[#UIMenulis] (Bukan) Sepatu Cinderella

taken from http://www.facebook.com

***

Kata orang, sepatu yang bagus akan membawamu ke tempat-tempat yang bagus pula, di mana kau akan bertemu orang-orang menakjubkan yang mungkin tak pernah kau bayangkan. Tapi…tunggu sebentar. Sepertinya kalimat itu bukan aku dapat dari seseorang, melainkan dari dialog dalam drama Boys Before Flowers versi Korea. Tahu, kan? Drama yang ada Lee Minho idola sejuta umat itu. Tidak? Oh, well, lupakan saja. Maksudku Lee Minho-nya, bukan kalimatnya. Soalnya sekarang aku justru sedang ingin menganalisis soal kebenaran teori sepatu itu.

Pertama-tama, coba lihat sepatu yang aku pakai—sepatu kanvas merk Converse yang tingginya semata kaki dengan warna hitam yang sudah pudar karena terlalu sering dipakai dan dicuci. Menurutku sepatu ini tidak jelek sih, karena secara personal aku lebih menyukai jenis sepatu seperti ini ketimbang jenis sepatu-sepatu menyiksa yang tingginya belasan senti dan ujungnya lancip nyaris seperti jarum itu. Dan kalau dilihat-lihat, teori sepatu yang pertama aku sebutkan tadi kelihatannya benar karena buktinya bersama sepatu ini aku telah pergi ke tempat-tempat ajaib yang sebelumnya tak pernah aku kunjungi. Contohnya saja, aku berhasil menginjakkan kaki di Universitas Indonesia yang notabene adalah tempat menimba ilmu yang aku impi-impikan sejak cita-citaku masih berkisar antara menjadi dokter anak atau insinyur pertanian.

Bersama sepatu ini, aku juga sudah mengunjungi Bandung—kota terfavoritku sepanjang masa, Bali—yang menurutku keren sekali, Jakarta—yang penuh dengan gedung-gedung pencakar langit dan lampu-lampu kota yang seolah berlomba-lomba untuk bisa bersinar paling terang, dan tempat-tempat lain yang tidak kalah menakjubkannya.

Karenanya, mari kita anggap teori sepatu yang pertama itu benar. Tapi soal teori yang kedua, sepertinya aku sedikit sangsi. Sepatu yang indah akan membuatmu bertemu orang-orang menakjubkan yang tak terduga—aku kok tidak yakin dengan poin yang ini. Soalnya, bersama sepatu ini entah kenapa akhir-akhir ini aku selalu bertemu orang yang sama, yang itu-itu saja—mahasiswa fakultas sebelah yang aku tidak tahu namanya.

Maksudku bertemu terus-terusan bukannya mengada-ada, lho. Aku memang benar-benar bertemu dia di mana-mana. Di Gang Senggol saat berangkat kuliah, di Jembatan depan Margo City saat habis menyeberang sepulang kuliah, di warung makan dekat palang pintu kereta Stasiun Pondok Cina, di Foodcourtnya Detos, dan di trotoar depan Gramedia, dan bahkan di fakultasku sendiri, FKM, rasanya tak ada hari yang kulewatkan tanpa melihat orang asing dengan wajah familiar itu.

Awalnya, aku tak ambil pusing dengan pertemuan-pertemuan yang sepertinya cuma kebetulan ini, tapi lama-lama aku rasa dia sengaja mengikutiku. Atau kalau katakanlah teori sepatu yang kedua tadi memang benar, berarti dia salah satu orang menakjubkan dalam hidupku dong? Atau kalau bukan begitu…jangan-jangan dia jodohku? Jangan-jangan…sepatuku ini fungsinya mirip sepatu kacanya Cinderella yang pada akhirnya bisa membuat pemiliknya menemukan takdirnya dan hidup bahagia selamanya?

Ups. Baru saja dibicarakan, orangnya sudah muncul entah darimana. Tuh kan, jangan-jangan dia memang jodohku. Haha. Apapun itu, aku sudah memutuskan. Kali ini, sepertinya aku harus bertanya padanya, siapakah gerangan dia sebenarnya. Hitung-hitung menghilangkan rasa penasaran sekalian kenalan. Iya, kan?

