Without Words [10]

taken from tumblr.com (undefined)

Title : Without Words [10]

Author : Yuridista

Genre : Friendship, slightly romance and yaoi

Pairing : YunJae

Rating : AA-PG

Length : Multi Chapter-3.003 w

BGM : Hurts-Shinhwa

Disclaimer : Seluruh karakter yang terdapat di dalam fanfiction ini bukan milik penulis kecuali OC. Ide, plot, dan alur cerita murni dari hasil imajinasi penulis. Tidak diizinkan mengcopy-paste tanpa seizin penulis.

p.s : previous part is here.

***

“Bocah, kau sedang nonton apa?” Yunho bertanya seraya melempar dirinya sendiri di sofa di sebelah Changmin.

Changmin menoleh, menatap hyung-nya yang bertampang lelah itu dengan pandangan prihatin sebelum menjawab, “Mau nonton Dr.Jin.”

Mata Yunho mengerjap dua kali. “Eh?”

“Kenapa? Kayak kau nggak hafal jadwalku saja, Hyung.”

Yunho menggeleng. “Ganti saja. Jangan nonton itu,” sergahnya, sudah akan meraih remote televisi yang diletakkan di meja di hadapan Changmin, tetapi lelaki yang lebih muda rupanya jauh lebih gesit darinya.

“Apa, sih? Aku, kan, sudah nonton Dr. Jin sejak episode pertama,” Changmin menukas, menggenggam erat-erat remote televisi dengan kedua tangannya.

“Kau akan menangis. Dan itu mengerikan,” kata Yunho beralasan.

Changmin memutar matanya. “Bilang saja kau tidak mau melihat wajah Jae-hyung,” sahutnya tepat sasaran. “Dasar kekanak-kanakkan kau itu.”

“Pokoknya jangan nonton itu,” Yunho bersikeras, “Cepat ganti channelnya.”

“Aish,” Changmin mendesis jengkel. “Biar aku buatkan kau capuccino saja,” katanya, kemudian bangkit menuju dapur sambil tetap menggenggam remote di tangannya.

“Ya! Kenapa malah membuatkan aku capuccino?” Yunho menyahut setengah berteriak.

Changmin menoleh lagi, kali ini dengan ekspresi bosan. “Karena kau pasti akan jadi melankolis setelah melihat wajah Jae-hyung. Dan itu mengerikan,” katanya sarkastik.

Yunho membelalakkan matanya. “Ya imma!”

“Cobalah untuk tidak berteriak-teriak terus begitu, Hyung. Ini akhir pekan, Demi Tuhan. Aku kepengin menikmati ketenangan setidaknya untuk dua hari saja,” pinta Changmin, kemudian kembali melangkah menuju sofa dengan secangkir cappuccino di tangan kiri dan remote televisi di tangan lainnya.

Yunho mendesah, matanya tak lepas-lepas menatap cangkir capuccino yang kini telah diletakkan Changmin di hadapannya. “Kau benar-benar membuatku tersiksa, Bocah. Aku tidak tahu lagi bagaimana caranya menghadapimu tanpa harus melotot dan berteriak.”

“Aku membuatkanmu capuccino. Kau harusnya berterimakasih padaku, tahu,” tukas Changmin sambil nyengir.

Yunho menggeleng-geleng. “Capuccino-mu hanya akan melukai hatiku,” bisiknya dengan nada terluka.

Changmin meringis. “Ouch. Padahal aku mengharapkan semangkuk sup ikan untuk secangkir cappuccino ini.”

“Jangan terlalu berharap. Kau sendiri yang berjanji akan membuatkanku cappuccino setiap kali aku rindu pada Jae. Jadi itu tidak dihitung.”

“Dasar licik.” Changmin memberengut, bibirnya mencebik kesal. “Lupakan saja, Hyung. Sekarang aku hanya butuh kau diam karena dramanya sudah mulai.”

“Tapi, Bocah, aku tidak mau—“

Changmin mengangkat sebelah tangannya untuk menghentikan ucapan Yunho. Dipandanginya sekali lagi lelaki dengan tampang muram di sebelahnya itu sebelum kemudian berujar, “Kau selalu seperti ini selama 16 episode Dr. Jin, Hyung. Selalu, padahal akhirnya kau tetap saja akan menontonnya sampai tamat. Jadi kali ini aku tidak melihat alasan kenapa hal itu akan jadi berbeda.”

