[FF/Oneshot] Man In Love

myungsooedited

picture cr : mrsmyungsoo.tumblr.com

edited by yuridista

***

Title : Man In Love

Author : Yuridista

Genre : Romance, fluff

Casts : Infinite Kim Myungsoo/L, Yang Yejin (OC), Infinite Lee Howon/Hoya, Infinite Nam Woohyun, Infinite Jang Dongwoo.

Rating : G

Length : Oneshot-2.025 w

BGM : Man In Love-Infinite

Disclaimer : Seluruh tokoh di dalam fanfiction ini bukan milik penulis. Ide, plot, dan alur cerita murni berasal dari imajinasi penulis. Kesamaan adegan dan tempat kejadian adalah kebetulan semata. Fanfiction ini dibuat hanya untuk kepentingan hiburan. Dilarang copy-paste tanpa seizin penulis.

***

Myungsoo tidak begitu mengerti bagaimana prosesnya. Dia bahkan tidak ingat kapan persisnya dia mulai merasakannya. Alasannya? Sederhana. Karena Myungsoo belum pernah mengalaminya. Maka, ketika tiba-tiba saja semua hal aneh ini mengguncangnya, Myungsoo bingung. Kalut. Galau. Tidak tahu harus bagaimana. Padahal, dia mungkin bisa berguru pada Woohyun. Si cerewet itu tentu tahu banyak soal hal-hal semacam ini. Atau pada Howon. Myungsoo sudah membuktikan sendiri kalau julukan James Bondnya Infinite–nama kelompok mereka—tidak main-main ditempelkan di jidat lelaki itu. Tapi Myungsoo tidak melakukannya. Dia diam saja seperti Myungsoo yang biasanya.  Dia masih pasif dan tidak ekspresif. Dia masih mengunci mulutnya rapat-rapat, menggenggam rahasianya sendiri erat-erat.

Hah. Dasar bodoh. Padahal ini cuma soal jatuh cinta.

***

Dulu sekali, ketika Myungsoo baru beberapa minggu mengenal gadis itu, rasanya sudah setengah mati dia berusaha mencari-cari alasan untuk menyukai si gadis, tapi selalu gagal. Myungsoo yang pendiam sama sekali tidak habis pikir kenapa Tuhan bisa menciptakan gadis yang bahkan tingkat kecerewetannya melebihi Nam Woohyun. Kuping Myungsoo rasanya selalu berdenging setiap kali mendengar cerita gadis itu yang tanpa henti. Dia bisa bercerita apa saja—sekolah, keluarga, kelincinya yang kembar, hobinya menghabiskan waktu untuk mengoleksi perangko bergambar serangga, atau teman-temannya yang menganggapnya aneh tapi entah bagaimana dia tetap tidak mengerti di mana letak keanehannya.

Kalau sudah begitu, Myungsoo akan menelengkan kepalanya, menatap gadis itu sambil menggeleng-gelengkan kepala dan berdecak. Dia tidak pernah berusaha menyela, membantah, atau bahkan sekedar menanggapi cerita gadis itu dengan satu atau dua patah kata. Myungsoo tidak mau repot-repot, karena dia tahu satu kata darinya hanya akan membuat gadis itu bercerita dengan durasi yang jauh lebih lama.

Semua temannya mengenal gadis itu dan menganggapnya menarik. Myungsoo tidak terkejut melihat bagaimana Woohyun dan si gadis sudah berbagi topik tentang manhwa paling hebat sepanjang sejarah bahkan sejak pertemuan pertama mereka. Howon? Jangan ditanya. Sudah jelas kalau dia tertarik pada semua gadis. Sunggyu menyukai si gadis hanya karena dia bisa tertawa pada setiap lelucon tidak lucu yang dilontarkan Sunggyu. Dongwoo lain lagi. Meskipun pada awalnya Myungsoo sempat merasa lega karena dia tidak melihat binar-binar di mata Dongwoo ketika memandang si gadis, tapi ketika akhirnya pada suatu Sabtu yang panas Dongwoo membisikkan “Hei, kau harusnya memacarinya. Dia bahkan bisa memasak jauh lebih baik dari kita bertujuh digabung jadi satu”, Myungsoo tahu dia sudah mengambil kesimpulan terlalu cepat. Bahkan si maknae Sungjong memuja si gadis, yang pandai memilihkan setelan yang pantas untuk dipakai Sungjong menemui noona cinta pertamanya. Sedangkan Sungyeol, oh, lupakan saja. Myungsoo tidak perlu berpikir dua kali untuk tahu kenapa anak itu dan si gadis cocok sekali. Yah, mereka kan sama-sama aneh.

