[#UIMenulis] Pengakuan

taken from movies-quotes.tumblr.com

***

Depok, akhir Agustus 2013

Bangku-bangku di Taman Bougenville masih lengang ketika aku tiba pagi itu. Masih belum tampak manusia-manusia yang biasanya duduk memenuhi deretan bangku sambil sibuk bercengkrama dengan layar-layar laptop mereka. Aku menghirup napas dalam-dalam dan segera saja bau hujan bekas semalam memenuhi indera penciumanku. Sungguh, rasanya sangat melegakan ketika kau bisa menikmati pagimu bersama tanah yang basah selepas hujan dan embun yang masih betah berjatuh-jatuhan di antara dedaunan.

Aku melangkah di sepanjang koridor sembari melayangkan pikiranku kemana-kemana, meski pada akhirnya semua tetap akan kembali bermuara kepadamu—kamu, yang tak pernah alpa mengisi baris-baris dalam ceritaku. Ini sudah dua tahun, tetapi rasanya aku justru semakin tak bisa menemukan jalan untuk pulang dari perjalanan menuju duniamu. Padahal seharusnya sekarang sudah waktunya aku kembali, karena September akan datang mengetuk pintu rumahku sebentar lagi.

Ya, karena bukankah September tahun ini adalah serupa ungkapan selamat tinggalku kepadamu?

***

“Sebentar lagi dia diwisuda lho, Al,” Bidari, sahabatku, berkata dengan ekspresi wajah serius selepas makan siang hari itu.

Aku membuang napas. “Terus?” tanyaku berusaha tampak acuh tak acuh.

Bidari berdecak tak sabar. “Ya terus kamu mau gimana? Mau tetep keukeuh mendem perasaan kamu sama dia atau…” Dia sengaja menggantung kalimatnya.

“Tau ah, Bi. Aku lagi males mikirin itu sekarang. Pusing,” tukasku, berpura-pura lebih tertarik memandang dua ekor kucing yang tengah sibuk saling mengejar di antara bangku-bangku semen BPM.

“Dih, jutek. Apanya yang males mikirin coba? Wong pikiranmu tiap hari justru isinya cuma dia kok,” sergah Bidari tepat sasaran.

Aku memberengut. “Sok tau ini anak. Yang penting sekarang kamu udah kerjain itu laporan magang belom?”

“Belom. Nanti deh dikerjain. Deadlinenya masih lama ini.” Bidari nyengir, wajahnya samasekali tidak tampak merasa bersalah.

Aku menggeleng-geleng dengan prihatin. “Jangan males gitu ah, Bi. Kasian amat PA kamu kalo tiap hari musti pusing ngurusin anak bimbingan macem kamu begini,” kataku mencoba menasehatinya.

Bidari memajukan bibir bawahnya. “Sebodo. Mending kasianin aja itu hati kamu yang udah dua tahun nyimpen perasaan sama Kak Arka. Meledak baru tau rasa, lho,” balasnya setengah mengejek setengah sungguh-sungguh.

Aku langsung melotot dan refleks melayangkan cubitan maut ke lengannya sambil berteriak, “Dasar bawel!”

***

Depok, September 2013

Entah sejak kapan aku merasa jantungku lenyap dari rongganya ketika hari itu mataku harus bertemu pandang dengan milikmu. Aku menelan ludah, berusaha mengingatkan diriku sendiri untuk tidak mempermalukan diri sendiri di hadapanmu. Alih-alih, aku memaksakan seulas senyum canggung dan sekilas lambaian tangan untuk menyapamu.

“Kak,” kataku dengan suara yang sialnya masih terdengar seperti tercekat.

Kau lalu menyunggingkan senyum—senyum yang sudah setengah mati aku hafal di luar kepalaku. “Aliya,” balasmu ringan.

Aku mengangguk, tetapi jantungku langsung mencelos ketika menyadari bahwa kau sepertinya tak akan segera menghilang dari pandanganku. Masih dengan senyum dengan efek ingatan permanen itu, kau justru berhenti tepat di hadapanku, menempatkanku pada pertimbangan sulit tentang apa yang seharusnya aku ucapkan kepadamu setelah ini.

“Err, sebentar lagi kakak diwisuda, ya?” tanyaku setelah tak berhasil menemukan kalimat lain di dalam kepalaku.

