[FF/Oneshot] Beautiful

be

image cr : myungsoojung-ssi.tumblr.com, edited by : yuridista

***

Title : Beautiful

Author : Yuridista

Genre : Romance, fluff

Casts : Infinite Kim Myungsoo/L, Yang Yejin (OC), Infinite Lee Howon/Hoya, Infinite Nam Woohyun.

Rating : G

Length : Oneshot-1.798 w

BGM : Beautiful-Infinite

Disclaimer : Seluruh tokoh di dalam fanfiction ini bukan milik penulis. Ide, plot, dan alur cerita murni berasal dari imajinasi penulis. Kesamaan adegan dan tempat kejadian adalah kebetulan semata. Fanfiction ini dibuat hanya untuk kepentingan hiburan. Dilarang copy-paste tanpa seizin penulis.

***

“Kenapa kau suka sekali memotret Sungjong?” Yejin bertanya seraya merebahkan tubuhnya di tempat tidur Myungsoo. Tangannya sibuk mengutak-atik kamera Canon 550D milik lelaki itu, melihat-lihat koleksi foto di dalamnya yang hampir semuanya adalah potret Lee Sungjong.

Myungsoo membalikkan badannya. “Hah?” katanya, jelas sekali dari tadi tidak mendengarkan pertanyaan Yejin.

Yejin memutar mata lalu mengacungkan kamera di tangannya. “Ini. Kenapa isinya Sungjong semua?” tanyanya lagi, masih tanpa beranjak bangun dari posisi berbaringnya.

“Ah, itu…” Bibir Myungsoo membulat paham. “Soalnya…Sungjong cantik, sih. Jadi bagus kalau difoto,” jawabnya ringan, lalu senyumnya mengembang.

Seketika, wajah Yejin berubah aneh. “Cantik, ya…” gumamnya, menundukkan kepala untuk sekali lagi memandang wajah Sungjong dalam potret di kamera di tangannya. “Jadi menurutmu Sungjong itu cantik…” dia menggumam lagi, masih tanpa memandang Myungsoo yang berdiri dengan wajah bingung di dekat jendela.

“Eh? Kau bilang apa?” Myungsoo berujar, berjalan mendekati Yejin lalu ikut duduk di tepi ranjangnya.

Yejin mengerjap. “Ah? Oh, tidak. Aku tidak bilang apa-apa, kok. Kurasa kau benar,” dia menyahut, memaksakan seulas senyum di bibirnya, “Sungjong memang cantik.”

***

“Ya, ya, ya! Yang Yejin! Kenapa kau membeli semua barang-barang itu?” Woohyun berseru kaget, matanya melotot menatap barang-barang yang kini ada dalam dekapan Yejin. Sejak duapuluh menit yang lalu dia diminta berdiri di pojok toko musik ini untuk menunggu gadis itu yang entah sedang melakukan apa di bagian merchandise di ujung belakang toko. Woohyun sebenarnya sudah curiga pada Yejin sejak dia mengajaknya kemari sepulang sekolah tadi. Tapi rasa penasaran membuatnya pada akhirnya iya-iya saja ketika tangannya ditarik paksa sepanjang jalan oleh gadis itu.

Yejin nyengir lebar. “Aku punya sebuah proyek besar yang ada hubungannya dengan semua barang-barang ini,” jawabnya setengah berbisik. Gadis itu lalu menyenggol pelan bahu Woohyun, memberinya isyarat agar segera keluar dari toko musik ini.

“Eh? Proyek apa? Pasti sesuatu yang konyol lagi,” Woohyun berkata menyelidik. Sepasang matanya menyipit curiga bersamaan dengan meningkatnya rasa penasarannya.

“Bukan urusanmu, Wohyunnie,” Yejin mengelak, berjalan cepat-cepat mendahului Woohyun.

Dengan langkah-langkah lebar, Woohyun segera menyusul gadis itu dan menepuknya pelan di bahu. “Apa perlu aku memberitahu Myungsoo soal proyek besarmu ini?” Dia bertanya sarkastik, sebelah alisnya terangkat licik.

Yejin berhenti mendadak dan membelalak. “Jangan, bodoh!” teriaknya. “Kalau sampai Myungsoo tahu soal ini, aku tak akan segan-segan memberitahu seisi sekolah kalau kau pernah naksir pada hmmmmph—-“

“Astaga, bisa tidak kalau kau tidak usah berteriak-teriak seperti orang gila begitu?” Woohyun mendesah, sebelah tangannya masih berusaha membekap mulut Yejin sementara gadis itu meronta-ronta. “Oke, oke. Aku janji tidak akan memberitahu Myungsoo. Senang?”

