The Best Man: An Invitation

POSTER FIXYuridista

© 2014

***

My heartaches behind these shadows. My face brightens up as I see your smile. I worry that you might notice my feelings. And I get scared that the gap between us would widen. I hold my breath. Then I bite my lips. Then I pray that she would leave his side (Wedding Dress-Bigbang Taeyang)

***

New York City, 8 Februari 2014

Jongin pertama kali mengetahui kabar itu ketika dia tiba di flatnya di kawasan dekat Broadway Dance Center, New York, pada pagi hari usai tur musikal American Idiot yang berakhir di Las Vegas kemarin malam. James, si pemilik flat nomor dua yang tinggal satu lantai di bawahnya, memberitahunya bahwa tukang pos mengetuk pintu flat Jongin nyaris seharian kemarin, hingga pada akhirnya memutuskan untuk menyelipkan saja surat untuknya ke bawah pintu sebelum ganti mengetuk pintu James dan berpesan padanya agar memberitahu Jongin sekembalinya lelaki itu nanti. Dalam hati, Jongin mengamini komentar James yang cukup terkejut dengan tingkat kepedulian si tukang pos—seolah-olah apa yang diantarkannya untuk Jongin adalah sesuatu yang menyangkut hidup mati lelaki itu.

Mengabaikan rasa kantuk luar biasa yang menyerangnya, Jongin segera membuka gembok pintu flatnya dan menunduk untuk mengambil surat yang membuatnya penasaran itu. Selama hidup di Amerika, Jongin tidak pernah mengirim ataupun dikirimi surat oleh siapapun. Dia biasa berkomunikasi dengan teman-temannya di sini lewat telepon, sms, atau email (itu kalau mereka jarang bertemu). Di negara asalnya, Korea Selatan, Jongin bisa dibilang sudah jadi sebatang kara. Ayah dan ibunya meninggal sejak bertahun-tahun lalu, sementara dua kakak perempuannya telah hidup sendiri-sendiri bersama suami dan anak-anak mereka, hingga tanpa disadarinya, jarak tercipta begitu saja di antara mereka. Lagipula, di sini dia juga hidup berpindah-pindah. Tur-tur musikal dan tari membuatnya harus melompat dari satu negara bagian ke negara bagian lain, meninggalkan tempat yang baru saja berhasil dianggapnya sebagai rumah untuk beradaptasi di tempat yang lain lagi. Karenanya, dia tak merasa perlu repot-repot meninggalkan alamat pada orang yang baru dikenalnya hanya untuk kepentingan korespondensi.

Sekilas, tidak ada yang ganjil dari surat beramplop hijau aquamarine di tangannya sekarang. Seraya meletakkan ransel bepergiannya di lantai dan mengenyakkan dirinya sendiri di sofa, Jongin membalik amplop itu untuk membaca nama pengirim yang tertera di bagian atas amplop. Di sana, ditulis dengan huruf-huruf kurus yang kecil-kecil, ada nama seseorang yang seketika membuat hati Jongin mencelos.

Park Hyemi.

Membaca nama itu membuat wajah Jongin seperti menampilkan berbagai macam ekspresi dalam satu waktu. Ada raut terkejut, sangsi, bertanya-tanya, bingung, sedih, dan rindu yang seolah dicampur jadi satu. Jongin lalu mengusap wajahnya dan membuka amplop itu dengan perlahan, mengantisipasi apapun yang tersimpan di baliknya.

Kali ini, ekspresi wajah Jongin berubah jadi seperti kena tinju ketika menemukan selembar kertas persegi berwarna senada dengan amplopnya namun sedikit lebih muda. Kepalanya berputar dan dia bisa membayangkan ada lubang besar di bawah kakinya yang siap menariknya kapan saja dia menganggukkan kepala. Apa yang dirasakannya mungkin lebih tidak dapat dijelaskan. Dia hanya…tidak mengerti.

Setelah sekian lama tidak saling bertukar kabar, kenapa tiba-tiba dia menerima ini?

Bagaimana bisa dia tidak diberitahu lebih awal?

Bukankah dia adalah sahabat Hyemi yang paling dekat?

