[FF/Oneshot] Bittersweet Love

taken from: http://www.flickr.com

Title : Bittersweet Love

Author : Yuridista

Genre : Action, romance

Casts : Kang Yuri (OC), SJ Yesung, SJ Siwon, SJ Kyuhyun

Rating : PG-13

Length : Oneshot-4.668 w

Disclaimer : Seluruh tokoh di dalam fanfiction ini bukan milik penulis kecuali OC. Ide, plot, dan alur cerita murni berasal dari imajinasi penulis. Kesamaan adegan dan tempat kejadian adalah kebetulan semata. Fanfiction ini dibuat hanya untuk kepentingan hiburan. Dilarang copy-paste tanpa seizin penulis.

A/N : Fanfiction ini terinspirasi dari lagu Super Junior berjudul Bittersweet yang terdapat dalam album Sexy, Free, and Single dan pernah dipublikasikan di blog yesungcommunityclouds.wordpress.com untuk kepentingan lomba.

***

Those sweet words of yours
Those words of yours that kill me
The words that are bitter to taste, don’t say them
I can’t hate you
I can’t love you either
You’re about to say you’re going to run away
Don’t, don’t say it

Go back, to the place you once were
To the time when you didn’t know me
Let’s not love like this again

Bittersweet-Super Junior

***

Gadis itu berjalan di sepanjang koridor dengan langkah setengah terburu-buru sambil sesekali mengecek tumpukan kertas di tangannya dan di saat bersamaan mengangguk-angguk setiap beberapa menit sekali untuk menanggapi omongan lelaki yang berjalan di sampingnya.

“Jadi, Yuri-ssi, orang yang akan kita temui ini sebenarnya adalah saksi kunci dari kasus ini. Sayangnya dia—“

“Sama sekali tidak mau membuka mulut karena terikat semacam perjanjian hidup mati dengan organisasinya, kan?” Yuri, nama gadis itu, buru-buru menyelesaikan kalimat lawan bicaranya sambil menyeringai lebar.

“Tepat sekali.” Si lelaki mengangguk senang.

“Kau sudah menjelaskannya padaku sebanyak sepuluh kali sepanjang pagi ini, Kyuhyun-ssi. Aku kira kau sedikit meremehkan kemampuanku dalam menangkap informasi, eh?” ujar Yuri setengah bercanda.

Lelaki yang dipanggil Kyuhyun meringis, tampak salah tingkah. “Err—bukan begitu maksudku, Yuri-ssi. Hanya saja aku…hanya khawatir kalau bos besar menganggapku tidak memberimu informasi yang cukup detail mengenai kasus ini. Kau mengerti, kan?”

Yuri tersenyum. “Tentu saja aku mengerti maksudmu, Kyuhyun-ssi. Kau tidak perlu cemas,” sahut Yuri mantap. “Jadi, ini ruangannya?” tanyanya ketika mereka berdua sudah berada di depan pintu paling ujung di koridor itu.

“Yep,” angguk Kyuhyun, lalu tangannya terulur untuk menyelipkan kartu identitasnya ke sensor pembuka kunci otomatis di dekat kenop pintu.

Ketika pintu terbuka, hal pertama yang dilihat Yuri adalah ruang sempit berisi panel-panel kontrol, kaca satu arah berukuran besar yang membatasi ruang panel dengan ruang interogasi, dan seorang lelaki bertubuh tinggi besar yang kini sudah berdiri di hadapannya dan Cho Kyuhyun.

“Oh. Halo, Hyung,” sapa Kyuhyun pada lelaki itu. “Masih sibuk sepertinya, eh?”

Lelaki itu mengangguk sekali. “Mungkin hanya kau satu-satunya orang yang tidak sibuk di gedung ini, Kyuhyun-ah,” katanya lelaki itu tajam, meski Yuri tahu bahwa dia hanya bercanda.

Kyuhyun nyengir lebar, samasekali tidak tampak tersinggung. “Kenalkan dulu, Hyung. Ini ahli jiwa kita yang baru, Kang Yuri,” dia berkata, kemudian menoleh untuk memandang Yuri. “Yuri-ssi, ini Choi Siwon. Dia sniper legendaris NSS—National Security Service.”

Choi Siwon memutar matanya, kemudian mengulurkan tangan untuk mengajak Yuri bersalaman. “Selamat bergabung di NSS, Yuri-ssi. Kuharap kau adalah orang yang suka bekerja di bawah tekanan,” ujarnya setengah bergurau.

Yuri tertawa kecil. “Terimakasih, Siwon-ssi. Kau tidak perlu khawatir, tekanan adalah makanan sehari-hariku.”

“Ha, tentu saja. Dia, kan, berurusan dengan orang sinting setiap hari, Hyung. Tekanan pasti bukan masalah besar buatnya,” Kyuhyun menimpali, lalu menyeringai lebar pada Yuri.

“Kau tidak bisa menyamakan sakit jiwa dengan sinting, Kyuhyun-ah,” sergah Siwon dengan nada seperti seorang ayah yang sedang berbicara kepada anaknya yang bandel.

“Memang di mana perbedaannya? Keduanya sama-sama punya otak yang tidak beres, kan?” tukas Kyuhyun, membuat gerakan memutar di dekat kepala dengan jari telunjuknya.

“Penjelasan sederhananya, orang yang sakit jiwa adalah semua pasien yang pernah ditangani Yuri-ssi, sedangkan orang sinting adalah lelaki menyebalkan bernama Cho Kyuhyun. Nah, sekarang apa kau sudah mengerti di mana letak perbedaannya?”

Tawa Yuri refleks meledak mendengar penjelasan Siwon barusan. Sebenarnya penjelasannya tidak selucu itu, sih , hanya saja lelaki itu mengucapkannya dengan tampang serius hingga membuat Yuri tak bisa lagi menahan tawa. Gadis itu kemudian melirik Kyuhyun yang wajahnya kini sudah tertekuk tak berbentuk di sampingnya.

