Without Words [12]

taken from back-to-five.tumblr.com

***

Title : Without Words [12]

Author : Yuridista

Genre : Friendship, slightly romance and yaoi

Pairing : YunJae

Rating : AA-PG

Length : Multi Chapter-2.075 w

BGM : Love Is Like A Snowflake-Xia Junsu (OST Nice Guy)

Disclaimer : Fanfiction ini dibuat semata-mata untuk kepentingan hiburan dan seluruh karakter yang terdapat di dalam fanfiction ini bukan milik penulis. Ide, plot, dan alur cerita murni dari hasil imajinasi penulis. Tidak diizinkan mengcopy-paste tanpa seizin penulis.

p.s : previous part is here.

***

Boa mengangkat wajahnya dan menatap lurus-lurus Yunho tepat di manik matanya. “Ada yang salah dengan Changmin.”

Yunho menelan ludah. Itu tadi pernyataan, bukan pertanyaan. Setelah menandaskan dua kaleng soda, Boa akhirnya sadar juga bahwa memang ada yang tidak beres dengan bocahnya—si Tuan Muda Shim itu. Sayangnya, sekarang-sekarang ini Yunho sedang benar-benar tidak punya selera untuk membahas Changmin dan keanehaannya, lebih-lebih dengan wanita yang masih bersiteguh memandangnya dengan tatapan tajam menjurus mengerikan itu.

“Ngh?” Yunho melenguh tanpa minat, memilih untuk menusuki tteokpokki setengah dingin yang masih memenuhi nyaris separuh piring makannya.

Boa berdecak tak sabar, sekonyong-konyong merenggut lengan sebelah kiri kemeja lelaki di hadapannya. “Ayolah, Jung Yunho. Aku tahu ada yang tidak beres dengan anak itu. Apa dia tidak suka aku datang kemari menjengukmu?” tuntutnya penuh tekanan.

Yunho melengos dari piringnya, menolak untuk menatap mata wanita yang menyala-nyala di hadapannya. “Cuma perasaanmu saja, mungkin,” dia menggumam tak jelas.

No, jangan mengelak denganku, Yunho-ya,” Boa menggeleng, air mukanya keras kepala. “Kau terlalu gampang ditebak, tahu.”

Yunho mendadak terhenyak mendengar ucapan Boa yang serasa bagai pukulan telak meghunjam ulu hatinya. Terlalu gampang ditebak, yeah, oke, dia memang seperti itu. Dunianya terlalu sempit untuk diisi dengan rahasia dan misteri. Dia tidak seperti Changmin yang pandai menyembunyikan perasaannya dengan memasang ekspresi ‘mati’ atau seperti Heechul yang memegang entah berapa banyak kartu As untuk skandal artis-artis teman dekatnya. Dunianya hanya sebatas DBSK, Changmin, keluarganya, dan masa lalunya yang penuh luka berdarah-darah. Membaca perasaannya sama gampangnya dengan mengeja tulisan dalam buku cerita anak-anak bergambar. Well, entah kenapa Yunho baru sadar bahwa dunianya sungguh membosankan—dan menyedihkan, tentu saja.

“Kau mau tutup mulut begitu sampai kapan, heh?” Boa menceletuk, menginterupsi kelana pikirannya.

“Eh?” Yunho mengerjap gugup. “Sorry, Boa-ya. Sampai di mana kita tadi?” Dia berujar, kali ini terpaksa mengangkat wajah untuk balas memandang Boa.

Boa menggeleng-geleng dengan prihatin, sekali lagi menyuarakan decakan tak sabar bercampur kasihan. “Sayang sekali, tapi sejak tadi kita masih diam di tempat, Mister Jung. Kau belum menjawab satu pun pertanyaanku, ingat?”

Yunho menghela napas, kemudian menjawab, “Ada yang aneh dengan Changmin—begitu, kan, menurutmu?”

“Bukan menurutku, tapi memang ada yang aneh dengan bocah itu,” Boa menyergah buru-buru.

