The Arrival (Aradhya-Bidari Dialogue Series)

delay

taken from weheartit.com

***

The previous dialogue is here.

“Ra, gue ke rumah lo, ya, ntar sore,” Aku berkata di telepon dengan semangat.

“Hah? Tumben lo mau main di tanggal-tanggal tua begini. Biasanya juga mampir cuma buat nitip hasil jarahan lo dari mall doang,” Di ujung sana, Aradhya menyahut sarkastik. Aku bisa membayangkan wajah juteknya di dalam kepalaku, dengan mata menyipit dan seringaian menyeramkan.

Aku langsung merepet. “Eh, kampung lo, ye. Udah deh nggak usah berisik. Pokoknya cepetan lo siapin segala makanan minuman buat gue ntar. Sekalian dinner ya, Ra. Gue pengen pajamas party juga, nih.”

“Ebuset. Lo pikir rumah gue villa di Puncak?” sambarnya dengan segera.

“Yaelah, buat gue ini. Siapin aja, kenapa? Ya, ya, ya? Ntar gue bawain eskrim kesukaan lo sebaskom, deh.”

Aku mendengar Aradhya membuang nafas. “Ya udah. Buru. Gue males ya nungguin lo lama-lama kalau ntar akhirnya lo nggak jadi kesini.”

“Iye, bawel,” Aku menyahut cepat. “See you, darling!”

Lalu telepon diputus. Sekarang, giliranku yang membuang nafas. Mau lo apa, sih, Bi, menjemput the worst nightmare lo sendiri malam minggu begini? rutukku, tidak lain dan tidak bukan pada diriku sendiri.

***

So, don’t you all want to know what is my worst nightmare itu?

“Oh, kamu, Bi. Masuk, gih. Langsung ke atas aja, ya.”

Aku memaksakan tersenyum meskipun jantungku rasanya sudah ingin buru-buru lompat dari tempatnya. Yep, meet my worst nightmare, Arayya Aditia, abang tercintanya sahabat gue. Sekarang, ada yang tahu gue harus gimana selain cengar cengir nggak njelas selama ngekorin Rayya masuk ke dalam rumah? Hmmm. Mungkin pingsan aja lucu juga kali, ya.

“Dateng juga lo, bawel.” Alhamdulillah, wa syukurillah, akhirnya Aradhya muncul juga menyelamatkan aku dari sensasi jantung-nabuh-genderang-perang-keras-keras nggak berkesudahan ini.

Aku berdeham. “Iyelah dateng. Nih, gue bawain sebaskom eskrim mall lo itu.”

Ara nyengir senang. “Baik amat lo, Bi. Tumben.”

Aku melotot, tapi langsung terkesiap ketika Rayya mengambil begitu saja kantong belanjaanku. “Gue bagi dikit boleh, ya,” katanya dengan tampang memelas yang justru kelihatan ganteng-banget-sumpah-aku-nggak-bohong.

Aku menelan ludah. “Eh, iya, Bang. Ambil aja satu. Gue beli banyak kok buat jatah si Ara.”

Di ujung tangga, Ara buru-buru menyela, “Tapi jangan yang chocolate-chip, ya. Itu favorit aku.”

“Iya, iya. Ini Abang ambil yang ada mintnya. Kamu mah pelit, nggak kayak Bibi ya, Bi?” Rayya menoleh lagi ke arahku, ekspresinya penuh konspirasi.

Aku meringis salah tingkah. “Hehe, biasa aja kok, Bang.”

Arayya ikutan nyengir, kemudian mengembalikan lagi kantong belanjaanku. “Thanks eksrimnya ya, Bi. Gue ke kamar dulu. Have fun ya, kalian berdua. Jangan terlalu berisik ntar dimarahin ibu,” katanya, kemudian melambai sebelum berlalu menuju kamarnya yang aku tahu terletak di lantai dua, persis di seberang kamar Ara.

Dan aku, tentu saja, cuma bisa melongo menatap punggung lelaki unrequited crushku selama lima tahun itu sebelum Ara buru-buru menyeretku untuk segera ikut ke kamarnya.

***

“Eh, bawel, lo ke sini itu seriusan mau nginep doang atau ada maksud tersembunyi lain, hah?” Ara langsung menginterogasiku begitu kami berdua sudah aman terkunci di dalam kamarnya.