“Kau tega sekali menjatuhkan harga diriku di depan anak baru, Hyung,” rajuknya seperti anak-anak.

Siwon hanya menanggapinya dengan decakan bosan, kemudian berpaling pada Yuri sebelum berujar, “Jadi, bisa kita mulai sekarang, Yuri-ssi?”

Yuri mengerjap, tampak sedikit terkejut dengan perubahan nada bicara Siwon yang dalam sekejap menjadi profesional kembali, tetapi dengan cepat gadis itu dapat kembali menguasai ekspresi wajahnya dan mengangguk sekali. “Ah, ya. Tentu saja siap, Siwon-ssi,” jawabnya mantap.

***

“Apa sejak awal dia sudah menolak bicara seperti itu?” tanya Yuri tanpa mengalihkan tatapannya dari saksi yang tengah diinterogasi oleh salah satu anggota NSS di ruangan di balik kaca.

“Ya,” Siwon mengangguk di sampingnya, “Dia sama sekali tidak mau berbicara sepatah kata pun tentang organisasinya. Dia bahkan tidak takut ketika kami mengancam akan menghabisinya.”

“Kalau dilihat dari ekspresi wajahnya, sepertinya lelaki itu punya ikatan yang sangat kuat dengan organisasinya. Aku belum tahu apa persisnya yang membuatnya jadi seperti itu, tapi yang pasti ikatannya dengan organisasi itu lebih dari sekedar kepatuhan. Dia kelihatannya…mencintai organisasinya,” Yuri menjelaskan panjang lebar.

“Jadi menurutmu, kita tidak akan bisa mendapatkan informasi apa pun dari lelaki ini?” tanya Siwon, kini ikut mengamati lelaki yang duduk di hadapan interogator dengan raut wajah tenang dan cenderung tidak peduli.

“Sepertinya begitu, Siwon-ssi,” jawab Yuri, kemudian menoleh untuk memandang Siwon, “Apa tidak ada informasi lain yang kalian punya mengenai organisasi itu? Tentang apakah organisasi itu dimiliki oleh satu keluarga besar, misalnya? Mungkin saja lelaki itu masih saudara dengan pemimpin organisasinya, makanya dia bersikap seolah organisasinya adalah rumah dan bukannya tempat kerjanya.”

Siwon menggeleng muram. “Kami hanya tahu kalau organisasi itu melakukan banyak aktivitas ilegal baik di dalam maupun di luar Korea. Perdagangan senjata, obat-obatan terlarang, anak, wanita, juga aksi terorisme, semua didalangi oleh organisasi ini. Kami memang pernah menangkap beberapa orang yang kami kira adalah pemimpin dari organisasi ini, tapi ternyata mereka hanya orang-orang yang dijadikan boneka oleh pemimpin sebenarnya yang sama sekali tidak kami ketahui identitasnya.”

Yuri mengerutkan keningnya. “Lokasinya? Apa tidak bisa dilacak?”

“Mereka selalu berpindah-pindah, dan seperti biasa hanya akan ada beberapa orang yang tersisa setiap kali kami tiba di lokasi yang kami yakini sebagai markas mereka. Kami rasa orang-orang itu memang sengaja ditinggalkan di lokasi untuk mengejek kami.”

“Dan apakah lelaki ini juga salah satu dari orang-orang buangan itu?” Yuri bertanya seraya menunjuk lelaki di dalam ruang interogasi dengan dagunya.

“Yep. Dan seperti yang kau bilang, dia sepertinya sangat mencintai organisasinya sampai-sampai sejak awal dia tidak berusaha melarikan diri waktu kami mengepungnya,” ujar Siwon putus asa.

Yuri memajukan bibir bawahnya, tampak berpikir-pikir. “Mungkin akan berbeda ceritanya kalau kalian bisa memasukkan salah satu anggota NSS ke dalam organisasi itu. Yah, paling tidak ke dalam salah satu bagian yang berhasil kalian lacak. Kau tahu, sebagai mata-mata,” usulnya kemudian, ekspresinya berubah cerah sekarang.

Sebaliknya, raut wajah Siwon justru berubah muram mendengar ucapan Yuri barusan.

Yuri yang melihat keanehan itu mengangkat alis kemudian bertanya, “Ada apa, Siwon-ssi? Apa ada yang salah dengan kata-kataku barusan?”

Siwon mengerjap, kemudian buru-buru menggeleng. “Ah, tidak, Yuri-ssi. Tidak ada yang salah dengan kata-katamu. Hanya saja…usulmu mengingatkanku pada , eh, kejadian beberapa tahun silam.”

“Kejadian apa?” Yuri bertanya penasaran.

“Tentang seorang anggota NSS yang ditugaskan untuk menjadi mata-mata di organisasi ilegal itu,” jawab Siwon, masih dengan ekspresi muram yang sama.

Sepasang mata Yuri melebar terkejut. “Benarkah?”

Siwon mengangguk sekali. “Ya. Beberapa tahun lalu ada seniorku yang mencoba menyusup ke dalam organisasi itu. Dia sniper juga, sama sepertiku. Sebenarnya dia bisa dibilang cukup berhasil kalau saja—“

“Kalau saja apa?” Yuri buru-buru memotong.

“Kalau saja dia tidak jatuh cinta kepada gadis yang juga adalah salah satu anggota utama organisasi itu,” Siwon akhirnya berhasil menyelesaikan kisahnya.

“Lho? Maksudnya pada akhirnya dia meninggal karena dibunuh oleh gadis itu?”

