[FF/Oneshot] Moment

yixing1

taken from weheartit.com

***

Title : Moment

Author : Yuridista

Genre : Fluff

Casts : EXO-M Lay/Zhang Yixing, OC Park Hyemi

Rating : G

Length : Oneshot-1.145 w

BGM : Lucky–EXO-K

Disclaimer : Fanfiction ini dibuat semata-mata untuk kepentingan hiburan dan seluruh karakter yang terdapat di dalam fanfiction ini bukan milik penulis kecuali OC. Ide, plot, dan alur cerita murni dari hasil imajinasi penulis. Tidak diizinkan mengcopy-paste tanpa seizin penulis. Semacam side story dari ini.

***

People don’t want to forget moments.

But I, I just don’t want to forget this one moment.

I just don’t want to forget you.

***

Taman di bagian belakang gedung olahraga Incheon Senior High School tampak lengang meskipun ini sudah memasuki waktu istirahat. Bangku-bangku kayunya yang tersembunyi di antara pepohonan kosong—kecuali satu, bangku yang berada paling jauh dari jalan setapak. Di sana, berbaring sosok anak laki-laki berkaki panjang dengan rambut coklat tua mencuat-cuat yang kelihatan berantakkan karena dipermainkan angin.

Park Hyemi berjalan hati-hati mendekati anak laki-laki itu, berharap suara sepatunya yang menggesek jalan setapak dan daun-daun yang gugur tidak akan membangunkan si anak laki-laki—itupun kalau dia benar-benar sedang tidur. Namun, berlawanan dengan langkahnya yang perlahan, detak jantung Hyemi rasanya kelewat cepat sampai-sampai gadis itu berpikir kalau dia seharusnya berbalik saja—kembali dan tidak mencoba mendekati anak lelaki itu lagi.

Tapi tetap saja. Berapa kali pun dia mencoba menahan diri, satu suara dari bagian belakang kepalanya terus menyuruhnya untuk tetap melangkah maju, mengabaikan perlawanan dari jantungnya yang rasanya sudah mau melarikan diri kapan saja.

“Namaku Lay. Artinya unicorn.”

Suara itu bergema lagi. Suara cinta pertamanya. Suara Lay. Dan kalau dia cukup yakin, maka itu adalah juga suara milik anak laki-laki berambut coklat mencuat-cuat yang kini masih terbaring dengan satu tangan menutupi wajah dan tangan lain jatuh di samping bangku.

***

“Ya, Park Hyemi! Kenapa kau berani melaporkan Hyunsik pada saem tadi, heh? Kau kepengin dipukul, ya?” Gunhee, si anak lelaki bertubuh gempal, menggertak dengan suaranya yang serak.

Hyemi kecil menciut, tapi toh tetap nekat menyahut dengan tampang keras kepalanya. “Itu karena Hyunsik menyontek saat ulangan matematika! Kau tahu saem melarang kita menyontek, kan?”

Gunhee memutar bola matanya, raut wajahnya penuh celaan. “Kau terlalu sering mencampuri urusan orang lain, Park Hyemi. Karena Hyunsik temanku, kau harus terima balasannya,” desisnya mengancam.

“Ap-apa? Kau mau apa?” Hyemi bertanya takut-takut. Setengah isi kepalanya sudah menyuruhnya lari sejak tadi, tetapi entah kenapa sepasang kakinya tidak mau diajak kompromi.

Gunhee menampakkan seringaian menyeramkan sebagai jawabannya. “Aku mau memu—“

Grep.

“Hei. Kenapa kau memukul anak perempuan?”

Hyemi mendongak terkejut. Tinju Gunhee masih berada beberapa senti di depan hidungnya, tetapi terhenti di udara karena pergelangan anak itu dicengkeram oleh anak lelaki lain—anak lelaki asing yang wajahnya tidak dikenali Hyemi.

“Cih. Siapa kau?” Gunhee bertanya mencemooh. Disentakkannya tangannya agar lepas dari cengkeraman anak lelaki itu.

