[Ficlet] Saranghae Ppajyeosso

minocr. weheartit.com

***

Title : Saranghae Ppajyeosso

Author : Yuridista

Genre : Fluff

Casts : WINNER Song Mino, OC Kang Yuri

Rating : G

Length : Ficlet-637 w

BGM : Smile Again-WINNER

Disclaimer : Seluruh tokoh di dalam fanfiction ini bukan milik penulis kecuali OC. Ide, plot, dan alur cerita murni berasal dari imajinasi penulis. Kesamaan adegan dan tempat kejadian adalah kebetulan semata. Fanfiction ini dibuat hanya untuk kepentingan hiburan. Dilarang copy-paste tanpa seizin penulis.

***

“Ya! Song Mino! Kau apakan lagi buku catatanku?” Aku berteriak, susah payah untuk tidak melanjutkan omelanku dengan makian. Seperti yang biasanya terjadi, bahkan dengan bentakan sekeras itu tidak berhasil membuat bocah lelaki yang kini tengah tertidur di sofa ruang televisiku terbangun begitu saja.

“Song Mino!” Aku mencoba lagi. Kali ini sambil menendang kakinya.

“Ngh?” Bagus. Setidaknya bocah ini masih bereaksi.

“Bangun, dasar pemalas! Dan cepat jelaskan padaku kenapa bukuku jadi kusut begini?” Aku memencet hidungnya keras-keras sambil berkata begitu dan ketika dia merespon dengan pekikan “Argh!” tertahan, aku menyeringai penuh kemenangan sebelum menghempaskan diri di bagian kosong di sampingnya.

“Kenapa kau berisik sekali, sih?” Mino memprotes seraya mengucek mata dan bangkit dari posisi berbaringnya. “Aku baru tidur tiga jam dan kau sudah membangunkanku dengan paksa. Ini namanya pelanggaran HAM, tahu.”

Aku memutar mata. “Bukan urusanku kalau kau baru tidur tiga jam, bodoh. Ini adalah rumahku dan aku berhak melakukan apapun yang aku mau, termasuk meneriaki bocah pemalas yang dengan seenaknya tidur di sofaku setelah merusak buku catatanku.”

“Aduh, kau ini ngomong apa, sih? Siapa yang merusak apa?” Mino bertanya, memandangku dengan tampang bingungnya yang biasa. Sebelah matanya masih setengah tertutup sementara rambut ikalnya mencuat-cuat kesana-kemari karena dia terus-terusan menggaruk kepalanya.

“Ini. Kau merusaknya.” Aku menyodorkan buku catatan filsafatku ke depan hidungnya. “Masih tidak sadar kau yang melakukannya?”

Mino memandang buku catatanku dengan linglung. Mulutnya membentuk bulatan sementara kedua matanya perlahan terbuka sepenuhnya. Kemudian, tanpa aba-aba, dia malah tertawa terbahak-bahak.

“Ya! Kenapa kau malah tertawa?” Aku langsung sewot.

“Karena kau lucu, my baby,” balasnya, masih tertawa seraya menarik pipiku.

Aku buru-buru memukul lengannya. “Apanya yang lucu, sih? Kau sudah tidak waras, ya?”

Mino menggeleng dalam seringaian. “Tidak pernah terima surat cinta, ya?” Ujarnya kemudian.

Aku melongo. “Hah?”

“Aku bukannya sudah merusak buku catatanmu, my dear, tetapi justru menghiasinya dengan karya sastra,” Mino berkata sambil cengar-cengir. Ketika melihatku masih kebingungan, dia menunjuk buku di tanganku dengan dagu, memberiku isyarat untuk membaca coretan yang ditulis di dalamnya.

Dengan patuh, aku mengeja, “It’s my first time believing that love has a meaning. Heart is thumping, face is glowing, even my day seems to keep shining. I’m starting to like the word ‘us’, because that’s the word that will make ‘you and me’ together lasts. When I’m with you, I don’t mind if you keep winning, cause I’ll just make myself keep losing. When I’m with you, I don’t care if you mad at me, cause even when you’re mad you’re still pretty. Is it normal to be a person like me, who wants to be with you everyday? Is it okay to be a person like me, who wants you to believe everything that I say? Cause I think I’m falling, baby. Just for you, I think I’m falling deeply, madly.

“Suka tidak?” Mino bertanya segera setelah aku selesai membaca apa yang ditulisnya dengan huruf a la cakar ayam di antara catatan-catan penting mata kuliah filsafatku.

“Ini apa?” Aku balik menanyainya, tidak bisa menahan diri untuk tidak berdebar-debar sementara menatap wajah polosnya yang sedang tersenyum itu.

Dia mengangkat bahu. “Kan sudah kubilang itu surat cinta. Buatmu,” jawabnya dengan nada seringan bulu.

Seketika, aku merasa jantungku yang tadi berdebar begitu kerasnya merosot begitu saja sampai ke kakiku. “Kau memang tidak waras.” Cuma itu yang sanggup kukatakan padanya.

“Ah, masa, sih? Aku baik-baik saja, tuh.” balasnya sambil menyenggol bahuku dengan bahunya. Astaga, dia bahkan mulai menaik-naikkan alisnya sekarang.

Aku merasa wajahku memanas. “Jangan coba-coba…” Aku mendesis memperingatkan seraya mendorong tubuhnya menjauh.

Di ujung sofa, Mino tergelak-gelak. “I think this is why I’m falling in love with you, baby. Simply because with every single thing that you do, you never fail to make me happy,” bisiknya kemudian, tetapi masih dengan ekspresi wajah jenaka.

“Song Mino, you’re crazy,” balasku seraya menggeleng-gelengkan kepala dengan frustasi.

“Tapi kamu suka, kan?”

Mendengar itu, aku melotot selebar-lebarnya. “Song Mino!”

 

DING!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s