[FF/Oneshot] Edge of Desire

 

Title : Edge of Desire

Author : Yuridista

Genre : Romance, Angst, Action

Casts : Ham Eunjung, Lee Jangwoo, Park Jihoon (OC)

Rating : PG-13

Length : Oneshot-3.670 w

BGM : We Were in Love-T-Ara ft. Davichi

Disclaimer : Seluruh karakter yang terdapat di dalam fanfiction ini bukan milik penulis kecuali OC. Ide, plot, dan alur cerita murni dari hasil imajinasi penulis. Tidak diizinkan mengcopy-paste tanpa seizin penulis.

p.s : FF ini pernah diikutsertakan dalam 2012 FF Contest Ham Eunjung Fanbase Indonesia di facebook dan telah dipublikasikan di note page fanbase tersebut.

***

“Namanya Ham Eunjung,” Park Jihoon berkata seraya menyerahkan selembar foto kepada lelaki yang lebih muda di hadapannya. “Dia anak dari bos mafia saingan klien kita, Jangwoo-ya,” tambah pimpinan tertinggi organisasi pembunuh bayaran terbesar di Korea Selatan itu.

Lee Jangwoo, nama pemuda yang duduk di hadapan Ketua Park, mengambil foto gadis bernama Ham Eunjung itu dari atas meja kemudian mengamatinya dengan seksama. “Cantik, sih, tapi—“

“Bukan tipe favoritmu, eh?” Ketua Park memotong seraya menyeringai.

Jangwoo tertawa kecil. “Sejujurnya aku memang lebih suka pada gadis yang tidak mengundang bahaya, Hyung,” guraunya.

Well, sayangnya kali ini sepertinya kau harus sedikit melibatkan hal-hal lain di luar profesionalisme, Jangwoo-ya.”

Jangwoo mengangkat sebelah alisnya. “Maksudnya?”

“Jadi begini,” Ketua Park memulai perlahan, “klien kita menginginkan pelayanan ganda kali ini—sebagai pembunuh sekaligus mata-mata. Tambahan lagi, dia menginginkan hasil yang dramatis, seperti yang sering kau lihat di televisi itu.”

“Tunggu dulu. Jangan bilang kalau aku harus—“

“Tepat sekali, Nak.” Ketua Park mengangguk, seolah sudah tahu apa yang akan dikatakan oleh anggota organisasi kesayangannya itu. “Dia memintamu untuk memata-matai jaringan bisnis keluarga Ham dengan menjadi kekasih putrinya, si Ham Eunjung ini.”

“Eh?” Mulut Jangwoo membulat, dan sepasang matanya juga. “Apa kau serius, Hyung?”

Ketua Park mengangguk sekali sebagai jawabannya.

“Ya ampun, memangnya dia kira pekerjaan kita sepicisan itu, ya? Kayaknya dia terlalu banyak nonton drama, deh,” Jangwoo berkomentar seraya menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Mungkin karena dia adalah tipe orang yang romantis?” Ketua Park menyahut sekenanya.

Jangwoo memutar matanya. “Yang benar saja.”

“Ya, apa boleh buat? Aku sudah telanjur menyetujui kontraknya karena seratus persen yakin kalau kau akan bisa melakukan pekerjaan ini dengan baik.”

“Dasar. Kau itu memang orang tua yang benar-benar merepotkan, Hyung,” Jangwoo merutuk, pura-pura sebal pada lelaki yang lebih tua yang sudah dianggapnya seperti kakak kandungnya sendiri itu.

Ketua Park tergelak. “Jadi, kapan kau bisa mulai, adik lelakiku yang paling tampan se-Korea Selatan?”

Jangwoo mencibir, kemudian sekali lagi mengamati foto Eunjung di tangannya.

“Kapanpun aku siap, Hyung. Sepertinya Mary Jane sudah tidak sabar untuk segera bersenang-senang bersamaku lagi,” jawabnya mantap sambil mengelus lembut benda yang tersimpan aman di saku jaketnya—revolver Berreta 92A1 kesayangannya.

 ***

Gadis itu cantik, dengan rambut lurus sebahu berwarna hitam yang dihiasi pita berwarna fuschia. Setiap kali dia tertawa, maka tawa itu juga akan mencapai matanya yang bulat dan besar. Meski umurnya sudah menginjak angka 25 tahun, tetapi tingkahnya masih tampak seperti anak-anak—ditambah dengan obsesi anehnya tentang pernikahan ala putri kerajaan dengan gaun putih menggembung yang berenda-renda. Siapapun yang melihatnya tapi belum mengenalnya pasti tidak akan mengira bahwa dia adalah Ham Eunjung, putri tunggal bos mafia dengan jaringan paling kuat di Korea Selatan.