“Dasar Nam Woohyun bodoh,” Yejin memaki setelah membuang nafas panjang-panjang. “Pokoknya ini rahasia, oke? Hanya kau, aku, dan Tuhan yang tahu kalau hari ini kita pergi ke toko musik dan membeli semua barang-barang ini. Mengerti?” dia berkata lagi, nadanya mengancam.

Woohyun langsung mengangguk patuh. “Yep. Tapi ngomong-ngomong…barang-barang itu apa, sih?” tanyanya kemudian, nadanya polos sekali sampai-sampai Yejin tidak tahan untuk tidak menjitak kepala lelaki itu.

“Sudah kubilang itu bukan urusanmu, bodoh!” teriaknya sekali lagi tepat di telinga Woohyun.

***

“Jadi, bisa kau jelaskan padaku apa ini semua, Yejin-ah?” Myungsoo bertanya datar, matanya memandang berkeliling menyapu seluruh kamar Yejin yang dinding-dindingnya sudah penuh ditempeli poster-poster Lee Seunggi. Niat awalnya yang hanya ingin mengambil buku PRnya yang dipinjam Yejin jadi terlupakan gara-gara wajah lelaki berlesung pipi yang kini bertebaran di depan matanya ini.

“Apa?” Yejin balik bertanya, ekspresinya tidak paham.

Myungsoo menatapnya tajam. “Sejak kapan kau suka Lee Seunggi?”

“Ah, eh itu—sejak nonton Gu Family Book,” jawab Yejin salah tingkah. Wajahnya mulai memerah. Dia mengikuti Myungsoo yang sudah berjalan menuju meja belajarnya dan duduk di kursinya, sementara dia sendiri berdiri canggung di dekat lelaki itu.

“Benarkah?” Myungsoo menaikkan sebelah alisnya. “Aku tidak  tahu kalau kau mulai kecanduan drama.”

Yejin menelan ludah. “Aku…aku menyukainya bukan karena dramanya kok.”

“Tapi?”

“Karena dia tampan!” Yejin akhirnya berseru, matanya menatap Myungsoo dengan pandangan menyala-nyala.

Myungsoo terkesiap. “Hah?”

“Iya. Karena Lee Seunggi tampan, makanya aku menyukainya dan menempel semua posternya di kamarku. Aku juga punya semua albumnya. Juga photobooknya, majalah yang ada dianya, pokoknya semuanya. Aku punya semuanya,” katanya lagi, kali ini sorot wajahnya menantang.

Untuk sesaat, Myungsoo hanya bisa terdiam. Selama beberapa detik dia hanya memandang Yejin tanpa mengatakan apa-apa.

“Myungsoo-ya…” Yejin bersuara duluan.

Lalu, “Kau seperti maniak.” Myungsoo akhirnya bisa menemukan kembali suaranya.

Yejin tercekat. “Ap-apa? MANIAK?!” ledaknya marah. “Kau bilang aku seperti maniak?”

“Iya,” angguk Myungsoo kalem. “Kau mengoleksi semua hal tentang lelaki yang bahkan tidak mengenalmu hanya karena menurutmu dia tampan. Bagiku itu namanya maniak.”

Yejin menggeram. “Ya! Kim Myungsoo!”

“Apa?”

“Kalau begitu kau itu apa? Mengoleksi foto-foto Sungjong karena dia cantik, menurutmu kau juga bukan maniak? Cih, kau selalu menilai dirimu sendiri terlalu tinggi, Myungsoo-nim,” cela Yejin. Wajahnya merah padam karena marah.

Kening Myungsoo berkerut bingung. “Nah? Kenapa jadi membawa-bawa Sungjong? Lagipula, dia kan cuma objek fotoku. Dan dia laki-laki, Demi Tuhan,” katanya tak habis pikir.

Yejin membuang nafas, lalu bergerak maju untuk menarik tangan Myungsoo dan membawa lelaki itu keluar dari kamarnya. “Justru itu intinya!” teriaknya lagi, “Sekarang keluar dari kamarku! Aku tidak mau melihat wajahmu sampai kau menyadari kesalahanmu!”

“Hei, hei, hei! Yejin-ah! Kau ini kenapa, sih? Memangnya aku salah apa? Hei!” Myungsoo berseru tepat ketika pintu kamar Yejin dibanting di depan hidungnya. “Yejin-ah! Yang Yejin!” Dia mencoba lagi, kali ini sambil menggedor-gedor pintu gadis itu.

