Untukmu, Lelakiku : Bagian Duapuluhtiga

lifeimage cr. weheartit.com

***

Hei. Ini aku. Sudah setahun lagi di sini. Apa kau baik-baik saja di tempatmu?

Kau tahu, kurasa menyapamu tiap tahun adalah satu-satunya janji yang tidak pernah alpa aku tepati. Kau boleh sedikit menyombong, karena sejujurnya aku adalah tipe orang yang tidak terlalu pintar mengingat janji (Itu manusiawi, kan? Jadi jangan mendelik padaku!).

Dan tahun ini, aku akan menceritakanmu tentang betapa cepatnya duniaku beranjak dari satu fragmen ke fragmen lain. Oke. Dimulai dari wisuda dan jadi sarjana, bepergian ke luar Pulau Jawa (Aku baru pertama kali naik pesawat terbang dan tahu-tahu saja sudah menginjak Sumatera), bertemu dan mengenal banyak sekali orang-orang baru yang menginspirasi, dan tentu saja, satu hal terhebat yang aku lakukan tahun ini adalah…belajar menemukan diri sendiri.

Kau mengerti maksudku?

Aku merasa telah menjalani sebagian kehidupan orang lain selama 23 tahun hidup dan bernafas sebagai manusia. Tidak seratus persen, sih, hanya saja kehidupanku juga tidak sepenuhnya adalah ‘aku’. Dan aku mengakui, bahwa aku telah menjalani hidup dengan berbagai kompensasi—untuk menukar beberapa hal yang aku inginkan dengan beberapa hal yang orang lain inginkan. Kupikir, hidup yang seperti itu tidak buruk—aku justru merasa jiwaku lebih kaya dengan melakukan itu karena sampai detik ini pun, aku masih percaya bahwa di dunia ini, yang sibuk dan hiruk pikuk namun terkadang begitu lengang dan tanpa suara, manusia tidak hidup hanya dengan dirinya sendiri.

Namun, kepercayaanku telah bermuara pada pemahamannya yang baru—bahwa hidup butuh sebuah keseimbangan. Antara aku dan mereka. Antara keinginanku dan keinginan mereka. Antara sudut pandangku dan sudut pandang mereka. Antara mimpiku dan mimpi mereka. Maka, aku pun belajar menemukan diriku lewat pemahaman baru itu.

Siapa aku? Apa mimpiku? Apa yang kuinginkan? Apa tujuan hidupku? Dengan siapa aku hidup? Bagaimana aku harus menjalaninya? Apa yang kuperjuangkan? Bagaimana caraku melakukannya?

Untuk apa aku diciptakan ke dunia?

Aku tahu semua pertanyaan itu memiliki jawaban. Dan setiap jawabannya bermula dari dalam diriku. Berawal dari aku. Itulah mengapa kubilang aku belajar menemukan diriku, sampai detik ini, melalui proses tak putus-putus untuk membuka mata dan melapangkan jiwa, menerima pemaknaan-pemaknaan tentang hidup yang jauh lebih luas dan hebat.

Bukankah ini kedengaran sangat keren? (Oke, yang ini bercanda)

Suatu saat kita harus membicarakan semua ini dan aku berani bertaruh kau benar-benar akan menganggapku sangat keren (Yang ini serius).

Jadi, begitulah hidupku. Duniaku. Dan rencanaku: menemukan diri sendiri sebelum menemukanmu. Oh, dan aku akan mengurangi bagian ‘kompensasi’ di dalam komposisi hidupku supaya ada lebih banyak tempat untuk mewujudkan mimpi-mimpiku (Aku juga sedang dalam proses untuk ini, kau hanya perlu tahu saja kalau hasilnya akan hebat).

Kalau kau di sana, sudahkah kau menemukan dirimu? Atau kau sedang belajar sama sepertiku?

Jadilah hebat setiap hari, oke? Aku selalu mendoakanmu.

p.s: Manusia memang tidak bisa hidup sendiri, tapi ada baiknya kau memilih mana manusia yang membawamu pada kebaikan ketimbang sebaliknya. Terlalu banyak manusia yang abu-abu, namun selalu ada warna yang lebih terang untuk mereka yang lebih baik šŸ™‚

Sampai bertemu, ya!

Wanitamu.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s