[FF/Oneshot] Cogitation

taken from holyshisus.tumblr.com

***

Title : Cogitation

Author : Yuridista

Genre : Friendship, family

Casts : Jung Yunho, Shim Changmin, Kim Jaejoong, Park Yoochun, Kim Junsu, Kang Yuri (OC), Jung Taewon (OC)

Rating : General

Length : Oneshot-1.979 w

BGM : I Swear-TVXQ

Disclaimer : Seluruh tokoh di dalam fanfiction ini bukan milik penulis kecuali OC. Ide, plot, dan alur cerita murni berasal dari imajinasi penulis. Kesamaan adegan dan tempat kejadian adalah kebetulan semata. Fanfiction ini dibuat hanya untuk kepentingan hiburan. Dilarang copy-paste tanpa seizin penulis.

***

Seoul, Februari 2018

Jung Yunho memandang foto dalam bingkai di tangannya dengan tatapan setengah menerawang. Ada lima orang lelaki yang sedang tersenyum sambil saling berangkulan di dalam foto itu, dan kelimanya tampak luar biasa sempurna dalam balutan setelan jas hitam yang senada antara satu dengan yang lainnya. Ingatan Yunho lalu melayang ke masa di mana foto itu diambil hampir enam tahun yang lalu, pada momen di mana akhirnya mereka berlima bisa kembali menyebut diri mereka sebagai satu keluarga—Dongbangshinki.

***

Seoul, Desember 2012

Musim dingin sudah nyaris membekukan tubuh Yunho ketika dia tiba di kantor SM Entertainment hari itu. Changmin sudah berulangkali menasehatinya untuk beristirahat saja di rumah alih-alih memaksakan diri untuk tetap datang sendiri ke kantor manajemen mereka, tetapi bukan Jung Yunho namanya kalau tidak keras kepala dan susah diberitahu—terutama oleh Changmin.

Jadi, di sinilah Yunho dan Changmin akhirnya berada, di dalam ruang rapat utama SM Entertainment, saling menguatkan satu sama lain untuk tetap menjalankan rencana mereka semula sementara ratusan Cassiopeia tengah menunggu mereka di depan bangunan SM Entertainment, sibuk meneriakkan nama DBSK, Yunho, Changmin, serta ketiga orang lainnya—Jaejoong, Yoochun, dan Junsu.

Ada rasa sesak yang menyisip di hati Yunho ketika samar-samar mendengar nama Jaejoong, Yoochun, dan Yoochun dielu-elukan di bawah sana yang entah bagaimana semakin membuatnya yakin bahwa keputusan yang dipilihnya kali ini adalah yang paling tepat. Jadi, ketika untuk kesekian kalinya dia menoleh untuk menatap Changmin di sampingnya, dia tahu bahwa waktu mereka untuk mundur sudah tiba. Mulai hari ini, semua tak akan pernah menjadi sama.

***

Seoul, Februari 2013

“Apa kau sudah siap, Changmin-ah?” Yunho bertanya setengah berbisik seraya membenahi jasnya.

Changmin menyeringai, memberi hyung-nya tatapan sarkastik, sebelum berujar, “Tanyakan itu pada dirimu sendiri, Hyung. Ini mungkin akan jadi malam yang paling berat dalam hidupmu.”

Yunho mengerjap, dan tiba-tiba rasa gugup seolah menyerangnya dari segala arah. Jantungnya berdentam-dentam menyakitkan di dalam rongga dadanya dan dia tahu bahwa rasa kebas mulai menguasai kaki sampai ke lututnya. “Oke. Kau benar. Sepertinya aku akan muntah,” desahnya, menatap Changmin dengan pandangan minta tolong sebelum terduduk kembali di sofa di balik punggungnya.