Bukankah Hyemi pernah bilang kalau Jongin adalah soulmatenya?

Lalu bagaimana bisa—

Jongin menggeleng-gelengkan kepalanya dengan bingung. Sekali lagi, dia mengusap wajah dan memandang berkeliling, mencoba memahami apa yang baru saja terjadi. Lalu ketika pandangannya sekali lagi bersirobok dengan kertas di tangannya, kesadaran seolah menghantamnya dengan telak dan menjadikannya pias.

Ini memang nyata.

Yang ada di tangannya sekarang memang undangan pernikahan.

Dan Park Hyemi, sahabatnyalah, yang akan jadi mempelai wanitanya.

***

James menyambut Jongin penuh keterkejutan ketika membukakan pintunya untuk lelaki itu pada malam harinya, bertanya apakah Jongin sudah harus ikut tur lagi sementara wajahnya masih kelihatan seperti zombie ketika melihatnya menenteng satu koper besar dan memanggul tas bepergian yang selalu dibawanya kemana-mana. Jongin hanya menjawab pertanyaan itu dengan kedikan bahu yang diartikan James sebagai “ya, apa boleh buat” sementara dia memeluk tetangganya dengan satu lengannya yang bebas sebagai ucapan perpisahan sambil menambahkan bahwa kali ini dia mungkin akan pergi cukup lama. James membalasnya dengan menepuk punggung Jongin, mengatakan “hati-hati di jalan” dan “sampai jumpa lagi”, lalu melambai sampai punggung Jongin menghilang di balik tangga besi yang menuju ke lantai bawah.

Sesampainya di pelataran bangunan flatnya, Jongin meletakkan koper dan mengecek arlojinya. Menjelang pukul setengah delapan. Seharusnya taksi yang dipesannya datang sebentar lagi. Dia membeli tiket pesawat dengan penerbangan yang berangkat pukul setengah sembilan. Tadi, setelah menimbang-nimbang kemungkinan macet, Jongin akhirnya memutuskan untuk memesan taksi dan meminta dijemput tepat pukul setengah delapan. Dengan hitung-hitungan sederhana, paling lambat dia akan tiba di bandara pada pukul delapan lewat sedikit. Setidaknya, dia masih punya cukup waktu untuk makan roti dan minum kopi.

Pukul setengah delapan lewat lima, taksi yang ditunggunya datang. Jongin segera mengenyakkan tubuhnya di kursi belakang setelah memastikan kopernya dimasukkan oleh sopir ke dalam bagasi. Sekali lagi, dia mengejek arloji. Pukul setengah delapan lewat sepuluh. Dia berharap taksi ini bisa sedikit ngebut.

“Langsung ke Newark, Sir?” Si sopir bertanya sopan, mengangguk pada Jongin dari kaca spionnya.

Jongin mengangguk, merasa sangat lelah karena seharian tadi tidak bisa tidur samasekali. “Ya, langsung saja,” jawabnya. Lalu, dia mengalihkan pandangan keluar jendela.

Meskipun telah duduk di dalam taksi yang jelas-jelas akan mengantarnya ke bandara, Jongin masih belum bisa percaya bahwa dia akan pulang ke Korea dalam satu jam ke depan. Pikirannya masih mengambang, berpindah-pindah antara jadwal tur musikalnya dua minggu lagi dan undangan pernikahan Park Hyemi yang kini tersimpan di saku bagian dalam jaketnya. Di dalam undangan itu tertulis tanggal 23 Februari 2014, yang berarti adalah tepat dua minggu lagi. Dengan pulang ke Korea, Jongin mau tidak mau harus absen pada penampilan perdana musikal The Book of Mormon di Los Angeles di tanggal yang sama.

Semuanya demi menemui kembali sahabatnya.

Di bagian belakang kertas undangan itu Jongin juga menemukan surat panjang yang ditulis tangan oleh Hyemi sendiri. Kalimat-kalimatnya bernada jengkel dan merajuk, terutama pada fakta bahwa Jongin tidak pernah menghubunginya selama hampir setengah tahun. Hyemi juga protes dengan kebiasaan Jongin yang memilih tinggal berpindah-pindah, yang membuatnya jadi kesulitan mengirimkan surat. Nomor ponsel Jongin yang sering berganti juga semakin membuat gadis itu kesal.