Anak lelaki itu menatap Gunhee lama sekali. Tubuhnya diposisikan membelakangi Hyemi sedemikian rupa, hingga gadis itu terhalang dari pandangan Gunhee. Lalu, anak lelaki itu menjawab mantap, “Lay.”

Gunhee tertawa penuh penghinaan. “Nama macam apa itu?” ejeknya, “Aku tidak mengenalmu, jadi tolong jangan ikut campur.”

Lay tetap bergeming. “Hanya lelaki pengecut yang memukul perempuan. Apa kau tahu itu?” ujarnya, nadanya datar tetapi tajam. Lay bicara dengan logat yang aneh sekali, sampai-sampai Hyemi tidak yakin kalau anak lelaki itu nyata dan benar-benar sedang berdiri di hadapannya.

“Omong kosong,” sergah Gunhee, masih dengan ekspresi merendahkan yang sama. Kali ini, pandangan itu tak lagi hanya ditujukan untuk Hyemi, tetapi juga pada anak lelaki bernama Lay itu. “Siapapun dirimu, kuperingatkan kalau kau tidak berh—“

“Hei, Nona Kecil. Ayo lari!”

Dan semuanya terjadi begitu cepat untuk Hyemi. Dia masih bisa melihat samar-samar bagaimana Lay menoleh, menatapnya, lalu mengucapkan kalimat itu dan menarik tangannya di saat yang nyaris bersamaan. Segalanya menjadi berwarna-warni di mata Hyemi. Dia bisa mendengar suara Gunhee yang meneriakkan namanya dan menyumpah-nyumpah di belakangnya, tetapi suara itu makin lama makin terdengar jauh karena saat ini rasanya dia seperti terbang.

Dia terbang bersama Lay.

***

“Nona Kecil, kurasa kita sudah aman.” Lay bicara cepat sekali di antara nafasnya yang terengah-engah. Dengan logat anehnya itu, Hyemi makin tidak bisa mengerti apa yang baru saja dikatakannya.

“Kau bicara apa—“

“Lain kali, kau harus jaga diri dengan baik. Tidak boleh berdua dengan anak lelaki nakal seperti dia. Kau bakalan tamat,” Lay berkata lagi, matanya mengerjap-ngerjap dengan semangat dan Hyemi baru sadar kalau rambut anak itu mencuat-cuat seperti habis kehujanan.

“Gunhee bukan temanku. Dia anak sekolah sebelah. Hyunsik yang nakal. Dia yang menyuruh Gunhee mengangguku,” Hyemi bercerita setengah berbisik. Kakinya masih gemetar, suaranya masih bergetar.

“Aku tahu. Nona Kecil sepertimu tidak mungkin berteman dengan anak nakal. Kau harusnya berteman dengan malaikat dan peri. Mereka…cantik dan manis sepertimu,” ujar Lay lembut. Lalu, dia tersenyum. Lesung pipi terbentuk di bagian kanan wajahnya.

Hyemi tertegun. “Aku— Terimakasih sudah menolongku dan…menggendongku,” katanya setelah sempat terdiam lama. Wajahnya merona merah karena campuran rasa lelah, takut, dan…karena menatap Lay. Kalau tersadar lagi tentang bagaimana anak lelaki itu menggendongnya dan membawanya berlari hingga dia merasa seperti terbang, rasanya Hyemi ingin pingsan saja. Entah kenapa.

“Tidak masalah.” Lay nyengir lebar. Wajahnya benar-benar menggemaskan.

Hyemi menelan ludah. “Ng, kalau begitu aku masuk ke rumah dulu,” katanya, lalu berbalik untuk membuka gerbang rumahnya.

Tapi Lay buru-buru menahan lengannya.

“Ada apa?” Hyemi bertanya, setengah kaget setengah ingin tahu.

Lay mengangkat bahunya salah tingkah. “Eh, itu… Kalau mau beli eskrim tokonya ke arah kanan atau kiri, ya?” tanyanya polos.