“Justru sebaliknya,” Siwon menukas dengan nada lelah. “Gadis itu yang dibunuh oleh temannya sendiri karena dia juga jatuh cinta pada seniorku. Organisasinya telah menganggap gadis itu sebagai pengkhianat, makanya mereka menghabisinya tanpa perlu berpikir dua kali.”

“Lalu bagaimana dengan seniormu? Apa dia jadi tawanan organisasi itu?”

“Tidak. Dia berhasil selamat setelah dengan susah payah melarikan diri, tapi—“

“Tapi?” Yuri bertanya mendesak.

“Tapi, eh, seniorku… Dia…menderita semacam, yah, mungkin bisa dibilang depresi akut karena melihat kematian gadis yang dicintainya di depan mata. Jadi dia sekarang, eh, ada di rumah sakit jiwa NSS dan keberadaannya dirahasiakan dari publik. Semua orang di sini takut hubungan dengan dunia luar akan memperburuk kondisi kejiwaannya.”

Mulut Yuri menganga, benar-benar terkejut mendengar cerita Siwon yang menurutnya sangat dramatis. “Benarkah kondisinya separah itu?” dia bertanya hati-hati.

Siwon mengangguk sekali. “Dulu ketika kami melihatnya untuk pertama kali setelah dia kembali, kami pikir dia baik-baik saja. Dia memang kelihatan kacau, tapi kami tidak mengira bahwa dia memang benar-benar hancur. Waktu kami mengajaknya bicara tentang apa saja yang dilihatnya di dalam organisasi itu, dia langsung mengamuk dan menghancurkan barang-barang di ruang kerjanya. Dia juga selalu menolak untuk ikut rapat membahas perkembangan usaha kami melumpuhkan organisasi itu dan malah memilih menghabiskan waktu sendirian di taman di halaman belakang kantor. Banyak dari kami yang sering melihatnya menangis di sana, hanya saja waktu itu kami belum berpikir bahwa dia benar-benar sedang depresi akut,” kisahnya, yang diakhiri dengan helaan nafas berat dan panjang.

Yuri tanpa sadar ikut membuang nafas berat. “Kau tahu, dari ceritamu aku rasa dia memang benar-benar mencintai gadis itu. Kematian gadis itu di depan matanya pasti sangat berat untuknya,” ucapnya bersimpati.

Siwon mengangguk-angguk. “Kau benar, Yuri-ssi. Kami juga sadar kami mungkin telah memanfaatkannya terlalu jauh. Jatuh cinta bukan pilihan, kan? Yesung-hyung tentu tidak pernah meminta untuk jatuh cinta pada musuhnya sendiri.”

Sebelah alis Yuri terangkat. “Jadi namanya Yesung?”

“Hah?” Siwon menyahut. “Ah, iya. Namanya Yesung. Maksudku, sebenarnya namanya Kim Jongwoon, tapi dia ingin agar semua orang memanggilnya Yesung.”

“Karena suaranya bagus?” Yuri iseng menebak.

“Mmm…mungkin. Yesung-hyung dulu senang sekali menyanyi sambil main gitar di waktu luang. Sejak dia depresi semua orang di sini sangat merindukan kebiasaannya itu. Nyanyian dan permainan gitarnya sudah jadi semacam penghilang stress buat kami,” Siwon bercerita, matanya menerawang. “Ah, kau membuatku jadi merindukannya, Yuri-ssi,” lanjutnya kemudian, dan Yuri bisa melihat bahwa mata lelaki di hadapannya itu mulai berkaca-kaca.

Yuri meringis, kelihatan merasa bersalah. “Maafkan aku, Siwon-ssi,” ucapnya sungguh-sungguh. “Tapi, apa benar dia sungguh-sungguh tidak bisa disembuhkan? Maksudku, depresi bisa hilang dengan terapi, kan? Kau bilang ini sudah beberapa tahun sejak kejadian itu, masa tidak ada kemajuan samasekali?”

“Entahlah, Yuri-ssi.” Siwon mengangkat bahunya. “Kata orang-orang bagian medis Yesung-hyung seperti menolak untuk sembuh. Dia tidak suka didekati, apalagi oleh dokter dan perawat. Jangankan terapi, untuk membuatnya makan obat dengan teratur saja mereka butuh tenaga ekstra.”

“Ah, begitu, ya?” Yuri berujar dengan nada prihatin.

Siwon hanya menanggapinya dengan anggukan tak bersemangat.

Yuri mendesah, kemudian menyahut dalam gumaman, “Sayang, ya. Padahal kalau dia sembuh dia mungkin bisa membantu kita melumpuhkan organisasi ilegal ini.”

***

Yuri mendengar pintu ruang kerjanya diketuk ketika dia tengah sibuk menganalisis berkas-berkas di mejanya. “Masuk,” kata gadis itu tanpa mengangkat wajah dari kertas-kertas di hadapannya.

Terdengar bunyi kenop pintu diputar dan sebuah suara menyapanya, “Yuri-ssi.”

Yuri refleks mendongak. Sudah dia duga, itu pasti Choi Siwon. Yuri bahkan sudah tahu permasalahan apa yang membawa lelaki itu sampai ke hadapannya detik ini. “Ah, Siwon-ssi. Silakan duduk,” balasnya, tersenyum ramah seraya mengerling ke arah kursi yang diletakkan di seberang mejanya.

Siwon mengangguk, lalu dengan cepat duduk di kursi di hadapan Yuri. “Langsung saja, ya, Yuri-ssi. Keperluanku datang menemuimu adalah karena aku ingin membahas soal—“

“Soal Yesung, kan?” potong Yuri tepat sasaran.

Siwon melebarkan matanya, tampak terkejut, tetapi lelaki itu buru-buru berdeham untuk menetralkan kembali ekspresi wajahnya. “Ya, soal Yesung-hyung. Kau serius ingin melakukan terapi padanya?”