Aku menggaruk kepalaku, pasang tampang cengo, lalu menyahut, “Maksud tersembunyi lain apaan? Nyuri mini dress kembang-kembang lo yang gue taksir tempo hari itu maksudnya?”

“Dih, bisa lo ya, bisa. Jangan ngeles dari gue, deh. Lo pikir gue baru kenal lo kemaren sore sampai nggak bisa baca ekspresi muka kebelet pup lo itu tiap deket sama abang gue?” tuduhnya tepat sasaran.

Aku langsung melempar bantal ke muka sotoynya itu. “Sialan, lo, ya.”

Ara tergelak-gelak. “Nah, berarti bener, kan, apa kata gue. Jadi lo masih ngefans sama Rayya juga sampai detik ini, Bi?” Dia menodongku lagi, kali ini sembari membuka satu cup eskrim chocolate-chip favoritnya.

“Err…” Aku menggumam, berusaha menghindari tatapannya.

“Bi, lo tau kan kalau Rayya itu—“

“Iya, gue tahu,” Aku memotong. “Gue tahu kalau Rayya itu tukang PHP yang nggak jelas, suka bikin keGRan, dan nganggep muka gue yang tengsin abis di depan dia adalah kelucuan buat dia. Iya gue tau, Ra. Gue tau banget. Tapi ya namanya udah suka, gimana bisa gue hidup in denial dengan nggak mengakui kalau gue emang suka?”

“Ya tapi kan lo udah pernah deket sama dia. Udah tau kalau dia orangnya suka dateng trus pergi seenaknya. Nggak bisa ditebak pula kapan datengnya atau kapan perginya, kayak pesawat kena delay, eh ujung-ujungnya batal take off dan nggak jadi landing. Masa lo nggak capek, sih, Bi digituin terus sama abang gue?”

Aku melongo. “Jadi setelah tukang nasi goreng, sekarang pesawat mau lo bawa-bawa juga dalam sesi curhat kita, Ra?”

Ara tertawa. “Ya, lo ngerti maksud gue lah, Bi.”

“Udah dibilang gue ngerti. Tapi hati gue nih, Ra, yang nggak mau ngerti juga. Bandel nggak abis-abis,” desahku putis asa.

Ara ikut mendesah. “Gue nggak bisa nyuruh lo lupain Rayya, ya, Bi. Karena bahkan seorang sahabat pun nggak punya hak buat ngatur-ngatur perasaan sahabatnya. Tapi seenggaknya, mulai sekarang lo harus belajar buat berharap sama orang yang nggak terus-terusan ngegantungin lo, deh. Ibarat lo jemput orang di bandara, lo pasti males kan kalau harus nungguin orang yang arrivalnya telat?”

“Heh?” Aku melongo lagi. Sekarang bawa-bawa arrival lagi, nih, anak.

Namun, Ara malah meneruskan, “Lo harus fokus menemukan orang yang sekalinya dateng dia nggak akan pergi-pergi lagi. Yang sekalinya dateng, nggak akan ilang-ilangan kayak sinyal di pulau terpencil lagi. Yang sekalinya dateng, udah siap buat settle down sama lo. Happily ever after.”

“Ra, seriously elo itu…” Aku speechless,

“A-MA-ZING, kan?” Dia menepuk-nepuk dadanya bangga.

Aku memutar mata. “Sombong lo, sombong.”

“Haha. Kagak kali, gue cuman lo dapet yang terbaik aja, kok, Bi, as a friend,” ujarnya serius.

Aku tersenyum dan mengangguk. “Iye, iye gue mahfum kok. Thanks berat ya, Ra. Setelah ini gue mungkin nggak akan galau lagi tiap malam minggu karena nggak bisa ketemu Rayya.”

“Yaelah, pakai galau segala lagi lo gara-gara bocah tengil macem abang gue gitu doang. Ganteng juga kagak,” Ara mencibir.

“Dih, enak aja. Mending Rayya kemana-mana kali daripada Mas Arbiyan tercinta lo yang nerd-nerd nggak jelas itu,” Aku balas mengejek.

Setelahnya, giliran wajahku yang kena serangan bantal bertubi-tubi.

DING!

a/n : this story is inspired by dialogues of me and a friend of mine. we both are as crazy, unstable, wise, quirky, loving, lovable, and amazing as Aradhya and Bidari 😉

Iklan
The Arrival (Aradhya-Bidari Dialogue Series)

2 pemikiran pada “The Arrival (Aradhya-Bidari Dialogue Series)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s