Hyemi langsung tergelak. “Kanan. Dua blok dari sini, dan kau akan menemukan toko yang menjual eskrim.”

“Ah, ya. Terimakasih banyak,” Lay berujar canggung. Ada semburat merah jambu di kedua pipinya.

“Sama-sama, ng…”

“Lay.”

“Eh?” Hyemi melongo.

“Namaku Lay. Artinya unicorn.” Lay tersenyum lagi.

Seperti disihir, Hyemi tidak bisa mengatakan apa-apa hingga lima detik kemudian dia sadar Lay telah berlalu dari hadapannya. Hatinya mencelos.

***

“Namaku Lay. Artinya unicorn.”

Hyemi tersenyum ketika suara itu sekali lagi menggema di dalam kepalanya. Dia sudah berada di samping Lay yang tertidur sekarang. Wajahnya tidak kelihatan, tetapi Hyemi bisa langsung tahu kalau dia benar-benar tidur dari dengkur nafasnya yang teratur dan perlahan.

“Apa dia…tidak ingat padaku?” gumamnya.

Sehelai daun jatuh dari pohon dan jatuh tepat di wajah Lay. Anak lelaki itu sontak terbangun dengan bingung, sementara Hyemi berjengit karena kaget.

“Kau—” Lay menatap Hyemi penuh tanda tanya.

Gadis itu menelan ludah. “Hyemi. Aku Park Hyemi. Yang membantumu menemukan kelas 12-2. Apa kau masih ingat?” tanyanya salah tingkah.

Lay mengusap wajahnya lalu berdiri untuk menatap Hyemi lebih seksama. “Ah, ya. Hyemi-ssi. Aku ingat,” katanya senang. “Sedang apa di sini?”

“Eh, aku… Aku mencari udara segar. Ini…tempat favoritku,” Hyemi berbohong dengan sengaja.

Lay mengangguk-angguk. “Sepakat. Ini juga tempat favoritku. Tidur di sini enak sekali seperti di rumah,” dia berujar mengiyakan.

“Kau pindahan, ya?” Kini, Hyemi merasa lebih rileks karena keramahan Lay.

“Yep. Dari Cina. Dulu aku pernah ke Korea juga, tapi cuma sebentar.”

“Dulu?” Hyemi bisa merasakan jantungnya berdegup lebih cepat lagi. Ada harapan dalam pertanyaan itu. Harapan…bahwa mungkin Lay akan mengingat pertemuan pertama mereka dulu.

“Iya. Dulu sekali. Waktu aku masih berumur sebelas atau duabelas tahun, aku tidak begitu ingat,” cerita Lay ringan. Wajahnya yang polos tampak berpikir-pikir.

Hyemi merasa jantung yang barusan berdegup lebih cepat itu kini sudah merosot ke dasar jurang. “Oh,” gumamnya, nyaris tidak bisa menyembunyikan rasa kecewa.

“Tapi aku ingat satu hal,” Lay tiba-tiba berkata.

“Ap-apa?”

Lay menatapnya. “Waktu aku ke Korea, aku sempat bertemu dengan gadis yang cantik sekali. Dia seperti malaikat dan peri. Dia…sepertimu.” Lalu, seulas senyum lolos begitu saja dari bibir lelaki itu.

Hyemi tertegun-tegun. Jadi…Lay mengingatnya?

Cinta pertamanya…mengingatnya?

DING!

Iklan

4 pemikiran pada “[FF/Oneshot] Moment

    1. hehe, zhang yixing memang salah satu karakter yang hebat sampai-sampai bisa bikin orang gregetan dan senyum-senyum sendiri 🙂
      selamat mengenal dia, ya, dan semoga dia mau buat diutak-atik lagi bareng Park Hyemi 😀

  1. keren thor 🙂 jadi tau trnyata arti Lay itu uncorn makanya kok exol pada bilang lay itu unicorn :Dhaha
    ah biasa kudet kan gue orangnya(?) *abaikan*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s