Kadang-kadang, kalau melihat keakraban yang terjalin di antara gadis itu dan teman-temannya, Myungsoo jadi meragukan kewarasannya sendiri. Jangan-jangan, justru dirinya sendirilah yang aneh karena tidak bisa nyambung dengan si gadis. Jangan-jangan, teman-temannya sudah ramai membicarakannya di balik punggung karena telah bersikap dingin dan cuek terhadap gadis semenarik itu. Jangan-jangan… Ah, sudahlah. Myungsoo tidak peduli. Dia memang terlahir seperti ini.

***

“Kau sedang jatuh cinta, Kim Myungsoo,” tembak Woohyun langsung, bibirnya mengembang membentuk seringai sementara jari telunjuknya menunjuk-nunjuk hidung Myungsoo dengan semangat.

Myungsoo mengerjap, nyaris tergeragap. Untung, dia masih bisa menahan diri. “Omong kosong,” cibirnya, berpaling untuk mengambil buku-buku dan tas gitarnya di sofa di belakang Woohyun.

“Ya! Jangan pura-pura, Myungsoo-ya. Aku sudah mengenalmu hampir lima tahun. Aku tahu segalanya tentangmu, dasar bodoh,” kata Woohyun arogan, tubuhnya bergerak untuk menghadang Myungsoo yang sudah menunjukkan gelagat ingin kabur secepatnya dari tempat itu.

“Begitu pula denganku, Nam Woohyun. Dan aku sudah bosan berdebat kusir tentang semua khayalanmu, khususnya denganmu,” tukas Myungsoo dingin.

Woohyun tersentak. “Ouch. Kasar sekali kau, Myungsoo-ku yang tampan. Begini saja. Anggap saja aku sedang berkhayal dan kau tidak sedang jatuh cinta. Tapi tolong jelaskan padaku apa arti dari lirik-lirik lagu melankolis yang diam-diam kau tulis di jurnal harianmu? Lalu, kenapa juga kau sekarang jadi suka berhenti di depan toko hewan sepulang sekolah hanya untuk mengamati serangga-serangga di dalam toples? Kau bukannya sedang melakukan penelitian tentang serangga, kan?” tanyanya bertubi-tubi.

Myungsoo menegang di tempatnya, tetapi lalu buru-buru menanggapi dengan acuh tak acuh, “Kau harusnya belajar untuk berhenti mengurusi urusan orang lain, Woohyun-ah.” Kemudian, lelaki itu berbalik meninggalkan Woohyun begitu saja. Dia bahkan tidak repot-repot untuk mengucapkan “aku duluan” atau “sampai jumpa”.

***

“Woohyun bilang kau sedang menyukai seorang gadis,” si gadis memulai, menatap Myungsoo dengan satu tangan menyangga dagunya, ciri khasnya ketika menunggu Myungsoo berbicara.

Myungsoo mendesah putus asa. Woohyun memang bencana. “Dia selalu bicara yang tidak-tidak, Yejin-ah.” Ah, ya. Yejin-ah. Yejin. Nama gadis itu Yang Yejin.

Yejin menautkan alisnya. “Woohyun selalu bicara jujur. Dia tidak pernah bohong padaku. Kau yang tidak pernah bicara, Myungsoo-ya. Kau yang lebih mungkin bicara yang tidak-tidak daripada Woohyun,” katanya tepat sasaran, tetapi nadanya datar saja.

“Terserah kau saja. Aku tidak bisa memaksamu untuk percaya padaku,” ujar Myungsoo akhirnya.

