Cerita Segitiga

taken from superwomanforya.tumblr.com

***

Sejatinya, aku yang bersalah. Aku yang alpa hingga ada terlalu banyak hati yang terluka. Tiga—punyaku, kamu, dan dia. Seharusnya aku lebih mahfum soal konteks hati yang memilih dan yang dipilih, hingga aku tak bakal menghalalkan keduanya di saat yang bersamaan. Siapa aku, sampai berani datang padamu setelah sekian waktu? Aku hanya orang yang kau cintai, namun terlalu pengecut untuk balik mencintaimu. Orang macam aku harusnya tak layak diberi hak untuk sekali lagi beradu pandang dengan matamu.

Aku lah yang membuat jadi kusut jalinan takdir di antara kita—aku, kamu, dan dia. Aku melepas genggaman tanganmu untuk berlari bersamanya, meski tidak rela. Lupakan soal alasan pembenaran, karena sejak awal aku tahu aku memang sudah tak memilikinya. Aku tidak khilaf, aku hanya terlalu egois hingga terlena. Dan pemikiran seorang gadis yang sedang terlena tak pernah lebih dari sekedar carut-marut absurditas yang memusingkan, terlalu mustahil untuk diuraikan.

Dulu, aku pernah bertanya-tanya mengapa kau tak mau sekali lagi mencoba. Mengapa kau tetap terpacak di sana, bergeming meski aku tak lagi ada. Dan mengapa, aku seolah tak pernah jadi hal yang pantas untuk kau perjuangkan. Nyatanya, jawabannya sudah terlampau jelas untuk diretas : karena aku yang ingin bebas, dan karena kau sedang berusaha untuk melepas. Aku tahu, ini tak pernah jadi dosamu ketika aku memilih pergi. Ini murni dosaku sendiri, dosa yang memaksaku pada akhirnya harus mengunci perasaanku padamu entah sampai kapan nanti.

Putusan yang aku jatuhkan ini, aku hanya ingin kau tahu bahwa segala bukan karena dia. Karena sekali lagi, hatiku tak pernah datang kepadanya. Ini hanya ragaku, serupa formalitas untuk sebuah legalitas. Putusan ini ada karena satu takdir yang lain lagi. Satu takdir yang kupikir tak akan pernah bisa kulihat sebagai selain karma, tapi nyatanya aku justru telah memberikan separuh cintaku untuknya—ketika separuhnya lagi telah menjadi milikmu. Anakku—dialah alasanku tak berbalik untuk kembali.

Tentang mengapa aku berani datang padamu setelah jutaan waktu yang terlewati, kumohon jangan bertanya. Jangan pula berasumsi, karena aku telah belajar bahwa asumsi hanya akan membuat hati yang sudah terpaut menjadi saling menyakiti. Aku hanya membiarkan hatiku mencari kebenaran tentang ke mana seharusnya dia pulang. Aku hanya ingin, satu kali saja, memenangkan ketidaktahumaluanku atas apa yang seharusnya tetap aku pahami : bahwa aku samasekali tak punya hak untuk menyakitimu sekali lagi. Kau boleh mengutukiku sesukamu, tapi aku cuma ingin kau tahu, bahwa bahkan sampai hari ini, aku masih punya hati untukmu.

Maaf, jutaan kali ingin kusampaikan padamu, andai saja kata itu tak cuma sanggup menggantung di ujung lidahku. Rupanya, hati yang masih mencinta akan menyiksa pemiliknya ketika dia tahu bahwa apa yang nyata tak akan pernah jadi seperti yang diimpi-impikannya.

Karenanya, cukuplah aku hanya berdiri di hadapmu dan bersirobok dengan tatapmu. Biarlah kediaman menjadi penghantar ungkap hatiku padamu. Biarlah cinta yang terlalu lama bisu ini melarut, lalu mengalir bersama kerendah-hatianmu yang tak lelah-lelah untuk berusaha melepasku.

Aku tak akan lagi menyiksamu. Karena meski kau adalah rumah bagi hatiku, aku dan kamu sudah tak lagi punya kesempatan untuk jadi satu.

-Ketika mencoba menjadi Lena, meninggalkan tak selalu harus punya alasan pembenaran-

 

DING!

Iklan

2 pemikiran pada “Cerita Segitiga

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s