[FF/Oneshot] What’s Ours

wb1taken from weheartit.com

***

Title : What’s Ours

Author : Yuridista

Genre : Romance, fluff

Casts : Park Shinhye/Cha Eunsang, Kim Woobin/Choi Youngdo

Rating : G

Length : Oneshot-1.190 w

BGM : Growing Pain2-Cold Cherry from The Heirs OST

Disclaimer : Seluruh tokoh di dalam fanfiction ini bukan milik penulis. Ide, plot, dan alur cerita murni berasal dari imajinasi penulis. Kesamaan adegan dan tempat kejadian adalah kebetulan semata. Fanfiction ini dibuat hanya untuk kepentingan hiburan. Dilarang copy-paste tanpa seizin penulis.

***

Pukul enam pagi, dan sepertinya dia jadi orang pertama yang tiba di sini hari ini. Sungguh melelahkan harus bangun pukul tiga setiap pagi dan menghadapi musim dingin dalam keadaan mengantuk luar biasa, tetapi toh dia tetap bisa jadi yang paling rajin, bahkan di antara para kru sekalipun. Sembari duduk di salah satu bangku di ruang kelas yang akan jadi set hari ini, dia membuka-buka lagi bundelan naskah di tangannya. Untunglah hari ini adegannya tidak sebanyak kemarin-kemarin. Cukup duduk, kerjakan soal ujian, lalu beberapa dialog dengan tiga orang lawan mainnya.

“Eunsang-i!”

Seseorang memanggilnya. Eh, bukan. Orang itu memanggilnya. Dia menelan ludah dengan gugup dan mendongak. “Halo, Youngdo-ya,” balasnya, bersemu merah begitu saja.

Orang itu mendekat padanya, lalu ikut duduk bersamanya. “Kenapa kau selalu jadi yang datang paling pagi, Eunsang-i?” Orang itu bertanya, sambil dengan ringan mengulurkan satu cup latte yang masih panas kepada gadis di hadapannya.

Si gadis tersenyum saat menerima cup dari lawan bicaranya. “Sepertinya program di dalam tubuhku bekerja seperti itu, Youngdo-ya,” jawabnya, takjub sendiri dengan efek yang dihasilkan oleh nama yang baru saja diucapkannya. Seolah nama itu adalah sihir, rasanya seluruh tubuhnya ikut berdesir ketika mengucapkannya.

Ah, betapa dia menyukai kesepakatan kecil mereka ini. Lelaki itu sendiri yang memintanya untuk memanggil dengan nama karakter mereka di dalam drama selama mereka berada di lokasi syuting. Awalnya dia mengernyit dengan permintaan itu, tetapi pada akhirnya mengiyakannya juga. Selama itu bisa mendekatkannya dengan si lelaki, dia akan mengiyakan apa saja—tanpa terkecuali.

“Apa hari ini ada adegan kita?” Si lelaki bertanya lagi, ikut-ikutan membaca bundelan naskah yang baru saja diambilnya dari dalam ranselnya.

“O,” angguk si gadis. “Akan ada adegan kau meneleponku dan aku hanya memandangi layar ponselku karena tidak tahu harus bagaimana.”

Si lelaki mengangkat sebelah alisnya. “Benarkah?” ujarnya, lalu mencondongkan tubuhnya ke arah si gadis.

Si gadis langsung berjengit mundur. Rasanya jantungnya sudah merosot sepersekian detik ke dasar perutnya barusan. Efek lelaki ini benar-benar membahayakan untuknya, sepertinya. “Eh, apanya?” dia menyahut setelah berhasil meyakinkan diri bahwa jantungnya masih berada di tempatnya dan baik-baik saja.

“Aku meneleponmu dan kau tidak tahu harus bagaimana?” kata si lelaki, tersenyum miring seperti sedang menggodanya.