“Demi Tuhan, tidak sekarang, Hyung,” Changmin mengerang, kemudian buru-buru menghampiri Yunho yang tampak sudah akan meleleh saking lemasnya. “Ribuan Cassiopeia di luar sana sudah menunggu kita, ingat? Kau harus tampil luar biasa malam ini demi aku dan demi mereka yang sudah berjuang sampai sejauh ini bersamamu. Dan lagi, bukankah ada mereka yang nanti juga akan berdiri bersama kita di atas panggung? Kau tidak mau mengecewakan mereka dengan menjadi lembek begini, kan?”

Yunho menelan ludah dengan tak nyaman. “Errr—aku mungkin akan mengacaukan pidatonya, Changmin-ah,” gumamnya was-was.

Changmin menggeleng-geleng. “Tidak, Hyung. Kau tidak akan mengacaukan apa-apa dan kau akan tampil sempurna. Kau adalah Jung Yunho, leader Dongbangshinki. Jangan pernah lupakan itu, oke?” sergah Changmin seraya menepuk-nepuk pelan punggung Yunho.

Yunho tidak menjawab, hanya menatap wajah Changmin lekat-lekat, dalam hati memikirkan apa jadinya kalau tidak ada seorang Shim Changmin di sampingnya. Apa jadinya kalau sejak awal dia harus melewati semua hal buruk yang terjadi dalam hidupnya sendirian, tanpa ada seseorang yang mampu menahannya agar tetap berpijak di atas kedua kakinya. Apa jadinya kalau dia tidak punya saudara lelaki yang sekarang tengah menatapnya dengan pandangan penuh tekad dan selalu punya cara untuk membuatnya menyadari bahwa hidupnya tidak seburuk yang dia kira. Pemikiran yang melintas di kepala Yunho seolah menyentaknya agar kembali kepada kenyataan bahwa Changmin memang selalu mengatakan kebenaran padanya, tak peduli apakah itu terlalu manis atau justru terlalu menyakitkan—sama seperti saat ini. Changmin benar. Dia, Jung Yunho, adalah leader Dongbangshinki. Dan karenanya, ketika akhirnya dia mengangguk kepada Changmin, bibirnya yang semula kelu kini bisa berucap mantap, “Trims, Changmin-ah. Hyung sayang padamu. Kalau begitu, ayo kita mulai sekarang.”

***

Hal pertama yang bisa Yunho lihat ketika akhirnya dia dan Changmin  tiba di atas panggung adalah lautan merah Cassiopeia yang terhampar di hadapannya. Setelahnya, matanya harus mengedip jutaan kali karena terlalu banyaknya kamera yang berebut untuk mengambil gambarnya, bahkan sebelum dia memulai pidatonya. Yunho menelan ludah, merasakan kegugupan sekali lagi menyerangnya. Dia sudah akan mundur saat dirasakannya ada tangan yang menggenggam jemarinya—tangan Changmin. Yunho memutar kepalanya, dan mendapati lelaki yang lebih muda itu sedang tersenyum padanya—senyum yang dia tahu ditujukan untuk menguatkannya. Yunho balas tersenyum ketika menganggukkan kepalanya kepada Changmin, berharap dengan begitu lelaki itu tahu tanpa Yunho perlu berkata-kata bahwa dia akan berusaha untuk tidak mengecewakan Changmin, Cassiopeia, dan Jaejoong, Yoochun, juga Junsu.

Tanpa melepaskan genggaman tangannya dari Changmin, Yunho kembali berpaling untuk menatap ratusan kamera dan lautan Cassiopeia yang dia tahu sudah terlalu lama menunggunya, keempat temannya, dan DBSK. Lelaki itu berdeham, maju selangkah, kemudian sebelah tangannya terangkat untuk menyentuh mikrofon di `hadapannya. Kali ini, Yunho sudah tahu apa yang harus dilakukannya.

