[FF/Oneshot] 60 Seconds

ms1editcr. superexofinite.wordpress.com, edited my yuridista

***

Title : 60 Seconds

Author : Yuridista

Genre : Romance, fluff

Casts : Infinite Kim Myungsoo/L, Yang Yejin (OC), Infinite Lee Howon/Hoya, Infinite Nam Woohyun, Infinite Kim Sunggyu, Infinite Jang Dongwoo, Infinite Lee Sungyeol, Infinite Lee Sungjong

Rating : G

Length : Oneshot-1.999 w

BGM : 60 Seconds-Infinite

Disclaimer : Seluruh tokoh di dalam fanfiction ini bukan milik penulis. Ide, plot, dan alur cerita murni berasal dari imajinasi penulis. Kesamaan adegan dan tempat kejadian adalah kebetulan semata. Fanfiction ini dibuat hanya untuk kepentingan hiburan. Dilarang copy-paste tanpa seizin penulis.

***

Don’t you want to fall in love in 60 seconds?” Yejin membaca tagline poster yang ditempel di mading koridor lantai satu gedung fakultasnya. Gadis itu lalu menoleh kepada Myungsoo yang berdiri di sampingnya. “Apa ini?” tanyanya ingin tahu.

Myungsoo menelengkan kepalanya, berpura-pura memasang ekspresi tertarik sementara matanya ikut menelusuri satu per satu kalimat di dalam poster berwarna merah terang menusuk mata itu. “Sepertinya ini omong kosong lain dari Woohyun,” katanya dengan nada bosan.

Yejin memutar mata, kemudian kembali memandang poster itu lagi. “Sepertinya ini poster untuk merayakan setahun berdirinya komunitas film,” dia berujar, sepertinya lebih kepada diri sendiri.

“Makanya aku bilang ini omong kosong lain dari Woohyun, kan?” Myungsoo menyahut lagi, “Kau tahu sendiri dia ketua komunitas film.”

Yejin diam saja, tetapi lima detik kemudian gadis itu berteriak kesenangan, “Ini brilian, Myungsoo-ya!”

“Hah?” Myungsoo mengerjap kebingungan.

“Iya. Poster ini. Dan taglinenya. Dan acara yang akan diadakan oleh Woohyun dan teman-temannya. Semuanya…brilian. Sempurna,” oceh Yejin dengan semangat.

Myungsoo mengedikkan bahunya sekilas. “Aku tidak paham.”

“Astaga, Kim Myungsoo, sejak kapan kau berubah jadi lambat begini?” Yejin mendesah, lalu meneruskan pelan-pelan, “Jadi, dalam perayaan satu tahunnya nanti, Woohyun dan teman-temannya akan mengadakan sebuah acara di mana selama acara itu berlangsung, mereka akan diam-diam merekam seorang gadis dan seorang lelaki untuk dijadikan pemeran utama film mereka yang berjudul 60 Seconds.”

“Tunggu dulu. Jadi semacam rekaman spontanitas begitu?” Myungsoo bertanya seraya mengangkat sebelah alisnya.

“Hmmm.” Yejin menggumam, lalu berkata, “Kau pernah nonton film Cyrano Agency tidak?”

“Err…pernah,” angguk Myungsoo tak yakin.

Yejin refleks menjentikkan jarinya. Ekspresinya puas. “Nah. Kira-kira seperti itulah yang akan dilakukan tim Woohyun nanti. Mereka menyiapkan setting, membidik target sebagai pemeran utama, dan mewujudkan skenario brilian mereka menjadi sebuah kenyataan. Menakjubkan, eh?”

“Wanita memang gampang dipengaruhi, ya,” Myungsoo berkomentar setelah sempat dibuat terpesona beberapa detik oleh semangat yang dipancarkan gadis di hadapannya.

“Heh? Apa katamu? Gampang dipengaruhi?” Yejin menyahut tak terima. “Jadi kau tidak percaya kalau seseorang bisa saling jatuh cinta dalam 60 detik?”

