Langit yang Sama

taken from rosaslittleparadise.tumblr.com

***

semacam sudut pandang lain dari ini

Padamu, aku pernah bilang, bahwa aku terlalu istimewa, hingga sampai kapan pun kamu tak akan pernah sanggup untuk lupa. Sepertinya, aku sudah kena karma. Karena rupanya melupakanmu telah menjadi sama tak mungkinnya. Dunia telah berputar untuk entah keberapa ratus kalinya, tetapi aku masih berdiam di sini, memunguti remah-remah kenangan—pemberian waktu yang terlalu cepat berjalan.

Hari berkalibrasi, tempat-tempat berevolusi, orang-orang datang dan pergi, tetapi aku masih tetap sama—sendiri, mengasihani diri. Dalam jam-jam yang aku habiskan untuk memikirkanmu, aku tahu bahwa sejak awal aku sudah tak punya daya untuk belajar menjauh dari segala tentangmu.

Sama, seperti ketika kali ini aku datang kemari, sengaja duduk di meja sudut dekat jendela, memesan dua cangkir kopi—satu untukku, satu untukmu. Aku ingin mengenang, sekaligus menjumpaimu tanpa kau perlu tahu. Biar, biar aku sendiri yang merasai samar bau parfummu menguar dari kursi kayu di seberangku—kursi yang beberapa menit yang lalu baru saja kau duduki. Biar, biar sisa-sisa asap rokokmu yang kubenci memenuhi indera pembauanku, menjelaskan betapa nyatanya keberadaanmu. Biar, biar kopi tanpa gula favoritmu mendingin dalam cangkirnya, agar aku tahu bahwa kamu ada tapi juga tiada untukku.

Hatiku rapuh, tapi belum mau luruh. Cintaku patah, tapi masih menolak untuk mengaku kalah. Karenanya, biar aku sendiri yang memejam dan mencintaimu diam-diam. Aku tak akan lagi mengharapkan balasan.

Kita, idiot yang menjadikan jarak sebagai alasan untuk tak lagi berjalan bersisian, tak punya hak untuk menyalahkan takdir atau kebetulan-kebetulan picisan. Terimalah, kita adalah kisah yang dipertemukan tetapi tidak untuk dibersatukan. Kita adalah cerita yang tersampaikan tetapi tidak untuk diinterpretasikan. Singkatnya, aku dan kamu cuma figuran dalam hidup satu sama lainnya.

Satu hal, kuminta padamu jangan datang tigapuluhmenit lebih awal. Aku tidak ingin kamu melihatku berbicara pada kursi kayu kosong yang tak bernyawa. Begitu pun aku,yang enggan melihatmu memesan caffe latte kesukaanku seperti yang aku tahu suka kau lakukan diam-diam.

Cukup kau ketahui, kita berdua masih memandang langit yang sama. Karenanya, aku masih tak akan kemana-mana.

 

DING!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s