[#UIMenulis] Diam-Diam

taken from xxalybellexx.tumblr.com

***

Aku tengah duduk di salah satu bangku semen di Taman Bougenville sambil sibuk mengutak-atik kamera Canon D500-ku ketika telingaku menangkap suara yang sudah tak asing lagi meneriakkan namaku keras-keras.

“Kak Arka Narendra Adhyaksa!”

Aku refleks menoleh, dan senyumku langsung merekah begitu bertemu pandang dengan si pemilik suara. “Harus, ya, Bi manggilnya pake nama lengkap begitu?” sergahku begitu dia sudah berdiri tepat di hadapanku.

Bidari, nama si pemilik suara, nyengir lebar sebelum menyahut sekenanya, “Biar nggak ketuker sama orang lain.”

Aku memutar mata. “Ya kali, Bi, sampe ketuker segala,” komentarku tak habis pikir. “Eh, ngomong-ngomong buku kamu yang baru kapan terbitnya?” tanyaku kemudian.

“Ng…kayaknya sih dua minggu ke depan udah naik cetak. Kakak harus beli, lho, ya. Awas kalo nggak,” jawabnya sambil setengah mengancamku.

“Elah, dari dulu disuruh beli melulu. Digratisin, kek. Sama ketua klub plus seniornya sendiri ini,” Aku berkata, pura-pura merajuk padanya.

“Idih, males. Kalo bukuku udah selaris punya J.K Rowling baru ntar aku pikir-pikir lagi buat kasih gratisan ke Kakak. Lagian Kakak kan ngefans berat sama aku. Pasti nggak susah dong buat nambahin satu koleksi lagi,” ujar Bidari, lalu tawanya yang lepas berderai begitu saja.

Mau tidak mau, aku ikut tergelak. “Dasar perhitungan kamu, Bi. Kalo gitu jangan lupa juga dikumpulin foto-foto buat pameran Sabtu depan. Kamu kan udah janji mau setor foto paling banyak,” kataku mengingatkannya. Ya, aku dan Bidari memang sama-sama ikut Classygraph, nama klub fotografi di fakultasku. Di Classygraph, aku menjabat sebagai ketua klub sedangkan Bidari adalah salah satu anggota senior yang entah kenapa mati-matian menolak untuk menjadi BPH. Secara pribadi, aku sih tidak mempermasalahkan hal itu. Aku justru lebih tidak mengerti kenapa dia tertarik masuk ke klub fotografi padahal jelas-jelas bakat alaminya adalah menulis.

“Iya, iya. Dasar Kak Arka Narendra Adhyaksa bawel,” rutuk Bidari, pura-pura berlagak ngambek. “Eh, Kakak bantuin promosiin buku aku dong biar banyak yang beli,” katanya, tiba-tiba saja sudah kembali memasang tampang ceria.

Aku berdecak. “Males ah kalo harus promosiin buku yang isinya tulisan galau semua gitu. Ntar dikira aku juga galau, padahal beli bukunya aja dipaksa,” ejekku dengan sengaja.

Dia langsung memberengut. “Enak aja. Galau sama filosofis itu beda jauh ya, Kak. Jangan suka menyalahartikan karya seni dong,” bantahnya tak terima.

Aku tertawa. “Iya, iya, yang jago ngeles kayak bajaj.”

“Bi! Kelas yuk!”

Aku dan Bidari sama-sama menoleh mendengar suara itu—suara Aliya, yang aku sebut sebagai soulmate lahir batinnya Bidari. Saat bertemu pandang dengan gadis itu, aku mengangkat sebelah tanganku dan mengangguk padanya sambil tersenyum. “Aliya,” sapaku.

Aliya balas mengangguk. “Kak Arka,” balasnya sekilas, lalu kembali menatap sahabatnya yang berdiri di sampingnya. “Bi, ayo. Dosennya udah dateng,” katanya sambil menarik-narik lengan Bidari.

“Iya, iya. Ini orang satu juga bawelnya setengah mati,” ujar Bidari, “Kak, duluan ya, kalo gitu. Jangan lupa soal promosinya. Ntar aku kasih persenan, deh.”

“Nggak usah,” Aku menggeleng, lalu buru-buru membidik kameraku ke arahnya untuk kemudian mengambil potretnya. “Ini aja persenannya,” lanjutku sambil nyengir lebar.

Kali ini, Bidari yang gantian memutar mata. “Tuh, kan, bukti nyata tuh kalo Kakak ngefans sama aku. Awas ya kalo sampe fotonya didukunin. Nggak bakalan mempan deh kalo Kakak kepengen aku naksir sama Kakak,” dia menimpali, kemudian benar-benar berlalu setelah sekali lagi mengucapkan “duluan ya, Kak” padaku, diikuti Aliya yang buru-buru mengekor di belakangnya.

Diam-diam, senyumku terkulum saat menatap punggung gadis itu yang berjalan menjauh.

***

Lelaki itu tersenyum ketika memandangi selembar foto yang baru saja selesai dicucinya di kamar gelap markas Classygraph. Ada siluet wajah seorang gadis di dalam foto itu—gadis yang tengah menunduk memandang sepatunya dengan raut wajah yang tak terjelaskan. Si lelaki mendekatkan foto itu ke wajahnya, mencoba mengamati lebih dekat ekspresi gadis yang ada di dalam foto di tangannya.

Entah sampai kapan dia akan terus melakukan hal ini, mengambil foto gadis itu diam-diam dan menyimpannya sendiri juga dengan diam-diam, sama seperti yang tengah dilakukannya terhadap perasaannya. Mungkin sampai seminggu lagi, sebulan lagi, setahun lagi, atau untuk selamanya, dia juga tidak tahu. Untuk saat ini, dia rasa cukup dia dan Tuhan yang tahu tentang rahasia hatinya ini.

Lelaki itu lalu meraih kotak kecil di dekatnya dan membuka penutupnya. Dimasukkannya foto di tangannya ke dalam kotak yang penuh berisi foto-foto gadis yang sama namun dengan ekspresi wajah yang berbeda-beda. Sekali lagi, senyum si lelaki lolos dari bibirnya ketika memandangi tumpukan foto-foto itu—foto-foto gadis yang dicintainya.

Perlahan, ditutupnya kembali kotak yang di atasnya bertuliskan nama gadis itu—

Aliya Kinandra.

 

DING!

Iklan
[#UIMenulis] Diam-Diam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s