Myungsoo tertawa geli. “Tentu saja tidak.”

Yejin memajukan bibir bawahnya, kentara sekali sebal dengan sikap Myungsoo yang terang-terangan menghina bayangan romantis sepasang kekasih yang kini sudah memenuhi kepalanya. “Kalau begitu aku datang sendiri saja ke acara itu. Nanti kau jangan merengek padaku minta ikut juga, ya. Karena aku sudah memutuskan tidak akan mengajakmu walaupun kau memohon-mohon sampai berdarah-darah,” ancamnya dengan mata menyipit.

Myungsoo hanya mengangkat bahunya tak peduli. “Terserah. Aku mau pergi melihat-lihat pameran foto saja Sabtu depan,” katanya dengan enteng.

Yejin mencebik jengkel. Sungguh naif kalau mengharapkan Myungsoo mau percaya dengan hal-hal romantis seperti ini. Lelaki bertampang datar itu memang tidak seperti Woohyun yang bisa menciptakan ide-ide mengagumkan tentang hubungan percintaan dalam hitungan detik. Dia sendiri tidak habis pikir mengapa lelaki jenis arogan dan menyebalkan seperti inilah yang justru telah membuatnya jatuh cinta…

dalam 60 detik.

***

Empat tahun lalu…

Yejin berlari-lari menembus hujan menuju stasiun, sambil dalam hati mengutuk setengah mati kecerobohannya sendiri. Tentu saja. Bukankah ceroboh namanya kalau di waktu-waktu hujan mengguyur Seoul setiap hari seperti ini dia malah lupa membawa payungnya?

“Kau itu…pelupa atau memang bodoh?” Lelaki itu langsung menyambutnya dengan tampang bosannya yang biasa sedetik setelah Yejin menginjakkan kaki di lantai stasiun, basah kuyup dari kepala sampai ke kaki.

“Diam, Tuan Pengomel. Aku kedinginan, nih. Bisa ikut bersimpati sedikit tidak, sih?” Yejin merutuk sambil menggigil, kedua tangannya memeluk tubuhnya sendiri.

Myungsoo membuang nafas, kentara sekali masih ingin mencela kecerobohan Yejin, tetapi urung karena bagaimanapun dia merasa kasihan juga melihat gadis itu menggigil kedinginan. Maka, tanpa banyak omong Myungsoo langsung melepas jaketnya, menyelimutkannya ke tubuh Yejin, lalu menarik gadis itu mendekat—

—dan memeluknya.

“Mulai besok, akan kubawakan kau payung setiap hari,” bisiknya dari atas kepala Yejin.

Yejin tertegun, terlalu kaget dengan apa yang dilakukan dan dikatakan Myungsoo barusan. Gadis itu hanya bisa mengangguk pasrah sambil berharap perubahan detak jantungnya yang tiba-tiba menjadi lebih cepat dan suhu tubuhnya yang menghangat tidak disadari oleh Myungsoo.

Saat itu, Yejin tidak bisa melakukan apa-apa selain menghitung dalam hati berapa lama Myungsoo akan memeluknya seperti ini…sampai kereta mereka akhirnya datang.

Dan hitungan Yejin berhenti di angka 60…

…tepat saat dia tahu dia telah jatuh cinta pada Kim Myungsoo, si lelaki arogan dan dingin yang samasekali tidak romantis itu.

***

Aula Fakultas Seni, menjelang pukul tujuh malam…

“Kau yakin Myungsoo tidak akan datang?” Woohyun bertanya, matanya sibuk mengawasi sekeliling sementara dia sesekali mengecek arlojinya.

Yejin menggeleng. “Dia sudah bilang akan pergi ke pameran foto bersama teman-teman jurusannya.”

“Oh, ya?” Woohyun menaikkan sebelah alisnya. “Jadi, dia benar-benar tidak ingin melihat masterpiece-ku yang maha dahsyat ini?”