“Permisi, Nona. Apakah bangku di sebelah Anda kosong?” Sapaan itu segera membuat Eunjung menghentikan kegiatannya mengutak-atik ponsel untuk memandang si pemilik suara.

“Maaf?” ujar Eunjung agak bingung—sebagian karena tidak terlalu mendengar sapaan yang ditujukan kepadanya, sebagian karena terkejut ketika memandang sepasang mata milik lelaki yang kini sedang berdiri setengah membungkuk di hadapannya.

Lelaki itu tersenyum canggung. “Bangku di sebelah Anda itu,” Si lelaki mengulangi, “apakah kosong?”

Eunjung mengerjap, kemudian buru-buru berujar, “Ah, iya. Kosong, kok. Bangku ini kosong. Silakan duduk.”

“Terimakasih banyak,” kata si lelaki sambil membungkuk singkat, lalu ikut duduk di sebelah Eunjung. “Anda tahu, saya sudah berkeliling taman ini sebanyak lima kali sejak tadi pagi, dan sepertinya hari ini hari sial saya karena tidak ada satu pun bangku kosong yang bisa saya duduki,” lanjut si lelaki kemudian.

Eunjung meringis, tampak agak kasihan. “Taman ini memang selalu ramai kalau akhir pekan begini.”

Si lelaki mengangguk-angguk. “Kalau begitu, hari ini Anda adalah penyelamat saya,” katanya, kemudian mengulurkan tangannya untuk mengajak Eunjung bersalaman. “Lee Jangwoo imnida. Senang bertemu dengan Anda.”

“Ah, ya. Ham Eunjung imnida,” balas Eunjung seraya menjabat tangan Jangwoo. “Senang bertemu dengan Anda juga.”

Jangwoo tersenyum. “Apa Anda sering ke sini tiap akhir pekan?” tanyanya ramah.

Eunjung menggeleng sekilas. “Tidak juga. Hari ini saya ada janji dengan seseorang, tapi sepertinya dia tidak akan datang,” Eunjung menjawab dengan tampang setengah kesal.

“Kenapa?” Jangwoo bertanya bingung.

Eunjung memutar matanya. “Dia selalu menjadi terlalu sibuk untuk sekedar menepati janji menemui putrinya,” katanya sarkastik.

Mulut Jangwoo membulat, ekspresinya berubah paham. “Oh, jadi orang yang Anda tunggu itu—“

“Yah, dia ayah saya. Ayah paling menyebalkan sedunia,” sela Eunjung, masih dengan nada muram yang sama.

Jangwoo meringis, tidak tahu harus menanggapi bagaimana. “Mungkin dia memang benar-benar sibuk. Atau hanya lupa. Anda tahu, semua orangtua cenderung seperti itu,” katanya pada akhirnya, berusaha menghibur gadis berwajah murung di sampingnya.

“Yah, mungkin Anda benar, Jangwoo-ssi,” ucap Eunjung pasrah. “Eh, kenapa kita jadi membahas ayah saya? Aduh, maaf. Anda pasti menganggap saya cerewet sekarang,” lanjutnya, mendadak seperti tersadar bahwa dia telah berbicara terlalu banyak kepada orang yang notabene masih asing baginya.

Jangwoo tersenyum tipis. “Tidak apa-apa, Eunjung-ssi,” ujarnya, “Ngomong-ngomong, Anda bekerja di mana?”

“Ah, tidak, tidak.” Eunjung menggeleng. “Saya belum bekerja. Saya masih berkuliah di Universitas Dongguk.”

Mata Jangwoo membulat karena kaget. “Lho, jadi Anda mahasiswa di Dongguk juga?”

Kali ini, gantian Eunjung yang tampak terkejut. “Jangwoo-ssi, jangan-jangan Anda adalah senior saya.”

“Saya mahasiswa jurusan musik angkatan 2005. Kalau Anda?”

Eunjung menjentikkan jarinya. “Tuh, kan, benar. Saya mahasiswa jurusan teater angkatan 2006. Sepertinya saya harus mulai memanggil Anda dengan sebutan sunbaenim, nih.”

Jangwoo menyeringai. “Kalau begitu, apa saya sudah boleh berbicara dengan bahasa informal kepada Anda?” katanya dengan ekspresi jahil.

Eunjung tertegun, tetapi kemudian hanya bisa mengangguk pasrah. “Apa boleh buat? Silakan saja, sunbaenim.”