“Dan apa tepatnya yang membuatmu menyimpulkan begitu, Boa-sunbae?” Yunho melanjutkan bertanya.

Boa mengedikkan bahunya sekilas. “Waktu aku datang tadi, dia bilang padaku kau pergi padahal jelas-jelas kau sedang mandi. Ekspresinya juga aneh waktu membukakan pintu untukku.”

Yunho menaikkan sebelah alisnya, merasa kurang paham. “Aneh—maksudnya?”

“Hmmm. Bagaimana mengatakannya, ya? Mungkin seperti…kaget? Atau campuran antara kaget dan ketakutan? Atau kaget dan jengah?” Boa mendesah tak yakin. “Entahlah, pokoknya aku yakin saja kalau dia tidak nyaman dengan kedatanganku malam ini. Ada apa, sih, sebenarnya?”

“Sejujurnya, dalam hal ini pengetahuanku juga tidak lebih baik darimu, Boa-ya. Aku juga tidak mengerti ada apa dengan Changmin,” jawab Yunho sungguh-sungguh. “Dan kali ini aku bicara yang sebenarnya,” tambahnya ketika dia menangkap kilat sangsi di mata Boa.

Boa memajukan bibir bawahnya, nyata-nyata tampak kecewa. “Tapi…bukankah Changmin bercerita tentang apa saja padamu? Maksudku, kau, kan, bisa dibilang sudah seperti kakak kandungnya sendiri.”

Tawa Yunho yang kering terdengar. “Kau salah besar, Nona. Aku memang bercerita apa saja padanya, tapi tidak sebaliknya. Bahkan sampai detik ini pun aku masih kesulitan menebak apa yang dirasakannya hanya dari melihat ekspresi wajahnya. Kalau dipikir-pikir, mungkin Kyuhyun lah satu-satunya orang yang mengetahui semua rahasia anak itu.”

“Eh? Kyuhyun? Serius, nih? Jadi selama ini mereka bukan hanya sekedar teman minum soju saja?” Boa membelalak tak percaya.

Yunho memutar matanya. “Dasar kau bodoh. Tentu saja bukan. Mereka itu bisa dibilang sudah seperti sepasang anak kembar siam yang kemana-mana selalu berdua. Kalau saja bisa, bukan tidak mungkin sekarang Changmin sudah mengepak kopernya dan pergi dari sini untuk tinggal bersama Kyuhyun. Mereka itu semacam ‘sahabat sejati’. Ngerti, kan?”

Mulut Boa membulat mendengar penjelasan Yunho barusan. “Oke. Aku sudah mengerti sekarang,” angguknya paham.

“Bagus.” Yunho balas mengangguk. “Jadi, kalau kau memang benar-benar menginginkan penjelasan soal keanehan yang menurutmu sedang terjadi pada Changmin, lebih baik segera buat janji dengan Kyuhyun. Kudengar anak itu sangat sibuk,” tambahnya, kemudian menyeringai lebar, diam-diam berharap bahwa wanita di hadapannya itu tidak akan benar-benar melakukan apa yang baru saja dikatakannya.

***

“EH?! Jadi kau sungguhan meminta Yunho-hyung menjauhi Boa-noona?” Kyuhyun memekik tertahan usai tigapuluhmenit penuh menekuri kisah Changmin yang kini tengah terduduk lemas di sofa di seberangnya.

Changmin mengangguk sekali, kemudian menyesap winenya tanpa semangat. “Aku tahu kalau noona suka pada Yunho-hyung, Kyuhyun-ah. Padahal kau tahu sendiri bagaimana sifat lelaki tua itu. Mana bisa aku membiarkan wanita sebaik Boa-noona menghabiskan waktunya untuk mengharapkan laki-laki yang jelas-jelas sudah mati rasa pada wanita begitu?” ujarnya dengan nada prihatin.

