Setelah Dua Minggu [Bidari-Daru’s Side Story]

bdtaken from weheartit.com

***

Bagi Bidari, tidak ada yang lebih mengesalkan daripada harus menemui seorang Aksara Priandaru dalam mood yang sedang jelek-jeleknya begini. Segalanya jadi terasa sejuta kali lebih buruk untuk gadis itu, terutama ketika kepalanya sudah penuh dengan hal-hal menjengkelkan lain dan yang ingin dilakukannya hanyalah tidur. Ya, tidur sepanjang hari di ranjangnya yang nyaman dan bukannya duduk menghadapi lelaki paling menyebalkan sedunia yang sekarang tengah memandangnya dengan tatapan dinginnya yang biasa.

“Jadi kamu belum revisi bab 5 samasekali?” tanya Daru, nadanya penuh celaan.

Bidari cuma mengangguk sekilas, wajahnya masih dilipat dalam-dalam. Kalau bisa, sampai pertemuan ini selesai dia ingin begini saja—menunduk dan tidak usah memandang wajah lelaki di hadapannya.

“Ini sudah dua minggu sejak kita terakhir kali ketemu.” Oke, itu pernyataan, bukan pertanyaan. Lalu, memangnya Daru berharap Bidari akan menanggapi bagaimana?

“Iya.” Bidari mengangguk lagi. Sekali.

“Kalau kamu memang nggak sanggup jadi editor, lebih baik bilang dari sekarang, supaya saya bisa minta ganti sama Pak Adri.” Nah, kalau yang ini baru kalimat yang sangat Daru sekali, Bidari berpikir. Kalau sudah menyangkut kalimat bernada mengancam, memojokkan, atau meremehkan kapasitas orang lain, lelaki itu memang pakarnya.

“Nanti malem saya kerjain. Nggak perlu lapor ke Pak Adri.” Akhirnya, Bidari terpaksa mengangkat kepala dan balas menatap Daru. “Besok saya kasih hasilnya ke kamu,” tambahnya datar. Sejujurnya, dia mengatakan ini hanya karena tidak ingin Pak Adri, atasannya, kerepotan menghadapi tingkah kurang ajar Daru yang selama ini diagung-agungkannya itu.

Daru mengangkat sebelah alisnya. “Saya nggak yakin kamu bisa menyelesaikan ini dalam semalam,” sergahnya sangsi.

“Kapan, sih, kamu pernah yakin sama saya?” Bidari membalas tak peduli. Dia sudah kebal dengan segala bentuk intimidasi dari lelaki ini. “Kalau besok saya nggak bisa kasih hasilnya, kamu boleh minta ganti editor sama Pak Adri.”

Sejenak, Daru tertegun. Ada yang berbeda dengan Bidari hari ini, dia bisa merasakannya. Gadis itu tidak sehiperaktif biasanya, dan setiap kali Daru bicara, Bidari tidak membalasnya dengan berapi-api seperti kemarin-kemarin. Alih-alih, gadis itu justru bersikap dingin dan acuh dan tiba-tiba kata-katanya jadi sama tajamnya dengan miliknya sendiri. “Kamu kenapa?” Daru akhirnya bertanya

Bidari mengerjap. “Hah?” sahutnya bingung. “Apa yang kenapa?”

“Itu,” Daru menunjuk Bidari dengan dagunya, “kamu yang kenapa.”

Oke, kalau beberapa detik yang lalu dia merasa bingung, kali ini Bidari benar-benar blank. Maksudnya, kenapa tiba-tiba Daru jadi bertanya begitu? Bukannya tadi lelaki itu sedang mengancam akan memecatnya sebagai editor plus menghina kemampuannya? Mengabaikan pertanyaan-pertanyaan yang bermunculan di kepalanya, Bidari berujar, “Saya nggak kenapa-kenapa.”

“Saya nggak percaya.” Sepasang mata Daru menyipit. “Kamu nggak seperti biasanya. Pasti ada sesuatu.”

Bidari mengerjap lagi. Dalam hati, gadis itu menyumpah karena pertanyaan-pertanyaan di dalam kepalanya sudah menghilang dan berganti dengan kemunculan satu nama: Arayya Aditia. Damn, kenapa pula Daru jadi kurang kerjaan dan mendadak berubah kepo begini?

“Masalah laki-laki, ya?” Belum-belum, Daru sudah buka suara lagi.

Bidari tidak menjawab, hanya menatap lelaki itu dengan kepala yang mulai pening lagi.

“Klasik. Dia itu yang fotonya ada di meja kamu?”

Bidari terkesiap. Kenapa lelaki ini tahu sebanyak sampai sejauh itu? Diam-diam, Bidari mengingatkan dirinya sendiri untuk mengganti fotonya bersama Rayya yang dipajang di meja kubikelnya dengan fotonya bersama Ara. Untuk jaga-jaga saja, sih. “Nggak, bukan. Kenapa kamu sok tahu, sih?” Dia mendelik jengkel.

Daru mengedikkan bahunya tak acuh. “Saya iseng nebak saja. Tapi kalau dilihat dari ekspresi wajah kamu, sepertinya tebakan saya bener, ya.”

“Fine. Terserah apa kata kamu, deh. Nggak ngaruh juga buat saya,” Bidari berkata setelah diam beberapa saat. “Jadi, ini udah, kan? Saya boleh pulang?” tambahnya, buru-buru membereskan kertas-kertas di meja dan barang-barang miliknya yang lain tanpa menunggu jawaban Daru.

“Boleh. Sampai rumah langsung tidur saja. Kantong mata kamu udah serem banget, tuh.”

Mendengar kalimat barusan, gerakan tangan Bidari yang tengah memasukkan agendanya ke dalam tas terhenti di udara. Gadis itu mendongak lagi untuk memandang Daru, namun jantungnya keburu mencelos saat menyadari telunjuk lelaki itu sudah terulur dan menyentuh keningnya.

“Kalau bisa, mukanya jangan berkerut-kerut terus begitu. Orang lain bisa ikut capek ngeliatnya,” katanya.

Bidari menelan ludah. “Kamu…”

“Dan jangan keenakan tidur, ya. Saya nggak mau tahu, pokoknya besok revisi bab 5 sudah harus ada. Atau saya akan bilang ke Pak Adri…”

Bidari bengong sebelum memutar mata. Baru dikira baik sebentar, eh, sudah kembali ke wujud asalnya lagi. Sepertinya memang mustahil kalau mengharapkan Daru bersikap manis padanya. “Iya, iya,” Dia menjawab sekenanya.

Daru menyeringai. “Salam buat Arayya Aditia, ya,” celetuknya saat Bidari siap beranjak dari duduknya

Kali ini, gadis itu cuma bisa ternganga. Demi Tuhan, kenapa dia harus dipertemukan dengan lelaki macam ini dalam hidupnya?

DING!

***

#pukpukbidari #darumemangkepo #tapitetepganteng #LOL

 

 

Iklan
Setelah Dua Minggu [Bidari-Daru’s Side Story]

Satu pemikiran pada “Setelah Dua Minggu [Bidari-Daru’s Side Story]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s