Di tengah-tengah surat, gadis itu mulai bercerita tentang masa lalu, memaksa ingatan Jongin kembali lagi ke saat tiga tahun lalu, ketika mereka berdua masih tinggal berseberangan di rumah berhalaman luas dengan pagar rendah. Hyemi juga menyebut-nyebut lagi soal kepergian Jongin ke Amerika yang dibahasakannya sebagai saat-yang-paling-dibencinya-seumur-hidup-bahkan-sampai-mati, tepat satu minggu setelah pemakaman ibu Jongin di hari berhujan yang muram. Lalu dia menyinggung soal hidupnya yang membosankan tanpa Jongin (mereka hanya berhubungan lewat Skype sampai setengah tahun lalu), sampai akhirnya bertemu dengan Park Chanyeol.

Rasanya ada yang menyumbat tenggorokan Jongin setiap kali nama itu terlintas di dalam kepalanya. Hyemi tidak bercerita secara detail tentang lelaki yang akan jadi suaminya itu, tetapi Jongin tidak bisa mencegah dirinya sendiri untuk membayangkan bagaimana rupa Park Chanyeol. Bayangan yang terbentuk di dalam kepalanya sangat janggal, berupa wajah seorang pria bersenyum miring dan berambut hitam pekat dengan mata kecil dan hidung yang besar. Jongin tidak mengerti darimana dia mendapat inspirasi atas gambaran itu, tetapi dia ingat pernah bertemu orang dengan tampang serupa di salah satu pertunjukkannya belum lama ini. Dan Jongin tidak menyukai orang itu.

Bagian akhir surat dipenuhi Hyemi dengan permohonan agar Jongin segera pulang untuk menemuinya. Dia mewajibkan Jongin untuk hadir di pernikahannya, menjadi pendampingnya, tidak peduli bahwa dia punya saudara-saudara perempuan yang lebih pantas untuk diberi posisi itu. Lalu, pada kalimat terakhir, gadis itu berkata dia yang akan datang sendiri ke bandara untuk menjemput Jongin, kapanpun sahabatnya itu tiba.

Mengingat kalimat Hyemi yang terakhir membuat Jongin menyeringai. Dia belum bisa membayangkan akan bertemu lagi dengan gadis itu setelah tiga tahun, dan ketika sekali lagi nama dan bayangan wajah Park Chanyeol (yang dikarangnya sendiri) muncul di kepalanya, mendadak Jongin tercekat. Sekarang, setelah bangunan Newark International Airport sudah tampak dalam jarak penglihatannya, kesadaran bahwa sahabatnya akan segera menikah tidak hanya menghantamnya telak-telak. Untuk pertama kalinya, Jongin memahami bahwa apa yang dirasakannya saat ini adalah sebuah bentuk ketakutan.

***

San Fransisco, 9 Februari 2014

Jongin memutuskan untuk tidur saja selama perjalanan dari San Fransisco menuju Seoul, setelah menghabiskan waktunya selama transit di kota itu dalam kondisi linglung. Dia ingat telah mengirim pesan singkat pada Hyemi untuk menjemputnya pukul setengah lima sore keesokan harinya (gadis itu menuliskan nomor ponselnya di samping tulisan “dengan sejuta pelukan” dalam suratnya) beberapa saat sebelum pramugari mengingatkan penumpang untuk mematikan ponsel karena pesawat sebentar lagi akan take-off, tetapi tidak terlalu berharap gadis itu akan benar-benar datang karena, yeah, Jongin berpikir Hyemi mungkin sedang sangat sibuk dengan segala urusan soal pernikahannya.

Sebelum memejamkan mata, Jongin mengucap syukur dalam hatinya karena meskipun dia naik pesawat ekonomi, tempat duduk di kanan-kirinya kosong. Entah kenapa, fakta sederhana itu membuat hatinya jadi terasa lebih tenang. Setidaknya sampai besok sore.