Kyuhyun mendesah pendek. “Tapi Boa-noona, kan, salah satu sahabat terbaik Yunho-hyung, Changmin-ah. Dengan kondisi psikologisnya yang masih belum stabil begitu, masa kau tega memintanya menjauhi salah satu dari sedikit orang yang masih bisa dipercayainya? Jangan egois, Changmin-ah. Kau tidak kasihan, ya, pada Yunho-hyung?”

“Aku sudah capek mengasihani dia,” tukas Changmin datar. “Kau tahu, ini bahkan sudah hampir tiga tahun sejak perpecahan kami tapi lelaki tua itu masih saja sibuk menyalahkan dirinya sendiri atas semua yang terjadi. Dia kira selama ini dia sedang melindungi aku dengan berpura-pura menjadi kuat di hadapanku. Cih, padahal jelas-jelas aku selalu melihatnya menangis sendirian nyaris setiap malam sambil menyebut-nyebut nama mereka bertiga.”

“Changmin-ah, menjadi Yunho-hyung itu berat, tahu. Kau harusnya mengerti, dia melakukan semuanya karena dia memang benar-benar menyayangimu,” Kyuhyun berujar, mencoba menasehati sahabatnya selembut mungkin.

“Tapi aku sudah bukan bocah kecilnya lagi, Kyuhyun-ah. Aku sudah bukan anak ingusan limabelas tahun yang bisa diremehkan olehnya lagi. Aku ini sudah jadi lelaki dewasa. Sudah bukan masanya lagi menyembunyikan segalanya dariku dan berakhir dengan menyakiti dirinya sendiri. Aku hanya mau dia bisa percaya padaku, Kyuhyun-ah. Aku hanya mau dia bisa membagi sedikit saja kesedihan, luka, dan ketakutannya denganku.”

“Aku mengerti, tapi—“

“Aku selalu melihat luka itu di matanya setiap kali ada yang menyebut nama Jaejoong-hyung di dekatnya,” Changmin kembali berkata, memilih untuk mengabaikan interupsi Kyuhyun barusan, “Aku juga melihat luka yang sama setiap kali dia melihat gambar Kim Jaejoong, mendengar suaranya, melihat benda-benda yang berhubungan dengannya, atau melewati tempat-tempat yang dulu pernah mereka kunjungi bersama. Tapi setiap kali aku mencoba untuk mengajaknya bicara, dia selalu menghindar, berkata bahwa semua baik-baik saja. Sekarang katakan padaku, siapa yang egois di sini, Kyuhyun-ah? Aku atau dia?”

“Errr, kurasa bukan dua-duanya, Changmin-ah,” Kyuhyun menyahut gugup. “Ini cuma masalah sudut pandang saja. Kau yang ingin bersama-sama menghadapi semuanya karena terlalu sayang padanya, dan dia yang tidak ingin kau ikut terluka juga karena terlalu sayang padamu. Lihat, sebenarnya kalau disederhanakan dua-duanya sama-sama punya maksud yang baik, kan? Tidak ada yang sengaja ingin menyakiti satu sama lain di sini, baik kau maupun Yunho-hyung.”

Changmin menghela mapas. “Well, kalau begitu jangan salahkan aku kalau sekarang aku memintanya menjauhi Boa-noona. Ini bagian dari maksud baikku juga, kan?” tanyanya acuh tak acuh. “Aku hanya ingin dia sadar bahwa tidak baik menyakiti orang lain yang benar-benar tulus mencintainya hanya karena dia merasa bahwa dia lah orang yang paling menderita sedunia. Itu sama saja dengan memaksa seseorang untuk ikut bunuh diri dengan terjun ke jurang bersamamu, menurutku.”

Kyuhyun mengedikkan bahunya. “Entahlah, Changmin-ah. Aku masih tidak yakin dengan hal itu, tapi aku tahu bahwa aku tidak akan bisa mengubah keputusanmu kali ini. Jadi, yah, kita lihat saja bagaimana nantinya. Yang jelas aku akan siap membantu kapanpun aku dibutuhkan,” katanya seraya menyunggingkan senyum bersimpati. “Pulang, yuk. Aku sudah janji pada Sungmin-hyung untuk membawakannya eskrim kacang merah sebelum jam tidurnya lewat, nih,” lanjutnya, kemudian bangkit berdiri dari sofa yang didudukinya.