“Kau ini benar-benar besar kepala, Nam Woohyun,” Yejin mencela, meskipun sambil tertawa. “Tapi sejujurnya aku benar-benar berpendapat kalau idemu ini sungguh brilian, Woohyun-ah,” pujinya kemudian.

Woohyun menyeringai jahil. “Kau tahu aku mendapatkan ide ini dari siapa, Yejin-ah,” bisiknya seraya mencondongkan tubuh ke arah gadis di sampingnya.

“Ap-apa? Jadi ka-kau—” Yejin terbelalak kaget ketika menyadari maksud dari ucapan Woohyun barusan.

Woohyun nyengir, lalu menyahut, “Jatuh cinta dalam 60 detik. Bukankah tidak ada hal lain yang lebih layak dijadikan skenario besar selain pengalaman seromantis itu, Yejin-ah?”

“Ya! Jadi kau memanfaatkan aku untuk proyekmu ini?!” Yejin mengomel, tangannya refleks memukuli bahu Woohyun sementara lelaki itu meringis kesakitan.

“Astaga, ampuni aku, Yejin-ssi. Aku tidak bermaksud untuk memanfaatkanmu, sungguh,” dia berkata putus asa. “Aku, kan, hanya mengambil ide dasarnya saja. Lalu selanjutnya…kau tahu sendiri kalau aku berencana membiarkan semuanya terjadi apa adanya.”

Yejin membuang nafas kesal. “Tetap saja,” gumamnya jengkel.

“Hei, jangan marah begitu, dong.” Woohyun menyenggol pelan bahu Yejin. “Lagipula, siapa tahu nanti kau bertemu seseorang yang jauh lebih menarik daripada Myungsoo dan terpilih jadi pemeran utama filmku.”

Yejin langsung melotot. “Ya! Jangan seenaknya bicara, ya, kau! Aku tidak akan semudah itu jatuh cinta dalam 60 detik kepada laki-laki lain!” teriaknya, tak peduli kini orang-orang di sekelilingnya dan Woohyun jadi berpaling dan memandangi mereka seolah mereka berdua adalah orang aneh yang kelewat berisik.

***

Menjelang pukul sembilan…

Yang Yejin berjalan mengelilingi ruangan aula yang sudah disulap oleh Woohyun dan teman-temannya dari Komunitas Film menjadi lantai dansa dengan perasaan hampa. Meskipun musik yang sedang diputar sekarang adalah jenis musik favoritnya dan dia tadi sempat mengobrol seru dengan Howon, Sungyeol, Dongwoo, Sungjong, Sunggyu, dan tentu saja Woohyun, tetap saja dia tidak bisa mengenyahkan pemikiran bahwa Myungsoo tidak ada di sini bersamanya.

Gadis itu mendesah. Di kejauhan, dilihatnya Howon sedang tertawa-tawa bersama empat gadis yang mengelilinginya. Ah, lelaki itu pasti menikmati sekali saat-saat ketika dirinya menjadi pusat perhatian seperti ini. Yejin berani bertaruh kalau Myungsoo yang berdiri di tempat Howon sekarang, pasti gadis-gadis itu sudah bubar dari tadi karena bosan didiamkan saja oleh si Tuan Arogan, Pengomel, dan Dingin itu.

Di sudut lain, ada Sunggyu dan Woohyun yang kelihatannya sedang bercerita seru tentang entah apa yang tidak bisa didengar Yejin. Gadis itu bisa melihat bahwa Woohyun benar-benar serius mengerjakan proyeknya kali ini, karena seingat Yejin seorang Nam Woohyun tidak pernah menjadi sesemangat dan sebahagia seperti malam ini. Karenanya, Yejin tidak heran kalau Sunggyu bisa dengan mudah tertular oleh semangat Woohyun yang meluap-luap—sesungguhnya, memang cuma Sunggyu lah orang yang paling paham tentang mimpi-mimpi dan ambisi Woohyun.

