Tentang: Jatuh Cinta

bb

picture cr. weheartit.com

***

Pada dasarnya, aku adalah jenis orang yang memercayai bahwa manusia bisa belajar mencintai. Pada awalnya mungkin biasa saja atau justru tak suka. Lalu jadi terpaksa mengakui kalau yang tak disukainya juga ikut berbagi dunia dengannya, meski mungkin alasan penciptaannya bisa samasekali berbeda. Baru setelah itu dia beranjak kepada apa yang disebut dengan menerima, untuk kemudian menjadi terbiasa. Setelahnya, dia mencoba mengerti. Hingga pada akhirnya sampailah dia kepada titik dimana dia tahu dia telah memahami.

Begitulah menurutku bagaimana seseorang menjalani proses belajar mencintai. Berkali-kali. Sampai seseorang itu mahir hingga tak perlu berpusing lagi jika proses belajarnya tak sesuai yang diharapkan.

Namun, tidak dengan jatuh cinta.

Bagiku, jatuh cinta adalah sebuah kecurangan yang menjengkelkan.

Bagaimana tidak?

Dia itu seumpama pencuri yang mengendap-endap di balik punggungmu, menunggumu lengah, kemudian bam! kau merasa dibius untuk sekian detik padahal sebenarnya kau telah dijatuhi bom yang mahadahsyat daya ledaknya.

Si pencuri waktu. Begitu kubayangkan jatuh cinta di dalam kepala.

Sementara kau belajar mencintai dengan sadar, tahu segala risikonya, baik buruknya, naik turunnya, lain halnya dengan jatuh cinta.

Kau tidak akan pernah siap melaluinya. Karena dia serupa hadiah ulangtahun yang datang berbeda-beda bungkus dan isinya tiap kalinya. Kadang sederhana, kadang luar biasa istimewa. Kadang begitu rumitnya, kadang kau hanya tak bisa percaya bahwa kau tengah mengalaminya. Kadang dia datang membawa sensasi jantung mencelos yang tidak menyenangkan itu, kadang dia datang bersama seribu kupu-kupu yang menyerang dasar perutmu, atau kadang dia cukup kejam dengan membuatmu cuma bisa berdiri beku—saking jatuhnya.

Bahkan dengan orang yang sama pun, kau bisa dicurangi berkali-kali. Kau bisa jatuh berkali-kali. Kau bisa dikejutkan berkali-kali….

…tapi kau tidak menyesalinya, kan?

Kau justru bersyukur. Bersyukur karena telah dicurangi. Bersyukur karena telah berhasil dibuat lengah dan tidak waspada. Bersyukur karena telah dicuri waktunya. Bersyukur karena telah jatuh cinta.

Karena kalau kau memahami, si pencuri waktu yang curang bukan main itu tak pernah membuatmu sakit. Dia menjatuhkanmu, tetapi di antara kumpulan awan atau di ranjang kesayanganmu. Dia tidak pernah memutus sepasang sayap yang diberikannya cuma-cuma. Dia tidak pernah mengambil lagi apa yang telah dihadiahkannya.

Jatuh cinta bukan tokoh antagonisnya.

Karena yang jahat itu sebenarnya adalah si harapan. Yang mulai membuatmu bertanya-tanya, yang tidak hanya mencuri sepotong waktumu, tetapi juga merampoknya habis-habisan. Yang menjadikanmu manusia egois, manusia yang bukan siapa-siapa, tetapi banyak maunya. Manusia yang selalu takut keinginannya tidak terwujud. Manusia yang pengecut. Si harapan itu yang membuatmu lupa betapa menyenangkannya ketika jatuh cinta.

Dia lah tokoh antagonisnya.

Maka, kali lain, kalau kau jatuh cinta lalu patah hati, jangan kutuk si jatuh cinta. Kutuklah harapanmu yang mulai bertumbuh dan berbunga. Namun, jika kali itu kau jatuh cinta dan hatimu baik-baik saja, bersyukurlah lebih banyak. Karena kau mungkin adalah satu dari sedikit orang yang beruntung itu, yang bisa mencintai dengan hebat tanpa perlu belajar dulu.

***DING!***

Iklan
Tentang: Jatuh Cinta

Satu pemikiran pada “Tentang: Jatuh Cinta

  1. arna berkata:

    My favourite word:
    “Bagiku, jatuh cinta adalah sebuah kecurangan yang menjengkelkan.”

    I think i just become one of Your fan now (^_^)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s