Kangen

taken from http://www.facebook.com

***

Aku tidak pernah menghitung,

sudah berapa lama waktu yang terjumlah antara hari ini dan analogi katalog waktu itu,

sudah berapa banyak jarak yang terkalikan di antara ucapan halo terakhir kita,

atau sudah berapa lama aku tahu bahwa kau tak lagi sama.

Harusnya aku bilang, sudah sejak awal kita bukan hanya tentang kau dan aku.

Di duniaku, dengan curang aku menambahkan nama-nama lain di antara kita.

Aku menulisi buku harianku bukan hanya dengan kau dan segala tentangmu

—dan soal ledakan kembang api dan sensasi roller coaster yang sering aku bicarakan itu,

rasanya aku bahkan tidak ingat kalau aku pernah bilang semua itu karenamu.

Semua selalu tentang yang lain, kan?

Tapi kau, sejak dulu, tetap berdiri di sana, tersenyum menatapku seakan semuanya memang akan selalu berakhir baik-baik saja.

Kau ada, untukku, bahkan ketika keegoisanku memegang kendali atas diriku.

Kau tidak pernah berhenti mencoba, menjadi segalanya untukku…

Dulu…

Lalu, ada jarak, dunia yang berbeda, jalan yang tak lagi sama, impian, teman-teman, dan entah apa lagi yang membuat kau yang dulu semakin mengabur dalam jarak pandanganku.

Kau mundur, perlahan, hingga aku bahkan tak pernah bisa mengingat kapan tepatnya kau benar-benar menghilang, menggenapkan jarak yang sudah menjadi sangat, sangat jauh bagi kita.

Dan seperti banyak hal lain yang tidak aku ketahui alasannya, pikiranku mengkhianatiku dan aku terjebak dalam kenangan-kenangan itu. kau. dan semuanya yang bisa aku ingat tentangmu.

Aku tidak mengerti bagaimana caranya bilang padamu, sekarang, seperti bagaimana aku juga tidak mengerti apa jawaban atas pertanyaan sebenarnya apa yang salah dengan kita?

Tapi tetap saja, segala hal punya batas waktunya sendiri, dan hari ini rupanya ketidakmengertianku tidak butuh alasan untuk bersembunyi lagi.

Jadi, maaf kalau aku mungkin terdengar seperti seorang gadis-cengeng-dan-tidak-stabil-yang-tidak-jelas-apa-maunya untukmu.

Soalnya, walaupun aku sudah mencoba mengunci mulutku atau hatiku atau bahkan pikiranku rapat-rapat,

tetap saja ada kalimat yang berhasil menyelinap keluar dan meningkahi kewarasanku.

Dan maaf, karena walau bagaimanapun tidak inginnya aku mengakui ini, aku tetap kepengin bilang : abang, aku kangen.

 

DING!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s