***

Malam itu, Yunho akhirnya berakhir di ranjang kamarnya dengan kepala berat. Dia tidak merasa harus menyalahkan Changmin untuk hal ini karena toh kepalanya selalu terasa seperti mau pecah seperti ini setidaknya lima hari dalam seminggu. Menonton drama Jaejoong memang terasa seperti neraka baginya, tapi sebenarnya sejak awal rasa bersalahnyalah yang membuatnya jadi seperti orang sinting begini. Ingatan tentang bagaimana dia meninggalkan Jaejoong begitu saja pada pertemuan terakhir mereka hampir sebulan yang lalu terus membayanginya seperti mimpi buruk, dan ingatan itu menjadi semakin parah karena dia tahu bahwa Jaejoong pasti menangis waktu itu. Jaejoong menangis, dan untuk kedua kalinya dia tidak berbalik untuk mengusap air mata lelaku itu.

Yunho memejamkan mata, berusaha merenungkan kenapa rasanya segala hal hanya berjalan tidak semestinya untuk dirinya sendiri. Dia memikirkan bagaimana Changmin sepertinya bisa menghadapi semuanya dengan cukup baik, mengingat fakta bahwa dia bahkan samasekali tidak melewatkan satu episode pun dari drama Rooftop Prince-nya Yoochun dan Dr.Jin-nya Jaejoong tanpa sedikit pun merasa terganggu dengan banyaknya adegan yang menampilkan tokoh yang diperankan Yoochun dan Jaejoong. Sedangkan Yunho, jangankan tidak terganggu, tidak mengernyit saja sudah sulit dia lakukan setiap melihat dua orang yang pernah menjadi sangat dekat dengannya itu muncul di layar kaca.

Rasa bersalahnya terhadap Jaejoong telah membawa Yunho ke level di mana dia menjadi terlalu paranoid terhadap hal-hal di sekelilingnya. Dia menjadi takut untuk melihat wajah Jaejoong, Yoochun, atau Junsu di layar kaca, papan iklan, atau koran dan majalah, dia menjadi kelewat waspada dengan setiap telepon atau SMS dari nomor yang tidak dikenalnya, dia menjadi terlalu kasar pada Changmin jika anak itu sudah mulai menyindirnya tentang hal-hal yang berhubungan dengan JYJ, dan dia juga menjadi sering menyalahkan dirinya sendiri untuk setiap kesalahan yang dilakukannya. Seolah-olah rasa bersalahnya terhadap Jaejoong telah berubah menjadi monster yang mengontrolnya dari dalam, membuatnya semakin terpuruk dan tidak tahu bagaimana caranya untuk bangun dan kembali menghadapi dunia—seperti Yunho yang seharusnya.

***

Changmin tengah sibuk menggoreng telur di dapur ketika didengarnya bel pintu depan dibunyikan oleh seseorang. Lelaki itu lalu buru-buru mematikan kompor dan berlari untuk melihat siapa yang datang, dan senyumnya langsung merekah ketika mendapati wajah Boa di layar interkom.

“Pagi, Noona,” Changmin menyapa hangat tepat setelah dia menekan tombol pembuka dan mengayunkan pintu di hadapannya.

Boa mengerjap, tampak agak kaget dengan sambutan Changmin yang ramah. “Ah, halo, Changmin-ah. Selamat pagi,” balasnya beberapa detik kemudian.

Changmin tersenyum. “Ayo, masuk. Apa kau sudah sarapan? Kebetulan aku sedang menggoreng telur,” dia berkata seraya membuka pintu lebih lebar.

“Terimakasih atas tawarannya, Changmin-ah, tapi aku sudah sarapan di mobil dalam perjalanan ke sini tadi,” sahut Boa, “Apa hyungmu sudah bangun?”

Changmin menggeleng sambil mendesah. “Akhir-akhir ini Yunho-hyung susah sekali bangun pagi. Aku sampai harus berteriak setidaknya sebanyak lima kali di dekat telinganya untuk bisa membuatnya membuka mata.”

