Tak (Pernah) Tersampaikan

taken from tumblr.com

***

Ini terlalu lama.

Sudah terlampau banyak musim yang terlewat hanya untuk menunggu kita berdua.

Tak ada gerak, hanya isyarat yang tersendat-sendat.

Bahkan, kediaman pun masih jauh lebih bisa dibaca daripada tendensi sepasang mata.

Waktu harusnya sudah habis sejak dulu-dulu,

kalau apa yang terjadi hanya memilin ribuan asumsi sampai meluruh jadi satu :

kembali kepada yang tidak tahu.

Dua orang harusnya tak perlu pretensi yang terlalu tinggi,

jika yang didapati hanyalah perasaan sakit hati.

Karena bahkan, seseorang selalu butuh mengasihani diri sendiri.

Menerka dan menunggu tak pernah berada dalam satu fragmen waktu,

begitu pula aku dan kamu.

Karenanya, tak perlulah kamu sibuk bertanya ini-itu,

tentang hal-hal yang hanya berujung ambigu.

Kata orang, berani mencintai berarti harus berani patah hati.

Namun keberanian rasanya tak lagi punya definisi,

ketika cinta sudah tak mampu mengeja huruf-huruf penyusun dirinya sendiri.

Bagiku, diam-diam tak pernah berdiri terlalu jauh dari rasa takut.

Dan keduanya bersanding di antara kita, menjelma penghalang tak kasat mata.

Seharusnya, ini memang mudah saja.

Kalau yang seharusnya dikata tak hanya dikulum dalam senyum,

atau disimpan dalam ingatan.

Aku percaya, dua hal yang tak serasi pun bisa menjadi saling melengkapi.

Hanya saja, kita butuh irama untuk saling menyesuaikan diri.

Karenanya, mana bisa dua orang berjalan bersisian sambil bergandengan tangan—

jika apa yang menjadikannya satu tak pernah sempat tersampaikan?

 

DING!

Iklan

2 pemikiran pada “Tak (Pernah) Tersampaikan

  1. DING JUGA!
    Ini manis sekali deh, kak dan agak sarkastis. Belakangan saia suka sekali dng sebuah tulisan yang berlandaskan menegur umat manusia. Dan ini tentang pretensi kedua insan. Kadang yang dikurung di dalam hati memang lebih baik diutarakan, tapi sesuatu yang tersimpan ada kalanya tersimpan untuk selamanya daripada diucapkan.
    Great writing as usual.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s