Selamat Ulangtahun (A Love Letter Pt.4)

yh

taken from http://www.google.com.ph

***

Dulunya, kita hanya dua orang asing yang tidak saling kenal. Segalanya jauh, tidak ada satu hal pun yang rasa-rasanya bisa dihubungkan atau menghubungkan. Toh, kita tidak punya masalah. Kita 100% berada di tempat, waktu, dan ‘dunia’ yang berbeda.

Dulunya.

Lalu kita menjadi separo asing. Kau masih tidak mengenalku, tapi aku mengenalmu. Aku tahu namamu, pekerjaanmu, warna kesukaanmu, hobimu, kebiasaanmu, bahkan nama-nama anggota keluargamu. Aku tahu hampir semuanya tentangmu—aku tidak menghitung rahasia-rahasiamu, aku yakin kau punya banyak.

Kebiasaan membawaku ke dalam rutinitas untuk semakin mengenalmu. Rasanya kita jadi dekat, dalam artian konotatif. Aku tidak tahu apakah itu bisa disebut sebagai hal bagus. Tapi aku senang melakukannya, berproses untuk mengenalmu, maksudku.

Kita sama-sama manusia. Kita sama-sama menua. Kita sama-sama punya masalah. Kita sama-sama lahir di bulan Februari, itu artinya secara umum sifat kita sama, meski aku tahu ada lebih banyak lagi yang tidak sama. Semua itu memberiku sedikit kesenangan pribadi, sedikit penghiburan bahwa sebenarnya kita tidak sejauh itu untuk bisa disebut dekat.

Sekarang, aku sudah tidak berada di dalam fase di mana aku merasa harus melihatmu setiap hari. Kadang-kadang aku bahkan hanya melihatmu di akhir pekan, ketika semua tugas kuliahku yang bertumpuk-tumpuk sudah tidak lagi mengganggu pikiranku. Aku sudah melewati tahap itu, di mana mencintaimu kudefinisikan sebagai sebuah kebutuhan.

Sekarang, mencintaimu bagiku adalah…kebiasaan.

Ini menjadi natural. Aku memang masih marah-marah setiap ada orang yang mengejekmu atau justru baru mulai menyukaimu, meski dalam hati saja aku mengutuki mereka. Tapi aku sudah terbiasa melihatmu bukan sebagai idola. Aku sudah bisa melihatmu sebagai laki-laki biasa, hanya saja memang dengan ketampanan yang di atas rata-rata.

Pukul sepuluh malam ini kau bertambah tua. Aku senang dengan kebenaran sederhana itu karena itu memberiku pemahaman bahwa lelaki setampan kau pun akan menua. Kau, pada akhirnya, memang tetap seorang manusia biasa.

Untuk itu, aku ingin mengucapkan selamat.

Selamat ulangtahun, itu yang pertama.

Selamat menjalani hidupmu dengan lebih baik. Aku harap kau bisa tersenyum lebih banyak lagi setiap hari.

Selamat melangkah untuk menemukan penjagamu kelak. Sebelah jiwamu. Tulang rusukmu yang hilang. Semoga ketika kau sudah menemukannya, aku bisa tersenyum melihatmu bersama suami dan anak-anakku.

Selamat meneruskan perjalanan sebagai Jung Yunho yang dicintai dunia. Yang juga pandai mencintai. Yang kuat. Yang bisa diandalkan. Yang sederhana dan apa adanya.

Aku berdoa untukmu

: semoga kau selalu bahagia.

 

Aku,

yang terbiasa mencintaimu.

Iklan

4 pemikiran pada “Selamat Ulangtahun (A Love Letter Pt.4)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s