[FF/Oneshot] Peluk

ken2

taken from weheartit.com

***

Title : Peluk

Author : Yuridista

Genre : Romance, fluff

Casts : VIXX Lee Jaehwan/Ken, OC Kang Yuri

Rating : G

Length : Oneshot-1.590 w

BGM : G.R.8.U-VIXX

Disclaimer : Seluruh tokoh di dalam fanfiction ini bukan milik penulis kecuali OC. Ide, plot, dan alur cerita murni berasal dari imajinasi penulis. Kesamaan adegan dan tempat kejadian adalah kebetulan semata. Fanfiction ini dibuat hanya untuk kepentingan hiburan. Dilarang copy-paste tanpa seizin penulis.

***

I just love this beautiful view from my office’s window around this hour, when all that i have to do is finish my work. Oh, correction, works. Yep, menjelang jam sepuluh malam seperti ini, saat biasanya aku sudah menjatuhkan tubuhku di king-size bedku yang luar biasa nyaman, aku justru masih harus terjebak di dalam kubikelku di lantai duapuluh gedung ini, sibuk mengedit tumpukan naskah dari penulis-penulis yang nyaris setiap hari bolak-balik mendatangi mejaku, bergantian menyerahkan hasil karya mereka.

Well, aku bukan tipe orang yang suka membawa-bawa pekerjaan ke rumah, jadi setiap kali tugasku sedang banyak-banyaknya seperti ini, aku justru lebih memilih untuk mengurung diri di kantor sampai pagi, mengejar deadline yang seringnya sering aku buat terlalu kejam untuk diriku sendiri. I don’t know why, tapi somehow keras terhadap diri sendiri seperti ini membantuku untuk tetap waras menjalani pekerjaanku. Dan lagi, bekerja ditemani segelas caramel ribbon crunch frappuccinonya Starbucks dan playlist lagu-lagu milik Coldplay adalah kesenangan tersendiri bagiku. Yeah, daripada berpikir kalau bekerja sampai pagi adalah penyiksaan, lebih baik menghibur diri dengan menganggapnya kesenangan, kan?

Puas memandang gedung-gedung pencakar langit lain di luar jendelaku, aku memutar kursi dan mulai menarik naskah paling atas dari tumpukan menggunung di mejaku. Another romance story, aku berkata pada diriku sendiri ketika membaca judul naskah di hadapanku. Judulnya Meet You Again dan penulisnya seorang wanita berusia akhir tigapuluhan, namanya Kim Sera. Aku baru akan membuka halaman pertamanya ketika ponselku mulai bergetar dan berkedip-kedip di dekat ipodku, membuatku mau tidak mau harus mematikan ipod dan menunda lagi pekerjaanku.

Aku menghela nafas ketika membaca nama siapa yang tertera di layar ponsel. Lee Jaehwan. Ini sudah pukul setengah sebelas dan dia harusnya sudah tertidur pulas di kasurnya. Jadi, kalau dia malah meneleponku, pasti ada yang tidak beres.

“Halo,” aku menyapanya setelah menekan tombol answer.

“Hei. Kau sedang apa? Belum tidur?” Jaehwan bertanya, suaranya serak. Duh, bisa pusing aku kalau ternyata dia sedang sakit.

“Belum. Aku masih di kantor. Lembur,” jawabku, “Kau kenapa? Sakit?”

Aku mendengar Jaehwan berdeham. “Eh, tidak. Kau sedang sibuk, ya?”

“Err, sedikit, sih,” aku berujar tak yakin, “Memangnya ada apa, sih?”

“Aku, eh, kepengin bertemu denganmu. Kita sudah dua minggu tidak bertemu, kan?” sahutnya, masih dengan suara serak aneh yang sama.

Aku mengerutkan kening. “Sekarang?”

“Iya,” dia menjawab buru-buru, “Aku sedang di Three Cups.”

Kali ini, kecurigaanku sudah benar-benar berubah menjadi kekhawatiran. “Jaehwan-ah, kau baik-baik saja, kan? Tidak ada yang tidak beres, kan?” tanyaku berturut-turut.

Di seberang, tawa Jaehwan terdengar. “Tidak, tidak. Kau tidak usah khawatir, Yuri-ya. Aku baik-baik saja. Hanya saja…aku ingin sekali bertemu denganmu sebelum terbang ke Amerika besok. Bisa, ya? Please?” mohonnya.

Aku mendesah, antara lega dan putus asa. “Baiklah. Aku ke tempatmu sekarang. Tunggu, ya? Jangan ketiduran,” jawabku akhirnya.

“Tidak akan,” Jaehwan berkata meyakinkanku. “Hati-hati di jalan. Jangan ngebut.”

Aku memutar mata. “Yeah, oke. Bye.”

Bye.”

Klik. Aku memutus sambungan seraya menatap pasrah pada tumpukan pekerjaanku. Yeah, right, bisa apa aku kalau kekasihku yang paling manja sedunia itu sudah mulai merengek-rengek di telepon seperti tadi?