“Uhm, yeah. Di sini tertulis begitu.” Si gadis menjawab dengan canggung sambil menunjuk-nunjuk naskahnya. “Maksudku, aku mungkin terkejut, ketakutan, dan bingung di saat yang bersamaan. Itu akan membuatmu semacam jadi tidak tahu harus bagaimana, kan?”

“Tsk, tsk. Merepotkan sekali, ya,” komentar si lelaki, kali ini sambil bersedekap dan kembali bersandar di bangkunya. Dia menyilangkan kaki-kakinya yang panjang dan memasang ekspresi iseng yang entah kenapa membuat gadis di hadapannya jadi was-was.

“Kenapa merepotkan?” si gadis bertanya, kepalanya dipenuhi antisipasi sementara jantungnya lagi-lagi bereaksi.

Si lelaki mengangguk-angguk, seolah seluruh dunia sudah tahu jawaban atas pertanyaan itu. “Yeah, kalau baru ditelepon saja sudah tidak tahu harus bagaimana, apalagi kalau aku mengajakmu kencan, kan? Mereka mungkin akan menuliskan kata pingsan di naskahmu.”

Dan sekali lagi, lelaki itu membuat jantung si gadis merosot sampai ke dasar perutnya.

Sambil berusaha untuk tidak menatap mata si lelaki dan berakhir tenggelam di kedalamannya, si gadis menyuarakan tawa kecil yang canggung yang dia sendiri gagal untuk menutupinya. Tapi karena pada dasarnya semua lelaki memang tidak peka, sosok di hadapannya hanya cengar-cengir tanpa mengatakan apa-apa. Demi Tuhan, dia hanya bisa berharap lelaki itu sama tidak pekanya saat melihat perubahan warna keduabelah pipinya.

Tiga bulan lalu saat dia dipertemukan pertama kali dengan si lelaki, dia tidak punya satu pemikiran pun yang mengarah ke hal-hal romantisme seperti ini. Saat itu, dia hanya senang karena mereka seumuran. Bekerja dengan orang yang seumuran selalu membuatnya lebih rileks dan meskipun penampilan si lelaki cenderung dingin dan arogan, tetapi nyatanya dia adalah orang yang supel dan luar biasa konyol. Lalu entah bagaimana pada akhirnya dia harus menatap mata lelaki itu setiap kali mereka beradegan berdua, dan melihat perubahan ekspresinya, dan mendengarnya menyebutkan namanya, dan menerima latte cup setiap pagi darinya, dan mengobrol tentang apa saja, dan membuat kesepakatan soal nama mereka, dan berbagi lelucon dengannya, lalu bam! perasaan ini seolah dijatuhkan begitu saja dari langit ke dalam hati si gadis.

Mungkin ini karma.

Yah, karena di dalam drama dia sudah menyakiti si lelaki dengan tidak membalas perasaannya, di dunia nyata dia yang kena getahnya. Jutaan penggemar si lelaki mungkin sudah mengutuknya begitu rupa. Benar. Dan dia seharusnya membalas dendam dengan mengutuk si penulis skenario—atau…tidak?

“Eunsang-i, apa kau sudah sarapan?” Pertanyaan dari si lelaki mengembalikannya dari lamunan dengan segera.

Si gadis menggeleng, lalu menambahkan, “Bagaimana bisa sarapan kalau bahkan pakai BB cream saja tidak sempat?”

Si lelaki terkekeh. “Ah, benar. Programmu tidak memasukkan BB cream ke dalam daftar kegiatan, kan?”

“Tentu saja. Mana ada robot yang pakai BB cream dan sarapan setiap pagi?” Si gadis menjawab, ikut-ikutan tertawa.

“Kalau begitu, bagaimana kalau kita kacaukan sebentar programmu dan pergi sarapan sandwich di kafetaria?” ajak si lelaki sambil meletakkan cup lattenya yang sudah kosong di meja dan mulai merapikan kemejanya.