“Selamat malam, Cassiopeia. Selamat malam, teman-teman wartawan,” Yunho memulai, ”Sebelumnya saya mengucapkan terimakasih atas kehadiran kalian semua di sini malam ini. Seperti yang mungkin telah kalian ketahui, malam ini sebagai leader, saya, Jung Yunho, akan menyampaikan pengumuman terkait dengan DBSK. Pengumuman ini mungkin akan menimbulkan reaksi yang berbeda-beda dari kalian. Saya paham sepenuhnya atas hal tersebut, dan saya tekankan di sini bahwa saya bersedia mengambil risiko atas apa yang akan saya katakan.”

“Sebelumnya, izinkan saya mempersembahkan ungkapan terimakasih kepada Cassiopeia atas cinta mereka yang tak terhingga kepada DBSK. Terimakasih karena telah berada bersama kami sejak awal, mendukung kami, membela kami, menangis dan tertawa bersama kami, dan menjadi bagian terbaik dari kami. Terimakasih atas segala hal yang telah kalian berikan kepada kami hingga detik ini dan untuk selamanya. Kami, DBSK, berjanji untuk tetap akan di sini dan menghadapi semua hal bersama kalian. Pecayalah, bahwa kami sangat mencintai kalian.”

“Kedua, saya secara resmi mengumumkan bahwa DBSK telah mengundurkan diri dari SM Entertainment. Saya dan Changmin sudah bukan lagi bagian dari tempat yang telah mendidik dan membesarkan kami sejak hampir 10 tahun yang lalu. Kami mengundurkan diri dari SM Entertainment sejak bulan Desember tahun lalu dan telah menjalankan berbagai proses legalisasi untuk mendapatkan hak kami, termasuk tetap menggunakan nama DBSK sebagai identitas kami meskipun kami sudah tidak lagi berada di bawah naungan SM Entertainment.”

Terdengar kasak-kusuk di kanan-kiri Yunho ketika dia mengatakan pengumuman itu, tetapi Yunho berusaha untuk tidak terpengaruh dan tetap melanjutkan pidatonya. “Kepada SM Entertainment saya ucapkan terimakasih banyak atas bimbingan dan dukungan, baik moral maupun material, yang telah diberikan kepada DBSK sejak masa pelatihan sampai saat ini. Terimakasih kepada Lee Sooman-songsaengnim atas didikan dan nasehat-nasehatnya. Terimakasih kepada seluruh pejabat dan staff atas kerja kerasnya. Terimakasih untuk para senior dan junior atas petuah-petuah dan apresiasinya. DBSK tidak akan menjadi seperti sekarang tanpa kalian semua yang pernah menjadi keluarga kami. Semoga, meskipun DBSK dan SM Entertainment tidak lagi terikat dalam hubungan kerja profesional, hubungan baik di antara kita masih dapat tetap dipelihara.”

“Terakhir, saya akan menyampaikan pengumuman yang menjadi inti dari acara malam ini,” Yunho berkata lambat-lambat, diam-diam meremas tangan Changmin yang masih berada dalam genggamannya. “Seperti yang telah saya sebutkan sebelumnya, DBSK adalah nama yang sekarang telah resmi menjadi hak milik kami secara profesional. Saya dan Changmin juga telah memutuskan untuk mendirikan agensi secara mandiri yang dinamai Cassiopeia Entertainment yang akan menjadi tempat bernaung DBSK mulai tahun ini.”

