Him (Aradhya – Bidari Dialogue Series)

image

                     image cr. yuridista
                                 ***

Ada yang berbeda ketika Bidari bertemu dengan Aradhya sore itu, di hari yang basah bekas jejak hujan sepagian. Perbedaan di wajah Aradhya terlalu kentara, hingga Bidari merasa entah bagaimana senyum lebar sahabatnya telah membuatnya ikut bahagia juga, bahkan meskipun Aradhya belum mengatakan apa-apa padanya.

“Lo abis kejatuhan duren apa gimana, sih, Ra? Bersinar banget mukanya,” komentar Bidari di detik pertama sahabatnya itu duduk di sofa berlengan di seberang meja.

Aradhya, tanpa diduga, justru bengong kebingungan. “Hah? Cerah gimana? Cakepan gitu maksudnya? Yang bener lo? Apa gara-gara gue udah lama ga naik gunung, ya?” Gadis itu justru balik bertanya.

Bidari memutar mata. “Kepedean, ah, lo. Bukan, maksudnya gimana, ya, aduh, gue susah jelasinnya. Intinya muka lo tuh bersinar aja gitu. Kaya keluar auranya. Dan lo ga berhenti senyum dari tadi. Mata lo juga kayanya berbinar-binar gitu. Kaya…..”

“Kaya apa?” Aradhya menyela.

Bidari diam sejenak, kemudian, “Nah, gue tau! Kaya orang lagi jatuh cinta!” dia berseru sambil menjentikkan jarinya.

Aradhya langsung tersipu. “Ah, elo, suka sok tau, deh, Bi.”

“Dih, serius gue,” Bidari menyahut keras kepala. “Gue, kan, penulis, so I can tell you that your current expression is the exact same expression that I often read and write about a girl who’s fall in love.”

“Err…emang seaneh itu, ya, Bi, muka gue?” Aradhya bertanya ragu-ragu, kini seraya menyentuh keduabelah pipinya, entah karena apa.

Bidari tertawa. “Siapa yang bilang aneh, sih? Kan malahan gue muji lo tadi. And believe it or not, kebahagiaan lo itu nular ke gue, lho. Gue sampe bisa ngerasain ngeliat bunga-bunga bertebaran juga, nih.”

“Ah, rese, lo. Lebay,” Aradhya mencebik, tapi toh ikut tertawa juga.

“Jadi, ini masih karena mas Arbiyan, atau ada yang lain lagi?” Bidari bertanya menyelidik, kedua tangannya disedekapkan di depan dada, posenya kalau sedang menunggu penjelasan. “Kita baru ga ketemu tiga bulan tapi lo udah jatuh cinta jatuh cinta aja, ya, Ra.”

“Haha. Lo bisa aja ngomongnya, Bi.” Aradhya tersipu-sipu lagi.

“Eh, serius ini, gue nanya, siapa orangnya?” tanya Bidari, mulai tak sabar.

“Oke gue cerita,” jawab Aradhya akhirnya. Gadis itu berdeham sekali sebelum melanjutkan, “Jadi, dia itu temen di komunitas pecinta alam gue, Bi. Namanya Sagarra Biru. Orang biasanya manggil dia Biru. Tapi gue dengan pedenya manggil dia Aga, biar beda sendiri ceritanya.”

“Terus?”

“Lo tau kan, Bi, kalo gue paling ga percaya sama konsep love at the first sight?” Aradhya bertanya, dan dijawab dengan anggukan oleh sahabatnya.

“But waktu itu, di detik ketika gue kenalan sama dia, jabat tangan dan saling menyebut nama, then he smiled at me, that was when I know that I already fall for him, Bi,” kisahnya, tersenyum sendiri ketika kenangan pertama yang dia punya tentang Sagarra Biru melintas di dalam kepalanya.

“Dan sejak saat itu lo ga bisa ngeliat dia dengan cara yang biasa lagi?” Bidari berujar.

“Exactly,” angguk Aradhya penuh persetujuan. “Dan itu sempet membuat gue secara ga sadar udah build the wall around me. Gue mulai anxious sendiri, bingung mau ngobrol apa sama dia, dikit-dikit baper, kebanyakan asumsi, trying to explain every single thing he did by myself, dan pada akhirnya, gue sadar bahwa ini udah ga sehat. Gue jatuh cinta, tapi ga menikmatinya. Gue salah memaknainya. Dan ketika gue udah sadar sama hal itu, suddenly semuanya jadi terasa lebih mudah, Bi.”

Kali ini, Bidari yang tersenyum. “Then what did you do after that?”