“Tentu saja,” angguk Yuri mantap. “Kau diberitahu pimpinan, ya? Padahal aku ingin ini jadi kejutan di rapat besar sore nanti.”

Siwon menggeleng-geleng, ekspresinya tak setuju. “Leeteuk-hyung memberitahuku karena dia ingin aku membuatmu berubah pikiran soal hal ini. Kau tahu, ini bukan ide yang bagus—melakukan terapi pada Yesung-hyung. Ini berbahaya, Yuri-ssi.”

“Ya ampun, Siwon-ssi, kau lupa ya kalau aku ini ahli jiwa? Aku sudah berurusan dengan ratusan pasien dengan gangguan jiwa sebelum ini dan mungkin setengah di antaranya bahkan jauh lebih buruk kondisinya dibandingkan dengan Yesung,” sergah Yuri tak habis pikir.

“Tapi ini berbahaya.”

Yuri mengangkat sebelah alisnya. “Berbahaya untuk siapa?”

Siwon mengerjap. “Err—untuk kalian berdua, tentu saja. Maksudku, kau belum pernah bertemu dengannya dan tidak tahu bagaimana dia dan sebagainya. Kau mungkin akan terkejut waktu melihatnya mengamuk. Sudah kubilang kalau dia benci dokter dan perawat, kan?”

“Jadi, sebenarnya kau mengkhawatirkan aku atau dia?” Yuri bertanya setengah bergurau, lalu menyeringai lebar kepada Siwon.

“Eh?” Siwon menelan ludah, salah tingkah. “M-maksudku bukan begitu, Yuri-ssi. Aku, eh, tentu saja—“

“Siwon-ssi,” Yuri cepat-cepat menyela, “aku sudah mempertimbangkan ini matang-matang. Terimakasih telah membagi pikiranmu denganku, tetapi sungguh, kau tidak perlu khawatir soal ini. Tidak akan ada hal buruk yang bisa terjadi pada Yesung, begitu pula sebaliknya. Aku berjanji padamu. Jadi, setelah ini kau bisa memberitahu pimpinan bahwa aku tidak akan mengubah pikiranku dan sampaikan juga rasa terimakasihku atas perhatiannya. Oke?”

Siwon mengerucutkan bibirnya, masih kelihatan tidak rela untuk mengiyakan perkataan Yuri, tetapi setelah jeda semenit lelaki itu akhirnya mengangguk meski hanya sekali. “Baiklah,” katanya setengah menggumam.

Yuri tersenyum. “Bagus. Jadi, ada yang lain?”

“Tidak,” jawab Siwon, kemudian bangkit dari kursinya. “Kalau begitu aku permisi dulu.”

“Oh, ya, silakan, Siwon-ssi,” Yuri mengangguk-angguk bersemangat.

“Ah, ada satu lagi,” Siwon berbalik ketika sudah mencapai pintu.

“Apa?”

“Ng—itu, apa kau perlu ku antar ke rumah sakit NSS untuk memulai terapi Yesung-hyung?” Siwon bertanya dengan suara kecil.

“Oh, tidak perlu, Siwon-ssi. Aku akan pergi bersama Kyuhyun besok,” tolak Yuri halus. “Tapi terimakasih atas tawarannya.”

Siwon mengangkat bahu. “Bukan masalah,” sahutnya, kemudian benar-benar berlalu dari hadapan Yuri.

***

“Untuk jaga-jaga saja, Yuri-ya, kuberitahu kau kalau aku ini sangat tidak becus menggunakan pistol,” Kyuhyun berkata ketika esok sorenya dia dan Yuri memasuki halaman Rumah Sakit National Security Service dengan mobil dinas milik Kyuhyun.

Yuri tertawa. “Jadi untuk apa tepatnya pistol itu diberikan kepadamu, Cho Kyuhyun?” tanyanya, menunjuk pistol yang tersimpan aman di pinggang Kyuhyun.

“Untuk membuatku terlihat jadi semakin keren?” Kyuhyun menyahut, lalu memberi Yuri cengiran lebar khas anak-anak miliknya.

Yuri memutar mata. “Maumu,” cibirnya.

Kyuhyun tergelak, lalu buru-buru menambahkan, “Eh, tapi serius, nih, kau yakin Yesung-hyung tidak akan mengamuk waktu melihat kita?”

“Yakin seratus persen,” Yuri menjawab penuh percaya diri. “Lagipula, bukan ‘kita’, tetapi ‘aku’ sendiri yang akan dilihat olehnya, Kyuhyun-ah. Kau cukup mengantarku sampai di sini saja. Aku akan masuk sendiri ke dalam.”

“Eh?!” Kyuhyun melotot terkejut. “Tidak bisa begitu, dong. Aku sudah diwanti-wanti oleh Siwon-hyung untuk melindungimu. Kalau aku pulang sekarang, bisa ditembak di kepala aku nanti,” tukasnya penuh kengerian.

Yuri mengangkat alis. “Siwon menyuruhmu melindungiku?” tanyanya.

Kyuhyun mengangguk.

“Astaga,” Yuri mendesis tak percaya. “Sudah, kau pulang sekarang dan bilang padanya tidak perlu terlalu khawatir tentang aku. Katakan aku punya pistol sendiri.”

“Eh? Serius kau punya pistol sendiri?” Kyuhyun menyahut takjub.

Sekali lagi Yuri memutar matanya. “Tentu saja tidak, dasar kau bodoh.”

Kyuhyun mendesah lega. “Ya ampun, kukira kau serius,” katanya, “Jadi, apa kau yakin tentang ini?”

“Iya, iya. Berisik, deh,” Yuri menjawab tak sabar. “Sudah, aku turun dulu, ya. Kau cepatlah pulang. Komputer-komputer di kantor pasti sudah merindukanmu,” tambahnya, lalu beranjak turun dari mobil.

