Priceless [Bidari-Daru’s Side Story]

hppy

taken from weheartit.com

***

“Kalau menurut kamu…cinta itu apa?”

“Kalau kamu bisa menemukan orang yang cuma dengan liat kamu aja dia bisa bahagia. Yakin, kalau kamu menemukan orang itu, kamu nggak akan minta apa-apa lagi.”

***

Langit telah menghapus semburat oranye malu-malunya dan menggantinya dengan warna biru dongker pekat ketika Bidari tiba di anak tangga pertama gedung kantornya, kelihatan lelah luar biasa. Tali sepatunya Converse hitam pudarnya tidak diikat dengan benar—yang sebelah kanan talinya bahkan menjuntai ke mana-mana, membuat Bidari tidak bisa berjalan terburu-buru tanpa menginjak tali sepatunya sendiri. Rambutnya yang biasanya lumayan rapi karena diikat ekor kuda, kini berantakkan dipermainkan angin. Tentu saja, dia bahkan lupa membawa ikat rambutnya yang cuma satu-satunya itu. Kemejanya tidak disetrika—Bidari hanya berpikir untuk mengambil apa saja yang berada di tumpukan paling atas lemari pakaiannya. Oh, dan ngomong-ngomong tumpukan itu adalah tumpukan pakaian yang hanya disetrikanya kalau sempat saja.

Apa yang membuat Bidari begitu terburu-buru mendatangi kantornya di Sabtu sore seperti ini, apalagi kalau bukan si penulis banyak mau itu. Meminta bertemu di lobi kantor tepat pukul lima, tidak boleh telat, tidak boleh ada alasan untuk tidak datang. Nadanya waktu bicara di telepon mengucapkan itu semua juga tidak kalah menjengkelkannya. Seolah-olah Bidari itu asisten pribadinya, dan bukannya editor untuk buku barunya. Kalau saja bosnya tidak mewanti-wanti Bidari tentang betapa pentingnya si penulis banyak mau itu bagi kantornya setiap tiga kali sehari, gadis itu sudah sejak dulu-dulu memaki-makinya dan meminta ganti klien. Sebegitunya. Memang.

Sebenarnya, Bidari sudah cukup lama tidak bertemu dengan Daru. Mungkin kira-kira dua minggu. Ya, sejak dua minggu belakangan, hidupnya bisa terasa cukup tenang dengan tidak adanya gangguan macam-macam dari lelaki itu. Tidak ada pesan-pesan singkat bernada kejam, tidak ada teror telepon yang mengerikan, tidak ada janji bertemu yang seperti ancaman pembunuhan, tidak ada debat-debat panjang melelahkan, dan tidak ada tatapan sinis yang membuatnya jadi kehilangan selera makan. Rasanya, kalau tidak ada Daru, dunianya lengang. Seperti Jakarta yang bebas macet.

Sambil merutuk dalam gumaman, Bidari mendorong pintu lobi kantornya dengan setengah hati. Ada perasaan tidak rela yang masih tertinggal di dasar perutnya karena jam istirahat akhir pekannya diinterupsi. Oleh orang yang sama sekali tidak punya hak, bahkan. Lalu gadis itu mendongak ketika sama sekali tidak ada suara yang menyapanya. Padahal jelas-jelas Daru sudah berada di lobi ini sejak lima belas menit yang lalu—begitu katanya sambil mengomel di telepon.

Dan Bidari harus merutuk lagi. Kali ini untuk alasan yang samasekali berbeda. Kali ini, dia harus merutuk karena bersirobok dengan mata itu. Dan merasakan tatapan itu. Dan melihat senyum itu. Dan menemukan wajah itu.

Rasanya aneh sekali melihat Daru tersenyum lebar saat menatapnya. Seolah-olah bertemu dengannya begitu menyenangkan. Begitu melegakan. Begitu membahagiakan. Seolah-olah…Bidari yang membuatnya bahagia—membuat seorang Aksara Priandaru bahagia.

 

And that expression was priceless…

 

DING!

 

Iklan
Priceless [Bidari-Daru’s Side Story]

3 pemikiran pada “Priceless [Bidari-Daru’s Side Story]

    1. ha, makasih ya 🙂
      sebenarnya, cerita ini utuh di dalam kepalaku, cuma ya gitu, kalau ditulis jadinya lompat-lompat sesukanya.
      jadi, biar dia sendiri deh yang menentukan bakalan dilanjut atau nggak 😉

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s