“I was just trying to see him as a friend. Mungkin itu kedengaran bullshit banget since I told you that I fell for him at the first sight, tapi gue beneran nyoba, Bi, dan amazingly gue malah jadi bisa mengenal dia lebih baik dengan cara pandang gue yang baru itu.”

“Gue jadi tau kalo dia itu suka naik gunung karena ayahnya juga seorang pendaki, gue tau dia kerja di perusahaan advertising tapi sesungguhnya passion dia ada di film dokumenter, gue tau kalo dia ada plan mau traveling keliling Eropa, tau kalo dia ga bisa makan pedes, or how he adores his mom so much, intinya, gue jadi bisa masuk ke dunia dia tanpa perlu repot-repot berasumsi, Bi, karena gue membiarkan semua mengalir apa adanya. Dia mengizinkan gue mengenal dia, begitu juga sebaliknya, gue mencoba mengenalkan diri gue ke dia.”

“Dan hasilnya?”

“Dan hasilnya, ya, I got so much closer to him than before. And I’m happy with that. Aga orangnya baik banget, Bi, dan kalau lo mau tau, sampe detik ini gue kadang masih ga percaya dia tuh beneran ada, beneran exist di hidup gue, karena gue selalu ngerasa kalo dia itu sosok yang muncul dari buku cerita karangan gue sendiri, Bi.”

Sampai di sini, Bidari mengerutkan kening. “Maksudnya gimana, tuh?” tanyanya tak mengerti.

“Maksudnya, dari segala hal yang bisa gue harapkan dilakuin atau dikatakan seorang lelaki, he did almost all of them, Bi, even in a better way. Dan gue ngerasa gue ga perlu minta apa-apa lagi.”

“Wow, Ra,” komentar Bidari setelah jeda beberapa detik. “Gue akan selalu kagum sama cara berpikir lo, Ra. Dan kali ini lo ngasih tau gue gimana caranya mencintai dengan dewasa. And that’s make me so proud to be your friend.” Lalu, gadis itu tersenyum lebar.

Aradhya balas tersenyum. “Dan satu hal lagi, Bi, dia pernah bilang kalo dia beruntung karena ada gue di hidupnya, but bagi gue, guelah the luckiest person in the world karena Tuhan udah mendatangkan dia ke dalam hidup gue. He absolutely helps me to be a better person, Bi, and he sees me in a way that makes me know I’m a good person too.

“I think that’s because you actually deserve him, Ra. Lo selama ini selalu percaya pada konsep satu orang yang tepat yang diciptakan Tuhan khusus buat masing-masing dari kita. Seseorang yang worth to wait, even sampai akhir hidup lo. Even kalau lo harus mengalami patah hati berkali-kali sebelum ketemu dengan seseorang itu. Mungkin, Aga lah orang itu, Ra. Seseorang yang dihadiahkan Tuhan buat lo karena lo sabar menunggu. Seseorang yang udah lo anggep se-precious itu bahkan sebelum lo ketemu sama dia, dan akan tetap begitu sampai kapanpun.”

Aradhya mengangguk-angguk. “Jadi Tuhan sesayang itu, ya, sama gue, Bi,” katanya setengah menggumam, matanya kini menerawang.

“Ofcourse, Ra. Lo salah satu orang paling bijak dan keren yang pernah gue kenal. Lo deserve someone as good as you, my dear friend,” sahut Bidari penuh keyakinan. “But, if, ini cuma if ya, if in the end ternyata dia bukan seseorang yang disiapkan Tuhan buat lo, what will you do then, Ra?” tanyanya kemudian, nadanya berhati-hati.

Untuk sesaat, Aradhya hanya menatap sahabatnya itu tanpa mengatakan apa-apa. Namun, kemudian seulas senyum paling tulus tersungging di bibir gadis itu dan dia pun menjawab mantap, “Then I’ll still be thankful to God for letting me meeting such a great person like him, Bi. Mungkin akan ada hati yang patah lagi. But, for sure, that’s worth the pain. That’s worth the lesson. Dan gue nggak akan pernah menyesal kenal seorang Sagarra Biru.”

Dan jawaban itu seketika juga membuat Bidari tercenung. “Wah, kapan-kapan lo harus kenalin si Aga Aga ini ke gue, Ra. Wajib,” katanya kemudian, setengah memaksa.

Aradhya tergelak. “Oke! Asal lo jangan ikutan jatuh cinta juga, ya,” candanya, dan Bidari pun ikut tertawa.
                
                           ***
   

Iklan
Him (Aradhya – Bidari Dialogue Series)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s