Kyuhyun mengerang putus asa. “Baik, Nyonya. Saya mengerti,” katanya, kemudian melambaikan tangan dengan tampang penuh simpati ketika melihat Yuri melotot padanya. “Semoga berhasil, Yuri-ya. Sampai jumpa!”

Yuri membalasnya dengan cengiran. “Sampai jumpa!”

***

Yuri menatap sosok lelaki yang tengah berdiri di balkon tak jauh darinya itu dengan tatapan tak percaya. Di dalam kepalanya, Yesung adalah gambaran laki-laki dengan gangguan akut yang bermata cekung dan berpipi tirus dengan rambut acak-acakan dan pakaian yang mungkin sudah dipakainya sejak seminggu yang lalu. Well, mungkin bagian soal pakaian itu memang agak berlebihan, tapi tetap saja, Yuri tidak pernah membayangkan akan melihat sosok Yesung yang seperti ini pada kenyataannya.

Orang-orang yang tidak tahu mungkin sekali mengira laki-laki itu adalah dokter yang sedang bertugas di akhir pekan, atau paling tidak seseorang yang datang untuk menjenguk keluarganya. Pakaiannya rapi, berupa kemeja warna biru langit yang digulung sampai ke siku dan celana kargo selutut warna coklat yang senada dengan warna rambutnya yang juga berwarna coklat, meski sedikit lebih gelap. Wajahnya bersih, dan sepertinya dia habis bercukur jika melihat bekas-bekas rambut di sekitar dagunya. Matanya samasekali tidak cekung meski pandangannya terkesan kosong, dan lelaki itu pasti makan dengan baik karena pipinya justru tampak chubby, yang menjadikannya terlihat sedikit seperti anak-anak. Ah, dan satu lagi, lelaki itu bahkan mengenakan sepatu! Astaga, Yuri menggeleng-geleng, benarkah lelaki nyaris sempurna itu yang bernama Yesung?

Yuri menelan ludah, kemudian perlahan-lahan berjalan mendekati lelaki itu. “Err—halo. Apakah kau benar Yesung-ssi?” sapanya hati-hati.

Bibir bagian atas Yesung berkedut sedikit, dan Yuri tahu bahwa jawabannya adalah iya meski lelaki itu tidak menjawab atau menoleh ke arah Yuri.

“Ah, syukurlah aku tidak salah orang. Perkenalkan, namaku Kang Yuri,” lanjutnya, “dan aku dokter baru di sini. Kau ada dalam daftar pasienku, kalau boleh kutambahkan. Tetapi sepertinya aku salah menempatkan prioritas karena kalau dipikir-pikir lagi seseorang sepertimu pastilah tak memerlukan bantuan apa pun dari dokter ingusan seperti aku.”

“Oh, ya, Yesung-ssi, kudengar kau sudah dua tahun berada di sini. Apa kau tidak bosan? Maksudku, kau harusnya bisa meminta para perawat itu untuk mengajakmu jalan-jalan. Taman di sini kalah jauh dari yang di ujung jalan situ, lho. Di sana menyenangkan sekali. Kau harus melihatnya kapan-kapan,” Yuri terus bicara meski Yesung tak juga menanggapinya.

“Tapi, yah, aku tidak terkejut kalau kau belum melakukannya karena itu. Kau mengerti, kan, apa maksudku?”

Yesung menggerakkan kepalanya sedikit. Sangat sedikit, tetapi Yuri terlalu teliti untuk melewatkan gerakan menarik itu.

“Oke. Akan kuberitahu kau kalau begitu. Tapi ini rahasia, ya? Kau harus janji tidak akan melaporkan aku pada salah satu dari mereka,” katanya sambil tersenyum penuh rahasia, “Jadi, kupikir kau mungkin takut pada pistol yang diam-diam mereka sembunyikan di balik pakaian mereka. Demi Tuhan, semua orang di sini sepertinya punya pistol! Aku sempat melihat satu dokter yang sedang mengelap pistolnya tadi waktu aku lewat di depan ruang kerjanya yang pintunya terbuka sedikit. Seram sekali, ya, di sini? Makanya aku punya pemikiran kalau setiap perawat di sini mungkin juga punya pistol sendiri-sendiri.”

Bibir Yesung berkedut lagi, dan Yuri menyadari bahwa lelaki itu ingin tertawa, tetapi dia setengah mati menahannya.

Awal yang bagus, pikir Yuri lega. Kemudian, gadis itu berpura-pura melihat arloji yang melingkar di pergelangan tangan kirinya sambil menepuk pelan kepalanya. “Astaga, bagaimana aku bisa lupa? Aku harus pergi sekarang, Yesung-ssi, soalnya jadwal kunjungan untuk setiap pasien cuma 10 menit tetapi aku malah menghabiskan jatah 2 pasienku yang lain untuk mengobrol denganmu di sini. Wah, mengobrol denganmu benar-benar membuatku lupa waktu, rupanya,” dia berceloteh, tertawa-tawa sendiri karena Yesung masih betah membatu di sampingnya. “Kalau begitu aku pergi dulu. Besok kita bertemu lagi, ya? Di sini juga tidak masalah. Aku suka dengan suara air terjunnya. Sampai jumpa, Yesung-ssi!” Yuri melambaikan tangan kemudian beranjak pergi dengan setengah berlari. Dan ketika dia menoleh lagi sebelum berbelok di koridor, dilihatnya Yesung yang tengah memandanginya sebelum buru-buru memalingkan wajahnya yang bersemu kemerahan. Yuri tergelak. Hatinya mengembang senang.