Mendengar ucapan Eunjung yang bernada pasrah, Jangwoo langsung meledak dalam tawa. “Jangan sungkan begitu, Eunjung-ah,” guraunya sambil menepuk pelan bahu Eunjung.

Gadis di sampingnya itu refleks melotot kepadanya. “Hei, kau—ah, maksudku, sunbaenim, jangan karena kau senior jadi bisa seenaknya, ya?” tukasnya defensif.

Jangwoo nyengir, samasekali tidak tampak merasa bersalah. “Kau tahu, aku tidak pernah menyangka bisa bertemu dengan junior selucu kau di tempat semacam ini, Eunjung-ah.”

Eunjung ternganga. “Ya! Kau—“

“Ah, tunggu sebentar.” Jangwoo mengangkat sebelah tangannya untuk menyela Eunjung karena ponsel di sakunya tiba-tiba bergetar, menandakan adanya panggilan masuk—panggilan dari Park Jihoon. Jangwoo pun segera menekan tombol answer dan berbicara dengan suara pelan, “Ada apa, Hyung? Eh? Ke kantor? Sekarang? Yah, baiklah. Oke, Hyung. Sampai Jumpa.”

“Jadi,” Jangwoo berkata, berbalik untuk menghadap Eunjung lagi,”sampai di mana kita tadi?”

Eunjung mencibir. “Sampai di bagian di mana aku ingin menekankan padamu bahwa kau tidak boleh bersikap seenaknya hanya karena kau seniorku di kampus,” ujarnya dengan wajah jengkel.

“Hmmm. Coba kita lihat,” Jangwoo memajukan bibir bawahnya, tampak berpikir-pikir. “Aku mungkin bisa mengabulkan permintaanmu kalau kau mau mengantarku ke kampus kapan-kapan. Aku mungkin akan butuh bantuanmu dalam beberapa kelas. Kau tahu, ku rasa aku sudah terlalu lama mengambil cuti.”

Mata Eunjung mengerjap bingung. “Eh?”

Jangwoo menyeringai. “Jadi, kapan kita bisa bertemu lagi, Eunjung-ah? Ku rasa kau perlu memberitahuku nomormu juga. Yah, untuk jaga-jaga saja, sih.”

“Eh?” Eunjung ternganga. “Serius, nih?”

Jangwoo mengangguk mantap. “Tentu saja.”

“Err—kalau begitu, bagaimana kalau hari Senin ini? Kebetulan aku juga ada kelas di jurusan teater,” Eunjung berujar tak yakin.

Senyum Jangwoo merekah. “Deal.”

 ***

“Jadi, kau sudah berhasil mendekati gadis itu?” Ketua Park bertanya seraya menyodorkan sekaleng soda pada Jangwoo yang duduk di sofa.

Jangwoo mengangguk. “O. Untung sekali dia bukan gadis pendiam yang benci orang asing, Hyung,” jawabnya, tersenyum tipis ketika teringat sikap polos Eunjung saat mereka bertemu tadi siang.

Ketua Park berdecak. “Kayaknya ini terlalu mudah bagimu, ya?”

Jangwoo nyengir lebar. “Kau tahu kau selalu bisa mengandalkanku, Hyung,” katanya berpuas diri, lalu menghabiskan soda kalengnya dalam sekali teguk.

“Aish, dasar bocah besar kepala kau ini.”

“Biar saja,” Jangwoo menukas seraya menjulurkan lidahnya. “Ngomong-ngomong, aku masih penasaran tentang satu hal,” katanya kemudian.

“Apa?” sahut Ketua Park langsung.

“Itu—kenapa klien kita ingin membunuh Ham Eunjung, dan bukannya ayahnya langsung?”

Ketua Park tersenyum. “Dengar, ya, Bodoh, Ham Eunjung itu adalah putri satu-satunya Ham Sooro. Dia adalah keluarga satu-satunya yang dimilikinya yang masih hidup setelah ditinggalkan istri dan anak lelakinya belasan tahun lalu. Ham Sooro sangat menyayangi  Eunjung melebihi seluruh harta dan jaringan bisnis yang dimilikinya. Itulah kenapa klien kita ingin melenyapkan Eunjung, karena dia tahu bahwa ketika yang jadi target adalah gadis itu, maka Ham Sooro akan kolaps karena kesedihan mendalam dan bisnisnya akan hancur saat itu juga. Apa kau mengerti?”

Mendengar penjelasan Ketua Park, mulut Jangwoo membulat dan kepalanya mengangguk-angguk. “Aku mengerti, Hyung.”

