Cass&Ems Series: Aku Pasti Akan Pulang. Aku Janji.

friend

taken from nnetteblogi.blogspot.com

***

“Keliling dunia…dalam 3 bulan?” Cass bergumam, bola matanya bergerak menyusuri baris-baris dalam brosur paket wisata yang kuberikan padanya kurang dari dua menit yang lalu.

Aku mengangguk bersemangat. “Yep. Menakjubkan, eh?” sahutku, lalu merangkul bahunya. “Aku pasti akan jadi keren sekali setelah melakukan perjalanan ini, Monkey.”

“Kau serius ingin pergi?” tanya Cass kemudian, menelengkan kepala untuk memandangku. Ekspresinya aneh. Aku tidak bisa menganalisisnya.

“Err…yeah?” Aku berujar tak yakin.

“Sendiri?” Dia bertanya lagi, kali ini satu alisnya terangkat. Aku mulai bisa membaca ekspresinya—antara sangsi dan tidak rela.

Aku langsung memutar mata. “Kau tidak berpikir aku akan mengajakmu juga kan, Cass? Aku sudah berikrar ini akan jadi pencapaian pribadi terbesarku sebelum kita masuk college tahun depan. Kau…tentunya tidak ingin merusak rencanaku begitu saja, kan?”

“Yeah, well, oke. Aku tahu, jangan khawatir,” dia menjawab sambil mengangkat bahu acuh tak acuh, “Hanya saja aku tidak yakin kau bisa melakukan semuanya sendiri. Maksudku, yah, kau bahkan tidak bisa membaca peta, kan, Ems? Entah apa jadinya kalau kau sampai tersesat entah di mana hanya gara-gara tidak bisa membedakan mana utara dan selatan.”

“Astaga, dasar kau bodoh,” Aku menghela nafas sebelum menepuk gemas kepalanya, “Di brosur itu, kan, sudah tertulis kalau akan ada tour guide dan segala macam? Mana mungkin aku akan tersesat kalau yang perlu aku lakukan hanya membayar dan melakukan segala hal yang dikatakan di dalam brosur?”

“Ouch, sakit, Ems!” keluh Cass setelahnya, mengusap kepalanya sambil meringis. “Baiklah, baiklah, aku menyerah. Kau boleh pergi kapan saja, Nona.”

“Nah, begitu baru sahabatku yang paling tampan sedunia!” Aku tertawa puas, sekali lagi menepuk kepalanya.

“Tapi aku tidak akan bertanggungjawab kalau tiba-tiba saja kau merengek ingin pulang karena kangen setengah mati padaku,” Cass berujar, mengedip penuh arti padaku.

“Oh, yang benar saja, Tuan Joshua Cassidy.” Aku berlagak pura-pura muntah. “Kau boleh saja besar kepala, tapi jangan salahkan aku kalau yang terjadi adalah sebaliknya.”

Cass mengangkat sebelah alisnya lagi. “Jadi, kau benar-benar tidak akan kangen padaku?”

Aku dengan cepat menggeleng.

“Tidak sedikitpun? Sumpah?” tanyanya berturut-turut. Ekspresi wajahnya sudah berubah lagi sekarang—menjadi aneh tak terjelaskan.

Aku menelan ludah, tiba-tiba merasa gugup karena dipandangi seperti itu olehnya. “Mungkin…segini dalam seminggu?” jawabku dengan suara kecil seraya mendekatkan telunjuk dan ibu jari tangan kiriku.

Cass terdiam. Aku jadi ikut-ikutan diam. Lalu, tiba-tiba saja tawanya berderai.

“Oh, please…” erangku putus asa. Dia berhasil mempermainkanku lagi kali ini.

“Tampangmu tadi benar-benar lucu, Zombie,” katanya tergelak-gelak.

Aku memberengut. “Kau akan menyesal, Monkey. Jangan harap aku akan meneleponmu atau mengirimu kartu pos dalam tiga bulan ke depan,” ancamku jengkel.

Cass langsung terkesiap. “Hei, hei, jangan bertingkah seperti bocah begitu, dong. Aku, kan, hanya bercanda. Aku minta maaf, oke? Please?” mohonnya memelas.

“Dasar bodoh,” celaku. “Lain kali aku akan memitingmu, Cass. Kau tahu aku bisa melakukannya.”

Dia nyengir. “Tentu saja kau bisa. Aku tidak pernah meragukan kemampuanmu, Ems.”

Aku hanya menyahutinya dengan cibiran.

“Hei, tapi aku serius untuk yang tadi,” Cass berkata kemudian, kali ini gantian merangkulku dengan sebelah tangan.

Sial. Jantungku langsung bereaksi tidak normal lagi. “Yang tadi apa?” gumamku kaku.

“Kau…harus kangen padaku. Setiap hari. Soalnya…” Cass sengaja menggantung kalimatnya.

“Soalnya apa?” Aku berujar gugup.

“Soalnya hanya itu satu-satunya alasan yang bisa menjagaku tetap waras dan percaya kalau pada akhirnya kau akan kembali pulang,” ucapnya perlahan, lalu senyum tipisnya mengembang.

Aku terkesiap, tidak berani menatap mata Cass saking bingungnya.

“Ems?” Dia menyenggol pelan bahuku.

“Eh, aku…aku pasti akan kangen padamu, kok,” bisikku, akhirnya bisa kembali bersuara. Perlahan, kuangkat kepalaku untuk memandang wajah sahabat sejak kecilku itu. “Dan juga, kau tidak usah khawatir. Aku pasti akan pulang. Aku janji.”

Dan setelahnya, Cass tersenyum lebih lebar.

Aku membalasnya.

Yeah, Monkey. Kalau untukmu, aku pasti akan pulang. Aku janji.

 

DING!

Iklan
Cass&Ems Series: Aku Pasti Akan Pulang. Aku Janji.

4 pemikiran pada “Cass&Ems Series: Aku Pasti Akan Pulang. Aku Janji.

  1. AAaaaaa!

    Di update! Gomawo kakak…
    Ha… kenapa ini si zombie malah mau pergi? Yah, kangen deh. Btw next chapternya Cass bakalan frustasi atau gimana nih? Kalo Cass sendirian buat saya aja deh *digampar* . Nextnya ditunggu kak, update ASAP ya kak? Saya bakalan setia nunggu deh, nyehehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s