[FF/Oneshot] Inconvenient Truth

L

taken from weheartit.com

***

Title : Inconvenient Truth

Author : Yuridista

Genre : Romance, fluff

Casts : Infinite Kim Myungsoo/L, Yang Yejin (OC), Infinite Lee Howon/Hoya, Infinite Nam Woohyun, Infinite Kim Sunggyu, Infinite Jang Dongwoo, Infinite Lee Sungyeol, Infinite Lee Sungjong

Rating : G

Length : Oneshot- 1.244 w

BGM : Inconvenient Truth-Infinite

Disclaimer : Seluruh tokoh di dalam fanfiction ini bukan milik penulis. Ide, plot, dan alur cerita murni berasal dari imajinasi penulis. Kesamaan adegan dan tempat kejadian adalah kebetulan semata. Fanfiction ini dibuat hanya untuk kepentingan hiburan. Dilarang copy-paste tanpa seizin penulis.

***

Efek samping dari jatuh cinta adalah merasa cemburu. Dan kecemburuan biasanya diawali dengan rasa peduli. Tentu saja, kepedulian tidak akan muncul tanpa perhatian. Dan sesuatu yang mengundang perhatian biasanya tidak sepele—khususnya bagi seorang Kim Myungsoo. Karena, yeah, seorang Kim Myungsoo tidak memperhatikan hal-hal sepele. Dia memperhatikan hal-hal yang penting. Hal-hal krusial. Hal-hal yang menimbulkan banyak implikasi. Jadi, kalau dia sudah mengalami siklus jatuh cinta-memperhatikan-peduli-cemburu, pastilah sebabnya bukan hal-hal remeh yang sering dipusingkan orang-orang lainnya.

Jujur saja, sebenarnya Myungsoo bukan tipe lelaki yang posesif atau memiliki rasa ingin tahu yang berlebihan. Dengan Yejin, dia bersikap seperti kekasih pada umumnya—memberi sewajarnya, menerima secukupnya. Kalau rindu, Myungsoo akan menelepon Yejin dan mendengarkan gadis itu bicara, bercerita tentang apa saja kepadanya. Bagi Myungsoo, intinya adalah dia bisa mendengar suara Yejin dan mengetahui kalau gadis itu baik-baik saja. Dan dia pun akan menjadi baik-baik saja—rindunya tercukupkan.

Kalau Yejin sedih, Myungsoo akan menemui gadis itu dan memeluknya lama sekali. Dia tidak pintar mengucapkan kata-kata penghiburan, jadi dia menggantinya dengan pelukan dan tepukan pelan di bahu Yejin, berharap sambil menyusut airmatanya, Yejin akan merasa hangat. Setidaknya, perasaan hangat akan membuat kekasihnya tahu kalau dia tidak sendirian—ada Myungsoo di sisinya.

Setiap kali Yejin berulangtahun, Myungsoo tidak pernah memberi kejutan. Dia tidak melihat dimana letak urgensinya mengetuk pintu rumah kekasihnya tepat pukul duabelas malam hanya untuk mengucapkan selamat ulangtahun dengan kue penuh lilin dan segebung bunga di balik punggung. Alih-alih, lelaki itu memberi Yejin sekotak serangga yang dibelinya di toko hewan peliharaan sepulang sekolah atau menyanyikan lagu ciptaannya untuk Yejin sambil mengucapkan “Selamat Ulangtahun, Yang Yejin.” Sudah. Begitu saja. Dan Myungsoo senang bukan kepalang kalau setelah itu Yejin menghambur ke pelukannya dan membisikkan “Terimakasih” sambil tertawa-tawa. Tawa Yejin memang selalu bisa membuatnya bahagia.

Saat dia dan Yejin bertengkar, Myungsoo tidak lantas merengek-rengek di hadapan gadis itu untuk memohon maaf darinya. Lelaki itu hanya akan diam ketika Yejin berteriak tak terkendali di depan wajahnya, memakinya dengan semua kosakata yang bisa diingatnya, lalu berbalik dan lari begitu saja dengan wajah penuh airmata. Myungsoo tahu, hanya butuh setengah hari sampai Yejin mau membukakan pintu rumah untuknya dan memberinya maaf. Ketika itu, kepala Yejin sudah dingin. Myungsoo bisa meluruskan segalanya dan mereka akan berjabat tangan tanda berbaikan. Tak peduli siapa yang bersalah, Myungsoo paham bahwa setiap orang butuh waktu. Untuk diam, tenang, dan mengerti. Dan mungkin waktulah hal terbaik yang bisa diberikannya kepada Yejin ketika mereka sedang sama-sama dikuasai emosi.

