Dan dia sudah tidak punya lagi waktu untuk dipakai merengek dan mengiba. Dia telah menjadi manusia yang paling sulit mengalami rasa sakit. Manusia paling baja sedunia.

Mungkin, dia akan selamanya merasa takut. Berubah jadi pengecut. Dia berlari sekuat tenaga dari apa-apa yang ada di balik punggungnya, hal-hal yang begitu menyakitinya, dan kini, memilih untuk lebih baik hilang sekalian daripada harus menghadapinya lagi. Dia tidak punya daya lagi untuk menangis, tetapi kalau hal-hal itu datang dan menyapanya sekali lagi, bendungan air matanya akan jebol seketika, tumpah ruah membanjir kemana-mana. Bahkan mungkin, butuh waktu seumur hidup untuk meyakinkan dia bahwa kali ini tidak akan ada yang menyakitinya. Bahwa kali ini segalanya akan baik-baik saja. Dan bahwa hatinya yang pernah patah dan berderak-derak, pada akhirnya akan kembali berdetak.

Mungkin, dia akan berubah menjadi manusia yang bukan manusia. Seseorang yang mati rasa. Dia memutuskan untuk berhenti mendengar, melihat, dan mengenal apa itu bahagia, senang, sedih, sakit, marah, dendam, putus asa, atau segala definisi tentang perasaan yang diketahuinya. Jika dia tersenyum, garis itu tidak pernah mencapai matanya. Jika dia menangis, cuma matanya saja yang hujan, sementara dirinya sendiri tidak kenal cuaca apa-apa. Dia mengenakan topeng duapuluhempat jam sehari dan tujuh hari seminggu; tidak pernah lupa, tidak pernah alpa. Dan kalau kau melongok ke dalam sana, sebenar-sebenarnya, hati yang dimilikinya dulu sekarang sudah tidak ada. Bolong. Kosong melompong. Hati yang pernah rusak kemarin itu, sudah sekalian dibuangnya ke tempat sampah, ditendang jauh ke antah berantah. Karena dia tak merasa perlu repot-repot memperbaikinya. Karena dia sudah tidak menginginkannya. Karena dengan begitu, kini dia merdeka.

Atau mungkin, dia akan menjadi seperti manusia yang satu ini. Yang entah kenapa, senang sekali melukai diri sendiri. Dia tidak pernah belajar. Dia tidak kapok jatuh lalu jadi berdarah. Dia tidak capek menangis dan tersedu sedan. Dia merasa baik-baik saja memiliki hati yang luka disana-sini. Dan dia seolah punya seluruh waktu untuk bergandengan tangan dengan hal-hal yang ada di balik punggung itu. Manusia yang jenisnya seperti ini, dinasehati sejuta kali pun, tidak akan pernah memahami. Dia akan terus dan terus melangkah dengan riang di dalam lingkaran setan, atau tak bosan-bosan mengurai benang kusut sambil bersenandung ringan, atau tidak peduli dengan segala jenis musim dan cuaca ketika berusaha mencari-cari jarum di dalam tumpukan jerami. Dia mungkin akan selamanya bergelung dengan rasa sedih hingga lupa bagaimana caranya minta diselamatkan.

Setiap manusia itu, bagaimanapun dia, bagaimanapun hal-hal yang ada di balik punggung mengubahnya, adalah wujud nyata adanya pilihan. Adanya eksistensi ‘mau’ atau ‘tidak mau’. Bukan ‘bisa’ atau ‘tidak bisa’. Karena bahkan, di antara pilihan-pilihan yang paling buruk sekalipun, tidak pernah ada penilaian absolut tentang mana yang benar dan mana yang keliru. Dan dalam setiap pilihan yang diambil oleh seseorang, apa-apa yang ada di balik punggung itu tidak akan pernah berubah atau musnah. Dia akan tetap berada di sana, menjadi bagian permanen dari perjalanan manusia; mengingatkan kita, bahwa terluka adalah sebuah kepastian jika kau ingin menjadi manusia yang sebenar-sebenarnya.

***DING!***

 

Iklan
Tentang: Yang Ada di Balik Punggung

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s