“Sudah kubilang pergi, dasar kau alien tidak peka! Kalau masih tidak bisa mengerti bahasa manusia, lebih baik kau kembali ke luar angkasa saja!” Yejin memekik jengkel dari balik pintu kamarnya.

Kata-kata Yejin barusan membuat gerakan tangan Myungsoo yang masih ingin mencoba menggedor pintu kamar Yejin terhenti di udara. Lelaki itu mendesah, pasrah, kemudian untuk terakhir kalinya berbicara, “Kalau begitu, mana buku PRku?”

Sedetik.

Dua detik.

Tiga detik.

“PERGI!” Sekali lagi, hanya teriakan pengusiran yang diperoleh Myungsoo sebagai jawaban.

Fiuh. Sangat bisa ditebak.

***

“Eh? Jadi kau pikir Yejin marah padamu gara-gara kau menghina Lee Seunggi?” Howon bertanya, ekspresi wajahnya menyiratkan rasa geli bercampur ingin tahu.

Myungsoo mengangguk lesu. Sejak kejadian mengerikan di kamar Yejin kemarin sore, yang dilakukannya hanyalah meringkuk sepanjang hari di sofa di ruang TV lantai atas rumahnya, membenamkan diri di dalam selimut dan piyama Pororonya. Moodnya langsung memburuk. Bahkan meskipun ibunya sudah berkali-kali membujuknya dengan memasakkan makanan kesukaannya, Myungsoo tetap menolak bangun dari sofanya untuk berangkat ke sekolah.

“Memangnya dia bilang apa, sih?” tanya Howon lagi. Hari ini lelaki itu terpaksa harus pergi menjenguk si pemurung karena kalah bermain suit dengan kelima temannya yang lain.

“Intinya, dia marah karena aku mengatainya maniak,” Myungsoo menjawab dalam gumaman sedih.

Sepasang mata Howon membulat terkejut. “Hah? Kau mengatainya maniak? Kau sudah gila, ya? Pantas saja Yejin marah. Kau kan tahu sendiri bagaimana dia, bodoh.”

“Tapi, kan—“

“Kau ini memang benar-benar bodoh, Myungsoo-nim,” komentar Howon prihatin. Lelaki itu menggeleng-gelengkan kepalanya seraya menepuk-nepuk lutut Myungsoo, merasa kasihan pada temannya itu.

“Habisnya, dia tiba-tiba saja jadi tergila-gila pada Lee Seunggi dan mengoleksi semua hal tentang artis itu. Aku kan jadi jengkel,” rutuk Myungsoo membela diri.

Howon tertegun sejenak. Lalu, seringainya terkembang. “Nah, kan. Jadi kau ini sebenarnya jengkel atau cemburu gara-gara dia menyukai lelaki lain selain kau?” tembaknya tepat sasaran.

Myungsoo terkesiap. “Ah, eh aku…aku…”

“Sudah, mengaku saja,” Howon buru-buru memotong, seringainya semakin lebar.

“Tetap saja. Aku juga jengkel karena dia jadi membawa-bawa Sungjong dalam perdebatan kami,” Myungsoo masih ngotot.

“Lho, kok jadi Sungjong?” Ekspresi kebingungan Howon muncul kembali.

Myungsoo lalu beranjak bangun dari posisi berbaringnya. “Iya. Jadi dia bilang aku sama saja dengannya karena aku menyimpan foto-foto Sungjong di dalam kameraku hanya karena dia cantik,” ujarnya bersemangat, kali ini berharap Howon akan sependapat dengannya.

“Karena Sungjong can…tik?” Howon mengulangi.

Myungsoo hanya mengangguk.

Lalu, “Ya! Kim Myungsoo! Kau ini sebenarnya manusia atau alien, sih? Masa kau tidak bisa paham alasan sebenarnya kenapa Yejin bisa sampai marah padamu?” Howon berseru kesal.

Myungsoo terbelalak. “Eh? Memangnya kenapa?” tanyanya polos.

Sebuah jitakan keras melayang ke kepala Myungsoo. “Dasar bodoh. Tentu saja karena dia cemburu pada Sungjong!” sahut Howon gemas.

Myungsoo bertambah bingung. “Kenapa dia harus cemburu pada Sungjong? Dia kan laki-laki.”

“Justru itu intinya! Kau memuji Sungjong padahal dia laki-laki, sementara kau pasti tidak pernah sekalipun memuji Yejin cantik. Dan yang paling penting, isi kameramu semuanya foto Sungjong dan bukannya Yejin. Paham?”