Boa meringis, kelihatan bersimpati dengan ‘kesulitan’ yang dialami Changmin. “Mungkin dia terlalu capek. Kau tahu, mengingat betapa seringnya kalian berdua harus bolak-balik antara Korea dan Jepang. Aku secara peribadi juga menganggapmu sudah kelewat kurus dan tirus sekarang.”

“Ini semua salah Yunho-hyung, Noona,” Changmin menukas, “Dia yang tidak pernah membuatkanku makanan enak dan malah memaksaku memasak untuknya setiap hari.”

“Seseorang perlu menyadarkannya, kalau begitu,” Boa berujar setengah bercanda.

Changmin tergelak. Dia selalu suka pada Boa. Menurutnya Boa adalah gadis yang keren dan bisa diandalkan, dan karenanya dia merasa gadis itu cocok sekali dengan Yunho dan kalau saja hyungnya itu tidak pernah mengenal Jaejoong, Changmin berani bertaruh sekarang ini Yunho dan Boa sudah berkencan dan akan menikah dalam waktu dekat. “Kalau begitu aku akan membangunkannya sekarang, Noona. Kau pasti harus buru-buru latihan, kan? Tunggu sebentar di sini. Aku akan segera kembali,” katanya kemudian, lalu langsung melesat menuju kamar Yunho.

***

“Ya! Yunho-hyung! Ayo cepat bangun!” teriak Changmin tepat di telinga Yunho ketika lelaki itu tak juga bergerak dari posisi telungkupnya bahkan setelah Changmin membuka semua tirai jendela dan membuang selimut Yunho ke lantai.

“Ngh?” Yunho menyahut dalam erangan malas tanpa sedikit pun membuka matanya.

“Kau harus bangun, dasar pemalas. Boa-noona sudah menunggumu sejak berabad-abad yang lalu, tuh,” bentaknya, kali ini seraya menngguncang-guncang tubuh Yunho yang berbalut piyama dengan motif bunga-bunga warna hijau-kuning.

“Ngh?” Yunho mengerang lagi, lalu menguap tiga kali berturut-turut.

“Ya! Bangun!” teriak Changmin untuk yang kesekian kalinya.

Yunho akhirnya membuka matanya perlahan. Sambil menggeliat dan mengubah posisi berbaringnya menjadi telentang, ditutupnya mulutnya dengan sebelah tangan ketika kuapan yang lain mulai menyerangnya. “Jam berapa?” tanyanya seraya memicingkan mata untuk memfokuskan pandangan.

Changmin berkacak pinggang di hadapannya. “Sepuluh. Dasar pemalas. Kau tidak ingat, ya, kalau hari ini kau harus latihan bersama Boa-noona untuk tampil di acara comebacknya?”

Mendadak, sepasang mata Yunho melebar. “Oh, sialan,” umpatnya.

Changmin memberinya tatapan penuh celaan. “Lihat dirimu, Hyung. Kau tidur jam berapa sampai jadi kelihatan lebih parah dari orang yang minum-minum semalaman begini?”

“Entahlah. Jam empat mungkin? Atau lima? Ah, lupakan saja, Changmin-ah. Aku tidak ingat,” ujar Yunho seraya bangun dari ranjangnya. “Boa masih di sini?”

“Tuh, ada di luar,” Changmin menjawab seraya menunjuk ruangan di balik pintu kamar Yunho dengan dagunya. “Kau tahu, kalau kau berpikir untuk mengencaninya, maka harus kukatakan padamu bahwa mulai sekarang lupakan saja ide itu. Dia mungkin sudah mencoretmu dari daftar pertimbangannya sejak satu jam yang lalu.”

“Dia sudah di sini sejak satu jam yang lalu?” Yunho memekik tak percaya. “Astaga, kenapa kau tidak bilang padaku dari tadi, sih?”

Changmin memutar mata. “Aku akan dengan senang hati melakukannya kalau saja kau tidak tidur seperti mayat sampai kira-kira sepuluh menit yang lalu,” tukasnya pedas.

Yunho menggeleng-geleng. “Jangan terlalu kasar begitu padaku, Bocah. Orang tua sepertiku gampang sekali terluka hatinya, tahu.”

Changmin berdecak, kemudian buru-buru menarik bangun Yunho dari ranjangnya. “Lebih baik kau mandi dan bersiap-siap sekarang juga, Hyung. Aku akan menjadi tumbal untuk menutupi kesalahanmu pada Boa-noona kali ini, dan untuk itu kau harus mentraktirku makan enak nanti malam.”