“Bagus,” ujar Ketua Park, “Hei, tapi ada satu hal yang ingin aku ingatkan padamu, Jangwoo-ya.”

Jangwoo mengangkat alis. “Apa?”

“Hmmm. Kudengar Ham Eunjung adalah gadis yang dicintai banyak orang. Aku hanya ingin mengingatkan, jangan sampai karena misi ini kau jadi terlena,”Ketua Park berkata dengan nada serius,”dan akhirnya jatuh cinta padanya.”

Kalimat Ketua Park barusan sempat membuat Jangwoo tertegun sebentar, meski dia dengan cepat bisa menguasai diri dan menyahut setengah bercanda, “Astaga, tentu saja tidak, Hyung. Kau tahu bagaimana tipeku. Aku tidak akan jatuh cinta pada gadis yang mengundang bahaya, ingat?”

                                                                                                                  ***

“Apa yang sedang kau pikirkan?” Jangwoo bertanya ketika dia dan Eunjung duduk berdua di salah satu sudut coffee shop favorit Eunjung pada pertemuan kesekian mereka.

“Oh?” Eunjung menyahut, mengalihkan pandangannya dari luar jendela untuk menatap Jangwoo. “Hanya sedang berandai-andai, kok.”

Jangwoo mengerutkan keningnya. “Berandai-andai? Tentang apa?”

Eunjung mengedikkan bahunya sekilas. “Kau tahu, waktu aku berumur dua belas tahun, ibuku meninggal karena ditembak oleh suruhan saingan bisnis ayahku. Waktu itu, sebenarnya yang jadi target pembunuhan adalah ayahku, tapi ibuku nekat berlari untuk melindungi ayahku dan akhirnya dia meninggal karena tembakan beruntun. Peristiwa itu terjadi di halaman rumahku, dan aku melihat dengan mata kepalaku sendiri bagaimana ibuku tersenyum sambil mengatakan kalau dia mencintai ayahku sebelum menghembuskan nafas terakhirnya. Sejak saat itu, aku berjanji pada diriku sendiri bahwa aku akan menjadi seperti ibuku ketika aku besar nanti. Aku akan melindungi orang yang aku cintai mati-matian seperti dia…” cerita Eunjung dengan mata menerawang.

Jangwoo terpana memandang gadis di hadapannya itu. Ham Eunjung…dia seperti melihat sosok yang berbeda dalam diri gadis itu sekarang.

“Oppa?” tegur Eunjung saat melihat Jangwoo tidak bereaksi apa-apa.

Jangwoo mengerjap. “Ah-eh, i-iya?”

“Kenapa diam saja? Kau kaget, ya, mendengar ceritaku?” ujarnya sambil nyengir. “Maaf, aku sepertinya lupa bilang padamu kalau ayahku adalah pimpinan jaringan mafia.”

“Eh? Ma-mafia?” Jangwoo memekik tertahan, berpura-pura tampak terkejut.

Eunjung mengangguk malas. “Kuharap aku tidak membuatmu takut, Oppa. Tenang saja, ayahku tidak semenyeramkan mafia di tivi-tivi itu, kok. Malahan dia lucu dan luar biasa penyayang,” ujar Eunjung, berusaha menenangkan lelaki di hadapannya.

Jangwoo menelan ludah. “Err—oke,” sahutnya. “Tapi, Eunjung-ah, kenapa…kau menceritakan ini semua padaku? Bukankah seharusnya ini jadi rahasia keluargamu?”

Mendengar pertanyaan Jangwoo, pipi Eunjung mendadak bersemu merah. Dia berdeham sekali, kemudian menjawab dengan suara kecil, “Itu…itu karena aku percaya padamu, Oppa.” Lalu dia tersenyum lebar.

Dan itu adalah pertama kalinya Jangwoo melihat senyum Eunjung yang menular sampai ke sepasang matanya, yang entah bagaimana bisa membuat jantungnya mencelos dan bibirnya tak bisa berkata-kata. Err—ini…gawat, dia mengingatkan dirinya sendiri, kembalikan kewarasanmu, Lee Jangwoo.

 ***

Malamnya, Jangwoo menghabiskan waktunya untuk minum wine bersama Park Jihoon sambil membahas rencana pembunuhan Ham Eunjung, berharap itu akan membantunya menjernihkan pikirannya yang agak sedikit kacau gara-gara pertemuannya dengan Eunjung tadi siang. Ah, ya, dan gara-gara senyuman sialan itu.