***

Esok sorenya, Yuri lagi-lagi dibuat terkejut oleh Yesung dengan kenyataan bahwa lelaki itu benar-benar menunggunya di taman yang sama seperti ketika mereka bertemu untuk pertama kalinya. Yuri tersenyum sendiri, lalu buru-buru menghapus perasaan senang yang aneh itu dari dalam hatinya ketika menyadari bahwa mungkin memang itulah yang selalu dilakukan Yesung setiap sore—berdiri di balkon dekat taman sambil memandangi kumpulan bunga-bungaan dan mendengarkan suara gemericik air terjun.

“Kita bertemu lagi, Yesung-ssi,” Yuri menyapa riang ketika dia sudah berada di samping Yesung yang hari ini mengenakan polo-shirt warna merah dan celana panjang warna biru tua dan tentu saja, masih dengan sepasang sepatu.

Mau tidak mau, Yuri terkiki geli melihat pemandangan itu. Dia tak habis pikir, kenapa orang yang katanya menderita depresi akut bisa terlihat senormal orang biasa.

“Kenapa tertawa?”

Yuri refleks menghentikan tawanya ketika mendengar suara itu. Dia menoleh, dan ternganga ketika melihat Yesung tengah memandanginya, ekspresinya datar meski matanya dihiasi sorot ingin tahu berjampur jengkel.

“K-kau—kau tadi…bicara, eh, bicara padaku?!” kata Yuri tergagap-gagap.

Yesung berdecak. “Yeah, kalau kau merasa, sih,” sahutnya acuh tak acuh.

Yuri menutup mulutnya dengan dramatis. “Astaga, kau sungguhan bicara padaku, Yesung-ssi!” pekiknya tertahan.

“Kau berisik sekali. Tidak bisa diam, ya?” Yesung menukas, kemudian memalingkan wajahnya untuk kembali memandang bunga-bungaan di hadapannya.

“Ups. Maafkan aku.” Yuri buru-buru membungkuk. “Aku hanya terlalu senang karena kau adalah pasien pertamaku yang mau bicara padaku di rumah sakit ini.”

“Tentu saja. Memangnya siapa yang berminat membuka mulut kalau kau terus ngoceh tanpa henti begitu?” sergah Yesung sarkastik.

Yuri meringis. “Kalau begitu aku akan tutup mulut asal kau mau gantian bercerita,” katanya berusaha membujuk.

“Cerita apa?” Yesung mengangkat sebelah alisnya.

“Apa saja. Asal Yesung-ssi yang bercerita, apa pun akan aku dengarkan, kok.”

Yesung memajukan bibir bawahnya, tampak berpikir-pikir. “Baiklah,” jawabnya pada akhirnya, “Asal kau tidak menyelaku, aku mau bercerita.”

Mendengar itu, sepasang mata Yuri melebar dan ekspresinya berubah sumringah. “Deal!” sambutnya penuh sukacita.

***

“Yang benar?” Kyuhyun bertanya sangsi.

Yuri mengangguk-angguk bersemangat. “Tentu saja benar. Buat apa aku bohong padamu?”

“Masa, sih, Yesung-hyung mau bicara pada orang asing? Orang asingnya seperti kau, lagi,” tukasnya masih tak percaya.

Yuri memutar mata. “Enak saja. Begini-begini aku ini alhi kejiwaan, tahu. Jadi kau tidak usah terlalu kaget begitu dengan fakta ini,” sergahnya tak mau kalah. “Kan sejak awal aku sudah bilang kalau aku pasti bisa melakukan tugas ini dengan baik. Kalian, sih, pakai sok-sok meragukan kemampuanku segala.”

“Hei, hei, kami bukannya meragukan kemampuanmu, Yuri-ya, kami hanya—“

“Ya, ya, ya. Hanya mengkhawatirkan keselamatanku saja, kan? Tentu saja, aku mengerti, kok,” Yuri menyela dengan nada bosan.

Kyuhyun nyengir. “Siwon-hyung tidak akan suka mendengar kabar ini, tahu,” katanya, tiba-tiba saja sudah mengubah topik pembicaraan.

“Lho? Tidak suka bagaimana? Bukannya justru bagus kalau Yesung mau bercerita padaku tentang pengalamannya waktu dikirim ke organisasi ilegal itu supaya kita bisa segera melumpuhkannya?” Yuri bertanya bingung.

Kyuhyun berdecak tak sabar. “Bukan soal itu, bodoh. Siwon-hyung tentu saja akan jadi orang yang paling bahagia kalau kita berhasil melumpuhkan organisasi itu. Masalahnya ini soal perasaan, Yuri-ya. Ini masalah hati,” Kyuhyun menjelaskan dengan sepenuh hati.

“Eh? Masalah hati bagaimana, sih, maksudnya? Aku kok samasekali tidak mengerti dengan arah pembicaraanmu ini.”

Kyuhyun mengerang, tampangnya putus asa. “Siwon-hyung itu naksir padamu, Demi Tuhan,” pekiknya pada akhirnya.

Sepasang mata Yuri mengerjap dua kali. “Naksir…padaku?” ulangnya, nyaris dalam bisikan.

Kyuhyun mengangguk-angguk. “Jangan bilang padanya. Bisa ditembak aku nanti,” pesan Kyuhyun mewanti-wanti.

“Errr, oke. Aku akan mengunci mulutku rapat-rapat.” Yuri membuat gerakan menutup mulut dengan jari telunjuk dan ibu jarinya.

“Bagus. Kalau begitu aku kembali ke kantor duluan, ya. Trims atas traktiran kopinya.” Kyuhyun bangkit berdiri seraya mengacungkan gelas iced-coffeenya yang sudah setengah kosong.

“Sama-sama. Trims juga atas bocoran informasinya, Kyuhyun-ah,” ujar Yuri seraya tersenyum lebar, yang dibalas Kyuhyun dengan seringaian yang sama lebarnya.

