[FF/Oneshot] Deja Vu

leeteuk

taken from leeteuk83.tumblr.com

***

Title : Deja Vu

Author : Yuridista

Genre : Fantasy, friendship

Casts : SJ Park Jungsoo/Leeteuk, Hwan Seungmi (OC), SJ Kim Ryeowook, SJ Cho Kyuhyun, SJ Lee Donghae, SJ Lee Hyukjae/Eunhyuk, SJ Kim Jongwoon/Yesung, SJ Shin Donghee/Shindong

Rating : G

Length : Oneshot-2.215 w

Disclaimer : Seluruh tokoh di dalam fanfiction ini bukan milik penulis. Ide, plot, dan alur cerita murni berasal dari imajinasi penulis. Kesamaan adegan dan tempat kejadian adalah kebetulan semata. Fanfiction ini dibuat hanya untuk kepentingan hiburan. Dilarang copy-paste tanpa seizin penulis.

p.s : FF ini pernah diikutsertakan dalam 2012 FF Contest Our Fanfiction House di wordpress dengan alamat ourfanfictionhouse.wordpress.com.

***

 Leeteuk sudah bersiap dengan jaket dan kunci mobilnya ketika didengarnya Ryeowook berkata mengantuk di belakangnya, “Hyung, kau mau kemana?”

Lelaki itu menoleh, menatap eternal magnaenya dengan pandangan sayang sebelum menyahut, “Jalan-jalan sebentar. Besok kan kita sudah harus ke Taiwan.”

“Oh. Sendirian saja? Mau minum-minum, ya?” tanya Ryeowook lagi, matanya meneliti penampilan Leeteuk dari kepala sampai ke kaki.

Leeteuk mengangkat bahunya sekilas. “Mungkin… Aku belum memutuskan,” ujarnya, “Kau kembalilah tidur. Semua orang butuh sarapan pagi-pagi besok.”

Ryeowook menguap, kemudian mengangguk sekali. “Ne, Hyung. Selamat bersenang-senang. Jangan pulang pagi,” balasnya, kemudian berbalik untuk kembali tidur di kamarnya.

***

Leeteuk menghentikan mobilnya di tempat biasa, di tempat dimana dia tidak perlu takut menunjukkan kepada dunia siapa dirinya sebenarnya. Dia turun dari mobil, menguncinya, kemudian berjalan pelan-pelan menuju danau sambil menghirup dalam-dalam udara di sekitarnya.

“Ah, ini menyenangkan,” gumamnya ketika akhirnya dia bisa melihat dengan jelas permukaan air danau yang beriak tenang di hadapannya. Danau itu memantulkan cahaya dari lampu-lampu gedung dan jalanan yang berpendar di atasnya, menimbulkan kesan bahwa dia sedang menatap sehamparan emas, berkilauan dan mewah.

Leeteuk kemudian melepas sepatu dan pakaiannya, merentangkan tangannya lebar-lebar, sebelum akhirnya terjun ke dalam danau, merasakan sensasi luar biasa ketika tubuh bak pualamnya bereaksi begitu cepat setelah kulitnya menyentuh air dingin itu. Insangnya mulai bekerja menggantikan tugas paru-parunya dan di sela-sela jari kaki dan tangannya mulai muncul selaput-selaput tipis berwarna keperakan yang bisa membuatnya dengan mudah menyelam hingga ke dasar danau.

Seperti yang sudah-sudah, Leeteuk selalu menyelam sambil berpikir atau berpikir sambil menyelam. Dia berpikir tentang banyak hal, seperti tentang sampai kapan dia akan bertahan untuk memimpin Super Junior, tentang dia dan kekasih virtualnya─Kang Sora, tentang bahwa sebentar lagi dia harus menjalankan wajib militer─sesuatu yang bahkan tidak bisa dihindari dengan statusnya sebagai seorang selebriti sekalipun, tentang kenapa akhir-akhir ini dia semakin sering butuh untuk menyelam, dan tentang kehidupan dua dunianya yang semakin lama semakin terasa membingungkan baginya. Ya, Leeteuk, atau yang sebenarnya bernama Park Jungsoo, adalah manusia amfibi yang bisa hidup di daratan maupun di lautan. Dia sudah ada di dunia ini sejak lebih dari dua ratus tahun yang lalu, mengalami semacam reinkarnasi secara ilmiah ‘hasil karya’ profesor Jung Shinwoo─teman dekat ayahya─sejak bumi tiba pada kiamat pertamanya, dan tidak pernah sehari pun menua sejak saat itu.