Namun, rupanya pikirannya sedang ingin membelot darinya karena ketika dia beranjak ke kamarnya untuk tidur, apa yang ditemukannya di atas meja kerjanya justru membuatnya tidak bisa terlelap dengan nyenyak malam itu. Ya, foto Ham Eunjung yang sedang tersenyum sangat lebar seolah dia adalah gadis paling polos sedunia itu membuat Jangwoo terus-menerus bergumam di sela tidurnya, “Ham Eunjung, kenapa gadis sepertimu harus dilahirkan untuk mengundang bahaya?”

***

Jangwoo tengah sibuk membereskan buku-bukunya ketika didengarnya suara Eunjung memanggil namanya dari pintu kelas. Lelaki itu mendongak dan tersenyum ketika melihat Eunjung melambai padanya, menyuruhnya mendekat.

“Ada apa?” tanyanya ingin tahu.

Eunjung tidak langsung menjawab. Kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri dulu sebelum berjinjit untuk berbisik di telinga Jangwoo, “Mau melarikan diri bersamaku?”

Mata Jangwoo melotot. “Eh?!”

“Ssst! Jangan teriak-teriak begitu, Oppa,” tegur Eunjung seraya meletakkan telunjuknya di bibir. “Bagaimana? Mau tidak? Setelah kelas composing ini kau tidak ada jadwal lagi, kan, hari ini?” tanyanya lagi, kali ini dengan suara yang lebih pelan.

“Ng…tidak, sih. Tapi memangnya ada apa, sih? Kau habis melakukan kejahatan, ya?” tanya Jangwoo curiga.

Eunjung memutar matanya. “Dasar bodoh. Sudah, nanti saja kuceritakan padamu. Yang penting sekarang kita keluar dulu dari sini. Oke?”

“Eh, tapi memangnya kita mau ke mana?” sahut Jangwoo ketika tangannya sudah ditarik Eunjung untuk keluar dari area kampus.

Eunjung menoleh, kemudian menyeringai lebar ke arah Jangwoo sambil berbisik, “Pulau Nami!”

 ***

“Hei, kau bilang tadi mau cerita padaku,” Jangwoo berkata ketika dia dan Eunjung tengah menaiki couple-bicycle dan menikmati pemandangan di sepanjang jalan Pulau Nami.

Eunjung menarik nafas kemudian membuang perlahan sebelum berujar, “Ada yang mau membunuhku.”

“HAH?!” pekik Jangwoo, mengerem mendadak sepedanya.

“Aduh!” rutuk Eunjung ketika kepalanya membentur punggung Jangwoo. “Hati-hati, dong, Oppa.”

“Tunggu dulu. Kau bilang apa tadi? Ada yang mau membunuhmu? Serius? Siapa memangnya? Kenapa dia mau membunuhmu?” tanya Jangwoo beruntun. Tiba-tiba saja detak jantungnya meningkat dua kali lebih cepat dari biasanya. Jangan-jangan…dia sudah ketahuan.

“Entahlah,” jawab Eunjung acuh tak acuh. “Kemarin ayahku yang bilang begitu. Katanya dia dapat informasi kalau ada saingan bisnisnya yang mengincar nyawaku dan membayar orang untuk membunuhku. Makanya mulai hari ini dia menambah jumlah pengawal pribadiku yang harus mengikutiku ke mana-mana, Konyol sekali, ya?”

Jangwoo menelan ludah dengan gugup. “Pengawal…pribadi? Kok, tadi aku tidak melihatnya sama sekali?”

Eunjung berdecak. “Bodoh. Tentu saja mereka menyamar. Kau tidak lihat tadi banyak wajah-wajah asing mengikutiku di kampus?” sahutnya tak sabar. “Untung sekali aku berhasil melarikan diri dari mereka. Terimakasih banyak sudah membantuku hari ini, Oppa.”

“Lho? Jadi yang kau maksud melarikan diri itu…melarikan diri dari pengawalmu? Bukan dari orang yang mau membunuhmu?”

“Ya ampun, tentu saja bukan. Lagipula, aku juga tidak terlalu percaya pada ayahku. Kurasa itu hanya alasannya untuk melarangku pergi ke tempat-tempat yang tidak disukainya saja—seperti klub malam misalnya.”

“Tapi, Eunjung-ah—“

“Sudah, ah. Aku malas membicarakan ini lagi,” tukas Eunjung buru-buru. “Kita sudah berhenti di tengah jalan terlalu lama, nih. Kau mau jalan lagi atau tidak?”