Yejin tertawa. “Siapa namanya? Apa dia cantik? Lebih cantik dari aku? Apa aku mengenalnya? Dia tinggal di mana? Ceritakan semuanya padaku, Myungsoo-ya. Ceritakan padaku sekarang juga,” katanya kemudian, tangannya mulai menarik-narik lengan Myungsoo dengan semangat.

Myungsoo memutar mata. “Apa kau tidak pernah mendengarkan kata-kataku?”

“Aku dengar, kok,” Yejin menjawab sambil nyengir. “Intinya kau mengelak kalau ada gadis yang sedang kau sukai, kan? Tapi mau bagaimana lagi, aku tidak percaya, sih.”

“Ya ampun, kenapa aku harus mengenal gadis gila sepertimu?” erang Myungsoo putus asa, tapi itu hanya membuat gadis di sampingnya makin semangat memaksanya bercerita.

Akhirnya…

“Kau tidak perlu tahu siapa namanya. Dan ya, dia cantik,” Myungsoo berhenti sebentar untuk menatap mata Yejin, “tapi aku tidak suka membanding-bandingkan, jadi aku tidak bisa mengatakan apakah dia lebih cantik darimu atau tidak.”

“Aku kenal dia?” Yejin menyela.

Myungsoo menarik nafas dan membuangnya perlahan. “Yang jelas kau tidak mungkin mengenalnya sebaik aku.”

Yejin mencibir. “Kalau begitu katakan padaku di mana rumahnya. Aku ingin tahu karena kau sepertinya tidak pernah berkunjung kemanapun selain rumahku dan keenam temanmu.”

“Itu bukan urusanmu, kan?” Myungsoo menukas langsung.

Yejin langsung memberengut. “Dasar pelit,” rutuknya. “Jadi, apakah kau sudah bilang pada gadis ini?”

“Hah? Bilang apa?” tanya Myungsoo bingung.

Kali ini, Yejin yang memutar mata. “Tentu saja bilang kalau kau suka padanya, dasar lambat.”

Myungsoo mengangat bahu. “Belum. Dan aku juga tidak berencana mengatakannya.”

“Eh?” Yejin mengerjap sekali. “Kenapa tidak? Kau ingin selamanya memendam perasaanmu padanya?”

“Mungkin,” Myungsoo menjawab tak yakin. “Jujur saja, ini…membingungkan.”

Yejin mengangguk-angguk. “Kalau begitu mari kita coba luruskan beberapa hal terlebih dulu.”

“Err, oke?” Myungsoo tak mengerti dengan maksud Yejin, tapi dia tetap mengangguk.

“Pertama-tama, kenapa kau menyukai gadis ini? Apa alasannya?” tanya Yejin setelahnya.

Myungsoo mengerutkan keningnya. Tak paham. “Aku tidak tahu,” jawabnya jujur.

“Ya! Kim Myungsoo!” Yejin menjerit gemas.

“Sungguh, aku memang tidak tahu. Aku hanya suka, begitu saja. Aku tidak mengerti kenapa,” Myungsoo bersikeras.

Yejin mendesah. “Kau pasti bercanda,” desisnya tak percaya. “Pasti ada satu hal yang membuatmu suka padanya. Pasti ada momennya. Aku yakin.” Yejin masih ngotot.

“Apa setiap gadis selalu butuh alasan?” Myungsoo malah balik bertanya. “Apa bagi setiap gadis seseorang tidak bisa jatuh cinta begitu saja, atau membenci begitu saja, tanpa tahu apa sebabnya?”

Yejin tertegun. “Err, sepertinya. Lagipula, aku tidak percaya kebetulan. Jadi menurutku setiap hal memang terjadi karena sebuah alasan,” ujarnya pelan.

“Termasuk jatuh cinta?” Myungsoo menyahut.

Yejin mengangguk. “Termasuk jatuh cinta.”

“Kalau begitu, aku jatuh cinta padanya karena aku tidak punya alasan untuk tidak jatuh cinta padanya. Apakah itu cukup bagimu?”