***

Aku buru-buru memasuki The Three Cups Cafe setelah memarkir Hyundaiku saking khawatirnya pada Jaehwan. Dia memang manja dan suka merajuk, tapi kalau merajuknya di jam-jam menjelang pagi seperti ini, biasanya ada sesuatu yang salah sedang terjadi, hanya saja dia terlalu payah untuk bisa mengatakannya lewat telepon. Lagipula, setelah mendengar suaranya tadi, firasatku mengatakan kalau dia memang tidak sedang baik-baik saja, jadi kurasa kekhawatiranku ini bukannya tanpa alasan juga.

Ketika aku memasuki cafe, mataku langsung menangkap sosoknya yang tengah duduk membelakangiku di salah satu meja dekat jendela. Aku tersenyum sekilas pada pelayan yang barusan menyapaku dan segera mendekati meja Jaehwan, hanya untuk mendapatinya sedang menusuk-nusuk tak semangat beef burger di piring di hadapannya.

“Jaehwan-ah,” sapaku sebelum mengenyakkan diri di kursi di depannya.

Jaehwan langsung mendongak. “Hei, Yuri-ya. Aku tidak mendengarmu datang,” balasnya, senyum anak-anaknya tersungging di bibirnya.

Aku ikut tersenyum. “Aku sudah melepas stilettoku dan menggantinya dengan ini, jadi pantas kalau kau tidak dengar,” kataku, menunjuk sport shoes yang sudah menggantikan stiletto sepuluh sentiku yang menyiksa luar biasa itu.

“Nah, kubilang juga apa. Repot, kan, kalau harus ke kantor dengan sepatu setinggi itu?” ejeknya seraya menyeringai.

Aku berdecak. “Stop talking about my shoes. Aku, kan, ke sini karena khawatir padamu. Kau kenapa, sih? Sakit, ya?” tanyaku, lalu mengulurkan tangan untuk menyentuh keningnya.

Tapi, Jaehwan sudah keburu menarik tanganku dan malah meletakkannya di pipinya. “Aku kangen padamu,” bisiknya polos.

Aku tertegun-tegun. “Jaehwan-ah…”

“Kau harus tahu, aku bosan sekali pulang pergi Seoul-Amerika dalam dua minggu terakhir ini. Yang lain, sih, enak, bisa langsung bertemu dengan kekasih masing-masing begitu sampai di Seoul. Aku mana bisa?” keluhnya panjang pendek seperti anak-anak, masih sambil memegangi tanganku dengan sebelah tangan dan memakan burgernya dengan tangan yang lain.

Aku menatapnya sedih. Bagaimana bisa aku tahan melihat wajahnya yang kuyu dan lingkaran hitam di bawah matanya yang semakin membesar itu? “Kenapa tidak bisa? Kau, kan, bisa meneleponku kapan saja.”

Jaehwan mendengus jengkel. “Apanya yang kapan saja? Kau, kan, sibuk setengah mati begitu. Setiap hari lembur, edit ini-itu, mana tega aku memintamu menemuiku begitu saja? Yang ada nanti kau capek, terus sakit, terus aku juga yang bingung. Lagipula aku juga masih sibuk membuat lagu untuk album baru kami, jadi aku makin tidak tega kalau harus memintamu menemuiku padahal aku juga sedang sama sibuknya denganmu.”

“Jadi kau sedang membuat album baru bersama bandmu? Wow, cool,” desisku takjub. Ah, aku lupa bilang, ya, kalau Jaehwan adalah gitaris sekaligus vokalis di band pop-rock bernama VIXX? Yep, band itu juga terdiri atas lima lelaki lain yang dikenal dengan nama N, Leo, Ravi, Hongbin, dan Hyuk. Nama panggung Jaehwan sendiri adalah Ken. Aku juga tidak tahu darimana dia mendapat ide untuk menggunakan nama panggung itu.

Jaehwan hanya memutar mata, kentara sekali masih ngambek. Tapi yang lucu, dia tidak berhenti memasukkan potongan-potongan hamburger ke dalam mulutnya. Dasar lelaki ini. How can he still be this adorable walaupun sedang cranky begini?

Aku terkikik geli, kemudian menarik tanganku untuk mengelap remah-remah roti dan sisa-sisa saus di sekitar bibirnya. “Makanmu seperti anak kecil, Jaehwan-ah,” komentarku setengah bergurau, “Aku jadi merasa sedang bersama adik laki-lakiku yang masih balita, bukannya kekasihku yang senang merajuk.”

“Ejek saja aku terus,” sungutnya dengan wajah memberengut yang justru kelihatan lucu di mataku. “Sudah susah payah bertemu, yang kau lakukan cuma mengejek cara makanku.”

Aku menghela nafas. “Hei, hei. Kenapa kau jadi pemarah begini, sih? Maaf, oke? Maaf karena aku terlalu sibuk sampai-sampai lupa meneleponmu dan sulit menemuimu. Maaf karena sudah mengejek cara makanmu. Maafkan aku, oke? Please?” Aku meniru caranya ketika memohon padaku.