Leeteuk hidup berpindah-pindah selama dua ratus tahun, berusaha menutupi identitasnya sebagai manusia legenda dengan tinggal di satu bagian dunia hanya untuk kemudian berpindah ke bagian dunia lainnya. Dia harus menyelam untuk tetap hidup, meski kebutuhannya akan hal yang satu itu cukup bisa dikendalikannya selama beberapa waktu, lebih dari cukup untuk mengaburkan kecurigaan orang-orang di sekitarnya.

Sejak delapan tahun yang lalu, dia terdampar di Seoul, Korea Selatan, yang untungnya dihuni oleh orang-orang berwajah mirip sepertinya─mata sipit, kulit putih, dan rambut yang lurus dan agak kecoklatan. Entah kebetulan atau takdir, keputusannya untuk tinggal sedikit lebih lama di kota itu justru membuatnya mendapatkan kesempatan untuk menjadi seorang selebriti, sebuah profesi yang ironisnya bertolak belakang dengan tujuannya untuk menyembunyikan identitasnya. Kini dia adalah leader Super Junior, penjaga duabelas laki-laki lain yang lebih muda darinya, digilai hampir seluruh wanita di dunia, dan memilih untuk dikenal dengan sebutan Leeteuk─special.

Leeteuk menyembulkan wajahnya ke permukaan setelah menyelam beberapa saat. Dia menatap langit yang hitam pekat di atasnya sebentar kemudian kembali menyelam, mencoba merasakan sebanyak mungkin sentuhan air di tubuhnya sebelum dia dan anggota Super Junior yang lain pergi ke Taiwan untuk konser mereka besok pagi. Menyelam di antara tumpukan sampah memang tidak bagus untuk kesehatan, pikirnya. Tapi toh memang ini yang sedang aku butuhkan sekarang. Lagipula, siapa tahu di Taiwan tidak ada danau seperti ini, katanya kepada diri sendiri sebelum menyelam lebih dalam lagi, lagi, dan lagi.

***

 Esoknya…

“Hyung, apa kau melihat jaketku?” Donghae bertanya buru-buru sambil menghampiri Leeteuk yang tengah asyik menyantap sarapannya bersama Yesung, Ryeowook, dan Eunhyuk.

Leeteuk mengangkat alis. “Jangan tanya aku, Hae. Bukankah kau dan Eunhyuk yang paling suka meminjam barang satu sama lain?”

“Bukan aku pelakunya,” Eunhyuk angkat bicara setelah menelan dengan cepat sesendok penuh serealnya. “Lagipula jaketmu kan ada ratusan, pakai saja yang ada,” tambahnya, kemudian kembali menghadapi makanannya.

Donghae mendengus. “Aku tahu ini pasti perbuatan Kyuhyun,” omelnya, berbalik untuk menuju lantai bawah dan memarahi magnae yang dicurigainya telah mencuri jaket favoritnya.

“Dasar anak itu. Pagi-pagi sudah bikin ribut saja,” komentar Leeteuk sepeninggal Donghae. “Nah, anak-anak,” kini dia berkata ceria seraya menatap satu-persatu wajah-wajah di sekelilingnya, “sekarang cepat selesaikan sarapan kalian dan segera kumpul di bawah. Kita akan berangkat dalam setengah jam.”

Mendengar kata-kata Leeteuk, Yesung langsung melotot dari atas mangkuknya. “Astaga, setengah jam?! Hyung, kau bercanda, ya? Aku bahkan belum selesai mengemasi pakaianku!”

“Bukan salahku kalau kau malah sibuk bicara dengan kura-kuramu sepanjang malam, Yesung-ah. Dewasalah,” ujar Leeteuk, memilih untuk mengabaikan tatapan horor Yesung dan berjalan menuju kamarnya untuk mengambil barang-barangnya.

“Apa aku akan satu mobil dengan Donghae? Aku benar-benar butuh tidur sedikit lebih lama dan suasana hati anak itu kelihatannya sedang parah,” bisik Eunhyuk, tiba-tiba saja sudah berdiri di belakang Leeteuk.

“Tidak. Aku akan membiarkan dia berperang melawan Kyuhyun pagi ini. Ku rasa aku juga butuh tidur lagi,” jawab Leeteuk seraya mengusap matanya yang tampak kuyu.