***

Sejak pertemuan kedua mereka, Yuri dan Yesung menjadi semakin akrab. Entah keajaiban apa yang bisa membuat Yesung mau bercerita tentang kehidupan masa lalunya kepada Yuri, tetapi pada kenyataannya lelaki itu memang melakukannya—samasekali tanpa paksaan. Yesung bahkan tidak merasa ragu atau takut ketika dia mulai bercerita tentang kehidupannya sewaktu masih menjadi mata-mata di organisasi illegal yang menjadi target utama NSS sampai sekarang. Yuri sempat terkejut dengan betapa mudahnya Yesung bercerita tentang masa lalu yang notabene adalah penyebab dirinya menjadi seperti sekarang ini, tetapi semakin gadis itu mendengar kisah Yesung, maka dia semakin paham mengapa Yesung masih mau membuka mulutnya untuk menceritakan rahasia yang selama ini disimpannya sendiri itu.

Menurut cerita Yesung, organisasi ilegal itu bernama The Almighty. Pemimpinnya adalah tiga bersaudara yang masing-masing disebut Leo, Eagle, dan Python—simbolisasi dari kekuatan yang mereka miliki. Jaringannya sangat luas, mencakup usaha-usaha legal seperti bisnis properti, tekstil, komunikasi, dan makanan, sampai usaha-usaha ilegal macam penjualan obat-obatan terlarang, perdagangan anak-anak dan wanita, juga aksi-aksi terorisme. Para anggotanya pada umumnya adalah anggota keluarga yang sejak awal memang diharuskan untuk masuk dalam jaringan organisasi tersebut, meski ada juga anggota yang bukan merupakan anggota keluarga dan sengaja direkrut untuk menempati sayap-sayap organisasi sekaligus sebagai pengalih perhatian sasaran penangkapan NSS.

Gadis yang dicintai Yesung sendiri bernama Kim Sehyun dan dia adalah anak bungsu Leon. Sehyun sebenarnya sangat menentang cara kerja organisasi keluarganya dan sempat menolak untuk bergabung, tetapi ayahnya memohon-mohon padanya sambil menangis agar Sehyun tetap mau bergabung. Karena gadis itu memang hanya dirawat oleh ayahnya sejak berusia lima tahun, maka mau tidak mau dia akhirnya luluh terhadap permintaan ayahnya.

Cerita Yesung benar-benar dramatis hingga Yuri tidak bisa mengatakan apa-apa untuk menanggapinya. Dia bahkan yang justru meminta Yesung menghentikan ceritanya ketika lelaki itu sampai kepada bagian penembakan Hyesun yang dilakukan oleh kakak kandungnya sendiri. Bagian itu terlalu pahit bahkan jika hanya untuk diceritakan kembali, menurut Yuri. Jadi sore itu dia memutuskan untuk menyudahi kisah Yesung dan membuat janji untuk bertemu lagi keesokan sorenya, seperti biasa.

Diam-diam, dalam perjalanan pulang, Yuri berharap ingatan menyakitkan tentang Kim Hyesun segera dihapus saja dari kepala Yesung.

***

Hari itu, tim investigasi NSS tengah mengadakan rapat besar membahas rencana penggerebekan markas pusat The Almighty. Yuri juga ada di sana, memaparkan seluruh informasi penting mengenai The Almighty yang berhasil didapatkannya dari Yesung. Di sampingnya berturut-turut duduk Kyuhyun dan Siwon, yang sama-sama akan diturunkan sebagai petugas lapangan dalam misi ini.

Akhirnya, setelah hampir dua jam berada di ruangan itu, Leeteuk, pimpinan tertinggi NSS, memutuskan bahwa misi penggerebekan The Almighty akan dilaksanaan besok tepat pukul 23.00 dengan tim yang terdiri atas Siwon, Kyuhyun, Donghae, Kangin, Eunhyuk, dan Kibum—para perwira utama NSS.

Setelah putusan ditetapkan, setiap orang di dalam ruangan itu saling mengangguk penuh optimisme, tak terkecuali Kang Yuri. Dalam hati dia baru memahami bahwa dia memang benar-benar bagian dari NSS, dan dia bangga akan hal itu.

***

Dua hari kemudian…

Yuri berjalan menyusuri koridor lantai dua rumah sakit jiwa NSS dengan jantung berdentam-dentam keras. Ada berbagai macam campuran perasaan di dalam sana, tetapi ada dua yang paling dominan: bahagia dan cemas. Dia bahagia karena akhirnya NSS berhasil melumpuhkan The Almighty, dan itu berarti keberhasilan juga untuknya, tetapi dia juga cemas karena sebentar lagi dia akan memberitahu Yesung kabar gembira itu sekaligus mengakhiri sandiwaranya sebagai dokter baru di rumah sakit ini. Ah, dan mungkin dia juga akan bilang tentang perasaannya terhadap Yesung. Mungkin.

Yuri menarik nafas dalam-dalam ketika dia akhirnya menemukan Yesung yang tengah duduk di bangku kayu yang menghadap ke taman, kali ini sambil memandang lurus-lurus ke arahnya. Yuri refleks tersenyum, melambaikan tangannya, lalu berjalan lebih cepat untuk menghampiri Yesung.

“Halo,” sapa Yuri ketika dia sudah duduk di samping Yesung.

Yesung tersenyum lalu mengangguk sekali. “Halo. Ada kabar baik?” tanyanya ingin tahu.

“Ada. NSS berhasil melumpuhkan The Almighty,” kata Yuri dengan nada bangga yang tidak berusaha ditutup-tutupinya. Dan itu berkat kau, Yesung-ssi. Cerita-ceritamu adalah kunci dari keberhasilan misi ini.”

Yesung hanya mengangguk sekali. “Aku sudah tahu cepat atau lambat mereka akan berhasil. Leeteuk-hyung pemimpin yang hebat. NSS juga punya Siwon dan Kyuhyun. Mereka bisa melakukan apa saja.”