Yunho membuka mulut, bersiap untuk melancarkan serangkaian protes, tapi Changmin keburu mendorongnya ke kamar mandi dan menutup keras-keras pintu di belakangnya.

“Dan aku yang pilih tempatnya,” tambah lelaki yang lebih muda sebelum benar-benar keluar dari kamar Yunho.

***

“Akhirnya kau keluar juga dari rumah beruangmu, Yunho-ya,” Boa berkomentar ketika melihat Yunho berjalan keluar dari kamarnya.

Yunho nyengir, kemudian menyahut, “Maafkan aku, Sunbae. Ini semua salahku. Kau boleh menghukumku kapan saja.”

Boa dan Changmin memutar mata nyaris bersamaan mendengar ucapan Yunho yang berlebihan.

“Kau mungkin perlu memasungnya atau mengikat tangannya atau menyuruhnya berdiri terbalik selama setengah hari, Noona. Itu mungkin bisa membuatnya jadi sedikit waras,” Changmin mengusulkan dengan nada tajam seraya memasukkan potongan besar telur ke dalam mulutnya.

“Kau membuatku benar-benar kelihatan seperti seorang pendosa, Changmin-ah,” sahut Yunho, memberi Changmin pandangan sedih yang akhir-akhir ini sepertinya jadi pandangan yang paling sering diperlihatkannya.

“Changmin benar. Kau kelihatan sangat kacau, Yunho-ya. Aku bisa saja membawamu ke psikiater sekarang juga kalau kau terus memperlihatkan ekspresi zombie seperti itu,” Boa berujar dengan nada prihatin, memandang Yunho dari ujung kepala sampai ujung kaki.

“Tuh, kan, Boa-noona saja setuju denganku,” Changmin menimpali, kelihatan berpuas diri. “Kau tahu Noona, aku benar-benar berpikir kalau kau adalah orang yang paling pantas mengurus lelaki tua ini dibandingkan siapapun juga.”

Boa tertawa kecil. “Terimakasih banyak atas pujiannya, Changmin-ah, tapi jujur saja aku samasekali tidak ingin hidupku berakhir di tangan seorang Kim Jaejoong,” guraunya, lalu mengerling penuh arti kepada Yunho.

Yunho menelan ludah, wajahnya berubah jadi lebih pucat daripada sebelumnya. Dalam hati dia mengutuk dirinya sendiri karena telah membiarkan suasana hatinya memburuk begitu saja hanya karena mendengar nama Jaejoong disebut.

“Jaejoong-hyung tidak akan membunuhmu, Noona. Aku berani bertaruh, paling-paling dia hanya akan menerormu seumur hidup kalau melihat situasinya sekarang,” Changmin berujar, samasekali tidak merasa perlu repot-repot mengubah topik pembicaraan.

Boa memelototkan sepasang matanya, pura-pura memperlihatkan ekspresi ketakutan. “Tiba-tiba saja pemikiran dibunuh oleh Kim Jaejoong jadi kedengaran sejuta kali lebih baik daripada diteror seumur hidup olehnya,” katanya berlagak ngeri.

Changmin tertawa. “Aku tahu kau sudah mengenalnya dengan sangat baik untuk bisa memahami seberapa besar kemungkinan pemikiranku tadi jadi kenyataan, Noona.”

“Oh, percayalah, Changmin-ah,” Boa menyahut dengan dramatis, “aku memang sudah sangat mengenalnya.”

Tawa Changmin sekali lagi berkumandang. “Kau benar-benar memahamiku lebih baik daripada Yunho-hyung, Noona.”

Boa tersenyum penuh simpati kepada Changmin, kemudian seolah menyadari bahwa dia telah melupakan sesuatu, sepasang matanya melebar tiba-tiba. “Oh, tidak. Sepertinya kita sudah sangat terlambat untuk pergi latihan, Yunho-ya,” ucapnya, berpaling untuk memandang Yunho yang tampak sudah membeku di tempatnya berdiri sejak tadi.

“Kalau begitu kalian sebaiknya berangkat sekarang, Noona,” kata Changmin seraya bangkit berdiri setelah menghabiskan sarapannya.