Mata si gadis membulat terkejut. “Sarapan, eh, di kafetaria?” Dia mengulang dengan tak yakin.

Si lelaki mendongak dan mengangguk dengan semangat. “Uhm. Jiahn meneleponku tadi di perjalanan, bilang kalau jam setengah tujuh akan mampir sebentar untuk sarapan bersama. Kau mau ikut, kan?”

Uh-oh, tidak. Kali ini, tidak hanya jantung si gadis yang merosot sampai ke dasar perutnya, rasanya kepalanya jadi ikut pening mendengar kalimat yang diucapkan si lelaki barusan. Jiahn—nama yang barusan didengarnya itu adalah satu-satunya nama yang sanggup menjatuhkannya ke dasar jurang setelah terbang terlalu jauh bersama pikirannya. Itu adalah satu-satunya nama yang jika disebut akan membuat hatinya nyeri dan matanya berkaca-kaca tanpa aba-aba. Seolah itu semua sudah ada programmnya. Setiap hal di dalam dirinya sudah ada programnya.

Yoo Jiahn—nama kekasih lelaki yang duduk di hadapannya. Setengah mati dia tidak ingin mendengar nama itu disebut-sebut lagi.

“Woobin-ah, aku… Maaf, aku tidak ikut.” Si gadis berbisik, menelan ludah susah payah ketika nama si lelaki terdengar asing di ujung bibirnya. Nama itu…sejak awal dia memang tak pernah mengenal benar-benar pemiliknya.

Si lelaki mengerutkan kening, ekspresinya bertanya-tanya.

“Aku lupa tadi aku sudah makan kimbab sebelum kembali tidur di mobil,” si gadis buru-buru meneruskan, berharap raut wajahnya sekarang tidak memberi petunjuk apa-apa tentang isi hatinya.

“Serius?” Si lelaki bertanya sekali lagi, kini sambil berdiri dan menunduk—menatap lurus-lurus ke mata gadis di hadapannya.

“Tentu saja,” angguk si gadis meyakinkannya. “Sudah, sana cepat pergi. Tidak baik membuat seorang gadis terlalu lama menunggu,” tambahnya, dan sekali lagi merasakan entakan menyakitkan dari jantungnya.

Si lelaki menatapnya sebentar, tetapi lalu mengangkat bahu sambil mengecek arlojinya. “Kalau begitu sampai jumpa setengah jam lagi, Eunsang-i,” katanya seraya mengacak perlahan rambut si gadis.

“Ya! Kim Woobin!” si gadis berseru separo terkejut, separo jengkel.

Si lelaki hanya tertawa. “Jangan panggil aku Kim Woobin, bodoh! Aku ini Choi Youngdo, your knight in shining armor, ingat?” balasnya sebelum menghilang di balik pintu.

Dan sepeninggal si lelaki, si gadis mendesah panjang sambil menekan dadanya. Kalau dengan menjadi Cha Eunsang dia bisa selamanya memiliki Choi Youngdo sebagai ksatria penyelamatnya, jadi gadis miskin dan dimaki-maki seluruh dunia pun dia rela.

Asal dia boleh punya dunia yang hanya ada Cha Eunsang dan Choi Youngdo di dalamnya.

Karena dunia yang hanya ada Park Shinhye dan Kim Woobin sejak awal tidak pernah jadi tempat berpijaknya. Untuk dunia yang itu, dia sudah menyerah. Mengaku kalah.

DING!

Iklan

2 pemikiran pada “[FF/Oneshot] What’s Ours

  1. Hah! Rasakan kau eunsang!
    Ini karma akibat kamu tidak mengacuhkan youngdo, malah memilih pak tani -,-
    tapi,sebenernya aku ga suka kalo mereka ada scene berdua.. Ubin terlalu…. perfect buat shinhye soalnya. Kekekeke XD
    dan pencitraan Eunsangi ala2 suara youngdo,aku dapet banget feelnya! 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s