“Selain itu, mulai tahun ini juga, DBSK akan kembali dengan formasi lima anggota seperti di tahun 2008,” ucap Yunho dengan mata yang mulai berkaca-kaca, diiringi dengan jeritan histeris dari para Cassiopeia. “Ya, mulai tahun ini Jaejoong, Yoochun, dan Junsu resmi bergabung kembali dengan DBSK dan akan memulai aktivitas bersama saya dan Changmin dengan album ke-7 kami yang rencananya akan dirilis bersamaan dengan tanggal debut DBSK. Untuk itu, kepada Jaejoong, Yoochun, dan Junsu, saya persilakan untuk naik ke atas panggung,” lanjutnya, tepat sebelum lampu-lampu di setiap sisi panggung dimatikan dan digantikan dengan cahaya remang-remang dari bagian bawah panggung, hingga bagian yang menjadi terang hanyalah bagian tengah panggung. Tiga sosok lelaki berurutan muncul di atas panggung diiringi lagu Picture of You. Jeritan histeris masih terdengar dan ratusan kamera masih berkedip di sana-sini, namun Yunho merasa dia seolah hanya berada di tempat ini bersama Changmin dan tiga orang lain yang kini telah berdiri tepat di hadapannya. Dia menatap Jaejoong, Yoochun, dan Junsu yang kini telah berdiri berjajar tepat di sebelah kirinya dengan ekspresi wajah yang tak terjelaskan. Ada banyak sekali perasaan yang seolah melebur jadi satu ke dalam tatapan Yunho—lega, bahagia, tidak menyangka, bersemangat, sedih, dan terharu, semuanya menjadikannya tak mampu mengucapkan barang satu atau dua patah kata.

Ketika pandangan matanya dan Jaejoong beradu, Yunho merasakan ada satu perasaan lagi yang menjejali hatinya—perasaan hangat yang selama ini seperti hilang dari esensi hidupnya. Jaejoong lalu menyunggingkan senyum terbaiknya untuk Yunho, senyum yang selalu membuat Yunho merasa bahwa dia adalah yang terbaik. Yunho balas tersenyum. Akhirnya, dia tahu bahwa keseluruhan dirinya telah menjadi utuh kembali.

***

Seoul, Februari 2018

“Appa!”

Yunho refleks meletakkan kembali bingkai foto di tangannya ketika mendengar suara itu mencapai telinganya. Senyumnya merekah ketika pandangannya menemukan sesosok anak laki-laki kecil tengah berlari dengan tergesa-gesa ke arahnya. Dia lalu merentangkan tangannya, dan anak lelaki itu dengan cepat melompat ke dalam pelukannya, membuat Yunho agak terhuyung ke belakang.

“Aigooo~ urie Taewonnie sudah besar sekali, ya, sekarang?” gurau Yunho seraya menepuk-nepuk punggung anak lelakinya itu—Jung Taewon.

Taewon mengangkat wajah, menatap ayahnya dengan ekspresi cemberut yang lucu. “Appa bilang aku harus cepat besar agar bisa jadi seperti Changmin-ajjushi, kan?” katanya setengah merajuk.

Yunho tergelak. “Jadi kau masih ingin jadi seperti Changmin-ajjushi, eh? Tidak mau jadi seperti appa saja?”

“Anni,” geleng Taewon. “Appa kalah tampan kalau dibandingkan dengan Changmin-ajjushi. Dia tetap tampan walaupun makannya seperti monster. Aku ingin jadi seperti itu.”

“Aish, mana ada anak sepertimu, Jung Taewon? Mengejek appa-nya sendiri seperti itu. Begini-begini, pada akhirnya aku tetap bisa menikahi eomma-mu yang cantik, kan?” goda Yunho sambil menjawil hidung anaknya.

Taewon meringis. “Iya, sih. Kalau begitu, aku akan jadi seperti appa saja, deh. Tapi hanya supaya aku bisa mendapatkan istri secantik eomma!” serunya.

“Anak pintar,” Yunho mengangguk-angguk setuju. “Kalau begitu, ayo panggil eomma-mu sekarang. Kita sudah terlambat untuk menemui paman-pamanmu,” lanjutnya seraya menggandeng tangan Taewon menuju kamar tidur utama.

“Apa semua akan datang, Appa?” tanya Taewon ingin tahu.

Yunho mengangguk. “Semua akan berkumpul di rumah Jaejoong-ajjushi, Taewon-ah.”