Yejin menatap Myungsoo, Myungsoo balik menatapnya. Kemudian, Yejin tersenyum. “Kau keren sekali malam ini, Kim Myungsoo. Gadis itu tidak akan menolakmu kalau kau bilang begitu di hadapannya,” katanya memuji.

Myungsoo hanya berdecak, matanya masih menatap mata Yejin ketika menjawab, “Aku tidak yakin. Sudah kubilang, kau tidak mengenalnya sebaik aku, Yejin-ah.”

***

Sekarang, ketika dia sudah mengenal gadis itu selama hampir enam tahun, Myungsoo jadi tidak bisa menemukan alasan untuk tidak menyukainya—ah, tidak, untuk tidak mencintainya. Sekarang, rasanya dia mampu-mampu saja mendengarkan cerita Yejin tentang sekolahnya, keluarganya, kelincinya yang kembar tapi sekarang sudah mati dan digantikan oleh anak-anaknya, koleksi perangko serangganya, atau teman-temannya yang menganggapnya aneh.

Myungsoo kini senang melihat Yejin mengobrol akrab dengan Woohyun, karena dengan begitu dia jadi bisa melihat ekspresi wajah Yejin yang bersemangat dan matanya yang bersinar-sinar antusias. Myungsoo terima-terima saja melihat Howon menggoda Yejin karena dengan begitu dia jadi bisa ikut tersenyum melihat wajah gadis itu bersemu merah. Myungsoo jadi betah menjadi penonton Sunggyu dan semua lelucon bodohnya karena dengan begitu dia bisa lebih sering mendengar suara tawa Yejin yang bunyinya bagai denting lonceng di telinganya. Dia senang melihat Dongwoo dan Yejin yang saling bantu di dapur karena dengan begitu dia bisa lebih sering menikmati masakan Yejin yang rasanya nyaris seenak masakan ibunya. Myungsoo mau-mau saja disuruh mengantarkan Sungjong dan Yejin berbelanja karena dengan begitu dia jadi tahu apa saja hal-hal yang disukai dan tidak disukai gadis itu. Terakhir, Myungsoo kini jadi lebih sering bergaul dengan Sungyeol karena dia ingin lebih memahami keanehan anak itu, hanya agar dia juga bisa memahami keanehan Yejin.

Mungkin, keanehan itulah yang justru membuat Myungsoo jadi begini—jadi gila dan linglung sendiri. Mungkin.

***

“Kelinci terakhir Yejin mati kemarin sore,” Myungsoo bergumam tak sadar suatu sore, nadanya sedih.

“Eh? Yejin punya kelinci? Masa, sih? Kok dia tak pernah cerita padaku? Padahal tempo hari aku bilang padanya kalau aku juga suka kelinci dan kepengin mencoba memelihara,” Woohyun menanggapi penuh kekagetan.

Myungsoo mengangkat wajah, menatap temannya itu dengan raut kaget yang sama. Yejin hanya bercerita tentang kelincinya pada Myungsoo, itu kesimpulan yang didapatnya tanpa bisa dicegah. Dan karenanya, jantung Myungsoo berdegup senang. Dia merasa istimewa.

***

“Aku tidak mengerti kenapa ada gadis yang suka pada serangga,” Howon nyeletuk, matanya terpancang pada selembar kertas di tangannya. Myungsoo melirik sekilas, dan langsung tahu kalau itu adalah surat cinta Howon yang ke-4978 kalinya dari seorang gadis.

“Selera gadis kan tidak selalu mainstream,” Myungsoo menjawab, dalam hati merasa lega karena setidaknya dia tahu kalau selama ini Howon tidak benar-benar naksir Yejin.

“Setidaknya Yejin tidak suka pada serangga. Aku mungkin akan naksir padanya kalau kau tidak ada,” Howon menambahkan, membuat Myungsoo sontak terkejut.

“Yejin…tidak suka, eh, serangga?” ulangnya.

Howon mengangguk. “Aku bercerita padanya kalau aku benci serangga dan dia hanya tertawa. Kupikir selera kami sama,” jawabnya.

