Telanjur Cinta

taken from supercute-moments.tumblr.com

***

Kamu berulangkali mengecek ponsel, berharap dia yang kamu tunggu akan segera menelepon atau sekedar mengirimimu pesan singkat. Sayangnya, sepertinya harapanmu tak juga bisa bertemu realisasinya meski rasanya kamu sudah menunggunya kelewat lama. Kamu sudah bosan menghujaninya dengan pesan singkat yang berisi permintaan agar dia segera datang menjemputmu karena toh tak akan ada balasan seperti yang kamu harapkan. Di antara keramaian tempat ini, kamu merasa ada sesak yang menggantung di udara di sekitarmu, membuatmu harus setengah mati menahan diri untuk tidak menangis.

Kamu menghela napas panjang-panjang. Sungguh, keramaian tempat ini samasekali tidak membantu memperbaiki suasana hatimu. Kamu lalu melihat ke sekelilingmu dan menyadari bahwa hanya kamu yang duduk sendirian di sini, sedangkan wanita-wanita lainnya duduk ditemani orang yang ada di sampingnya. Mereka bicara, tersenyum, tertawa-tawa, menggenggam tangan satu sama lain, dan saling menatap seolah tidak ada orang lain di sekitar mereka.

Kamu merasakan matamu mulai memanas. Lagi. Harusnya kamu juga bisa menjadi seperti mereka sekarang. Harusnya juga ada orang yang duduk di sampingmu sekarang. Harusnya kamu merasa bahagia sekarang, dan bukannya malah kesusahan menahan tangis seperti ini. Kamu mendesah. Harusnya….kamu tidak sendirian sekarang.

Lalu, pada detik di mana kamu tahu sudah seharusnya kamu berhenti berharap, kamu merasakan ada seseorang yang menepuk punggungmu perlahan. Kamu menoleh, dan melihatnya sudah duduk di sana, di sampingmu, di tempat di mana dia seharusnya berada sejak semula. Dia memandangmu sambil tersenyum. Bibirnya membisikkan kata “hei” dengan lembut, hingga kamu yakin hanya kamu yang bisa mendengarnya di antara puluhan orang yang ada di tempat ini.

Ada yang tidak kamu mengerti dari perasaanmu saat itu. Separuh dirimu rasanya ingin membiarkan saja air mata yang sudah kamu tahan-tahan sejak tadi jatuh satu-satu karena kamu ingin memberitahunya tanpa perlu berkata-kata betapa kelegaan telah membanjirimu saat melihat dia akhirnya ada di sini untukmu. Sementara yang separuhnya lagi cuma ingin diam, membiarkan kemarahanmu padanya tersampaikan lewat kebisuan. Kamu ingin melancarkan aksi mogok bicara padanya biar dia tahu bahwa kali ini kesabaranmu sudah nyaris habis untuk dipakai memahaminya. Kamu hanya mau dia menemanimu dari awal, kamu hanya ingin dia mengerti itu, tapi nyatanya tidak bisa. Dan karena kamu wanita, kamu memilih untuk memenangkan egomu, membiarkan naluri ‘ngambek’mu membabat habis arti keberadaannya bersamamu.

Kamu lalu bangkit berdiri ketika kamu dengar akhirnya namamu dipanggil. Namun, baru dua langkah kamu bergerak, pergelangan tanganmu sudah keburu ditahan olehnya dan dalam sekejap tas tangan dan helm yang sejak tadi kamu bawa-bawa sudah berpindah ke tangannya.

“Biar aku aja yang bawa, Yang.” Dia berkata dengan senyun yang masih mengembang.

Mulutmu memberengut penuh ketidaksetujuan. Kamu, kan, masih marah padanya. “Nggak. Biar aku aja,” tukasmu jutek.

“Udah, aku aja. Kamunya udah lemes begitu,” Dia bersikeras.

“Duh, bawel, deh. Ya udah terserah,” katamu acuh tak acuh, lalu buru-buru memalingkan muka.

“Yang,” suaranya memanggilmu lebih lembut kali ini.

Kamu menoleh sekali lagi. “Apaan?”

Dia meringis. “Maaf, ya, soalnya aku telat banget. Macet di mana-mana tadi. Jangan ngambek gitu, dong,” katanya memelas.

Kamu memutar mata.

“Please?” mohonnya, kali ini sambil tangannya terangkat untuk mengusap kepalamu—salah satu di antara sekian banyak hal yang menjadi alasan kenapa kamu bisa jatuh cinta padanya.

Kamu mendesah lalu mengangguk, akhirnya menyerah. Kalah.

Dia pun tersenyum begitu lebar. “Ya udah sekarang masuk, yuk. Dokternya pasti udah bete kelamaan nungguin kita. Aku juga pengen cepetan liat calon anak kita udah segede apa, nih,” ajaknya penuh semangat, tangannya menggandeng tanganmu erat-erat.

Kali ini, kamu ikut tersenyum bersamanya. Kamu pikir, kamu bisa apa kalau kamu memang sudah telanjur mencintainya?

 

DING!

 

p.s : ditulis setelah 6 hari menghabiskan waktu di rumah sakit bersalin yang penuh dengan pasangan-pasangan yang sedang dihujani cinta…

Iklan
Telanjur Cinta

2 pemikiran pada “Telanjur Cinta

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s