“Hei,” sapaku di tengah-tengah koridor di depan Gedung B fakultasku.

Dia, yang berjalan dari arah berlawanan, langsung menghentikan langkahnya dan menatapku dengan pandangan bingung. “Sori? Ngomong sama gue?” tanyanya tak yakin.

Aku mengangguk, sedikit salah tingkah. “Lo inget gue, kan?” Aku berkata seraya menunjuk diriku sendiri.

“Eh? Ng…siapa, ya?” Dia menyahut, sepasang matanya mengamatiku dengan seksama.

Aku berdeham sekali sebelum berujar, “Kita sering ketemu. Di Detos, di deket Margo, di depan Gramedia, di Gang Senggol, di kantin FKM. Gue curiga kalo lo sebenernya ngikutin gue.”

“Hah?” Dia tampak terkejut. “Ngikutin lo? Maksudnya apa, nih?”

Aku mengangkat bahu sekilas. “Abisan gue sering banget liat lo di sekitar gue. Gue jadi rada aneh aja gara-gara ketemu lo melulu di mana-mana.”

“Hmm. Tunggu bentar deh. Lo bilang lo sering ketemu gue di mana tadi? Di Detos, di deket Margo, di Gang Senggol, sama di depan Gramedia?” Dia bertanya, mengulangi kalimatku sebelumnya.

Aku hanya menjawab dengan anggukan.

Dia tertawa. “Ya iyalah lo sering ketemu gue di situ. Orang kosan gue di belakang Gramedia. Nggak aneh kan kalo gue berangkat sama pulang kuliah lewat situ-situ juga?” sahutnya setelah tawa panjangnya mereda.

Aku memajukan bibir bawahku. “Kalo gitu kenapa gue sering liat lo di kantin FKM? Bukannya lo ada kantin sendiri di MIPA?” tanyaku belum mau kalah.

“Ye, ya terserah gue dong kalo mau makan di kantin FKM. Makanan FKM enak-enak, lagian deket ini sama MIPA,” sergahnya.

“Terus waktu itu kenapa lo juga makan di warung deket stasiun Pocin pas gue di situ?” Aku masih ngeyel.

Dia tergelak lagi. “Duh, ampun deh ini anak. Emang elo doang yang boleh makan di daerah situ? Gue juga bayar kali makannya. Kebetulan aja kita makannya barengan.”

Aku menghela napas, susah payah menahan rasa malu bercampur jengkel yang kini mulai merayapi hatiku. “Oke. Terakhir gue nanya nih, elo kenapa sih sering banget keluar masuk FKM dengan tampang tak berdosa gitu? Nggak di BPM, nggak di Bugen, nggak di sepanjang koridor kayak sekarang, gue sering banget liat muka lo. Kalo yang ini, lo nggak mungkin bakal bilang emang sengaja inspeksi fakultas gue, kan?” tukasku, kali ini yakin bahwa dia tak akan bisa lagi membantah atau menyergah.

Kali ini, dia yang gantian menghela napas sebelum berkata lambat-lambat dan penuh penekanan, “Jawabannya…karena cewek gue anak FKM, makanya gue sering nyamperin dia ke sini. Puas lo sekarang?”

Detik itu juga aku terhenyak, tak sanggup membayangkan sudah seberapa merah muka, leher, plus telingaku. Tanpa kata, buru-buru aku menyingkir dari depan si mahasiswa tak bernama bersama sepatu Converse-ku, terlalu malu untuk minta maaf apalagi bertanya nama sambil bilang sampai jumpa. Duh, bodoh sekali aku. Rupanya aku cuma salah sangka. Teori sepatu yang kedua sepertinya memang benar-benar perlu dikaji lebih lanjut kebenarannya. Nyatanya, sepatuku memang hanya sepatu biasa, bukannya sepatu bagus dan ajaib seperti milik Mbak Cinderella.

 

DING!

 

 

 

 

Iklan
[#UIMenulis] (Bukan) Sepatu Cinderella

6 pemikiran pada “[#UIMenulis] (Bukan) Sepatu Cinderella

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s