Changmin balas tersenyum, mengangguk, kemudian ikut bangkit dari duduknya. “Dan satu lagi sebelum pulang, Kyuhyun-ah. Aku melakukan semua ini karena Yoochun-hyung bilang Jaejoong-hyung sudah nyaris gila gara-gara melihat penampilan Boa-noona bersama Yunho-hyung. Aku hanya ingin mengamankan nyawa noona dari incaran Jae-hyung saja sebenarnya,” ucapnya, kemudian menampilkan senyum separonya.

Sepasang mata Kyuhyun membulat terkejut. “Apa? Yoochun-hyung? Kau masih berhubungan dengannya? Serius? Kau tidak sedang bercanda, kan? tanyanya beruntun.

Changmin tergelak. “Yeah, dan aku bahkan akan menemuinya usai konser kita di Indonesia nanti. Aku janjian dengannya untuk bertemu di sana. Untuk alasan keamanan saja, sih,” jawabnya seraya berjalan mendahului Kyuhyun menuju meja kasir.

Kyuhyun buru-buru membuntuti Changmin, masih dengan ekspresi ingin tahu mengental di wajahnya. “Kau gila, Shim Changmin. Apa kau tahu itu?” komentarnya tak habis pikir.

Sekali lagi, tawa Changmin terdengar. “Bukankah karena itu kita berteman dan kau menjadikanku orang nomor satu Kyu-line?” balasnya sarkastik, kemudian berbalik melangkah menuju pintu keluar seraya menambahkan, “Lain kali kau yang bayar, ya?”

***

“Jaejoong-hyung sudah gila,” Junsu mendesis tak percaya kepada Yoochun yang tengah duduk santai sambil memagut rokoknya dengan nikmat di sofa di samping Junsu.

“Aku tahu,” sahut Yoochun, agaknya sudah kelewat familiar dengan kalimat yang diucapkan Junsu barusan.

“Kita harus mencegahnya pergi, Yoochun-ah. Kau tahu betapa sintingnya dia sekarang-sekarang ini, kan?” Junsu berujar tak sabar, tangannya tanpa sadar mencengkeram erat remote televisi dalam genggamannya.

“Aku tahu,” Yoochun mengangguk lagi, “tapi kita sudah tidak bisa mengubah apa-apa, Junsu-ya. Lagipula, aku sudah memastikan kalau dia tidak akan pergi pada tanggal 22 bulan ini kok. Manager-hyung bersumpah dia tidak akan bersekongkol dengan Jae-hyung untuk menipu kita berdua kali ini.”

Junsu mengangkat sebelah alisnya, kelihatan benar-benar sangsi. “Kau yakin?”

“Hmmm,” gumam Yoochun, masih tenggelam dalam hembusan asap rokoknya. “Dia akan pergi tanggal tiga bulan November. Itu berarti sudah selang dua bulan sejak kedangan Changmin dan Yunho-hyung ke Indonesia. Kau tidak usah khawatir, aku sudah memikirkan semuanya dengan baik.”

“Termasuk soal rencanamu bertemu dengan Changmin?” Junsu buru-buru menimpali.

Yoochun refleks menyeringai, menampilkan deretan giginya yang rata tanpa cela. “Kau tahu, aku benar-benar sudah tidak sabar ingin segera bertemu dengan adik kecil kita itu. Hal pertama yang akan aku lakukan kalau sudah melihat wajahnya adalah menyuruhnya untuk makan banyak-banyak. Dia kelihatan seperti zombie sekarang, dan aku yakin itu pasti gara-gara Yunho-hyung terlalu sering merepotkannya.”