Boa mengangguk. “Jadi bisa kita berangkat sekarang?” tanyanya kepada Yunho.

Yunho hanya mengangguk tanpa mengucapkan apa-apa. Rasanya dia sudah tidak bisa membuka mulut saking tertekannya. Lelaki itu hanya mengekor Boa dan Changmin dalam kebisuan ketika keduanya melangkah menuju pintu depan.

“Kami pergi dulu, Changmin-ah. Sampai jumpa,” Boa berkata seraya melambai kepada Changmin.

Changmin tersenyum. “Sampai jumpa, Noona,” balasnya. “Ah, dan jangan lupa bawa hyung tersayangku ini ke psikiater. Dia benar-benar butuh obat anti Kim Jaejoong,” tambahnya sebelum menyeringai lebar dan menutup pintu.

Jantung Yunho mencelos. Hari ini sepertinya tidak akan berjalan dengan benar lagi untuknya.

***

“Kau kenapa, Yunho-ya?” Boa bertanya hati-hati ketika dia dan Yunho sudah duduk berdua di salah satu sudut coffee-shop usai latihan menari untuk lagu comebacknya.

“Hah?” Yunho menyahut dengan tampang bodoh.

Boa menghela napas. “Ada apa denganmu, Jung Yunho? Aku serius waktu bilang kau benar-benar kelihatan kacau. Apa ini gara-gara Jaejoong lagi?” tanya Boa bertubi-tubi.

Kali ini, gentian Yunho yang menghela napas. Dia menyesap freddonya pelan-pelan kemudian berujar lambat-lambat, “Aku sudah terlalu menyakitinya kali ini, Boa-ya.”

Alis Boa terangkat sebelah. “Maksudnya?”

“Kau tahu, waktu terakhir kali kami bicara, aku benar-benar bersikap dingin padanya. Aku setengah mati berusaha untuk tidak jatuh lagi ke lubang yang sama dengan terus-terusan berurusan dengannya. Aku tidak akan bisa melangkah keluar dari masa lalu kalau aku menuruti keinginannya untuk tetap bertemu seperti itu, Boa-ya. Aku tidak sanggup,” kisah Yunho, sinar matanya meredup sekarang.

“Yunho-ya,” Boa berkata lembut, “aku sepenuhnya mengerti perasaanmu. Aku tahu luka yang kau tanggung sebenarnya jauh lebih besar daripada yang kau perlihatkan, tapi bukan berarti kau harus terus mencoba lari dari masa lalu hanya karena ingin menyembuhkannya, kan? Mungkin Jaejoong hanya ingin tetap menjaga hubungan baik denganmu dan Changmin. Bagaimanapun juga, kalian berlima pernah punya hubungan layaknya saudara kandung, kan?”

“Tidak, Boa-ya. Tidak seperti itu.” Yunho menggeleng-geleng. “Jaejoong tidak pernah berhenti mengungkit masa lalu setiap kali dia punya kesempatan melakukannya. Dia selalu membuat segalanya jadi lebih buruk dari sebelumnya dengan mengucapkan hal-hal yang sebenarnya sudah sangat jelas. Dia yang memutuskan pergi dengan membawa Yoochun dan Junsu, tapi dia masih saja bersikap seolah aku lah yang paling bersalah karena tidak ikut pergi juga bersamanya dan membuat Changmin memilih untuk tetap bertahan di sini bersamaku.”

“Yunho-ya—“

“Aku cuma merasa bahwa aku sudah tidak sanggup menghadapi ini semua, Boa-ya. Aku tidak tahu lagi harus bagaimana. Rasanya bertahan atau menyerah akan sama saja buruknya buatku.”

“Hei, jangan bilang begitu,” Boa buru-buru menukas. “Kau masih punya Changmin, aku, teman-temanmu yang lain, dan juga Cassiopeia, ingat? Setidaknya kau tahu bahwa masih banyak orang yang akan dengan senang hati menarikmu dari jurang kegilaan. Jangan coba-coba berpikir untuk menyerah, oke? Aku akan membunuhmu kalau kau melakukannya. Dan aku serius tentang ini.”

“Seandainya saja semua memang semudah apa yang kau katakan, Boa-ya.”