Eunhyuk mendesah lega. “Tuhan memberkatimu, Hyung. Kau bersikap jutaan kali lebih baik hari ini, terimakasih,” balas Eunhyuk mendramatisir.

Leeteuk memutar matanya. “Kau, tukang jilat, diam dan bergegaslah.”

Eunhyuk mencibir, tapi toh tetap berbalik untuk mengambil barang-barangnya di kamarnya sendiri.

“Hyuk-ah, tunggu,” panggil Leeteuk sebelum Eunhyuk benar-benar meninggalkan kamarnya.

Hyuk langsung menoleh. “Apa?”

“Itu─apa di dekat tempat menginap kita nanti ada danaunya?”

“Kau tanya padaku? Serius, nih? Bukankah biasanya kau yang paling tahu soal begitu? Fasilitas ini dan itu?” Eunhyuk malah balik bertanya.

Leeteuk mendengus. “Lupakan pertanyaanku barusan. Cepat bersiap-siap!” perintahnya, dan Eunhyuk langsung bergegas sebelum diomeli lebih lama oleh hyung tertuanya itu.

***

Usai konser…

“Hyung!” Leeteuk yang sedang membersihkan make-upnya dengan terburu-buru langsung menoleh begitu mendengar ada seseorang yang memanggilnya.

“Eh?” sahutnya, agak terkejut melihat Kyuhyun mendekat padanya dengan tampang was-was.

“Kau mau kabur dan bersenang-senang tanpa kami, ya? Benar begitu?” tanya Kyuhyun dengan nada menuduh yang kental.

“Hah? Siapa yang bilang?” Leeteuk benar-benar terkejut sekarang, samasekali tidak mengerti darimana ide bahwa dia akan kabur dan bersenang-senang sendiri bisa mampir di kepala magnaenya itu.

“Semua. Eunhyuk-hyung, Donghae-hyung, Shindong-hyung. Mereka semua mengamuk di bawah sana, Hyung,” jawab Kyuhyun, dengan senang hati menceritakan hal-hal yang justru membuat tampang Leeteuk semakin tampak ngeri.

“Astaga, kalian ini bodoh atau apa, sih? Siapa yang mau kabur? Aku hanya ingin jalan-jalan sebentar, seperti biasa. Ryeowook saja sudah hafal kebiasaanku yang ini. Tanya padanya kalau kau, dan hyung-hyung irasionalmu itu, tidak percaya,” Leeteuk menukas seraya mengacung-acungkan cleansernya ke arah Kyuhyun.

Kyuhyun memberengut, tampak tidak percaya. “Semua orang bisa menipu Ryeowook, apalagi kau,” bantahnya keras kepala.

Leeteuk membuang nafas keras-keras, dalam hati mengutuk kenapa Super Junior harus memiliki magnae sekurang ajar Kyuhyun. “Ambil semua uangku dan juga kartu kredit dan ATMku kalau kau masih tidak percaya padaku, Cho Kyuhyun,” ujar Leeteuk akhirnya, “kalian bisa memakai uangnya, tapi jangan sentuh yang lainnya. Yang penting bagimu hanya bagian ‘bersenang-senangnya’, kan?”

Kyuhyun terdiam sebentar, tapi kemudian menjawab senang, “Leaderku memang yang terbaik. Sini kemarikan dompetmu.”

Leeteuk memutar matanya melihat betapa menjengkelkannya makhluk di hadapannya itu. Dirogohnya saku jeansnya kemudian dikeluarkannya dompet kulit berwarna coklat dari dalamnya. “Ingat, jangan sentuh apapun selain uang tunainya,” katanya memperingatkan.

Kyuhyun menyeringai. “Kau bisa mempercayaiku, Hyung. Selamat jalan-jalan!”

***

Leeteuk tiba di danau kecil tidak jauh dari hotel tempat Super Junior menginap tepat setengah jam kemudian, ketika akhirnya dia berhasil melarikan diri dari tatapan-tatapan curiga yang dilemparkan Eunhyuk, Donghae, dan Shindong padanya, serta gumaman-gumaman tidak percaya yang didengarnya dari mulut Sungmin dan Yesung. Ryewook, tentu saja, justru memberinya senyuman lebar untuk mengantar kepergiannya sementara Kyuhyun seperti telah menempel dengan dompetnya dan Siwon lebih memilih untuk tenggelam bersama dunia twitternya.

