The Last Page [Arayya’s Side Story]

last

taken from weheartit.com

***

Arayya Aditia mencoret-coret bagian belakang buku agendanya dengan tampang bosan. Ini sudah menjelang pukul sepuluh malam, tetapi rapat sialan soal pembangunan apartemen baru di daerah Bekasi yang akan digarap olehnya dan dua kawannya yang lain belum selesai juga. Padahal, apa susahnya, sih, tinggal bilang deal dan mulai bekerja besok pagi? Kenapa harus repot-repot membahas ini-itu yang jelas-jelas sudah tertera di dalam surat kontrak?

Omong kosong. Pasti bosnya itu hanya ingin memastikan dia dan dua temannya yang kebagian proyek kali ini merasakan apa yang pernah dirasakannya sewaktu masih jadi bawahan dulu. Shit.

“Ray, abis ini ngopi, yuk.”

Rayya gelagapan menutup buku agendanya begitu mendengar suara mengalun itu bicara padanya.

“Ray.” Kali ini, pemiliknya menyenggol pelan bahunya.

Rayya langsung menoleh. “Hah? Sori tadi lo bilang apa, Mith?”

“Elo barusan nggak tidur, kan, Ray?” Prajna Paramitha, nama si pemilik suara mengalun itu, bertanya dengan ekspresi wajah prihatin sekaligus tak habis pikir.

Rayya nyengir salah tingkah. “Nggak, kok. Tapi kalau ngantuk iya banget, Mith,” bisiknya, tak ingin bosnya yang suka ikut campur ikut mencuri dengar.

“Sama.” Mitha mengangguk menyetujui. “Makanya, abis ini ngopi, yuk. Gue yakin banget kalo sebelum pulang si Bos bakal kasih kita kerjaan segunung buat lembur di rumah.”

“Ngopi?”

“Iya, ngopi. Di warkop depan kantor situ aja. Males gue kalo harus nyetir ke Strabucks dulu. Macet pasti.”

Rayya menaikkan sebelah alisnya. “Sejak kapan lo doyan kopi lima ribuan, Mith? Biasanya juga kalo nggak minum Starbucks lidah lo udah alergi,” katanya sangsi.

Mitha memberengut. “Berisik lo. Tinggal temenin aja susah amat. Mau kagak?”

“Iye, iye. Mau.” Raya akhirnya menyanggupi. “Tapi lo yang traktir, ya. Gue nggak ada duit kecil soalnya.”

“Yaelah, belagu amat jadi orang.”

Rayya tergelak. “Tinggal bayarin aja susah amat. Mau kagak?” katanya meniru ucapan Mitha.

“Iyaaa. Mauuu,” Mitha menyahut pasrah.

Sedetik kemudian, dua batang pensil sukses mengenai kepala mereka berdua.

***

“Gimana kabarnya Ara, Ray?” Mitha bertanya setelah menyesap kopi susunya.

Rayya mengedikkan bahu. “Ara ya gitu. Baik. Biasa.”

“Masih naksir sama siapa tuh, yang anak Kemenkeu? Arbiyan, ya?” tanya Mitha lagi.

“Lah, gue malah nggak tau. Dia cerita sama lo?”

“Nggak juga, sih.” Mitha menggeleng. “Dulu dia sempet nanya-nanya aja gue punya kenalan anak Kemenkeu enggak. Trus dia nyebut-nyebut pengen tau soal Arbiyan itu.”

“Oh, gitu.” Rayya mengangguk-angguk. “Dia, sih, jarang cerita sama gue. Paling sama sahabatnya tuh, si Bidari. Kompak banget mereka udah kayak kembar. Berasa punya adek dua gue,” kisah Rayya seraya tersenyum kecil.

“Bidari yang suka main ke rumah lo itu? Yang kecil, trus suka lo panggil Bibi itu?”

“Iya, yang itu,” Rayya berkata mengiyakan. “Lucu anaknya, Mith. Kocak juga mukanya kalo lagi cengo. Ketawa-ketawa terus gue kalo liat ekspresinya pas gue isengin.”

Mitha menaikkan sebelah alisnya. Ekspresinya menyelidik. “Ati-ati ntar naksir lo sama dia,” katanya.

Rayya langsung tergelak. “Nggaklah, Mith. Masih kecil gitu. Kasian dia kalo gue pacarin. Stres ntar,” elaknya.

“Kenapa stres coba? Karena lo tukang PHP?” cetus Mitha tanpa basa-basi.

“Ye, enak aja lo. Gini-gini gue setia, ya, orangnya.” Rayya cepat membantah.

“Masa? Mana buktinya?”

Rayya tertegun sebentar. “Rahasia. Ngapain juga gue musti repot-repot buktiin ke elo?” sahutnya setelah jeda lima detik.