Tapi untuk hal yang satu ini…Myungsoo sama sekali tidak mengerti. Perasaan ketika melihat Yejin mengenakan pakaian terbuka—blus tanpa lengan dan rok berenda di atas lutut…dia tidak paham bagaimana cara menjelaskannya. Dia tahu ini namanya cemburu, tapi baginya ini tidak sesederhana itu. Seseorang mungkin perlu menciptakan definisi yang lebih baik tentang “perasaan yang muncul ketika melihat kekasihmu berpakaian terbuka yang kau tahu ditujukan untuk menarik perhatianmu tapi justru berakhir dengan kau yang harus melihat laki-laki lain memandangi kekasihmu sementara kekasihmu terlalu bodoh untuk bisa menyadarinya”.

Sial. Ini, Myungsoo tahu, adalah persoalan yang punya banyak implikasi. Di dalam kepalanya, Myungsoo bisa membayangkan apa yang akan terjadi kalau dia bilang pada Yejin untuk tidak lagi berpakaian seperti itu. Oh, well, tentu saja Yejin akan mengamuk dan memberondongnya dengan kata-kata semacam “kau memang tidak peka” “tidak sadar aku melakukan semua ini untukmu” “aku hanya ingin tampil cantik tapi kenapa kau malah bersikap seperti ini” “apa tidak bisa memujiku sekali saja” dan yang paling parah, “dasar alien!” sebelum lagi-lagi berbalik dan berlari pergi.

Oke. Jadi sebaiknya Myungsoo memikirkan jalan keluar yang lebih bijaksana ketimbang sekedar melarang Yejin mengenakan blus tanpa lengan dan rok berenda di atas lutut. Atau siklus menyebalkan jatuh cinta-memperhatikan-peduli-cemburu akan terus berlanjut dan menyiksanya sampai sekarat. Kadang-kadang, wanita memang bisa membuatnya begitu bingung. Ah, tidak. Bukan wanita, tapi wanitanya, si Yang Yejin keras kepala itu. Dan sifat Myungsoo yang tidak pandai menyusun kata-kata dan berbicara seterbuka manusia lainnya membuat segalanya jadi kelihatan lebih rumit saja.

***

“Katakan padaku Yejin-ah, apakah kau setuju kalau aku bilang seseorang perlu menambahkan beberapa meter kain untuk rok gadis itu?” Myungsoo memulai, sambil dengan cueknya mengunyah Pringles meski jantungnya mulai berdegup lebih cepat. Matanya kini terpancang ke layar televisi yang menayangkan siaran ulang malam penganugerahan Miss Korea 2013, sementara telinganya bersiap mendengar jawaban Yejin yang duduk di sampingnya.

“Kenapa memangnya? Rok itu kelihatan baik-baik saja,” Yejin menyahut acuh tak acuh.

Myungsoo memutar mata. “Roknya memang baik-baik saja, tapi yang memakainya tidak. Apa kau tahu kalau saat ini seluruh laki-laki di Korea yang menonton siaran ulang ini hanya akan memandangi paha dan kaki gadis itu alih-alih mencoba meresapi kata-kata pintar apapun yang keluar dari mulutnya?”

“Ya! Kim Myungsoo! Kau ini bicara apa, sih?” Yejin akhirnya berteriak. “Apa kau sedang sengaja ingin menjelek-jelekkan reputasi kaummu sendiri?”

“Tidak,” geleng Myungsoo kalem. “Aku hanya bicara realita.”

Yejin memutar posisi duduknya untuk menatap Myungsoo. “Realita apa?”

“Ya, realita kalau seorang gadis mengenakan pakaian seminim itu, laki-laki tidak akan tertarik pada otaknya, atau kepribadiannya, atau apapun yang diucapkannya. Laki-laki hanya akan tertarik pada tubuhnya.”