Sementara itu, si murah senyum Dongwoo justru sedang sibuk memamerkan kemampuan menarinya di lantai dansa, membuat musik klasik yang diputar jadi kedengaran seperti musik hip hop kalau melihat gerakan-gerakan penuh energi yang sedang diperagakan lelaki ramah itu. Yejin tersenyum. Memang bukan Dongwoo namanya kalau tidak bisa mengubah atmosfer suatu acara menjadi lebih menyenangkan dengan kehadirannya.

Yejin mengedarkan pandangannya ke sekeliling lagi, dan menemukan Sungjong yang berdiri canggung di sebelah gadis yang kelihatannya lebih tua dari dirinya. Ah, itu pasti noona cinta pertama Sungjong yang selama ini membuat lelaki itu tergila-gila, sampai-sampai Yejin yang harus berusaha mati-matian membantu Sungjong dalam setiap kencannya dengan sang noona. Tidak lama kemudian, Yejin melihat Sungyeol menghampiri lelaki yang lebih muda dan mulai menggodanya, tidak peduli kalau sang noona mulai merasa aneh dan salah tingkah. Yang benar saja. Sungjong pasti akan menderita sepanjang malam karena harus jadi korban keisengan Sungyeol yang kesepian ditinggal Myungsoo.

Ah, Myungsoo.

Lelaki itu merasa tidak, sih, kalau bukan hanya Sungyeol yang rindu padanya?

“Kalau kau melamun terus begitu, nanti dihipnotis orang, lho.”

Yejin menoleh, dan menemukan Howon tiba-tiba saja ada di sampingnya, memamerkan senyum yang menjadi andalannya kalau ingin melumerkan hati gadis-gadis di sekelilingnya.

Gadis itu mengerjap bingung. “Kok kau ada di sini? Bukankah tadi kau sedang mengobrol dengan para penggilamu?” tanyanya.

“Memang.” Howon menggangguk ringan. “Tapi mengobrol denganku itu ada gilirannya. Dan sekarang, gilirannya sampai padamu,” lanjutnya, lalu mengulurkan tangan untuk mengajak Yejin berdansa.

Yejin tergelak. “Apa kau menggunakan trik ini pada semua gadis yang kelihatannya tidak punya pacar dan diam saja di sudut sepertiku?”

“Lho, kau memang tidak punya pacar, kan?” Howon balik bertanya. “Myungsoo sedang tidak ada, jadi boleh, kan, aku meminjammu sebentar?” Lalu, dia menarik tangan Yejin begitu saja.

“Oh, baiklah, Lee Howon. Malam ini kau boleh meminjamku selama yang kau mau.” Akhirnya Yejin menyerah, tertawa-tawa sementara Howon membimbingnya menuju ke tengah aula, ke tempat di mana orang-orang berdansa dengan pasangannya masing-masing setelah tadi Dongwoo sempat menguasai area itu selama dua jam penuh.

Tapi…

“Kau itu…pelupa atau memang bodoh?”

Yejin terkejut setengah mati ketika mendengar suara itu dan merasakan pergelangan tangannya digenggam begitu erat oleh seseorang.

Kim Myungsoo.

“Myungsoo-ya…” Yejin menggumam gugup.

“Ya! Myungsoo-nim, akhirnya kau datang juga,” Howon berkata tiba-tiba, nadanya ceria seperti biasa.

Namun, Myungsoo mengabaikannya. “Ikut aku sekarang juga,” perintahnya pada Yejin, masih sambil mencengkeram pergelangan tangannya.

Yejin mengangguk takut-takut, sementara Howon, yang langsung paham akan situasi yang sedang terjadi, buru-buru melepaskan pegangannya dari lengan Yejin seraya berkata, “Kau tahu aku cuma bercanda, Myungsoo-ya.”‘

Setelahnya, Myungsoo dan Yejin menghilang begitu saja dari pandangan Howon yang kebingungan.