Myungsoo mengerjap, lalu menggaruk tengkuknya dengan canggung. Satu lagi hal yang hanya diceritakan Yejin padanya : gadis itu suka serangga, tapi tidak bisa mengoleksinya, makanya dia punya beralbum-album perangko bergambar serangga.

Duh, harus, ya, Yejin membuatnya makin cinta padanya setiap hari begini?

***

Hari ini Myungsoo akan mengaku pada Yejin kalau gadis yang mereka bicarakan tempo hari adalah Yejin sendiri, tidak kurang tidak lebih. Darimana keberanian untuk bicara itu datang, jangan tanyakan pada Myungsoo, karena seperti biasa, dia sendiri juga tidak tahu. Mungkin keberanian itu tumbuh bersamaan dengan harapan bahwa Yejin juga punya perasaan yang sama dengannya. Mungkin juga karena dia tahu bahwa tidak ada satu pun di antara teman-temannya yang dijadikan Yejin sebagai tempat berbagi rahasia seperti dirinya. Mungkin karena Myungsoo entah bagaimana yakin bahwa ini sudah saatnya bicara, karena dia telah menghabiskan terlalu banyak waktu untuk diam dan mendengarkan. Myungsoo ingin membuka dirinya sekarang, dan itu akan dilakukannya kepada Yejin—gadis yang tiba-tiba saja sudah menjadi apa yang dikatakan orang-orang sebagai ‘pusat rotasi dunia’ miliknya.

***

“Aku mencintaimu.” Sudah. Begitu saja. Myungsoo mengatakannya sesederhana yang seharusnya, sejelas yang semestinya. Dia bukan penyair, penulis novel-novel roman, apalagi lelaki tukang gombal yang pandai merangkai untaian kata-kata. Dia adalah lelaki dengan koleksi kata paling minim di antara teman-temannya, hingga rasanya tidak mungkin untuk memintanya bicara lebih dari satu kalimat dalam satu waktu.

Tapi Yejin sudah tahu itu. Dia tahu bahwa Myungsoo lebih suka mendengar daripada bicara, makanya dia yang bercerita. Dia tahu bahwa Myungsoo tidak ekspresif, makanya dia yang selalu memaksanya dengan semangat yang meluap-luap. Dia tahu bahwa Myungsoo adalah lelaki yang pasif, yang introvert, yang punya dunia sendiri, makanya dia yang mendatanginya, berusaha memahaminya. Yejin terlalu mengerti bagaimana Myungsoo, karenanya dia hanya menjawab, “Aku tahu. Dan aku juga mencintaimu, Kim Myungsoo.” Lalu senyumnya yang lebar itu terkembang.

Ketika Myungsoo menatapnya dengan pandangan bertanya-tanya, Yejin tergelak kemudian menambahkan, “Kau tidak mengenal dirimu sebaik aku, Myungsoo-ya. Begitu, kan?”

Mendengar kalimat itu, Myungsoo tertegun. Tapi dua detik setelahnya dia ikut tertawa bersama gadis di hadapannya.

Yejin benar. Lelaki yang jatuh cinta hanya memikirkan orang yang dicintainya. Dia tidak mengenal dirinya sendiri. Karena bahkan, lelaki yang jatuh cinta tak pernah punya alasan kenapa dia jatuh cinta.

Nah, bukankah itu begitu membingungkan tapi sekaligus sederhana?

DING!

Iklan

9 pemikiran pada “[FF/Oneshot] Man In Love

  1. Endingnya selalu pake DING! Hehehe
    “aku jatuh cinta padanya karena aku tidak punya alasan untuk tidak jatuh cinta padanya.” kurasa itu kalimat terpanjang yg diucapkan myungsoo sepanjang cerita :p
    lol.. Akhirnya se-simple itu aja kok, myungsoo-ya 😀

  2. iseng nyari ff myungsoo, dan kebetulan nemu yg bagus..
    gga tau kenapa, perumpamaannya berasa nyata banget.
    jd bener2 terbawa .. alhasil, nyengir2 sendiri dah 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s