“Hei, semua memang mudah, kok, kalau kau menjadikannya mudah. Kau sudah memilih untuk melangkah maju, dan ini adalah bagian dari risiko atas pilihanmu. Awalnya memang terasa sangat sulit, tapi kalau kau berhasil berteman dengan kesulitan itu, maka tidak akan ada hal yang lebih buruk yang bisa terjadi. Kau harus bisa bangun dari mimpi buruk ini, Yunho-ya. Aku tahu kau bisa,” Boa berkata panjang lebar sebelum tersenyum penuh simpati pada Yunho.

“Kau yakin aku bisa melakukannya?” Yunho bertanya sangsi.

Boa mengangguk mantap.

“Kenapa?” tanya Yunho lagi.

Boa tersenyum. “Karena kau adalah Jung Yunho. Sesederhana itu.”

***

“Bagaimana keadaan di sana?” Yoochun bertanya setengah berbisik dengan lawan bicaranya di telepon.

“Parah. Dia makin kelihatan kayak zombie sekarang. Aku paling benci kalau harus membangunkannya di pagi hari. Bagaimana dengan di tempatmu, Hyung?”

Yoochun mengernyit sebelum menyahut, “Sama saja. Dia minum lebih banyak sebulan belakangan ini. Aku heran kenapa dia bahkan masih bisa syuting drama dalam kondisi seperti itu.”

“Oh, sial. Kenapa mereka berdua jadi sinting begini, sih, Hyung?”

“Kau kayak tidak hafal sifat mereka saja,” desah Yoochun putus asa. “Sepertinya kita harus melakukan sesuatu. Aku perlu bertemu denganmu secepatnya untuk membahas ini. Kapan kau ada waktu?”

“Hmmm. Coba kita lihat. Aku sibuk dengan konser bersama manajemen sampai sebulan ke depan, Hyung. Mungkin akan susah kalau bertemu dalam waktu dekat karena aku akan sering berada di luar Korea.”

“Nah. Justru lebih bagus kalau kita bisa bertemu di luar Korea. Setidaknya kita tidak perlu ketakutan akan ketahuan wartawan. Kebetulan aku juga ada acara fansigning keliling Asia sampai dua bulan ke depan.”

“Oh, kalau begitu kita bertemu di Indonesia saja, Hyung. Aku akan ada di sana tanggal 22 September. Kurasa aku bisa menyelinap sebentar untuk menemuimu.”

“Indonesia?” Yoochun mengulangi. “Hmmm. Sebenarnya Indonesia belum ada dalam jadwal negara yang akan aku kunjungi, sih. Tapi itu bisa diatur. Aku akan bilang pada manajerku untuk menambahkan Indonesia dalam daftar kunjungan fansigningku.”

“Oke. Jadi kita sepakat bertemu di Indonesia?”

Yoochun mengangguk, lalu buru-buru menambahkan, “Deal. Sampai ketemu, Changmin-ah.” Kemudian lelaki itu memutuskan sambungan. Yoochun berbalik dan langsung membeku ketika melihat siapa yang tengah berdiri dengan tangan bersedekap di hadapannya.

“Eh? Jae-hyung?” Yoochun berkata gugup. “Sejak kapan kau ada di situ?”

“Kau tadi bicara dengan siapa di telepon?” tanya Jaejoong langsung. Sepasang matanya menyipit curiga.

Yoochun menelan ludah, setengah mati berharap Jaejoong tidak sampai mendengarkan percakapannya dengan Changmin di telepon tadi. Kalau sampai hyungnya itu mendengar, tamatlah riwayatnya. “Err—teman, Hyung. Teman lamaku di Amerika.”

Jaejoong memajukan bibir bawahnya. “Benarkah? Kok tampangmu kayak habis tertangkap basah melakukan kejahatan besar begitu?”

“Aish. Kau itu memang selalu terlalu sensitif tentang semua hal, Hyung. Ini benar-benar temanku, tahu. Hanya saja dia cewek. Makanya aku bicara pelan-pelan supaya tidak ada gosip yang menyebar,” kilah Yoochun seraya buru-buru melangkah kembali menuju studio. “Ayo kita kembali ke dalam. Junsu pasti akan mengamuk kalau kita tidak cepat-cepat menyelesaikan pemotretan hari ini.”

“Hei, tunggu dulu, Yoochun-ah. Aku belum selesai bicara,” sergah Jae, cepat-cepat menarik sebelah lengan lelaki yang lebih muda darinya itu.