***

“Jadi, kau itu pelupa atau memang bodoh?” Myungsoo mengulangi pertanyaannya ketika dia dan Yejin sudah tinggal berdua saja di taman dekat aula yang baru saja mereka tinggalkan.

“Myungsoo-ya…” Yejin bergumam, masih tidak berani memandang wajah dingin di hadapannya.

“Kau benar-benar ingin jatuh cinta dalam 60 detik seperti kata poster bikinan Woohyun itu? Iya?”

Yejin menggeleng cepat-cepat. “Ti…dak.”

“Jadi?”

“Aku…aku kira tadi kau akan datang,” bisik Yejin, kali ini seraya mengangkat wajahnya untuk menatap wajah Myungsoo.

Lelaki itu tertegun sebentar. “Maksudmu…”

“Kalau aku memang bisa jatuh cinta dalam 60 detik lagi, maka aku ingin jatuh cinta dengan orang yang sama seperti yang dulu pernah membuatku merasakannya…” ujar Yejin perlahan.

Myungsoo mengerjap dua kali. “Lagi? Dengan orang yang sama?” Dia bertanya tak mengerti.

Yejin menghela nafas. “Iya. Tapi, yah, tentu saja orang sedingin dia tidak akan mengerti kalau aku tidak bilang apa-apa. Orang seperti dia, butuh dipukul dulu baru bisa mengerti kalau aku tidak mungkin semudah itu jatuh cinta pada laki-laki lain selain dia.”

“Yejin-ah…” Myungsoo ternganga. “Jadi orang itu… Orang yang sama itu…aku? Kau…pernah jatuh cinta padaku dalam 60 detik?”

Yejin memutar matanya. “Apa aku harus benar-benar memukul kepalamu dulu, heh, Tuan Pengomel?”

“Err….aku—“

“Sudahlah, tidak perlu dibahas,” Yejin memotong. “Dan tidak usah minta maaf. Sebenarnya, aku senang karena kau akhirnya datang. Pameran fotomu itu tidak mungkin lebih menarik dari aku, kan?” lanjutnya setengah bergurau.

Myungsoo akhirnya bisa tertawa. “Yah, akan jauh lebih menarik kalau aku tidak perlu melihatmu berdansa dan tertawa-tawa dengan laki-laki lain, kan?” Dia balas bercanda.

Yejin mencibir. “Dia kan cuma Lee Howon, Demi Tuhan. Temanmu sendiri. Lagipula, gara-gara kau aku jadi kehilangan kesempatan untuk jadi pemeran utama di film Woohyun ini. Padahal, siapa tahu aku dan Howon bisa debut sebagai aktor dan aktris dan akhirnya jadi terkenal.”

“Ya! Yang Yejin!” Myungsoo tidak bisa menahan diri untuk tidak berteriak gemas.

Yejin tergelak. “Biar saja. Habis kau menyebalkan, dingin, arogan, tukang mengom—“

“Hei,” Myungsoo langsung menyela, kedua tangannya telah berada di atas bahu Yejin sekarang. “Walaupun aku menyebalkan, dingin, dan sebagainya, tapi kalau ada waktu 60 detik untuk membuatmu jatuh cinta, sampai mati pun aku tidak akan memberikannya kepada orang lain…termasuk Howon sekalipun.”

“Err, Myungsoo-ya…” Yejin tergeragap, namun Myungsoo terus menatapnya tanpa bergeming.

“Karena, mulai sekarang 60 detik itu hanya akan jadi milikku. Mengerti?”

Detik itu juga, Yejin tahu kalau ini akan jadi 60 detik kedua yang membuatnya jatuh cinta pada Kim Myungsoo, si menyebalkan, dingin, arogan, tukang pengom—

—ups.

Kim Myungsoo, maksudnya. Kim Myungsoo saja. Titik.

DING!

Iklan

3 pemikiran pada “[FF/Oneshot] 60 Seconds

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s