Danau itu tidak terlalu luas, masih lebih kecil jika dibandingkan dengan danau yang biasa didatanginya di Seoul. Meski begitu, dia bisa merasakan bahwa air danau itu jauh lebih bersih daripada air danau di Seoul, dan dia bisa menjamin bahwa tumpukan sampah di bawahnya tidak akan sampai membuatnya harus sering-sering menyembulkan kepala ke permukaan.

Dua detik kemudian Leeteuk sudah melepas sepatu dan pakaiannya dan terjun begitu saja ke dalam air, merasai sensasi sentuhan dingin dan kecipak-kecipak ringan di kulitnya. Dia baru akan menyembulkan kepalanya ke permukaan ketika kemudian didengarnya suara seorang wanita yang bersenandung di dekatnya. Detik itu juga tubuh Leeteuk rasanya beku. Dia menahan nafas, mencoba sebisa mungkin untuk tidak bergerak dan menyembunyikan dirinya dalam kegelapan, meski sebenarnya yang ingin dilakukannya adalah mencari tahu siapa sosok di dekatnya itu, yang telah berani mengusik ketenangan langka yang didapatnya dengan susah payah malam ini.

“Hei, kau disitu, kan?” Leeteuk kaget setengah mati saat didengarnya suara itu bicara. Nadanya lembut meski terdengar waspada, dan dia bisa menebak bahwa wanita itu juga sama kagetnya seperti dirinya.

“Ehm,” sahut Leeteuk tak yakin. Dipicingkannya matanya agar bisa melihat sosok itu lebih jelas, tapi yang bisa dilihatnya hanyalah bayangan hitam yang bergerak-gerak di atas permukaan danau.

“Aku tahu siapa kau. Tak usah sembunyi,” kata wanita itu lagi, kali ini terdengar lebih percaya diri.

Leeteuk terkesiap. “Kau─siapa?” tanyanya was-was. Dia sudah mundur sampai ke tepi danau sekarang.

“Aku sama sepertimu. Manusia amfibi juga. Sungguh.”

Leeteuk masih ragu. “Namamu? Asalmu? Dan kenapa kau bisa ada di sini? Apa maumu?” tanyanya beruntun.

“Hwan Seungmi imnida. Aku bisa dibilang orang Korea. Aku di sini karena aku butuh menyelam, sama sepertimu. Dan aku hanya mau kau tidak bertingkah seolah aku adalah penguntit gila atau semacamnya. Aku wanita baik-baik, kok,” jawabnya, kemudian tertawa kecil.

“Aku masih tidak mengerti, maaf. Tapi darimana kau tahu aku manusia amfibi?” tanya Leeteuk lagi.

“Well, setiap manusia amfibi selalu punya insting tersendiri untuk mengenali jenisnya, kan? Mungkin kau sudah kehilangan insting itu karena terlalu lama hidup di daratan, tapi untung sekali punyaku masih sangat kuat,” jelas wanita bernama Seungmi itu ringan.

Leeteuk mengangguk-angguk tanpa sadar. “Aku Park Jungsoo,” katanya, akhirnya mau membuka diri.

Leeteuk bisa mendengar Seungmi mengucapkan “oh” dengan keras kemudian menyahut bersemangat, “Aku sudah curiga! Ternyata leader Super Junior memang manusia amfibi sepertiku! Daebak!”

Mau tak mau, ucapan Seungmi membuat Leeteuk memutar mata. “Karirku pasti sudah tamat kalau ada banyak orang sepertimu, Nona.”

“Oh, tidak, tidak. Kau tenang saja, sejauh ini aku tidak pernah bertemu dengan manusia sejenis kita. Hanya kita berdua yang tersisa, kurasa, sejak dua ratus tahun lalu itu…” Seungmi berkata dalam gumaman sedih yang kentara.

Kening Leeteuk berkerut mendengarnya. “Kenapa?” tanyanya ingin tahu.

Seungmi mendesah. “Kau tahu, kurasa sebentar lagi kejadian mengerikan itu akan terjadi lagi, mengingat seberapa seringnya aku butuh menyelam akhir-akhir ini. Daratan semakin tidak nyaman buatku. Apa kau juga merasakannya, Jungsoo-ssi?”

Leeteuk terperanjat, kemudian menyahut pelan, “Ya. Aku juga merasa begitu, Nona. Tapi aku tidak berpikir kalau itu ada hubungannya dengan kejadian dua ratus tahun lalu. Maksudku, masa bumi ini bisa mengalami kejadian yang sama lebih dari satu kali?”