Yoochun berbalik. “Apa lagi yang ingin kau bicarakan, Hyung? Aku benar-benar sedang tidak ingin bermain interogasi-interogasian denganmu.”

“Dasar besar kepala. Aku sudah tidak ingin membahas telepon rahasiamu, kok. Aku hanya ingin meminta pertanggungjawaban darimu.”

Yoochun mengerutkan keningnya. “Pertanggungjawaban tentang apa?” tanyanya tak mengerti.

Jae membuang nafas. “Kau membuat twitterku penuh dengan mention kelewat khawatir dari jutaan fansmu. Sudah kubilang jangan menghapus akunmu, kenapa kau masih nekat melakukannya juga? Sekarang jadi aku yang pusing, kan, karena harus membaca jutaan mention tentang kau setiap hari,” omelnya panjang lebar.

Yoochun memutar mata. “Tuh, kan, kau berlebihan lagi. Lagipula aku juga melakukannya untuk kepentinganmu, kok, Hyung.”

“Hah? Kepentinganku bagaimana?”

“Yah, supaya aku bisa memindahkan semua followerku ke akunmu. Aku tahu kau paling senang diperhatikan, Hyung,” katanya, kemudian nyengir lebar kepada Jaejoong.

“Astaga, kau menyebalkan sekali, Park Yoochun,” erang Jae putus asa.

Yoochun tergelak. “Sudah, ah, Hyung. Kau, kan, tahu dengan pasti apa alasanku menghapus akun twitterku. Nanti juga kalau aku merasa waktunya tepat aku akan membuat akun yang baru lagi. Jadi jangan terlalu dipikirkan soal mention-mention itu, oke?”

Jae mendesah, tampaknya sudah menyerah untuk mendebat lagi. Sepertinya dia memang terlalu sayang pada lelaki di hadapannya itu sampai-sampai tidak sanggup untuk sekedar memarahinya lama-lama. “Baiklah. Tapi kau harus janji tidak akan bersikap aneh-aneh lagi seperti kemarin-kemarin. Kau harus memberitahuku atau Junsu kalau kau sedang rindu pada ayahmu atau kalau kau punya masalah lain. Apa kau mengerti, Park Yoochun?”

“Siap, Bos Besar. Asal kau tidak sering-sering berubah sinting aku pasti akan bersikap baik, kok,” ujarnya, tersenyum manis pada Jaejoong sambil diam-diam mengingatkan dirinya sendiri tentang janjinya yang lain—bertemu dengan Changmin untuk memperbaiki semua hal yang tidak beres antara Jaejoong dan Yunho dan mungkin juga mereka berlima.

 

DING!

Iklan

6 pemikiran pada “Without Words [10]

  1. Ah, ini bawa2 indonesia, bawa2 SMTown, bawa2 drama nya Jaejoong, comebacknya boa, dan bawa2 yoochun yg nutup akun twitternya… ahahaha… nice… karena bawa2 semua itu yang part 10 ini berasa sangat fresh sekali.

    tapi aku jg kurang nyaman dikit nih dgn bbrp kata non-baku seperti ‘kayak’ dan ‘kepengin’, rasanya agak gimana aja baca kata2 non baku seperti itu di cerita yg nge-angst begini. itu aja, yg lainnya daebak as usual.

    1. hahaha. iya nih unnie. semua dibawa-bawa udah kayak mau pindahan aja :pp
      oh iya. sebenernya sih aku pas nulis kata2 ga baku itu juga sempet apus-tulis apus-tulis sih. cuman aku akhirnya tulis biar partnya ga berasa terlalu mellow dan ada kesan humor2nya dikit terutama di bagian changmin.
      tapi kalo jadi aneh mungkin ke depan bakal aku ilangin. makasih banyak unnie kritiknya 😀

  2. wiih fresh banget ceritanya, ada berita2 terbarunya.
    terus keknya banyak yang harapan2 pribadi juga nih ehehehe
    lanjutkan mbaaak ^^

    1. hahaha iya jadi kalo yg males update gosip bisa langsung baca disini *halah*
      kkk~~~ sebagai cassie kan harus aktf till the end a.k.a ngarep terus :pp
      iya. thanks for commenting yaaa 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s