Mendengar nama Jaejoong disebut, sepasang mata bulat Taewon otomatis melebar kegirangan. “Jadi kita akan makan di rumah Jaejoong-ajjushi? Benar begitu, Appa?”

“Iya, Sayang. Kita akan makan masakan Jaejoong-ajjushi yang paling enak sedunia itu. Bagaimana? Kau senang, kan?” sahut Yunho.

Taewon mengangguk-angguk. “Aku senang sekali, Appa!” serunya bersemangat, yang membuat tawa Yunho berkumandang lagi.

“Kita berangkat sekarang?” tanya Yunho kemudian kepada seorang wanita yang sudah menunggu mereka di ambang pintu kamar utama.

Wanita itu tersenyum. “Baiklah,” jawabnya, beranjak untuk menggandeng tangan Taewon yang lain.

“Yuri-ya?” panggil Yunho setelah istrinya selesai mengunci semua pintu dan jendela.

Kang Yuri menoleh. “Ya?”

“Terimakasih, ya?” bisik Yunho sambil tersenyum manis.

Yuri mengerutkan keningnya. “Untuk?” tanyanya bingung.

Yunho mengangkat bahu. “Untuk semuanya. Untuk menjadi Cassiopeia, untuk mendukung Dongbangshinki, dan untuk menjadi istri juga ibu paling sempurna sedunia, terimakasih,” ucapnya sungguh-sungguh.

Untuk sejenak, Yuri hanya tertegun memandang suaminya, tetapi wanita itu lalu tersenyum sambil berujar, “Sama-sama. Kau tahu, kau selalu jadi lebih melankolis setiap kali Dongbangshinki berkumpul kembali. Kau itu tidak pernah berubah, ya, Leader Jung?”

“Untuk apa berubah kalau dengan jadi aku yang seperti ini aku sudah bisa dicintai olehmu, Nyonya Jung?” balas Yunho setengah bercanda.

Yuri tergelak. “Tepat sekali,” komentarnya setuju. “Hei. Tapi sepertinya kau perlu mengucapkan terimakasih padaku untuk satu hal lagi.”

“Apa?” tanya Yunho langsung.

“Untuk menjadi Yunjae-shipper paling setia sedunia, ingat?” Yuri berkata seraya menyeringai lebar.

Yunho memberengut. “Aish, sekarang sudah tidak ada Yunjae, tahu. Sekarang yang ada adalah Hori—Yunho dan Yuri. Arrasseo?”

Yuri terkikik. “Arra, arra. Kau ini sensitif sekali, Tuan Jung,” tukas Yuri seraya menggamit lengan Yunho.

“Appa, Eomma, cepatlah! Aku ingin cepat bertemu dengan Changmin-ajjushi, Yoochun-ajjushi, Junsu-ajjushi dan makan semua masakan Jaejoong-ajjushi!” teriak Taewon yang entah sejak kapan sudah berlari duluan ke tempat di mana Yunho memarkirkan mobilnya.

Refleks, Yunho dan Yuri tertawa seraya memutar mata kepada satu sama lain.

“Arrasseo, Jung Taewon. Kita berangkat!” balas Yunho seraya menarik tangan istrinya.

 

DING!

Iklan

3 pemikiran pada “[FF/Oneshot] Cogitation

  1. eonniiii, akhirnya aku kesini lagi. lama nggak buka, eon. AMIN.. AMIN.. AMIN.. moga2 beneran bisa balik berlima lagi tuh. itu tahun 2018 masih ada DBSK nggak eon ceritanya?
    tadi malah aku sempat mikir endingnya bakal ada yunjae.haha. lol~

    1. wah iya. dikangenin loh sama yang punya blog ini :pp
      amin yaa robbal alamiiiin.
      ehm. masih dong. kan ceritanya mereka mau ngikutin jejak SHINHWA jadi longlasting idol :’)
      gulp. yunjaenya libur dulu, yunho mo dipinjem yuri nih :p

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s