Yuri ikut mengangguk, kemudian menelan ludah karena tiba-tiba saja dia jadi merasa gugup. “Err, dan satu lagi. Sebenarnya ini tidak bisa dibilang kabar baik, sih. Hanya saja aku ingin memberitahumu sesuatu,” katanya ragu-ragu.

“Apa?”

“Tapi kau jangan marah, ya.”

“Tidak akan,” Yesung berkata meyakinkan.

“Err, sebenarnya aku ini…bukan dokter di rumah sakit ini. Aku adalah, eh, ahli jiwa yang bekerja untuk NSS. Dan aku sendiri yang berinisiatif untuk mencari informasi darimu soal The Almighty setelah mendengar cerita dari Choi Siwon,” Yuri akhirnya mengaku. “Maafkan aku, Yesung-ssi. Maaf karena aku sudah bohong padamu,” lanjutnya sungguh-sungguh.

Tanpa diduga, Yesung malah meledak tertawa. “Kau tahu, kau itu lucu sekali. Jadi kau benar-benar menganggapku sepolos itu, ya? Aku sudah tahu sejak awal, lho, kalau kau adalah anggota NSS,” katanya setelah tawanya reda.

“EH?!” Yuri memekik tak percaya. “Lalu kenapa kau tidak mengusirku kalau kau sudah tahu?”

“Memangnya harus diusir, ya?” Yesung malah balik bertanya.

Yuri mengangkat bahu, mendadak merasa sangat konyol dan salah tingkah.

Yesung menyeringai. “Aku suka padamu, makanya tidak mengusirmu. Lagipula kau cerewet sekali sejak kita pertama kali bertemu, jadi mana sempat aku mengucapkan kata-kata pengusiran padamu?”

“Eh? K-kau…suka…padaku?” Yuri mengulangi dengan suara kecil, wajahnya sudah bersemu merah sekarang.

“Iya, aku suka padamu. Kau adalah orang pertama yang tidak melihatku sebagai seorang anggota NSS, seorang pasien rumah sakit jiwa, ataupun seorang lelaki asing yang pantas untuk ditakuti. Kau hanya melihatku sebagai seorang lelaki bernama Yesung, dan aku menyukaimu karena itu. Bahkan Hyesun pun tak bisa melihatku seperti caramu melihatku,” Yesung berujar panjang lebar.

“Err, jadi kau…sungguhan suka padaku?” Yuri masih sangsi.

Yesung memutar mata. “Tentu saja. Dan kalau melihat ekspresimu, kutebak kau pasti juga suka padaku, kan?”

Yuri langsung melotot. “Ah, Yesung-ssi, aku—“

“Jadi, kapan kau akan membawaku jalan-jalan ke taman di ujung jalan yang kau bangga-banggakan itu?” Yesung buru-buru memotong, “Akhir pekan ini aku keluar dari rumah sakit, lho.”

“Benarkah?” Yuri menyahut senang.

“Yep. Kau akan mengajakku jalan-jalan sungguhan, kan? Soalnya aku benar-benar khawatir kalau perawat-perawat di sini semuanya punya pistol seperti perkiraanmu.”

Mau tidak mau, Yuri tertawa juga mendengar ucapan Yesung barusan. “Kalau begitu akhir pekan ini kita ke taman itu. Akan kutraktir kau makan eskrim. Bagaimana?” katanya kemudian.

Untuk sesaat, keduanya hanya saling memandang dan tersenyum sampai akhirnya Yesung berujar mantap, “Deal.”

Dan setelah detik itu, Yuri berharap Yesung telah benar-benar menghapus ingatan pahitnya dan membuka lembaran baru bersama dirinya—ups, setelah dia meminta maaf pada Choi Siwon karena tidak bisa menerima cinta lelaki itu, tentu saja.

 

DING!

Iklan
[FF/Oneshot] Bittersweet Love

6 pemikiran pada “[FF/Oneshot] Bittersweet Love

  1. DING JUGA! Ih, ini beneran bittersweet sekali deh, Kak. Saia hanyut ke dalam dialog-dialog khas kakak. Lucu (apalagi celetukan-celetukan Kyuhyun; ya ampun dia amatiran banget kelaitannya), cerkas, dan menggigit. Gak perlu narasi yang puitis atau mendayu-dayu, tapi lugas dan langsung masuk ke inti ceritanya. Latar belakangnya juga unik, belakangan saia intip ke entri terbaru, kakak sering buat yang action ya, tapi saia baru sempat intip mendetail yang ini /doh. Maaf. Ntar saia jalan-jalan lagi.

    Awalnya saia kira cerita ini bakal menanjak dan menjadi berat, tapi gak ding. Ringan. Apalagi castnya Yuri juga mendukung, dia punya muka yang jutek, khas anggota NSS (jadi teringat adegan di IRIS) lols, tapi di balik penampilan tegapnya, dia ramah. Pas bangeeets. Saia juga suka nih endingnya, bener kan Yesung suka Yuri. Manis deh ah. Sayang si Siwon ditolak, padahal dia juga baik keliatannya.

    Keep writing.

    1. DING LAGI! *halah*
      cerkas apaan sih dek? cerdas dan ringkas ya? *serius nanya*
      ehehe jadi inget bahasan kita di twitter. ini emg ff action yg ga action bgt kayanya *malu*
      sip. ditunggu kunjungan pasca-ospeknya :pp
      keep writing juga buat kamu. ntar kepoin wp kamu lagi ah :pp

      1. cerkas itu, er… kakak hampir bener kok. cerkas itu lebih diartikan sebagai kesatuan dari cerdas dan tangkas. ff kakak membahas kejadian yang unik sih, plot yang cerdas dan berbeda dari ff lainnya. makanya saia sebut cerkas 🙂
        sip deh. thanks, kakak.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s