[#UIMenulis] Salah Jatuh Cinta

taken from thewolvesofpatience.tumblr.com

***

Setahun yang lalu…

Sore belum menua ketika gerimis yang berpotensi menderas dalam beberapa menit ke depan memaksaku untuk berdiam di selasar samping Gedung A FKM UI. Risiko tidak bawa payung, begitu pikirku, mencoba menahan diri untuk tidak memaki keteledoran sendiri. Aku mendudukkan tubuhku di bangku kayu di dekat tangga, menimbang-nimbang untuk mengirimi pesan singkat ke beberapa teman, berharap barangkali ada yang payungnya bisa dipinjami barang sehari.

“Hei. Mau bareng?”

Kepalaku terangkat mendengar sapaan itu. Setelahnya, keningku berkerut ketika pandanganku menangkap sosok lelaki berpayung abu-abu yang tengah menatapku sambil melempar senyum. Aku tidak kenal dia, maka aku bertanya, “Ngomong sama saya?”

Tentu saja, lelaki itu mengangguk. Karena, bukankah memang hanya aku satu-satunya manusia yang bisa diajaknya bicara di selasar senyap ini? “Bareng, yuk. Kebetulan payung gue gede, nih,” dia berkata mengulangi.

“Eh? Kamu kenal saya?” Aku bertanya lagi, masih belum tergerak bangun dari bangku kayu yang aku duduki.

“Tau. Bidari anak Biostat 2010, kan? Yang ikutan Classygraph juga?” ujarnya yakin, “Gue Arsa, K3 2009.”

Keningku berkerut makin dalam mendengar penjelasannya. “Tau saya darimana Kak?” Aku bertanya penasaran.

Alih-alih menjawab pertanyaanku, lelaki bernama Arsa itu justru nyengir lebar. “Ada lah, lo nggak perlu tau. Yang penting sekarang lo mau enggak pulang bareng gue? Keburu ujannya jadi deres, nih,” katanya setengah mendesak, sembari melangkah menghampiriku.

“Errr…” Aku memandangnya ragu-ragu.

“Udah, jangan kebanyakkan mikir. Gue nggak bakal nyulik elo, kok,” sergahnya, kali ini dalam sekejap telah berhasil menarik tanganku dan membuatku bangun dari dudukku.

Mau tidak mau, senyumku lolos juga mendengar candaannya barusan. “Kalo gitu salam kenal deh Kak. Saya Bidari, Biostat 2010.”

Kak Arsa menoleh memandangku sambil memutar matanya dengan sedikit berlebihan. Bilangnya, “Ampun deh. Telat banget respon lo.”

Sejak saat itu, aku tak perlu khawatir harus menunggu sendirian lagi setiap kali gerimis dan hujan memulai ritualnya menjatuhi bumi.

***

Kampus Ungu, Desember 2012…

“Tumben banget ngajakin makan siang bareng, Kak. Ada apaan, sih?” Aku bertanya ingin tahu ketika siang itu Kak Arsa mengajakku makan siang bersama di kantin dekat Taman Matoa.

Kak Arsa menyeringai, ekspresinya sulit kutebak. “Mau tau aja apa mau tau banget?” godanya iseng.

Aku memutar mata. “Serius, Kak. Penasaran, nih,” desakku seraya menarik-narik lengan kemejanya. Dalam hati aku mulai berekspektasi tentang macam-macam hal yang mungkin akan terjadi, seperti bagaimana kalau ternyata Kak Arsa juga menyukaiku sama seperti aku menyukainya. Mungkin.

“Hmmm. Lo inget Galang nggak?” tanya Kak Arsa kemudian.

Aku mengangkat sebelah alis. “Kak Galang yang sering bareng sama Kakak itu?”

“Yep. Bener banget,” angguk Kak Arsa. “Sering merhatiin dia juga ya lo ternyata.”

“Ih, enggak tau. Asal aja nih.” Aku buru-buru menggeleng, sambil diam-diam menambahkan dalam hati, yang aku perhatiin kan Kakak. “Nah terus, apa hubungannya Kak Galang sama acara makan siang bareng dadakan ini?” lanjutku seraya bertopang dagu.

“Iya, jadi si Galang itu yang dulu ngasih tau info soal lo ke gue. Inget kan, yang waktu gue nyamperin lo di samping Gedung A pas ujan setaun lalu,” kisah Kak Arsa dengan pandangan menerawang.

Aku menggaruk kepalaku, bingung. “Bentar, deh. Kok Kak Galang bisa kenal aku sih, Kak?”

“Duh, masih telat aja sih, Bi, respon lo. Si Galang itu naksir sama lo sejak setaun lalu, makanya dia minta tolong gue buat deketin lo, cari info soal lo. Tapi dasar dia anaknya gampang jiper, yaudah deh sampe sekarang belum berani nembak elo,” timpalnya dengan nada ringan.

Sebaliknya, detik itu juga jantungku rasanya mencelos dan kepalaku mendadak pening. “Maksud Kakak—” Aku berkata dengan suara tercekat.

“Tapi lo tenang aja, Bi. Hari ini gue udah berhasil bujuk Galang supaya berani nembak elo. Itulah kenapa gue ngajakin elo makan siang bareng, ya biar enak aja gitu dia ngomongnya karena elonya udah nggak kaget. Tunggu aja, bentar lagi dia juga kesini, kok,” Kak Arsa memotong, suaranya masih sesantai sebelumnya. Bahkan, setelahnya dia masih melempar senyum yang sama dengan senyum yang selalu bisa membuatku jatuh cinta.

Aku menelan ludah, sudah terlalu kelu untuk bisa mengatakan sesuatu. Satu yang aku tahu, ternyata selama ini aku sudah salah jatuh cinta.

 

DING!

Iklan
[#UIMenulis] Salah Jatuh Cinta

8 pemikiran pada “[#UIMenulis] Salah Jatuh Cinta

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s