That Finish Line (Aradhya-Bidari Dialogue Series)

run

taken from weheartit.com

***

“Ra, kok lo masih jomblo aja, sih, sampe sekarang?”

Glek. Pertanyaan Bidari barusan sukses menggagalkan cairan bening es jeruk mengalir dengan lancar ke tenggorokanku.

“Buset. Elo nanya nggak pake permisi gitu bikin gue keseleg, dodol,” rutukku setelah sempat terbatuk-batuk.

Si dodol malah ngakak. “Abis, gue gemes liat lo galau melulu.”

“Dih, siapa yang galau coba? Gue happy-happy aja, tuh, sama hidup gue,” aku langsung membantah. Paling ribet memang kalau sudah berhadapan dengan Bidari dan segala pertanyaan absurdnya. Aku jadi menyesal mengajaknya ketemuan sore ini. Padahal niatnya cuma pengen makan masi goreng kepiting, eh, ujung-ujungnya ditanyain aneh-aneh juga.

“Lha itu buktinya elo GMO gitu,” Bidari masih ngeyel.

Aku langsung cengo. “Hah? GMO apaan?”

“Elah, GMO ya elo itu, Gagal Move On,” sambarnya, lalu tergelak-gelak lagi saat melihatku melotot.

“Sialan lo, ya,” aku mengumpat.

Bidari nyengir, lalu berujar lagi, “Eh, tapi serius, deh, Ra, emang lo masih cinta mati gitu sama mas-mas lo itu? Siapa, tuh, namanya, lupa gue.”

“Siapa? Arbiyan?” Aku balik bertanya.

“Nah iya, Arbiyan. Objek GMO-an lo itu, kan. Lo masih cinta mati?”

Aku menelan ludah. “Err…”

“Iya, kan? Hayo lo, ngaku sama gue.” Bidari sekarang sudah menunjuk-nunjuk wajahku dengan semangat.

Aku menghela nafas panjang-panjang. “Buat gue sekarang, Arbi itu ibarat finish line, Bi,” Aku memulai pelan-pelan.

Bidari mengangkat alis. “Maksudnya?”

“Jadi gini,” aku berdeham sekali, “Kalau diumpamakan gue ini pelari, gue punya target yang harus gue capai, kan, pastinya? Dan itu adalah garis finish. Nggak peduli seberapa jauhnya, gue harus sampai disitu buat berhenti lari, biar bisa istirahat dari segala rasa capek, pegel-pegel, dan rasa-rasa nggak enak lainnya. Nah, garis finish gue dalam kasus ini adalah Arbi. Gue nggak peduli dia sejauh apa sekarang dari gue, tapi selama belum ada putusan final dia bukan jodoh gue, gue akan terus lari menuju tempat dia.”

“Nah, kalau seumpama, nih, ya, di kanan-kiri lo sepanjang perjalanan ada banyak godaan cowok-cowok lain yang lebih keren, ganteng, pinter, dan segala macemnya, itu gimana, tuh?” Bidari bertanya sambil cengar-cengir.

Aku memutar mata sebelum menjawab, “Ya, udah, malah justru syukur. Godaan di kanan-kiri gue ibarat pos istirahat sepanjang lintasan lari. Kalau misalnya pas gue istirahat di warung nasi goreng, eh, ternyata anak penjualnya bisa bikin gue jatuh cinta dan yakin kalau dia adalah jodoh gue, ya gue bakal berhenti di situ dan nggak ngelanjutin lari gue. Karena kalau kejadiannya begitu, berarti godaan yang lo maksud justru akan jadi berkah dan udah jelas Arbi bukan jodoh gue, kan?”

“Buset perumpamaan lo sampe bawa-bawa tukang nasi goreng segala, Ra,” Bidari berkomentar sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

Aku tertawa. “Ya, abis gue laper. Nasi goreng kepiting gue nggak dateng-dateng, nih.”

“Yeee, dasar lo,” Bidari mencibir. “Eh, tapi kalau dipikir-pikir segala perumpamaan lo tadi bener juga, lho, Ra.”

“Iya, lah, gueeeee.” Aku menepuk-nepuk dada dengan bangga. “Tapi inget juga, ya, Bi, kalau misalnya lo mau lari buat mencapai finish line lo, lo harus siap fisik dan mental, karena perjalanannya pasti bakal berat dan capek banget, kayak yang gue bilang tadi. Itu artinya lo harus memantaskan diri lo dulu buat perjalanan itu. Nggak mungkin, kan, kalau lo pengen lari tapi modalnya cuma nekat doang trus tiba-tiba memble di tengah jalan?”

Mendengar penjelasanku barusan, Bidari cuma bisa manggut-manggut sambil berungkali mengucapkan “iya” “iya” dengan nada takjub.

“Nah, jadi udah bisa kan sekarang nggak usah ngehina gue GMO-GMO lagi?” Aku berkata kemudian.

Bidari menyeringai. “Kalau itu, sih, gue pikir-pikir dulu setelah lo bayarin makan gue kali ini, ya?”

“Yeeee dasar matre lo!” Aku berseru seraya melempar tisu ke wajah iseng sahabatku itu.

 

DING!

Iklan

4 pemikiran pada “That Finish Line (Aradhya-Bidari Dialogue Series)

  1. waah, iya bener.. finish line. “sebelum ada putusan dia bukan jodoh gue, gue akan terus lari menuju tempat dia” ini nih baris yang bikin suka. Eonni keren, as always 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s