Bertanya Kamu [Mitha’s Side Story]

mithacr: weheartit.com

***

“Aku mencintainya habis-habisan.”

Selalu, itu yang dikatakannya setiap kali orang-orang terdekatnya menanyakan alasannya mempertahankan Dimitri. Atau mungkin mempertahankan bukan kata yang pas dalam hal ini. Dia lebih bisa dibilang yang bertahan. Mengikat kedua kakinya di samping Dimitri. Mencoba tidak alpa untuk berdiri tegak. Mencoba untuk tidak lari. Sendirian.

Dimitri adalah segalanya baginya. Dia jatuh cinta pada pandangan pertama kepada lelaki itu. Sungguh, hanya perlu sekali lihat, hatinya sudah diberikan pada Dimitri tanpa diminta. Maka, sejak awal cintanya memang sudah habis-habisan. Dia sudah tidak punya apa-apa lagi sekarang. Semuanya sudah menjelma menjadi sosok lelaki yang kini duduk di hadapannya—ditatapnya tapi tidak balas menatapnya dan malah tenggelam bersama ponselnya. Lelaki yang kini tidak peduli padanya.

Kalau dia pergi, dia tak yakin bisa tetap menjadi manusia. Hidup, baginya, adalah berada di samping Dimitri. Bernafas di sampingnya. Ada di sampingnya. Karena sekarang dia hanyalah serupa parasit yang tidak bisa bertahan hidup tanpa inangnya–tanpa Dimitri. Hanya saja, dia bukan parasit yang ingin membunuh inangnya. Dia ingin jadi parasit yang hidup selamanya bersama sang inang, berdua, selamanya. Sayang, bahkan tak ada satu fiksi pun yang bilang parasit bisa hidup berdampingan dengan sang inang.

Jadi, pilihannya hanya ada dua. Si inang yang mati, atau si parasit yang bunuh diri. Dan apa yang sedang dijalaninya sekarang jelas menyerupai pilihan yang kedua. Bunuh diri pelan-pelan. Menghilang perlahan-lahan. Namun, sampai selama mungkin, dia ingin tetap di sini selagi bisa. Terus mencintai Dimitri selagi bisa. Selagi dia belum harus mati.

Segala yang jatuh untukmu, aku menamakannya cinta.

Hati dan airmata; lebur untukmu jadi satu.

Aku pecintamu yang paling hebat, mencintaimu habis-habisan.

Bagiku kau gravitasi, di sampingmu aku tegak berdiri.

Di bawah tatapanmu aku menyerah,

Kepadamulah aku selalu pulang, kembali kepada rumah.

Kau nomor satu, invasi terbesar dalam sejarah hidupku.

Berpalinglah, maka aku akan hilang—lenyap dan binasa.

Tetaplah di situ, di sisiku, maka aku kembali ada.

Aku tak menyisakan apa-apa lagi saat ini,

aku miskin karena jatuh cinta padamu setiap hari.

Belas kasihanmulah yang menghidupku, memberiku ruang untuk bernafas.

Dan, kusebut itu cinta. Cintamu untukku.

Kalau seperti inilah caraku mencinta,

maka aku harus bagaimana?

Dia mencuri puisi milik Aksara Priandaru dan membacanya tanpa suara saat tangannya terulur, menyentuh ujung jari-jari Dimitri. Lelaki itu menoleh, menatapnya, lalu bertanya ada apa.

Tapi mata itu tidak ikut bertanya. Mata itu diam. Kosong. Membuatnya sekali lagi bertanya, masih tanpa suara,

Kalau seperti inilah caramu mencinta,

maka aku harus bagaimana?

 

DING!

 

Iklan
Bertanya Kamu [Mitha’s Side Story]

Satu pemikiran pada “Bertanya Kamu [Mitha’s Side Story]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s