***

Seoul, 10 Februari 2014

Jongin menginjakkan kakinya di lantai Incheon International Airport pukul setengah lima sore, meleset limabelas menit dari jadwal yang seharusnya namun tepat seperti yang telah diperkirakannya. Bandara ini masih sama seperti yang terakhir kali diingatnya, tampak anggun sekaligus dingin dengan langit-langitnya yang tinggi dan dindingnya yang dilapisi kaca. Berjalan dengan kacamata rayban hitam bertengger di hidungnya, Jongin memperhatikan bahwa bandara ini cukup ramai dan berisik. Meski begitu, Jongin menyukai wajah-wajah yang dilihatnya di sekelilingnya, dengan kulit putih bersih, mata sipit, serta rambut hitam yang mayoritas lurus. Kesan familiar menyusup begitu saja dalam hatinya, dan Jongin merasakan kelegaan ganjil setelah sekian lama dia hanya bertemu dengan manusia-manusia berambut pirang, bermata biru, dan berkulit bintik-bintik.

Dia tidak sempat memikirkan jetlag akibat penerbangan selama 18 jam 36 menit yang baru saja dilaluinya. Seluruh kelelahannya seolah terbayar lunas karena perasaan lega yang membanjirinya, seolah-olah kelegaan itu ikut melangkah dengan ringan bersamanya menuju terminal kedatangan luar negeri. Dia mendorong satu troli berisi tas bepergian dan kopernya sambil menyenandungkan lirik dari lagu Give Me Love milik Ed Sheeran, salah satu penyanyi favoritnya—bukan lagu yang cocok untuk sebuah kepulangan, dia tahu, tetapi tetap saja, lagu itu adalah lagu kesukaannya.

Jongin baru saja akan merogoh saku jaketnya untuk mengambil ponsel dan menghidupkannya, kalau-kalau ada panggilan penting atau apa, ketika didengarnya seseorang menyerukan namanya, cukup keras di antara dengung percakapan orang-orang di sekelilingnya.

“Kim Jongin!”

Yang dipanggil langsung mendongak, urung mengambil ponselnya. Jongin mengernyit di balik kacamatanya, mencoba memfokuskan pandangan untuk mencari si pemilik suara yang barusan memanggil namanya.

“Hei, aku disini! Jongin-ah!”

Dan Jongin pun menemukannya. Berdiri di antara barisan orang yang hampir semuanya membawa semacam banner bertuliskan nama orang yang mereka jemput, gadis itu tampak mencolok dalam balutan long-coat berwarna merah tua dan sepatu boots hitam selutut. Sama seperti yang lain, dia juga mengacung-acungkan banner yang tampak bertuliskan “Welcome home, uri Kim Jongin!” berwarna kuning cerah di atas kepalanya.

Untuk beberapa saat, Jongin hanya terpaku di tempatnya. Lelaki itu memandangi sahabatnya yang kini sibuk melambai-lambaikan tangannya dengan tatapan bingung, samasekali tidak menyangka bahwa Park Hyemi akan benar-benar datang menjemputnya. Di dalam kepalanya bahkan sempat terpikir kemungkinan halusinasi, mengingat dia begitu ingin bertemu Hyemi setelah tiga tahun lamanya. Atau mungkin saja ini gara-gara jetlag.

“Ya! Kim Jongin! Kenapa kau malah bengong begitu? Ayo cepat kemari! Aku sudah menunggumu lama sekali, tahu!” Lagi-lagi suara Hyemi terdengar berseru kepadanya, membuat Jongin dengan patuh berjalan ke tempat gadis itu, masih setengah ragu-ragu, meskipun perlahan mulai menyadari bahwa gadis itu memang benar-benar tengah berdiri di hadapannya.

“Hyemi-ah—” Dia memulai, melepas kacamata dan menyingkirkan troli barangnya ke samping, tetapi kata-katanya tak sempat selesai karena Hyemi keburu memeluknya erat sekali. Gadis itu seperti melempar dirinya sendiri kepada Jongin, dan Jongin merasa mereka berdua akan jatuh terjengkang ke belakang sebelum akhirnya bisa menguasai diri dan menahan beban tubuh Hyemi.