“Entahlah, Jungsoo-ssi,” ujar Seungmi pelan, “tapi firasatku mengatakan begitu. Aku hanya merasa kita butuh bersiap-siap mulai dari sekarang kalau tidak ingin mengalaminya lagi.”

Alis Leeteuk terangkat sebelah mendengar ucapan Seungmi barusan. “Bersiap-siap? Maksudmu kita punya pilihan?”

“Oh, tentu saja. Kita bisa membangun dunia baru di bawah air, jauh dari daratan. Kita tidak perlu melihat kehancuran itu lagi, karena jujur saja, bagiku itu terlalu mengerikan. Aku tidak akan sanggup menghadapinya untuk kedua kalinya.”

“Dan kalau aku mengambil pilihan itu, artinya aku harus meninggalkan dunia ini, dan karirku, dan juga…Super Junior?” tanya Leeteuk setelah kesadaran itu menghantamnya di dada.

Seungmi mengangguk dari dalam kegelapan. “Setiap pilihan selalu ada harganya, Jungsoo-ssi. Dan kau punya waktu sampai akhir bulan ini untuk meyakinkan dirimu sendiri.”

“Secepat itukah?” Leeteuk menyahut tak percaya.

“Ya, dan kalau kau memilih untuk tetap bertahan, temui aku di danau pinggiran Gangnam pada malam bulan purnama. Aku tidak mau membuang-buang waktuku terlalu lama hanya untuk melihat dunia ini hancur untuk yang kedua kalinya, dan lagi-lagi karena ulah manusia-manusia yang hidup di daratan itu,” ucap Seungmi tegas. “Kalau begitu, sampai jumpa, Jungsoo-ssi. Jaga dirimu baik-baik,” lanjutnya, kemudian beranjak naik ke daratan tanpa sempat menunjukkan wajahnya kepada Leeteuk.

“Sampai jumpa,” balas Leeteuk pelan, tidak menyadari bahwa Seungmi telah menghilang dari pandangannya sejak tadi.

***

Sebulan kemudian…

“Hyung, ayo cepat bangun!”

“Iya, Hyung, ppali! Kita sudah terlambat!”

“Hyung!”

“Leeteuk-hyung!”

Leeteuk terbangun dengan kepala yang terasa pusing akibat teriakan-teriakan di sekitarnya. Dia mengucek matanya, menguap satu kali, kemudian mengerjap-ngerjap dan menemukan ada lima buah kepala yang mengelilinginya─semuanya bertampang jengkel dan tidak sabar.

“Apa, sih?” tanyanya, masih setengah sadar.

“KBS menunggu kita, Leeteuk-hyung yang tampan,” terdengar Eunhyuk berkata, “jadi ayo cepat bangun dan bergegaslah!”

Leeteuk mengerjap lagi, masih kelihatan bingung. “Jadi, aku masih hidup, eh?” gumamnya, entah kepada siapa.

Di sebelah kanannya, Shindong memutar matanya. “Coba lihat siapa yang bicara. Seseorang yang baru merayakan ulangtahunnya yang keduapuluh sembilan minggu lalu rupanya sudah ingin mati sebelum menikah,” katanya sarkastik, yang ditanggapi tawa meledek di kanan-kirinya.

Leeteuk memicingkan matanya, dan sekarang sadar sepenuhnya dia berada di mana dan bersama siapa. Dia tersenyum tipis, diam-diam memutar kembali kenangan tentang pertemuan terakhirnya dengan Hwan Seungmi malam sebelumya. Pada akhirnya, dia memilih untuk tetap hidup di dunia yang menurut wanita itu akan hancur sebentar lagi. Dia memilih untuk menjaga Super Junior sampai akhir, bahkan meski akhir yang dimaksudkannya akan terjadi hari ini juga. Toh, dia akan mati bersama orang-orang yang dicintainya. Itu sama sekali tidak ada ruginya, kan?

“Well, terimakasih, Hwan Seungmi. Semoga kau bahagia di dunia barumu,” gumamnya pelan, yang langsung ditanggapi dengan teriakan-teriakan penasaran di kanan kirinya, mengiringi langkah gontainya untuk bersiap-siap pagi itu.

DING!

Iklan

4 pemikiran pada “[FF/Oneshot] Deja Vu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s