“Kau benar, Yoochun-ah. Yunho-hyung sudah terlalu terbiasa diurusi oleh Jae-hyung, dan sekarang Changminlah yang mau tidak mau harus menggantikan perannya. Padahal kau tahu sendiri bagaimana dia, tahunya cuma tidur, makan, dan pergi minum bersama Kyuhyun. Bocah sepolos itu, bagaimana tidak stres kalau harus disuruh mengurus lelaki tua tukang rajuk macam Yunho-hyung?” ujar Junsu dengan pandangan menerawang dan berkaca-kaca. Seulas senyum pahit terbentuk di bibirnya ketika ingatan membawanya kembali ke masa-masa di mana definisi kebahagiaan untuknya adalah orang-orang bernama Jung Yunho, Kim Jaejoong, Park Yoochun, dan Shim Changmin.

Di sebelahnya, terdengar helaan napas Yoochun yang panjang dan berat. “Aku kangen mereka berdua, tahu,” bisiknya tanpa tedeng aling-aling.

Junsu ikut mendesah. “Yeah, pokoknya kali ini kita harus bisa melakukan sesuatu, Yoochun-ah. Kau dan Changmin harus bisa bertindak cepat sebelum dua lelaki sinting itu benar-benar harus dimasukkan ke rumah sakit jiwa. Aku di sini akan berusaha sekuat tenaga untuk menjauhkan Jae-hyung dari ipad sialannya itu, oke?”

“Ha, masih soal comeback Boa itu, ya?” Yoochun berujar setengah geli setengah prihatin.

Junsu mengangguk-angguk penuh emosi. “Masa cuma gara-gara melihat mereka menari berdua lelaki itu bisa banjir air mata hampir tiap hari begitu, sih?”

Yoochun mengedikkan bahunya kemudian berujar, “Namanya juga Kim Jaejoong. Mana bisa kalau tidak bertingkah kelewat melankolis dan dramatis? Berani taruhan, kalau dia sampai melihat Yunho-hyung menari bersama Boa di acara yang lain lagi, kita tidak akan bisa mencegahnya untuk nekat mendatangi Yunho-hyung tak peduli di manapun dan kapanpun dia berada.”

***

Jakarta, 22 September 2012

Yunho tengah sibuk melatih suara falsettonya di belakang panggung ketika dilihatnya managernya menghampirinya dengan tergopoh-gopoh. “Ada apa?” tanyanya penasaran, merasa ada yang tidak beres sedang terjadi pada managernya.

“Perubahan rencana. Kau tidak jadi tampil berdua dengan Boa di lagu Only One,” kata si manager dengan suara seperti tercekat.

Yunho tertegun. “Hah? Kenapa?”

Si manager menggeleng takut-takut. “Permintaan Changmin, katanya kondisimu sedang kurang fit jadi tidak bisa bergerak terlalu banyak. Akhirnya Taemin diajukan untuk jadi penggantimu.”

“Apa tadi kau bilang? Permintaan Changmin?” serunya, tiba-tiba saja merasa amarah mulai merambati ubun-ubunnya.

“Ya,” jawab si manager, gelagatnya sudah menunjukkan kalau dia ingin segera menghilang dari hadapan Yunho.

Yunho membuang napas. “Dia pikir dia siapa, seenaknya saja mengganti setlist hanya beberapa jam sebelum acara dimulai?! Pakai menggunakan kondisi kesehatanku sebagai alasan, pula. Dia mau mempermalukan aku di hadapan para sunbae dan hoobae, ya?” pekiknya emosi, kemudian kembali menatap managernya dengan pandangan garang, “Katakan padaku di mana dia sekarang, Hyung. Aku akan memberinya pelajaran sekarang juga.”

Manager Yunho menelan ludah kemudian menjawab perlahan, “Err, di ruang ganti Super Junior, sepertinya. Aku tadi sempat melihatnya latihan menyanyikan Just The Way You Are berdua di sana.”

Sedetik kemudian, Yunho sudah melesat dari hadapannya.

DING!

Iklan
Without Words [12]

2 pemikiran pada “Without Words [12]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s