Mitha mencibir. “Pelit lo. Yaudah, cabut yuk. Udah dismsin nyokap, nih, dari tadi,” ajaknya, lalu bangkit seraya meraih handbagnya.

“Sip. Jadi bayarin, kan, ini?” Rayya iseng menagih sebelum ikut beranjak dari bangkunya.

Mitha memutar matanya. “Iye, jadi.”

“Hore. Asik, Mitha baik, deh. Cantik, lagi,” sorak Rayya kegirangan.

“Ye, ngejilat terus aja lo, ya,” Mitha mencibir, lalu mengekor Rayya keluar dari warung kopi tenda yang mulai lengang itu. “Eh, Ray. Gue pinjem agenda lo, dong. Gue nggak nyatet apa-apa, nih, pas rapat tadi. Bisa cengo gue kalo nggak ngerti apa-apa pas liat tugas-tugas dari Bos tadi,” katanya tepat saat Rayya akan membuka kunci otomatis pintu mobilnya.

Refleks, gerakan Rayya terhenti di udara. “Hah? Agenda gue?” tanyanya agak gelagapan.

“Iya, agenda yang lo pake pas rapat tadi. Ada catetan-catetan pentingnya, kan?”

“Hah? Nggak, kok, Mith. Nggak ada. Tadi gue nggak nyatet apa-apa pas rapat,” Rayya berkilah buru-buru, kali ini sambil cepat-cepat membuka pintu mobil dan melemparkan tas ranselnya ke jok penumpang. “Lo kerjain aja dulu. Besok kita bahas bareng kalo ada yang nggak ngerti,” tambahnya ketika menoleh lagi pada Mitha.

“Eh? Gitu, ya?”

Rayya mengangguk mantap. “Iya. Gampang ntar kita urus bareng Ario juga,” ujarnya, menyebut nama teman mereka yang satu lagi, yang juga ditugaskan untuk mengerjakan proyek apartemen itu.

“Ng…ya udah, deh, kalo gitu. Gue cabut dulu, ya, Ray. Sampai ketemu besok,” Mitha akhirnya berpamitan, melambai, lalu berbalik untuk menuju mobilnya sendiri.

“Sampai ketemu besok,” Rayya membalas. “Ati-ati nyetirnya,” tambahnya sebelum mendesah lalu masuk ke mobilnya sendiri.

***

Esok paginya…

“Bang, itu yang di meja depan agenda punya Abang?” Aradhya bertanya pada kakaknya ketika mereka berdua sarapan di meja makan.

“Hah? Yang mana?” Rayya menyahut dengan mulut penuh sereal.

“Yang itu, yang di dalem tas item. Semalem aku nyari sketch-book aku, kan, kirain kebawa sama Abang. Eh, pas aku geledah tas Abang, malah nemu agenda itu,” Ara bercerita panjang lebar.

Rayya menelan ludah. “Agendanya…yang warna coklat?” tanyanya, berusaha terdengar santai meskipun di dalam kepalanya sudah ada kemungkinan yang tidak-tidak soal bayangan adiknya membaca agenda miliknya itu.

Ara langsung mengangguk. “Iya, yang coklat. Yang bagian belakangnya penuh sama gambar sketsa cewek. Itu pacar Abang?” ujar Ara dengan nada biasa-biasa saja, sama biasanya dengan nada bicaranya waktu membahas tentang cuaca atau harinya yang membosankan dengan ibunya.

“Eh? Bukan!” Rayya refleks menyanggah. “Itu iseng doang kali, Ra.”

“Bohong,” bantah Ara, nadanya masih kalem. “Kalo iseng, kenapa mukanya sama semua coba? Terus itu ada inisial P.P di bawah gambar-gambar Abang…itu nama ceweknya?”

“Ra, serius itu buk—“

“Kalo P.P berarti Prajna Paramitha, ya? Hayo, ngaku sama aku. Itu semua sketsa Mbak Mitha, kan?” Kali ini, tuduhan Ara serasa menghunjam tepat di jantung Rayya, membuat lelaki itu harus pasrah tersedak serealnya.

“Ra…” Rayya memohon putus asa.

Ara langsung nyengir. “Kalo nggak mau aku bocorin ke siapa-siapa, mulai besok anterin aku ngantor, ya? Seminggu full. Oke?” katanya licik.

Rayya melotot, tapi toh pada akhirnya mengangguk juga. Yah, daripada rahasianya dibongkar kemana-mana, kan?

“Asik. Plus Starbucks juga, ya sebelum nyampe kantor?” Ara menambahkan dengan muka jahil.

Untuk kali ini, Rayya hanya bisa mendesah pasrah. Kalah. Ternyata begini akibatnya kalau punya buku agenda yang bagian belakangnya jauh lebih penting dari bagian depannya. Sial.

DING!

Iklan
The Last Page [Arayya’s Side Story]

2 pemikiran pada “The Last Page [Arayya’s Side Story]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s