“Err…”

“Dan kalau sudah begitu, eksistensi yang diperjuangkan wanita akan berhenti sampai di ujung lengan blus atau rok yang dipakainya saja. Lalu musnah. Whoosh. The end,” Myungsoo melanjutkan dengan dramatis ketika menyadari kalau Yejin telah kehilangan kata-kata untuk mendebatnya.

“Kim Myungsoo, kau…” Yejin mengerjap, kelihatan bingung harus menanggapi bagaimana. Wajah gadis itu memerah serupa buah ceri ketika kata-kata Myungsoo mulai meresap dalam pemikirannya.

Myungsoo menyunggingkan senyum miringnya, lalu mengalihkan tatapannya dari layar televisi untuk ganti menatap kekasihnya. “Dan, tentu saja, eksistensi yang seartifisial itu tidak akan bisa membuat laki-laki jatuh cinta. Ya, mereka memang tertarik, tapi ketertarikan itu akan menghilang kalau mereka sudah puas dengan apa yang mereka lihat.”

“Jadi maksudmu, tidak seharusnya seorang gadis mengenakan pakaian minim dan seksi, bahkan walaupun itu dimaksudkan untuk menyenangkan kekasihnya?” Yejin bertanya dengan wajah polos.

“Tentu saja tidak,” Myungsoo menjawab sambil tergelak. “Kalau aku sih, secara pribadi lebih menyukai gadis keras kepala, cerewet, susah diatur, dan galak setengah mati yang selalu mengenakan t-shirt dan jeans belelnya kemana-mana daripada gadis berpakaian seksi tapi tidak mengerti dimana letak asyiknya mengoleksi serangga dan memelihara kelinci kembar.”

Mendengar itu, seketika wajah Yejin merona merah (lagi). “Kau yakin dengan apa yang kau katakan barusan? Kau paham, kan, kalau bilang begitu berarti kau sudah menghapus kesempatanmu sendiri untuk melihat kekasihmu mengenakan blus dan rok feminim yang seksi?” Yejin bertanya setengah mengancam.

Myungsoo tertawa lagi. “Kalau bahkan tanpa berpakaian seksi pun gadis itu sudah sempurna, kenapa aku harus repot-repot mengambil kesempatan remeh semacam itu?” dia bertanya balik. “Justru, aku yang nanti akan pusing kalau melihat kekasihku berkeliaran dengan pakaian yang membuat eksistensinya menghilang secepat pergantian warna lampu lalu lintas,” lanjutnya setengah bergurau.

Yejin mencebik, tapi lalu berkata, “Terimakasih banyak atas kuliahnya tentang eksistensi wanita, Tuan Pengomel. Kau yang terbaik.” Dan, gadis itu tersenyum lebar sekali sebelum memeluknya.

“Aku memang yang terbaik. Itulah kenapa aku bisa mendapatkan gadis yang paling sempurna di dunia, kan?” Sambil membisikkan kalimat itu dari atas kepala Yejin, diam-diam Myungsoo bersyukur karena masalah dengan banyak implikasi ini akhirnya bisa terselesaikan. Sampai jumpa untuk sementara kepada siklus jatuh cinta-memperhatikan-peduli-cemburu, sepertinya!

DING!

Iklan

5 pemikiran pada “[FF/Oneshot] Inconvenient Truth

  1. Yang kutunggu-tunggu akhirnya muncul juga… Kyaaaaaa πŸ˜€
    Telimakacii yaaa sudah buat cerita ini :3

    Dulu pas lagu inconvenient truth ini keluar, aku udah ngebayangin klo Yuridis buat cerita berdasarkan lagu ini pasti hasilnya bakalan keren! Dan emang kebukti πŸ˜‰

    Dan itu.. *nunjuk fotonya Myung diatas* aaaakkkhh itu pangeran salju darimana? ::_____;; ❀ ❀ ❀

    selalu deh kehilangan kata-kata buat ngomentarin cerita yang dirimu buat, syukaaaaaa :3

    1. thank you too, unnie, karena sudah sabar menungguku yang lama nian cari inspirasi buat nulis ini hehew πŸ˜‰
      pangeran salju dari korea yg entah kenapa malah bikin meleleh orang2 di sekelilingnya, unnie LOL ;P
      makasih banyak, unnie πŸ™‚

  2. kata-katanya itu looh .. diksinya keren banget, empat jempol laah ^^
    ini asli kaya myungsoo banget, kalem kalem gimanaaa gitu πŸ˜€

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s