Jangwoo masih bergeming. Matanya menerawang memandang satu titik di antara pepohonan di sebelah kirinya, hingga dia seperti tak mendengar sepatah kata pun yang diucapkan Eunjung kepadanya.

“Ya, sudah. Aku turun, nih,” Eunjung berkata ketika Jangwoo tak juga menyahutinya.

“H-hei. Tunggu dulu, Eunjung-ah…” panggil Jangwoo ketika tersadar dari lamunannya.

Eunjung langsung menoleh. “Apa?”

Jangwoo mengerjap dua kali. “T-tapi…bagaimana kalau—bagaimana kalau itu benar? Bagaimana kalau nyawamu memang sedang diincar oleh seseorang?”

Eunjung menghela nafas, kemudian menyahut mantap, “Kalau itu benar, kau tidak perlu khawatir, Oppa. Kan, ada aku yang akan melindungimu.”

Mulut Jangwoo membulat. “Eunjung-ah, aku—

“Iya, Oppa, aku akan melindungimu,” Eunjung menambahkan, “karena aku…aku menyukaimu, Jangwoo-oppa.” Kemudian dia tersenyum. Senyum yang membuat Jangwoo tak bisa tidur semalaman tempo hari.

Jangwoo tertegun, kemudian entah karena dorongan sinting apa, lelaki itu langsung menarik tangan Eunjung dan mencium bibir gadis itu. Awalnya rasanya janggal karena Eunjung melotot—tampak sangat terkejut dengan segala hal yang tiba-tiba ini, tetapi kemudian gadis itu memejamkan matanya, dan Jangwoo tersenyum di atas bibir Eunjung ketika akhirnya dia bisa merasakan semuanya—manisnya bibir Eunjung, kelembutan ciumannya, dan kerapuhan tubuhnya yang berada di dalam pelukannya, seolah gadis itu telah bergantung sepenuhnya kepada Jangwoo, seolah Jangwoo adalah pijakan satu-satunya yang dimilikinya…

Ketika akhirnya ciuman mereka terputus, Jangwoo memandang Eunjung lekat-lekat, menyadari betapa dia menyukai semburat merah di pipi gadis itu, dan pandangannya yang malu-malu tapi tak ragu-ragu, dan senyumnya yang nyaris membuat Jangwoo jadi gila itu… Ham Eunjung, katakan padaku. Kalau kau serapuh ini, bagaimana caranya kau bisa melindungiku, heh? batinnya sebelum menarik Eunjung lebih erat lagi ke dalam pelukannya.

 ***

Jangwoo-ya, klien kita minta besok pagi kau selesaikan semuanya. Lakukan saja sesuai rencana. Kutunggu kabar baik darimu. Sampai jumpa.

Jangwoo menghela nafas ketika membaca pesan singkat yang dikirim oleh Park Jihoon barusan. Lelaki itu kemudian merebahkan tubuhnya ke ranjangnya, ekspresinya frustasi. Saat ini, dia sungguh tak tahu harus melakukan apa. Dia bahkan tak bisa menjernihkan isi kepalanya. Yang dia tahu hanyalah bahwa dia tak akan bisa menjalankan tugasnya besok pagi. Dia tak akan sanggup jika harus membunuh Ham Eunjung, gadis yang dalam waktu singkat telah berhasil membuatnya jatuh cinta sejatuh-jatuhnya.

Kalau sudah begini, apa yang harus dikatakannya pada Jihoon-hyungnya? Bagaimana dia harus menjelaskan kepada lelaki itu bahwa dia telah gagal menjaga profesionalitasnya? Dan lagi, kapankah dia bisa jujur kepada Eunjung dan mengakui siapa dirinya sebenarnya?

Jangwoo memijat pelipisnya, berharap dengan begitu kepalanya yang memberat akan sedikit terasa ringan. Kemudian, dia memejamkan mata, dan apa yang dilihatnya di dalam pikirannya adalah Eunjung—sedang tersenyum kepadanya sambil mengatakan bahwa dia menyukai Jangwoo. Setelahnya, ketika lelaki itu membuka mata, dia langsung tahu apa yang harus dilakukannya.

 ***

 Temui aku di tepi Sungai Han pukul sepuluh pagi ini. Ada yang mau kukatakan padamu.

Sekali lagi Eunjung membaca pesan singkat yang dikirimkan Jangwoo untuknya tadi pagi itu. Dia sudah ada di tepi Sungai Han sekarang, menunggu kedatangan Jangwoo dengan senyum merekah dan jantung yang berdebar-debar. Gadis itu tak bisa berhenti bertanya-tanya tentang apa yang akan dikatakan Jangwoo padanya hari ini. Satu hal yang dia harapkan, hal itu tidak akan jadi kabar buruk untuknya.