“Sudahlah, tidak apa-apa,” dia akhirnya berkata setelah sempat terdiam lama. “Pulang, yuk, biar kuantar sampai apartemenmu,” lanjutnya kemudian.

Aku membelalak. “Lho? Pulang sekarang? Kukira kau ingin mengobrol.”

“Besok saja kutelepon sebelum berangkat ke LA. Ini sudah larut, besok kau harus ke kantor pagi-pagi, kan?”

“Tapi aku, kan, bawa mobil. Kau tidak perlu repot-repot mengantar sampai ke apartemenku, Jaehwan-ah.”

Jaehwan memutar mata sekali lagi, kemudian menatapku dalam-dalam. “Aku tidak mau terjadi apa-apa denganmu di jalan, bodoh. Jadi mau atau tidak, aku tetap akan mengikutimu dengan mobilku dari belakang. Menurut padaku sekali ini bisa?” katanya tegas.

Aku mengerjap dua kali. “Err, oke.”

“Bagus,” angguknya puas. “Aku ke kasir dulu. Kau mau kubelikan kopi atau cake lemon kesukaanmu tidak?”

“Tidak usah.” Aku menggeleng. “Aku baru saja makan steak dan minum kopi sebelum ke sini tadi. Aku tunggu di luar saja, ya?”

“Oke.”

***

“Sudah mengantuk, ya?” tegur Jaehwan ketika memergokiku menguap panjang dua kali berturut-turut di luar cafe.

Aku nyengir, mengucek mataku, dan mengangguk sekali. “Kalau tadi jadi lembur, aku pasti sudah ketiduran di kantor.”

Dia meringis, kemudian berjalan menghampiriku dan mengacak lembut rambutku. “Kau itu sebenarnya tidak cocok bekerja di kantor seperti sekarang,” katanya.

Aku mengangkat alis. “Terus? Aku cocoknya bekerja apa?”

“Tidak bekerja, tapi jadi istriku,” jawabnya, lalu mengedip jenaka.

Aku langsung tergelak. “Maumu.”

Sedetik setelahnya, Jaehwan sudah menarikku begitu saja ke dalam pelukannya. “Aku serius waktu bilang kangen padamu tadi, tahu,” bisiknya perlahan dari atas kepalaku.

“Jaehwan-ah…”

“Sebenarnya, aku ingin sekali bertemu denganmu karena ini,” bisiknya lagi.

“Ini apa?” Aku bertanya bingung.

“Ini…memelukmu seperti ini,” dia menjawab, dan aku bisa merasakan senyumnya mengembang lebar.

Mau tidak mau, aku jadi ikut tersenyum juga. “Kau ini, kadang-kadang bisa jadi melankolis juga, ya.” Lalu, aku balas memeluknya.

“Nah, aku juga kangen dipeluk olehmu seperti ini. Rasanya…hangat,” dia melanjutkan.

“Seperti pemanas ruangan di musim dingin, ya?” Aku iseng menyahut.

Tawa Jaehwan lalu berderai dan bahunya ikut berguncang-guncang. “Dasar bodoh. Bukan seperti itu, tapi seperti…”

“Seperti apa?” potongku.

“Seperti ini. Seperti rasa dipeluk olehmu. Rasa ini tidak ada yang menyamai. Jadi aku tidak bisa membandingkannya dengan hal lain.”

“Astaga, Lee Jaehwan, sejak kapan kau jadi semanis ini? Apa gara-gara burgermu tadi, ya?” Aku tidak bisa menahan tawa.

“Ya! Kang Yuri! Kau ini, tidak bisa, ya, kalau tidak merusak suasana romantis ini?” teriaknya jengkel, tetapi tetap tidak melepaskan pelukannya.

Aku langsung membekap mulutku dengan satu tangan untuk menghentikan tawaku. “Sorry, sorry. Jadi? Sampai di mana kita tadi?”

“Tidak sampai di mana-mana. Aku inginnya kita di sini saja, berpelukan begini, tidak usah ke LA dan tidak usah ke kantor. Begini saja terus selamanya,” Jaehwan berkata polos.

“Jaehwan-ah, hei, mulai sekarang, kau boleh meneleponku kapan saja kau mau, oke? Tidak perlu takut menggangguku bekerja. Kalau buatmu, kapan saja aku ada waktu,” aku berujar untuk menenangkannya.

“Janji?” dia bertanya.

Aku mengangguk di dadanya. “Janji.”

“Kalau aku butuh pelukan seperti ini, kau akan langsung datang untuk memberikannya?” tanyanya lagi, nada merajuknya mulai terdengar.

Aku tersenyum. “Pasti. Asal buka tengah malam saat aku sudah ngiler di kasurku saja, ya.”

Setelahnya, kekasihku yang manja, tukang merajuk, tapi aku cintai setengah mati itu meledak tertawa.

DING!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s