Kamu, Menyerahlah

dance

taken from weheartit.com

***

Sekali ini, menyerahlah. Kepada angin, kepada langit, kepada intuisi yang menerbangkanmu kemari—datang kepadaku. Biarkan aku membimbingmu, dan kita akan berdansa sampai lebur jadi satu. Sampai langit menua, sampai matahari mendingin, sampai seluruh bintang mengarat dan musnah. Kau boleh menangis ketika sedih, ketika bahumu berguncang-guncang karena isak dan ingusmu mengalir sampai ke bibir. Jangan takut, di mataku, menangis tak habis-habis pun kau tetap sempurna tak punya cela. Kau diizinkan tertawa sampai muak, sampai kau rasa matamu jadi lebih sipit dari sebelumnya, keduabelah pipimu nyeri, dan seluruh wajahmu berubah merah. Untukku, tawamu adalah obat segala sakit, penawar semua luka—adalah segalanya. Jangan takut untuk berlari memelukku ketika kesendirian itu mengejar-ngejarmu setengah mati dan kau tak tahan lagi. Lenganku ada di sini, terentang—siap menyambutmu tanpa merasa perlu repot-repot melepaskannya lagi. Dan ketika kau ingin bebas, terbang dengan sayapmu sendiri, jangan sungkan. Aku akan mengantarmu pergi dengan takzim, dalam doa-doa panjang saat terjaga pun terpejam.

Kau, ketahuilah bahwa perasaan yang aku punya adalah segalanya. Dialah nafasku, dialah detak jantungku, dialah inderaku, dialah pusat berfikirku, dialah organ tubuhku—dialah aku. Dan perasaan itu…adalah kamu. Maka, kau hanya perlu ada dan aku tahu aku akan bisa bertahan hidup. Menjadi waras. Punya daya untuk mencinta. Karena cinta ini bukan tentang sihir atau pesonamu—ini adalah tentang keberadaanmu.

Kau hanya perlu ada, lalu aku adalah manusia.

Menyerahlah, kamu. Dan jadilah ada untukku. Kau tidak perlu melakukan apa-apa. Tuhan menciptamu sebagai kesempatanku merasa hidup, merasakan eksistensi utuh menjadi manusia. Kau tidak perlu meminta, aku telah memberi semuanya padamu. Bahkan usai langit menua, matahari mendingin, dan seluruh bintang mengarat dan musnah, kalau kau mau, aku bisa terus berada di sisimu, mengulang lagi evolusi yang sama denganmu. Aku akan lahir kembali, belajar berjalan lagi, dan mencari rute untuk menujumu—satu-satunya hal yang menjadi alasan penciptaanku.

Bumi boleh memiliki kiamatnya sendiri—berputar, lalu pecah tak tentu arah, meledakkan semua isinya seumpama manusia meludah. Tapi aku, selama kau dan sepasang matamu ada, menatapku dengan cara yang luar biasa, aku akan tetap di sini, abadi dalam perasaanku kepadamu.

Maka itu, sekali lagi, aku minta kau menyerah. Pasrah. Lalu kita akan bertemu, berdansa sampai lebur jadi satu. Maukah?

 

DING!

 

Iklan

10 pemikiran pada “Kamu, Menyerahlah

    1. mungkin lebih tepatnya bukan ‘untuk’, tapi ‘karena’. inspirasi dari tiap tulisan bisa sama, bisa juga beda, tergantung gimana dia mendatangi kita. dan, belum tentu ini simbolisasi dari pengalaman pribadi juga kkk šŸ˜›

      anw, terimakasih atas apresiasinya šŸ™‚

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s