Mendengar penjelasan berapi-api Howon, Myungsoo tertegun-tegun. Jadi selama ini Yejin…

***

Lelaki itu perlahan membuka laci meja belajarnya dan meraih kotak warna coklat berukuran sedang dari dalamnya. Hati-hati, dibukanya tutup kotak itu dan diraihnya selembar foto di antara ratusan foto lainnya. Ada wajah seorang gadis yang sedang tertawa lepas dalam foto itu, menertawakan entah siapa yang wajahnya tidak tertangkap kamera. Ya, lelaki itu memang sengaja tidak memotret hal-hal lain selain gadis itu. Dia memang hanya ingin ada gadis itu dalam lensanya, dalam foto yang dihasilkannya. Karena baginya gadis itu…cantik.

Tapi lelaki itu terlalu egois. Dia tidak ingin orang lain juga ikut menikmati kecantikan gadis itu. Dia tidak ingin ada orang lain yang berpikir gadis itu cantik selain dirinya. Dia hanya ingin dirinya sendiri yang berpikir seperti itu. Makanya dia selalu buru-buru menghapus setiap foto gadis itu setiap kali dia selesai mencetaknya. Dan dia selalu cepat-cepat menyimpan semua cetakan foto gadis itu di dalam kotak rahasianya biar tidak ada yang bisa ‘merebut’ senyuman. tawa, ekspresi kosong, airmata, pipi yang memerah, tatapan yang lembut, juga helai-helai rambut yang jatuh dari gadis itu. Karena semua itu miliknya. Karena gadis itu miliknya. Apa dia yang seperti ini salah?

***

Tengah malam itu, Yejin terbangun karena suara ketukan dari jendelanya. Gadis itu buru-buru menghampiri jendelanya karena sudah tahu siapa si pengetuk tengah malam itu. Ya, hanya Myungsoo yang bisa melakukan hal-hal aneh seperti itu. Tapi, ketika dia membuka tirai jendelanya, tidak ada siapa-siapa di baliknya. Tidak ada wajah mengantuk Myungsoo atau sapaan ‘halo’ serak seperti biasanya. Yang ada cuma selembar foto yang ditempelkan di kaca jendelanya. Aneh sekali. Kenapa lelaki itu harus melakukan hal kurang kerjaan begini?

Dengan tak sabar, dibukanya jendelanya dan diraihnya foto itu dengan satu tangan. Kening Yejin berkerut melihat wajahnya sendiri di dalam foto itu—wajahnya yang sedang tertawa lepas sampai matanya berair. Samar-samar, Yejin ingat saat itu dia sedang menertawakan Sunggyu yang wajahnya belepotan tepung ketika sedang belajar membuat kue bersama Dongwoo dan Sungyeol. Bagaimana Myungsoo bisa memotret dirinya diam-diam begini?

Perlahan, dibaliknya selembar foto itu dan dia langsung tertegun membaca tulisan tangan yang tertera di sana.

Aku tidak peduli kau tahu atau tidak. Tapi bagiku, kau selalu yang paling cantik.

Yejin bisa merasakan jantungnya berdegup senang. Dan pipinya memanas. Dan matanya berair. Myungsoo memang alien tidak peka. Tapi dirinya lebih tidak peka lagi karena ternyata masih ada yang belum dipahaminya dari lelaki itu. Yejin mendesah lega. Dia bertekad besok akan minta maaf pada Myungsoo dan mengakui kalau dirinya adalah maniak.

Seraya menutup kembali jendelanya, tawa Yejin lalu berderai begitu saja. Ah, itu pasti karena membaca baris selanjutnya dari tulisan tangan Myungsoo di balik fotonya.

p.s : Bisakah kau tidak tergila-gila pada Lee Seunggi lagi? Aku bisa mati cemburu karena itu, bodoh. Ah, dan cepat kembalikan buku PRku! Aku membutuhkannya!

DING!

Iklan
[FF/Oneshot] Beautiful

3 pemikiran pada “[FF/Oneshot] Beautiful

  1. juliette15 berkata:

    Soo sweeett… (´⌣`ʃƪ) myungsoo always success to win my heart 😀 tapi myungsoo nggak akan semanis itu kalau nggak ada eonni hehe 😀 as sweet as usual eonn :):):):)

  2. kimyuki berkata:

    melting abis daah 😀
    ngakak juga setiap nemuin kata ‘alien’ disini, itu bener2 seperti myungsoo.
    makhluk entah apa namanya yg jelas bukan berasal dr bumi *lebay*
    tp itu emang bener ^^

    aku punya pengalaman sendiri pas ada yg cemburu karna aku ngoleksi foto myungsoo seabreg dilaptop & di hp..
    pake acara dijadiin background dekstop + wallpaper hp segala..
    alhasil .. yaa ngamuk laah 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s