“Dasar bodoh! Kenapa sama sekali tidak memberi kabar padaku selama setengah tahun?!” Hyemi merutuk di dadanya, masih dengan kedua lengan mengalungi lehernya, memeluknya erat-erat. “Demi Tuhan, setengah tahun, Kim Jongin! Dan kau seperti sudah melupakan aku untuk selamanya!”

Diam-diam, Jongin mengutuk dirinya sendiri karena masih sempat menghirup wangi shampoo dari rambut Hyemi sementara gadis itu mengomel panjang pendek. Itu wangi shampoo yang sama dengan tiga tahun lalu, wangi mint bercampur stroberi yang sekarang membuat Jongin merasa seperti melayang. “Kau masih pakai shampoo yang dulu, ya?” gumamnya, tidak bisa menahan diri untuk bertanya.

Hyemi melepaskan pelukannya dan mendongak menatap Jongin. “Apa? Shampoo— Oh, yeah, ini shampoo yang dulu kau bilang baunya enak sekali itu, benar. Bagiku ini juga sangat enak, jadi aku memakainya terus sampai sekarang,” jawabnya sambil mengerutkan kening, lalu, “Hei, kau belum menjawab pertanyaanku!”

“Pertanyaan yang mana?” Jongin membalas, merasa sedikit geli pada betapa mudahnya perhatian Hyemi teralih. Gadis itu memang samasekali tidak berubah, ternyata.

“Kenapa kau tidak menghubungiku samasekali selama setengah tahun?” Hyemi mengulang, tangannya bersedekap di depan dada sementara sepasang matanya yang berwarna coklat gelap memandang Jongin dengan tatapan horor. “Aku butuh penjelasan.”

Jongin menelan ludah. “Err, yeah, sori. Maksudku, maaf. Aku sibuk sekali belakangan ini. Tur kesana-kemari. Tempat tinggalku berpindah-pindah, dan nomor ponselku sering berganti. Jadi, yeah, aku jadi tidak sempat menghubungimu,” katanya, berusaha menjelaskan sehati-hati mungkin.

“Sebegitu sibuknyakah sampai membuatmu melupakan aku, sahabatmu yang paling dekat seumur hidup?” Mata Hyemi menyipit dengan mengerikan ketika mengucapkan kalimat itu, membuat Jongin berjengit untuk sepersekian detik.

“Hyemi-ah, please. Aku sungguh-sungguh minta maaf, oke? Aku tidak bermaksud melupakanmu. Ini terjadi karena keadaan yang mendesak.”

Untuk beberapa saat, Hyemi tidak bersuara. Gadis itu masih memandang Jongin dengan tatapan tidak terima, namun setelahnya hanya membuang nafas panjang. “Oke, baiklah. Tapi ini bukan berarti kau sudah dimaafkan seratus persen,” katanya pada akhirnya. Lalu, dia menggamit lengan Jongin dan mulai membimbingnya berjalan menuju pintu keluar.

“Kita mau ke mana?” Jongin bertanya, buru-buru menarik lagi troli barangnya.

Hyemi menoleh padanya dan memandangnya tak percaya. “Tentu saja ke rumahku. Memangnya mau ke mana lagi?” sahutnya, “Aku sudah menyiapkan kamarmu, makan malam, pokoknya semuanya. Jadi, kau tidak perlu khawatir.”

“Tunggu dulu, Hyemi-ah. Jadi maksudmu, aku akan tinggal di rumahmu selama di sini?” tanya Jongin lagi, kali ini sambil menyentuh tangan Hyemi yang melingkari lengannya, sebagai isyarat agar gadis itu berhenti sebentar.

“Ya.” Hyemi menjawab dengan tegas. “Kim Jongin, kau bukannya lupa kalau rumahmu sudah dijual sebelum keberangkatanmu ke Amerika, kan?”

Jongin mengerjap beberapa kali sebelum menyahut dengan tergeragap, “Ah, ya. Oke. Eh, trims, Hyemi-ah.”

Hyemi memutar matanya. “Jangan berlebihan begitu. Lagipula, kan, memang aku yang mengundangmu.”