 ***

 Sementara itu, di apartemen Jangwoo…

“Jangwoo-ya, apakah kau sudah siap?” Ketua Park bertanya ketika dia menelepon Jangwoo pagi itu.

Jangwoo menghela nafas sebelum berujar perlahan, “Maafkan aku, Hyung. Tapi sepertinya kali ini aku akan mengecewakanmu.”

“Jangwoo-ya, apa maksudmu? Jangan bilang kalau—“

“Ya, Hyung. Aku tidak bisa membunuh gadis itu hari ini dan sampai kapanpun juga. Aku mencintainya, Hyung. Maafkan aku.”

“Ya! Jangan bercanda denganku, Lee Jangwoo! Kembalikan kewarasanmu!” Ketua Park membentak dengan penuh emosi.

Jangwoo menggeleng. “Tidak, Hyung. Aku tidak akan bisa. Maaf. Sekali lagi…maafkan aku.”

“Ya! Lee Jangwoo—“

Sebelum Ketua Park sempat menyelesaikan kalimatnya, Jangwoo sudah keburu memutuskan sambungan dan mematikan ponselnya agar hyungnya itu tidak akan bisa menghubunginya, setidaknya untuk hari ini.

Perlahan, lelaki itu berjalan menuju meja kerjanya kemudian meraih revolver Berreta 92A1, senjata kesayangannya yang selama ini tak pernah gagal membantunya menyelesaikan misi-misinya. “Maafkan aku Mary Jane,” katanya lirih, “tapi sepertinya kali ini kita tak bisa bersenang-senang bersama.”

Setelahnya, Jangwoo meletakkan kembali revolver itu di mejanya dan ganti mengambil kotak kecil yang diletakkan di sampingnya sebelum benar-benar beranjak keluar dari kamarnya.

 ***

Senyum Eunjung mengembang ketika dilihatnya Jangwoo tengah berjalan ke arahnya. Gadis itu melambai sambil berkata riang, “Oppa! Aku di sini!”

Jangwoo balas tersenyum seraya mempercepat langkahnya, tapi kemudian keningnya berkerut ketika dilihatnya ekspresi wajah Eunjung berubah pias.

“Dorrr! Dorrr! Dorrr!”

Dan semuanya terjadi begitu cepat. Eunjung berlari ke arahnya  sambil meneriakkan namanya berulang-ulang, dan samar-samar dia masih mendengar suara tembakan di mana-mana, semuanya menghujam di tubuhnya. Tubuh Jangwoo ambruk ke tanah. Darah merembes keluar dari bagian dada dan punggungnya.

“Tidak! Oppa! Jangwoo-oppa!” Eunjung menjerit sambil berusaha menggapai tubuhnya ketika sekumpulan lelaki bertubuh besar cepat-cepat menahan tubuh gadis itu untuk mencapai tempatnya.

“Jangan mendekat, Nona! Dia adalah pembunuh bayaran yang ditugaskan untuk menghabisi nyawa Nona!” terdengar suara salah seorang lelaki yang ikut memegangi tangan Eunjung.

Eunjung-ah, maafkan aku. Tapi untunglah aku yang mati untukmu kali ini,” Jangwoo berbisik menahan sakit di tubuhnya sebelum benar-benar ambruk dan terbaring di tanah berumput. Hal terakhir yang dilihatnya adalah wajah Eunjung yang berlinang air mata dan masih memanggil-manggil namanya. Kuharap aku tidak melukainya terlalu banyak, batinnya sebelum kemudian menghembuskan nafas terakhirnya.

 ***

Seminggu kemudian…

Eunjung duduk sendirian di salah satu sudut coffee shop favoritnya, menyesap dalam diam Americano pesanannya seraya memandang keluar jendela. Dia masih ingat, ini adalah tempat yang sekarang didudukinya adalah tempat duduk yang selalu dipakai oleh Jangwoo, dan ingatan itu memunculkan rasa nyeri yang memukul-mukul jantungnya, seolah jantung itu bisa meledak kapan saja.

Setelahnya, ingatan tentang percakapannya dengan Jangwoo ketika terakhir kali mereka bertemu di tempat ini mulai membanjiri kepalanya tanpa ampun.

“Tapi, Eunjung-ah, kenapa…kau menceritakan ini semua padaku? Bukankah seharusnya ini jadi rahasia keluargamu?”

