Jerawatan

taken from vi.sualize.us

***

“Ih, kok sekarang jerawatan, sih?” seru teman si perempuan suatu kali, ketika si perempuan tengah berada dalam fase terparah akan ketidakpeduliannya terhadap penampilannya—ah, dan terutama terhadap wajahnya.

Si perempuan memutar mata, wajahnya tampak jengah. “Berisik. Ini gara-gara Jakarta, tau,” tukasnya sebal.

Sang teman tertawa. “Idih. Bilang aja gara-gara keseringan mikirin seseorang. Hayo, lho, ngaku!” godanya seraya menjawil bahu si perempuan.

“Duh, ini orang beneran rese, deh. Seseorang apaan coba? Dasar sok tau,” balasnya, “Lagian ini juga tinggal bekas, kok. Bentar lagi juga ilang.”

Teman si perempuan tergelak. “Iya, iya, gitu aja galak amat. Eh, tapi serius, nih. Beneran nggak lagi kebanyakkan mikirin seseorang?” tanyanya, ekspresi wajahnya tampak benar-benar serius sekarang.

Si perempuan melotot. “Berisik!” pekiknya keras-keras.

Dan tawa temannya pun meledak.

***

“Eh? Piara jerawat, Bang, sekarang?” seseorang menegur si lelaki dengan nada bercanda.

Si lelaki menyeringai, berusaha untuk tidak kelihatan terganggu dengan kata-kata barusan. “Bisa aja. Ini gara-gara banyak yang ngefans gue, tau,” ujarnya ringan.

Orang itu tertawa. “Iya, iya. Tau, deh, yang fansnya sejagad,” timpalnya. “Ya, alhamdulillah, sih, kalo emang itu jerawat pada nongol gara-gara Abang kebanjiran fans, bukannya gara-gara cinta Abang sama cewek nggak kesampaian,” lanjutnya kemudian.

Si lelaki tertegun, sementara orang di hadapannya cengar-cengir menyebalkan.

“Sialan lo,” umpat si lelaki kemudian.

***

Ada dua jantung yang berdegup kelewat cepat ketika pemiliknya akan berpapasan beberapa detik lagi di koridor ini. Mata mereka ingin saling menatap, tapi rasanya akan ada sesuatu yang lebih parah yang akan terjadi lebih dari sepasang tangan yang mendadak terasa kebas jika keduanya nekat melakukannya. Maka, apa yang akhirnya mereka lakukan adalah berpura-pura menganggap setiap hal yang ada di sekitar mereka jauh lebih menarik ketimbang wajah satu sama lain.

Sampai akhirnya detik itu tiba, hingga mereka mau tak mau harus mengangkat kepala untuk saling mengucap sapa.

Bibir membentuk senyum.

Sebelah tangan terangkat.

Mata saling memandang.

Tapi, kok—

“Eh, halo, Bang.”

“Halo.”

Keduanya, si lelaki dan si perempuan, mengucap sapa dengan napas tertahan hampir bersamaan.

—kamu…jerawatan? Jangan-jangan, apa yang dikatakan orang-orang itu benar—bahwa selama ini kita memang terlalu sering saling memikirkan. Iyakah?

 

DING!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s