“Ah, benar. Aku terpaksa harus absen dalam tur musikalku dua minggu lagi demi pulang untukmu,” Jongin berujar, sengaja menyindir Hyemi meski maksudnya hanya bercanda. Lelaki itu kembali merasakan lengannya dirangkul oleh sahabatnya sementara mereka berjalan lagi. Dalam hati dia juga bertanya-tanya apakah bandara Incheon memang selalu seluas ini.

“Benarkah?” gadis di sampingnya berseru, mencengkeram lengan Jongin sedikit lebih keras. “Kau sungguh-sungguh mengorbankan tur musikalmu demi aku?”

Jongin meringis, setengah geli setengah nyeri. Lalu, dia mengangguk sekali. Sebuah anggukan yang menyatakan keyakinan dan kejujuran. Meskipun kata-kata Hyemi tidak sepenuhnya benar, sih, karena secara teknis dia hanya absen pada penampilan perdana musikal The Book of Mormon, bukannya batal tampil di semua pertunjukan.

“Hei, ngomong-ngomong soal tur, bukankah tadi kau bilang kau tinggal berpindah-pindah selama bekerja? Tapi kenapa kau bisa menerima surat dariku?” Sekali lagi, Hyemi menoleh padanya, dan detik itu Jongin menyadari betapa yang dia rindukan bukan hanya wangi shampoo yang terasa familiar itu, tetapi juga sepasang mata coklat tua Hyemi yang selalu memandangnya dengan tatapan ingin tahu yang jujur.

Jongin berdeham, berusaha menetralkan isi kepalanya dan menghentikan suara gemuruh yang dihasilkan jantungnya. “Aku selalu pulang ke flatku di New York setiap kali selesai tur. Itu tempat tinggalku yang pertama sejak aku tinggal di Amerika, jadi bisa dibilang itu juga rumahku. Lagipula, aku sudah kenal baik dengan orang-orang yang tinggal di sana,” Jongin menjelaskan, lalu tersenyum miring saat mengingat flatnya yang belum sempat dibersihkan sejak dia pulang ke sana dua hari lalu, James yang tampak khawatir ketika Jongin datang untuk berpamitan, dan suami-istri Clark yang sempat menyapanya dari pintu mereka di bangunan flat paling dasar.

“Kau kelihatannya betah jadi orang Amerika,” komentar Hyemi, nyengir sedikit untuk menggoda Jongin.

Jongin tertawa. “Apa aku sedang bicara dengan gadis pencemburu sekarang?” balasnya, balas menyeringai pada Hyemi.

“Enak saja,” Hyemi mencibir, “Aku tidak mungkin cemburu padamu. Aku, kan, sudah punya Chanyeol. Nanti ku kenalkan kau padanya. Kalian pasti cocok. Dia juga suka musik, sama sepertimu.”

Jongin terkesiap. Sejak kedatangannya tadi, rasa-rasanya dia samasekali tidak ingat pada Park Chanyeol, si calon suami Hyemi. Namun, mendengar namanya disebut barusan, perasaan tidak suka tanpa sebab yang mengantuinya sejak pertama kali Jongin mengetahui namanya dan bertambah sejak dia mulai mereka-reka sendiri bagaimana wajahnya seolah muncul kembali, perlahan merambati kepalanya dan membuatnya merasa pusing.

“Nah, itu dia Chanyeol. Eh, aku belum bilang kalau Chanyeol ikut datang menjemputmu, ya?” Sekarang, celoteh Hyemi di sampingnya mulai terdengar seperti dengung yang jauh di telinga Jongin. Dia bahkan tidak yakin apakah dirinya masih berdiri di lantai batu yang dingin di bawahnya. “Chanyeol-ah!” Dengung suara Hyemi samar-samar terdengar lagi, dan Jongin menyumpah dalam hati karena dia harus melihat lelaki bertubuh jangkung itu detik ini, ketika yang ingin dilakukannya hanyalah mengobrol dengan Hyemi dan pulang ke rumah gadis itu dalam keadaan damai.

Lalu, ketika Park Chanyeol berjalan mendekat, Jongin menyadari bahwa lelaki itu samasekali tidak bersenyum miring, berambut hitam pekat, bermata kecil, dan berhidung besar.

***

Iklan

Satu pemikiran pada “The Best Man: An Invitation

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s