“Itu…itu karena aku percaya padamu, Oppa.”

Ya, seandainya kau tahu bahwa waktu itu aku sudah tahu siapa dirimu… Seandainya kau tahu bahwa meski begitu aku sungguh tetap akan percaya padamu… Seandainya kau tahu…

Perlahan air mata gadis itu mengalir, dan menjadi semakin deras ketika dia menunduk untuk memandang cincin emas putih yang melingkar di jari manis tangan kirinya.

 ***

Eunjung-ah,

Kalau kau membaca surat ini itu berarti kau sudah menerima lamaranku dan aku sangat bahagia karenanya. Akhirnya, tidak sia-sia juga aku bolak-balik ke toko perhiasan agar bisa mendapatkan cincin yang pas untuk ukuran jarimu.

Well, aku menulis surat ini sebenarnya bukan hanya karena ingin bilang tentang itu padamu. Sebenarnya, aku juga ingin mengaku tentang satu hal, yakni bahwa aku adalah pembunuh bayaran yang disewa oleh saingan bisnis ayahmu untuk membunuhmu. Ya, Eunjung-ah, aku adalah alasan yang membuat ayahmu jadi mengkhawatirkanmu begitu besar sampai-sampai harus menambah jumlah pengawal pribadimu. Jadi, seharusnya waktu itu kau tidak boleh mengajakku kabur ke Pulau Nami, tahu. Bagaimana coba kalau waktu itu aku menembakmu di balik pepohonan? Apa kau tidak takut?

Tapi sial. Rupanya aku harus mengakui kalau aku telah kalah telak darimu. Entah sejak kapan dan bagaimana caranya, kau telah berhasil mendobrak pertahananku dan merangsek masuk dalam pikiran dan hatiku tanpa aba-aba. Kau membuatku tidak tahu harus bagaimana. Kau membuatku kehabisan kata-kata. Kau membuatku tidak punya pilihan lain selain jadi jatuh cinta padamu, Ham Eunjung.

Kau tahu, kadang-kadang aku benci sekali setiap melihatmu tersenyum padaku, karena senyummu membuatku jadi kecanduan untuk melihatmu, mendengar suaramu, dan menyentuhmu setiap saat. Huh. Kau jangan berani-berani tertawa, ya. Ini sangat menjengkelkan untukku, tahu.

Ham Eunjung, setelah kau membaca surat ini, kumohon jangan buru-buru marah dan membuang cincin pemberianku. Kumohon, temui aku dulu dan beri aku kesempatan untuk menjelaskan semuanya padamu. Aku sungguh ingin memulai segalanya dari awal bersamamu, Eunjung-ah. Jadi, maukah kau mengabulkan permintaanku ini?

Ah, dan satu hal lagi. Tentang cita-citamu untuk melindungi orang yang kau cintai sampai mati seperti ibumu, jangan harap kau bisa melakukannya jika kau hidup bersamaku. Kelak, aku lah yang akan melindungimu sampai mati. Jadi, kau jangan coba-coba menerjang tembakan peluru atau tusukan pisau hanya untuk melindungiku, ya?

Eunjung-ah, kurasa aku sudah terlalu banyak bicara. Yah, aku ini memang payah. Tak berani bicara langsung padamu tetapi malah menulis surat panjang lebar begini. Pakai disembunyikan di bawah kotak cincin, lagi. Untuk ini, maafkan aku, ya?

Kalau begitu, sampai jumpa, Eunjung-ah. Kuharap aku bisa bertemu denganmu lagi secepatnya. Terimakasih, ya, untuk semuanya. Terutama untuk memberiku kesempatan mengenalmu dan untuk membuatku jatuh cinta padamu.

Aku mencintaimu, Ham Eunjung. Selalu dan Selamanya.

 

DING!

Iklan

2 pemikiran pada “[FF/Oneshot] Edge of Desire

  1. ehem. annyeeoongg~ 🙂
    adis imnida, salam kenal kakaakk.. ^^

    ceritanyaa… sebenernya klasik sih, tapi thubs up buat bagian akhirnya. waktu dia ngaku lewat surat ituu…
    itu yg aku nggak nyangka. ><

    tata bahasanya bagus, nggak lebee tapi enjoyable bangett.. 🙂
    suka sukaaa~~ ^^

    1. anyyeong 😀
      puput imnida. salam kenal jugaaaa 😀
      hihihi makasih yaaa 🙂
      jangan bosen main ke sini.
      dan ternyata aku udah pernah main ke wp kamu dan komen di sana loh. tulisan kamu manis2 >///<

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s