Kau mengangguk lalu menambahkan, “Kalau sesuai rencana sih begitu. Doain aja, ya? Kamu juga cepetan nyusul tahun depan, Al.”

Aku meringis. “He-eh. Saling mendoakan aja ya, Kak.”

“Pasti, Al,” ujarmu, entah kenapa masih betah memamerkan senyum itu di wajahmu.

“Kalo gitu saya duluan, Kak,” Aku berkata, pada akhirnya tak tahu lagi harus bagaimana.

Kamu pun mengangguk lagi untuk kesekian kali sambil menyahut, “Oh, oke. Silakan, Al. Sukses, ya.”

Dalam hati, diam-diam aku berharap kamu tadi tak sepeka itu untuk bisa membaca hatiku.

***

H-1 wisuda FKM UI…

Pada akhirnya, aku harus mengakui bahwa dalam hal ini Bidari mengatakan hal yang benar—bahwa apa-apa yang ingin diselesaikan butuh diungkapkan. Dan dalam kasusku, aku ingin masalah perasaan yang tak tersampaikan ini segera terselesaikan. Toh, aku bukannya tak pernah memikirkan bahwa sejak awal sebenarnya aku hanya jatuh cinta sendirian. Maka, hari ini aku telah memutuskan untuk mengatakan apa yang selama ini sudah aku simpan diam-diam. Kepada kamu, tentu saja, yang telah aku jatuhi cinta yang bertepuk sebelah tangan.

Ajaibnya, menemukanmu hari ini sama gampangnya dengan menemukan Bidari di kantin dekat Taman Matoa pada jam istirahat siang. Aku bahkan tak perlu repot-repot mencarimu dari gedung ke gedung karena kau sudah ada di sana, berdiri dengan tampang sumringah di pintu masuk dekat lobi G.

Aku menelan ludah, diam-diam mengutuki diriku sendiri tentang betapa mudahnya aku merasakan sensasi roller-coaster setiap kali kamu ada. Mungkin ini risiko jatuh cinta, tapi tetap saja, bagiku jantung yang berdentam-dentam menyakitkan seperti ini bukan awal yang bagus untuk memulai sebuah pengakuan.

Rasanya aku sudah kebas sampai ke lutut ketika pada akhirnya aku berhasil menyeret sepasang kakiku untuk sampai tepat di hadapanmu. Aku mengangkat wajah, menyunggingkan senyum canggung yang biasa, dan mencoba menyapa, “Hai, Kak.”

Lagi-lagi, senyum trademark-mu kau perlihatkan kepadaku. “Hai, Al,” balasmu.

“Err, saya mau ngomong sesuatu nih. Kakak ada waktu enggak, ya?” tanyaku langsung, sedikit terkejut menyadari bahwa aku bisa bicara selancar ini.

Kamu tampak tertegun. “Lho, kebetulan. Saya juga mau ngomong sesuatu sama kamu. Pas banget berarti kita ketemu sekarang,” komentarmu dengan nada takjub.

“Eh iya? Mau ngomong apa emangnya, Kak?” Aku bertanya, susah payah menahan diriku sendiri untuk berekspektasi terlalu tinggi.

“Saya duluan apa kamu duluan nih yang ngomong?” Kamu balik bertanya.

“Kakak duluan aja. Takutnya penting,” jawabku tanpa perlu berpikir dua kali.

Kamu mengangguk, tapi dengan sedikit ragu-ragu. “Err, kamu tau kan kalo besok saya bakal diwisuda?” katamu, dalam sekejap menghilangkan ekspresi sumringah yang sebelumnya menghiasi wajahmu.

Aku mengangguk tak yakin. “Iya, tau. Kenapa emangnya, Kak?”

Kamu menelan ludah, tampak tak nyaman. “Err, maaf banget kalo kedengerannya ini ngedadak dan rada aneh, tapi sebenernya saya pengen minta kamu jadi pendamping wisuda saya, Al. Sekalian mau dikenalin ke bapak sama ibu. Kamu…mau enggak?”

Mendengar itu, jantungku langsung mencelos dan rasa kebas seolah telah membungkus seluruh tubuhku. Aku ternganga, tak tahu harus mengatakan apa karena mendadak merasa terlalu bahagia. Kalau sudah begini, aku tak perlu mengucapkan pengakuanku lagi, kan?

 

DING!

Iklan
[#UIMenulis] Pengakuan

2 pemikiran pada “[#UIMenulis] Pengakuan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s